FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
Nasgor


__ADS_3

pagi yang cerah, Raka sudah siap dengan setelan jas hitamnya.


"Mas, sarapan dulu," ucap Asih yang sudah menghidangkan sesuatu di meja.


"Em, aku tidak sarapan dulu asih, aku sudah terlambat," sahut Raka yang terlihat buru-buru.


"Eh, tapi tunggu...!" teriak Asih.


Dengan sepiring nasi goreng di tangannya, Asih berlari menghampiri Raka.


"Aaak ... Mas!" ucap Asih yang langsung menyodorkan sesendok nasi goreng.


"Apa ini Asih!? Aku sedang terburu-buru!" Raka nampak heran.


"Kerja harus, tapi sarapan juga penting mas. Wes! Cepetan makan dua sendok baru oleh pergi," ujar Asih yang berani memaksa Raka.


Karena tidak ingin membuang-buang waktu, akhirnya Raka langsung mengambil piring yang ada di tangannya Asih.


"Aku akan makan di mobil," ujar Raka yang langsung melalui Asih.


Asih tersenyum dan berlari mengejar Raka.


Dari pintu Asih berteriak, "Mas! TTDJ Ya... Hati-hati di jalan!" terik Asih sambil melambaikan tangan.


Raka baru menutup pintu mobil hanya tersenyum ke arah Asih.


"Pak, jalan sekarang," ucap Raka kepada pak supir.


"Baik, Mas!" sahut Pak Supir.


Asih tersenyum-senyum sendiri melihat suaminya pergi.


"Duh Gusti, bojoku pancen guanteng!" gumam Asih merasa sangat bahagia.


Ketika akan menutup pintu, Asih mendengar handphone miliknya yang di belikan oleh Aunty Yasmin.


Tertera nama Yuma.


Asih dengan senang mengangkat panggilan Vidocall dari Yuma. Meski Asih belum pernah bertemu dengan Yuma, namun sikap ramah Yuma membuat Asih merasa tidak asing dengannya.


"Hallo mbk ipar!?" ucap Asih.


"Ayolah kakak ipar, meksi aku lebih tua darimu tetapi kamu adalah istri dari kakak aku. So, aku adalah adik iparmu yang paling manis," sahut Yuma mengedipkan matanya dengan genit.


"Hahaha.. Njeh adik ipar," ujar Asih meralat ucapannya.


"Nah, begitu lebih baik," sahut Yuma. "Oya, kakak ipar lagi apa?" lanjutnya.


"Lagi mau sarapan Iki," jawab Asih yang menunjukan nasi goreng buatannya.


"Loh! kok nasi gorengnya pucat!?" tanya Yuma merasa sangat heran melihatnya nasi goreng buatan Asih yang tanpa kecap.


"Ho'oh dek ipar, kecapnya habis," jawab Asih.

__ADS_1


"Kak Raka tidak suka jika nasi goreng tanpa kecap," ujar Yuma memberi tahu Asih.


"Oh, opo iyo dek ipar! Walaaaah, pantesaaan...!" Asih nampak tercengang.


"Pantesan apa Kakak Ipar!?" tanya Yuma penasaran.


"Mas Raka ndak mau makan. Tapi piringnya tadi dibawa," jawab Asih merasa galau mendengar hal itu.


"Di bawa bagaimana!?" tanya Yuma yang masih tidak mengerti.


"Nganu, tadi mas Raka ndak mau sarapan katanya dia buru-buru. Aku kasihan to dek kalo perut Mas Raka kosong ketika bekerja, jadi aku coba mau nyuapin dia dua sendok wae. Tapi, Mas Raka bilang katanya mau makan di mobil saja, piring sama sendok dia bawa semua," jelas Asih.


Yuma nampak berfikir, "Emm, bisa jadi nanti akan di makan sama kak Raka, soalnya dia gak suka buang-buang makanan. Emm, bisa jadi juga sarapannya untuk di kasihkan sama supirnya," ucap Yuma mencoba untuk menebak-nebak.


"Oh, Yo syukurlah kalo memang nasi gorengnya buat pak supir, jadi ndak mubazir," ucap Asih bernafas lega.


Yuma tersenyum melihat kakak iparnya yang tidak baper mendengar dugaannya jika nasi itu kemungkinan dikasihkan ke orang lain.


"Oya kakak ipar, soal tadi malam bagaimana?" tanya Yuma mengedipkan-ngedipkan matanya.


"Opone seng bagaimana dek ipar?" tanya Asih yang terus memasukan nasi goreng ke mulutnya.


"Itu loh kakak ipar!" Yuma mencoba memancing Asih.


"Opo to...!?" Asih nampak mengerutkan keningnya karena tidak mudeng maksud Yuma.


"Hmmm... !" Yuma mendengus kesal. "Apakah kalian sudah membuat anak!?" lanjutnya.


"Oooohh....!" Asih mengangguk mengerti. "Sudah!" jawab Asih dengan santai sambil masih memakan nasi gorengnya.


"Dingin dek!" jawab Asih.


"Dingin?" Yuma mengerutkan keningnya.


"Kan ndak pakek baju. Pakek tapi bajunya kaya saringan tahu, Aunty Yasmin yang belikan," jelas Asih.


Yuma menutup mulutnya dan wajahnya seketika langsung memerah.


"Whaaaat! Emm, kakak ipar, kalo boleh tahu gaya apa yang kalian pakai?" tanya Yuma dengan lirih.


Mendengar itu, Asih langsung terdiam dan meletakkan sendok yang dia pegang.


"Dek, tapi kamu jangan bilang ke siapa-siapa ya!?" Kini Asih mulai tersipu.


"Tenang saja," sahut Yuma tidak sabar mendengarkannya.


"Aku diajari Aunty untuk gaya nungging sama uget-uget," jawab Asih yang kini wajahnya langsung memerah.


Mendengar itu, otak Yuma langsung treveling entah kemana.


Yuma ternganga dan menutup mulutnya.


"Whoow! terus-terus!?' Yuma masih penasaran kelanjutannya.

__ADS_1


"Ya.. ndak terus-terus," jelas Asih.


"Masak gitu doang!?"


"Ya soalnya dingin dek, aku gak tahan, Ac-nya ndak di matiin," jelas Asih.


"Berapa jam kak!?" tanya Yuma yang masih penasaran.


"Cuma lima menit kayaknya dek," sahut Asih.


"What! cuma lima menit! Ya tuhan, aku harus kasih tau soal ini ke aunty Yasmin.....!" ujar Yuma terlihat sangat panik. " Ya tuhan, aku tidak percaya kakak aku akan selamah itu!" gumamnya dan langsung mematikan panggilannya.


Asih hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti apa maksud dari Yuma.


Tak ingin ambil pusing, Asih pun melanjutkan sarapannya yang tertunda.


*****


Di dalam mobil, Raka melirik nasi goreng yang mengingatkan dengan masa lalunya.


Nasi goreng yang sangat original tanpa kecap dan bumbu spesial lainya. Hanya terdiri dari cabai, brambang goreng dan garam.


Karena lampu merah, Raka mencoba untuk mencicipi nasi nostalgia.


Raka tidak tahu, kapan terkahir dia makan makanan sederhana seperti itu, yang pasti sudah sangat lama.


Raka bukannya tidak suka, hanya saja Raka tidak ingin mengingat masa-masa sulit itu.


Dengan tangan ragu-ragu, Raka mencoba untuk memasukan satu suap nasi goreng.


Setelah masuk ke mulut, Raka memejamkan matanya dan mengingat masa lalu.


"Rasa ini, sangat persis dengan buatan nenek lemper," batin Raka.


Tidak terasa, nasi goreng itu pun ludes Raka makan. Bertepatan dengan itu, mobil juga telah sampai di depan gedung kebanggaan.


Laras sudah menunggu kedatangan bosnya yang bukan lain adalah kakaknya.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Laras.


"Pagi Laras. Apakah meeting sudah siap?" tanya Raka.


"Sudah kak. Sebentar lagi akan di mulai," jawab Laras yang tanpa tersenyum.


Raka tahu jika adiknya ini masih marah kepadanya. Raka tahu jika Laras masih belum merestui pernikahannya dengan Asih.


Raka memegang pipi Laras dan menatapnya.


Semua karyawan wanita yang melihat itu pun langsung berbisik-bisik. Mereka menduga jika Laras mencoba untuk merayu Bos mereka yang baru saja menikah.


"Laras, kakak harap kamu dapat mengerti," ucap Raka dengan lembut.


"Kakak, apa yang kamu katakan?" Laras memegang tangan Raka yang memegang pipinya.

__ADS_1


"Hmmm, lupakan saja. Ayo kita masuk," ucap Raka menggandeng tangan Laras untuk masuk ke dalam gedung.


Semua mata karyawan wanita menatap sinis ke arah Laras. Mereka masih belum ada yang tahu jika sebenarnya Laras adalah adik dari Raka.


__ADS_2