
Semua orang duduk ditempat mereka dengan asal. Ada yang duduk di kursi atas, ada yang duduk dibawah, ada juga yang masih berdiri.
Semua orang menatap Asih yang duduk disamping Yasmin.
"Yasmin, bukankah sudah aku katakan jika aku tidak ingin menjodohkan Raka lagi. Biarkan dia mencari sendiri jodohnya," ujar Mumut.
"Benar! Aku tidak ingin anak aku tidak bahagia dalam pernikahannya. Biarkan dia memilih sendiri wanita pilihannya. Aku tidak ingin, putraku tidak bahagia dalam pernikahannya seperti yang pernah aku alami," ujar Pangeran.
Tanpa mereka sadari, seorang wanita paruh baya meneteskan air matanya setelah mendengar ucapan Pangeran.
"Suamiku, maafkan aku yang tak dapat membahagiakanmu. Maafkan aku yang tak dapat memberimu anak seperti istri-istri lainnya. Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti Mumut. Akhirnya, aku dapat mengerti sikap dingin kamu selama ini!" Paula langsung berlari pergi meninggalkan acara ulang tahun Triple J yang sepertinya sudah berantakan.
Semua orang ternganga tak percaya dengan sikap Paula yang tiba-tiba.
"Istriku... Tunggu! Bukan seperti itu maksud aku sayang!" teriak Pangeran yang mencoba untuk mengejar Paula.
"Huuuuuft... Anakku aku tak pernah berubah. Dia selalu saja membuat drama di situasi genting seperti ini!" ujar Tuan Suroto.
"Semuanya, maafkan atas keributan ini. Jika begitu kami permisi dulu. Kami akan mencoba untuk menenangkan kedua anak itu yang tak pernah bisa menua meski usia mereka sudah tak muda," ujar Mama Ratu.
"Tidak papa, jeng! Aku juga terima kasih banyak karena kalian sudah bersedia datang di acara ulang tahun Cucuku!" sahut Mama Lauren.
"Mereka juga Cucuku, jeng!"
"Ya sudah, kami pamit duluan ya. Raka, kakek dan nenek menyerahkan semuanya kepadamu. Pilihlah wanita yang kamu cintai untuk dijadikan istri!"
"Baik, Kakek..!" sahut Raka.
"Tuan Aska, Mumut, Yuda, kami pamit dulu ya?"
"Ah, iya Tuan Suroto. Terima kasih atas waktunya," sahut Tuan Aska.
"Laras, kamu mau ikut pulang sekarang atau disini dulu!?" tanya Mama Ratu.
"Laras akan disini dulu, Nek! Laras akan kembali bersama kak Raka."
"Ya sudah. Nenek pulang duluan, ya?"
"Iya, Nek!"
******
Acara perjodohan masih berlangsung.
Asih sesekali menatap Raka yang ternyata bukanlah presiden, melainkan pria muda yang kaya raya.
"Hmm ... Sepertinya aku akan gagal bekerja menjadi istri om-om ini. Jika gagal, pasti duit dua jutanya gagal. Yah... Aku gak bisa bawa Mbah kerumah sakit." Batin Asih yang merasa sangat kecewa. Karena, bekerja apapun dia selalu gagal. Bahkan dia bisa gagal sebelum memulainya.
"Aku akan menerima perjodohan ini!" ujar Raka tiba-tiba membuat semua orang membulatkan mata mereka.
"Kak, tidak bisa seperti itu geh! Wanita ini, dia bahkan sudah mempermalukan kakak di restoran itu, apakah kakak lupa? Meski kini penampilan berubah, tetapi aku masih dapat mengenali dirinya!" sahut Laras tak terima dengan keputusan Raka.
"Apa! Jadi kalian sudah bertemu dengan Asih?" tanya Yasmin kaget.
"Iya, Aunty! Dia wanita yang telah memukul hidung Kak Raka sampai berdarah waktu itu!" jelas Laras.
"Apa! Jadi... Asih, apakah itu benar!?" tanya Yasmin yang terlihat kecewa.
"Njeh, Onti. Tapi aku meninju om-om itu karena dia sudah genit sama aku. Dia pegang-pegang pinggang aku!" jelas Asih.
Raka yang mendengar itu jelas tak terima.
"Raka! Apa yang dikatakan nak Asih ini benar!? Kamu mencoba melakukan hal tidak senonoh kepadanya!?" tanya Mumut.
"Tidak, ibu Mumut! Kak Raka justru sedang mencoba untuk menyelamatkan wanita itu. Hay, kamu! Jangan seenaknya menuduh orang ya! Lagian, siapa yang mau menggoda wanita seperti kamu!" pekik Laras terlihat sangat marah.
Laras yang biasanya kalem dan elegan ini telah menjelma seperti harimau siap menerkam.
"Laras, jaga bicaramu!" sahut Raka mencoba untuk mengendalikan suasana.
__ADS_1
"Kak!?" Laras seperti tidak percaya jika akhirnya Raka lebih membela wanita itu.
"Ini salah aku. Aku menatapnya terlalu lama sehingga dia merasa tidak nyaman," sahut Raka.
Yasmin sedikit menungging kan bibirnya keatas.
"Em, Raka. Apakah kamu telah jatuh cinta pada pandangan pertama!?" tanya Yasmin.
"Ah, bukan begitu Aunty!" Raka terlihat sedikit gugup.
Semua orang yang melihat sikap Raka yang salah tingkah hanya bisa tersenyum mengejek. Hanya Laras yang sepertinya tidak suka dengan kehadiran Asih disana.
Sedangkan Asih, dia hanya bisa tersenyum malu.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa masuk bekerja jadi istrinya om-om ini!" batin Asih.
"Kak, Asih. Apakah anda benar-benar mau menjadi istri dari sepupu saya ini. Kak Raka adalah perjaka tua. Usianya sudah menginjak kepala 3. Kak Asih masih sangat muda, apakah kak asih bersedia menikah dengan om-om!?" tanya Pink membuat semua orang langsung bernafas berat. Yasmin dan Jaka hanya bisa menutup wajah mereka karena merasa malu sendiri dengan sikap anak mereka.
"Hehhee.. Gak papa Dek, menikah sama om-om, yang penting masih jos!" jawab Asih malu-malu.
Raka yang mendengar itu langsung tak percaya.
"Ya tuhan, darimana gadis ini dapat kata-kata seperti itu!"? batin Raka.
Semua orang hanya bisa tersenyum menahan tawa.
"Ckck... Asih, darimana kamu mendapatkan kata-kata itu!?" tanya Yasmin.
"Sepupu aku pernah bilang. Katanya gak papa dapet Duda atau perjaka tua, yang penting masih Jos!" jelas Asih.
"Hahaha... Apakah kamu tahu apa artinya itu!?" tanya Yasmin.
"Hehe .... Enggak, Onti!" Asih menggelengkan kepala dan menggaruknya meski gak gatal.
"Kak, Raka. Apapun alasan kamu, aku tidak setuju jika kamu menikah dengan wanita ini!" sentak Laras yang langsung pergi keluar.
Raka memijit kepalanya dengan pelan. Dia sungguh sangat pusing memikirkan perjodohan ini.
"Raka sayang. Ibu akan selalu mendukung keputusan kamu. Jika memang kamu menyukai nak Asih, lebih cepat lebih baik sayang," ujar Mumut.
"Papah juga serahkan segalanya kepadamu, Raka. Kamu tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri," ucap Yuda.
"O'om juga, Raka. Ini sudah saatnya kamu melupakan Angel," ujar Jaka.
"Kakak, dia pasti bisa menjadi kakak ipar yang baik untuk kami!" ujar Jay yang mengedipkan mata kepada Asih membuat Asih tersenyum manis.
"Baiklah, persiapkan pernikahannya," ucap Raka tanpa ragu-ragu.
"Apa! Secepat ini!?" tanya Yasmin.
"Sepertinya ada yang sudah tak sabar ingin kawin. Hahaha ....!" ejek Jaka.
"Lebih cepat lebih baik. Aku sudah tak sabar ingin menggendong cucu," ucap Mumut yang ikut-ikutan menggoda Raka.
"Aaahh ... Tidak terasa kami akan menjadi Buyut!" sahut Tuan Aska.
"Apa yang kalian lakukan. Ada-ada saja!" ujar Raka yang langsung pergi menggandeng Ju.
"Ju, ayo kita ke kamar kamu!?" ujar Raka.
"Baik, Kak!"
"Ju, bagaimana dengan acara kita? Kita belum membuka kado!?" tukas Jay.
"Nikmati saja. Aku masih harus belajar untuk tes selanjutnya," sahut Ju.
"Hmm .. Gak asik diamah!" Jim ikut menggerutu.
"Anak-anak, bagaimana jika karaokean saja!" Yuda mencoba untuk membuat acara pesta ulang tahun Triple J supaya kembali meriah.
__ADS_1
Akhirnya, Asih diterima baik di keluraga Mumut. Asih sangat polos dan baik. Meski suaranya tidaklah bagus, tetapi dia tetap bersemangat menyumbangkan lagu terbaiknya yaitu cinta satu malam.
Semua orang hanya bisa tertawa menikmati lagu yang di bawa oleh Asih.
Yasmin tersenyum senang. Akhirnya, dia benar-benar berhasil mencarikan jodoh yang diinginkan Mumut dan juga Raka.
Asih juga memperlihatkan goyangan mautnya yang membuat semua orang sangat terhibur.
Dibalik dinding dapur, Tini hanya bisa mengintip semua orang yang melupakan dirinya.
Tini ingin sekali ikut bergabung, tetapi dia sangat malu dan tak memiliki keberanian.
Ju yang ingin mengambil jus tak sengaja melihat Tini yang termenung didapur.
"Tini, apa yang kamu lakukan?" tanya Ju.
"Ah, mas Ju. Aku gak papa mas. Cuma pingin sendiri saja!"
"Kenapa gak gabung sama yang lain?"
"Aku gak bisa nyanyi, mas. Hehe ..."
"Sepertinya suara kamu sama seperti calon kakak ipar. Jika disatukan, aku yakin rumah ini akan roboh!"
"Heheh e... Makannya itu aku tidak ingin rumah ini roboh."
"Emm, mau ikut denganku?" tanya Ju.
"Kemana, Mas!?"
"Ke kamar aku!"
"Ngapain!?"
"Aku dan Kak Raka sedang memperbaiki robot kecoak yang sudah kamu rusak!"
"Hehehe, apa boleh mas?" tanya Tini merasa senang.
"Asalkan jangan menyentuh apapun yang di kamar aku! Cukup kamu lihat saja betapa sulit aku membuat itu, supaya kamu tidak asal merusaknya begitu saja!"
"Hehe .. Siap, mas Ju!"
Akhirnya, malam itu Tini menghabiskan waktunya didalam kamar Ju bersama dengan Raka.
Tini yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang robotik hanya bisa ternganga dan terkagum-kagum melihat kecerdasan kakak beradik.
Bahkan, malam itu Tini di buat tidak percaya oleh sikap manis Ju.
Dia dengan suka hati membuatkan Tini sebuah cincin yang sangat unik. Dimana cincin itu bisa mengeluarkan jarum yang terdapat racun didalamnya.
"Tini, kamu bisa menggunakan ini ketika kamu dalam bahaya. Disini ada lima jarum, setiap harumnya ada racun. Cincin ini ada dua fungsi. Pertama dia adalah perhiasan mempercantik diri, kedua ini bisa jadi senjata jika kamu dalam bahaya!"
"Waw! Apakah racunnya mematikan, Mas?"
"Tidak, itu hanya akan membuat pingsan lawan dan melumpuhkan otot-ototnya selama 5 hari."
"Wah, selain cantik cincin ini sangat berbahaya Yo? Oya, kok tumben mas Ju baik sama aku?"
"Apakah aku jahat!?"
"Hehehe .. enggak sih, cuma hari ini beda saja!"
"Itu hadiah ulang tahun untuk kamu! Bukankah hari ini kamu ulang tahun juga?"
"Wah, dari mana mas Ju tahu aku ulang tahun hari ini!?" tanya Tini tidak percaya.
"Tidak ada yang tidak aku ketahui!" sahut Ju.
Tini tersenyum kagum melihat Ju. Meski dia sangat dingin dan galak, tapi ternyata Ju sangat perhatian dan perduli dengannya.
__ADS_1
Raka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Ju. Tapi ya begitulah adiknya satu ini. Raka tak hanya diam tak ingin menganggu adiknya.