FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
Takdir Tak Terduga


__ADS_3

Mata Raka tidak lepas dari netra milik Asih. Dia sangat terkejut ketika Asih mengetahui tentang Angel.


"Asih, bagaimana kamu tentang dia?" tanya Raka serius.


Asih tertunduk. Di rumah, semua tentang Angel, Mas. Aku tahu di dompetmu ada foto Angel, di laci ada Poto Angel, bahkan beberapa barang kita seperti gelas dan mangkok ada yang terukir nama Angel. Aku tau arti segalanya, Mas," jawab Asih sendu. Dia menundukkan kepalanya agar Raka tidak dapat melihat matanya.


Deg..


Raka sangat terkejut dengan cara bicara Asih yang terlihat dapat mengerti segalanya. Nyatanya, Asih tidak sepolos dan sebodoh yang dia kira.


"Bagaimana, bagaimana kamu bisa tahu?"


"Mas, aku ini memang tidak sepolos itu. Tapi aku memang bodoh, maka dari itu, aku suka bersikap polos supaya aku tidak merasa malu dengan kebodohan ku sendiri. Aku malu mas, semua orang selalu ndak suka sama aku. Kaya waktu pertama kita ketemu, aku gak bisa habis pikir kenapa semua orang menyalahkan aku padahal aku ndak salah, itu salah kamu yang menabrak aku duluan. Tapi kenapa malah aku yang di pecat. Terus, mana aku tau kalo mas Raka ini adalah penting, bukannya kebenaran adalah nomor satu. Tidak perduli siapa orangnya jika dia bersalah, dia tetap yang harus bertanggung jawab. Tapi kenapa malah aku, hiks...hiks....!" ungkapan isi hati Asih yang terpendam akhirnya benar-benar meluap.


Raka terdiam dan menyimak pengakuan Asih. Ada rasa prihatin tapi ada juga rasa gemas. Dia mengaku tidak polos tapi nyatanya dia selalu berkata yang sangat menggemaskan.


Raka tersenyum dan memeluk istrinya.


"Maafkan aku," ucap Raka.


"Maaf untuk apa, mas?"


"Harusnya waktu itu aku dapat membelamu dengan benar supaya kamu tidak di pecat."


Asih terdiam dan berfikir.


"Tapi kalo aku ndak di pecat, ndak mungkin juga aku akan berada di sini," sahut Asih sambil berpikir.

__ADS_1


Melihat ekspresi serius dan bingung Asih, Raka tak tahan untuk tidak mencubit hidung istrinya itu.


"Iiiiihhh... kamu ini benar-benar menggemaskan ya. Kamu tau, kamu adalah isteri terpintar yang aku miliki. Mau jalan-jalan denganku!?" ucap Raka tersenyum. Dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan awal dan berniat untuk lebih memperhatikan Asih.


Dan benar saja, Asih pun tersenyum dan mengangguk senang.


Tapi, baru saja akan menancapkan pedal gas mobil. Handphone Raka berdering. Terlihat jika itu adalah dokter Jaka, paman dari Raka.


"Hallo, paman?" sapa Raka.


Sesaat, Raka tersentak mendengar apa yang di ucapkan oleh Dokter Jaka. Tanpa menunggu a,b dan c Raka pun langsung menancapkan gas mobil dengan gila. Dia merasa tidak perduli dengan keadaan jalan yang ramai. Dia terus menancapkan gas mobil dengan kecepatan tinggi. Sepanjang jalan dia terus membunyikan klakson supaya semua orang memberinya jalan.


Di ujung, Raka melihat jika lampu merah akan segera datang, tanpa berfikir panjang, Raka pun langsung menambahkan kecepatannya supaya dapat melewati lampu merah.


Asih yang pun tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa berekspresi ketakutan dengan kegilaan Raka.


TIIIIIIIINNNN...


Kecelakaan hampir saja terjadi di lampu merah. Tapi beruntung Raka bisa melewatinya.


Lagi-lagi, Raka tidak perduli dengan kendaraan lain yang terlihat syok karena barusan akan terjadi kecelakaan hebat jika sampai saja mereka tidak sama-sama konsentrasi.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Asih yang terlihat sangat ketakutan.


Tetapi seperti angin berlalu, Raka seperti tidak mendengar ucapan Asih. Asih pun hanya bisa berpegangan erat supaya mereka selamat sampai tujuan.


Ternyata, Raka pergi ke rumah sakit besar milik keluarganya yang di kelola oleh pamannya, Dokter Jaka.

__ADS_1


Di depan rumah sakit besar, Dokter Jaka sudah menunggu kedatangan Raka. Raka pun langsung turun dari mobil dan menghampiri Jaka. Bahkan Raka sampai melupakan Asih yang masih berada di dalam mobil.


"Paman, ada apa? benarkah apa yang kamu katakan di telpon?" tanya Raka yang terlihat dengan beragam ekspresi terkejut.


Dokter Jaka hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Ayo, ikutlah denganku," ucap Jaka yang langsung membawa Raka masuk.


Asih, lagi-lagi hanya bisa terdiam dan mengikuti suaminya dari belakang, karena asih tidak tahu harus berbuat apa karena dirinya terlupakan ataupun di lupakan.


Raka dengan rasa tidak sabar, tapi juga ragu-ragu membuka sebuah ruangan VVIP paling pojok.


Ketika Raka membukanya, betapa terkejutnya Raka ketika kedua matanya melihat sesuatu yang sangat memprihatikan.


Seorang gadis keadaan yang sangat memperihatinkan, badan kurus, kepala botak, badan lesu nan pucat, bagaikan mayat hidup, itulah yang dilihat Raka kepada wanita yang sangat dia cintai selama ini, Angel.


Seketika Raka merasa dunianya runtuh dan hancur berkeping-keping. Dia telah mencari sang kekasih sampai ke penjuru negeri, tapi nyatanya kekasihnya tidak kemana-mana. Dia hanya terbaring tidak di berdaya di rumah sakit miliknya sendiri.


Raka berjalan perlahan menghampiri Angel yang terlihat sangat sulit bernafas meski sudah menggunakan selang oksigen di hidungnya.


Angel tersenyum meski wajahnya terlihat pucat dan mencoba menahan rasa sakit yang dia derita. Raka pun tidak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Dia terus berjalan perlahan untuk meyakinkan dirinya sendiri jika yang dia lihat saat ini bukanlah Angel.


Tapi kenyataannya berkata lain, dia benar adalah Angel.


setelah melihat dari dekat, Raka benar-benar merasa sangat sakit hati. Dia bahkan merasa sangat sulit untuk bernafas. Sungguh apa yang dia lihat mampu membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Asih, dia melihat segalanya dari pintu. Dia hanya berdiri di depan pintu dan melihat semua yang terjadi. Asih yang ikut terkejut hanya bisa memaksakan senyumnya melihat dua orang yang saling mencintai dan menunggu akhirnya dapat bertemu kembali.

__ADS_1


__ADS_2