
TIIIN...
Pak supir mentlakson dan meminggirkan mobilnya.
"Kak, Asih! Mau kemana!?" tanya Pink langsung berlari ke arah Asih dan di susul dengan yang lain.
"Walah.. kalian to, aku pikir tadi siapa tlakson-tlakson," ucap Asih mengelus dada.
"Iya ini kami. Kami baru saja pulang sekolah dan melihat kak Asih di jalan sendirian. Emang mau kemana sih, kak!?" tanya Pink.
"Em, aku mau pulang," jawab Asih.
"Emang dari mana? Kenapa ngak pakai supir atau panggilkan taksi," ucap Ju ikut bertanya.
"Hehehe.. aku ndak punya uang buat naik taksi," jelas Asih polos.
"Loh, bukannya mbak Asih udah punya suami, kaya lagi. Mosok ndak punya duit, ngapusi dosa loh, mbak!" sahut Tini.
Asih hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu menjelaskan apa karena memang dia tidak punya uang.
"Emm..." Asih ragu-ragu.
"Sudah-sudah! Kak Asih, katakan kepada Kami ada masala apa ini?" tanya Ju yang sepertinya mencium bau-bau masalah.
"Kalian kenal Angel. Dia meninggal," bisik Asih kepada anak-anak itu.
Jay, Jim, Ju dan Pink pun ikut tercengang Mendengar kabar tersebut. Hanya Tini yang tidak mudeng.
"Apa! Kak Angel pacarnya kak Raka yang menghilang itu, Dia sudah meninggal!? Kasihan sekali kak Raka," ujar Jay terkejut.
"Sekarang mereka di mana, kak?" tanya Ju.
"Em, mereka masih di rumah sakit," jawab Asih.
"Ya udah ayok kita ke rumah sakit sekarang!" seru Panik bersemangat.
Ketika semua sudah menuju mobil, mereka langsung terhenti ketika melihat Asih hanya diam saja.
"Kak Asih, ayok!" panggil Jim.
"Iya ayo kak, kenapa diam aja!" seru Pink.
Asih diam. Dia sudah berjalan jauh untuk meninggalkan rumah sakit, dan kini anak-anak malah ingin membawanya lagi ke sana .
"Ah, tidak usah. Aku mau pulang saja," sahut Asih bingung.
Tiba-tiba, Tini datang dan menggenggam tangan Asih.
"Mbak, mbak ndak usah cemas, aku bakalan nemeni mbak asih," ucap Tini sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
Asih tersenyum. Ternyata ada yang mengerti dirinya. Asih pun mengangguk dan akhirnya ikut masuk kedalam mobil.
Sesampainya di rumah sakit. Jay, Jim, Ju dan Pink berlarian seolah-olah itu adalah rumah mereka. Tentu, karena rumah sakit itu adalah milik keluarga mereka.
Lagi-lagi, Asih dan Tini hanya bisa mengikuti mereka dari belakang. Asih dan Tini berjalan santai karena mereka tidak tau harus bagaimana.
Sampai akhirnya, Asih melihat beberapa ruang khusus untuk perawatan anak-anak. Di sana ada beberapa macam anak-anak kecil yang menggemaskan. Meski mereka sedang sakit, tetapi anak-anak itu kompak untuk tidak memikirkan penyakitnya dan asyik bermain dengan teman yang lain.
Asih yang tidak ingin melihat Raka yang masih mencuekannya, mengajak Tini untuk mengunjungi anak-anak itu.
"Em, Tini coba kamu lihat anak-anak itu. Kita ke sana yuk!?" ajak Asih.
Tini melihat ada anak kecil juga di sana, dia jadi teringat dengan adik lelakinya.
"Ayok, mbak!" sahut Tini antusias.
Akhirnya Asih dan Tini dengan asyik bermain dengan malaikat kecil yang sangat malang. Tetapi mereka terlihat sangat happy seolah-olah tidak perduli dengan penyakit yang sedang mereka rasakan.
Asih dan Tini benar-benar merasa sangat senang berada di antara anak-anak pintar itu. Beban pikiran mereka seolah-olah terobati dengan senyuman mereka.
Di sisi lain, Jay, Jim, Ju dan Pink telah sampai ke ruangan Angel.
"Mama!?" sapa si Triple J kepada Mumut.
"Sayang!? Kalian di sini? Dari mana kalian tahu jika kami di sini?".tanya Mumut.
"Loh, di jalan mana? Bukannya Asih dari tadi duduk di sana! Loh, kemana dia?" ujar Mumut yang baru sadar jika Asih tidak ada di kursi panjang.
"Nah, itu dia mah. Tadi katanya kak Asih aku pulang. Tapi karena nggak punya uang jadi dia jalan," sahut Jim.
"Ya Allah Gusti...!" Mumut menepuk jidat. "Ibu sampe gak tau kalo Asih gak ada di sini. Ya Allah, di mana sekarang dia?" tanya Mumut.
Tripel J dan Pink pun menoleh ke kebelakang mereka mendapatkan jika Asih dan Tini tidak ada.
"Loh, tadi mereka ada di belakang kita," ujar Pink bingung.
"Coba kalian cari dulu, kalo udah ketemu, suruh Asih dateng ke sini. Kakak kalian Raka tidak juga mau di bujuk, Ibu benar-benar merasa sangat kasihan melihatnya," ujar Mumut menunjukan kepada anak-anak bagaimana terpuruknya Raka di samping jasad Angel.
Triple J dan Pink pun merasa ikut iba. Siapa yang tidak tahu hubungan antara Raka dan Angel dan bagaimana Raka mencintai Angel.
"Ibu, kami akan cari kak Asih dan Tini sebentar," ujar Ju.
"Ya sudah, hati-hati ya?"
"Iya ..."
Di sisi lain, terlihat Pangeran yang sedang berbicara dengan Paula.
",Sayang, karena kondisi Raka seperti ini, aku harus menggantikannya untuk pergi dinas keluar negeri. Sepertinya akan memakan waktu 2 bulan," ucap Pangeran memberi tahu Paula.
__ADS_1
Paula sedikit berat tetapi dia mengerti bagaimana keadaan mereka. Mau bagaimana pun, Raka sudah dia anggap seperti anak sendiri. Melihat putranya seperti itu, jelas Paula tidak bisa egois.
"Tapi kamu harus hati-hati, jangan macam-macam di sana," ucap Paula manja.
"Aku sudah tua, siapa juga mau dengan pria seperti ku," gurau Pangeran.
"Hay! Apakah kamu tidak bercermin, meski usia kamu sudah menginjak angka 5, tetapi kamu masih terlihat seperti kepala 3," ucap Paula dengan serius memberi tahu Pangeran.
"Hahaha... Iya iya.. aku tau jika aku ini awet muda, tapi bukan berarti aku akan bertingkah seperti anak muda lagi. Selain aku ingat umur, aku juga selalu mengingat mu," ucap Pangeran penuh kasih dan sayang kepada Paula.
"Ya sudah iya..iya.. aku percaya padamu," ucap Paula memeluk sang suami sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan rumah sakit.
"Aku titip Raka," ucap Pangeran.
" Baiklah, dia juga anakku, aku akan menjaganya," balas Paula.
"Terima kasih, emuach," Pangeran pun mencium kening Paula dan lalu pergi.
Di sisi lain, Laras melihat bagaimana Papahnya bersikap sangat manis kepada Paula sang ibu tiri.
Laras mendengus berat dan berfikir.
"Andai itu mama dan papah tidak berpisah, pasti aku tidak akan merasakan kekurangan kasih sayang di antara mereka," gumam laras menunduk lesu.
Ketika Paula berbalik, dia tidak sengaja melihat Laras yang terlihat sangat sendu. Paula pun mencoba mendekatinya.
"Laras, ada apa, nak?" tanya Paula ramah.
Laras yang mendengar suara Paula pun merasa terkejut dan menaikan kepalanya. Terlihat mata Laras yang seperti sangat dendam kepada Paula.
"Bisakah anda melepaskannya!?" ucap Laras yang tidak dapat Paula mengerti.
"Melepaskan!? Melepaskan apa sayang?" tanya Paula.
"Sudahlah! Tidak perlu berbasi-basi. Aku bukan anak anda jadi stop memanggil saya seperti itu!" tukas Laras.
Paula tersenyum kaget dengan ucapan Laras yang masih tidak dia mengerti.
"Laras, ada apa ini? Mengapa kamu jadi begini?" tanya Paula.
"Andai kamu tidak ada, mamah dan papah pasti bisa rujuk kembali. Mereka saling mencintai sejak muda, hanya karena masalah kecil lalu anda datang dan merebut Papah dan mamah. Andai anda tidak ada, aku pasti tidak akan kekurangan kasih sayang dari papah. Kamu datang di antara kami hanya untuk menambahkan masalah di antara keluarga kami. Mamah Sarah sudah bisa melewati masa sulit dengan ibu Mumut. Ketika mereka akan berbaikan, mengapa anda harus datang! Mengapa!" teriak Laras.
Deg...
Air mata Paula pun tumpah seketika. Dia sangat terkejut dengan ucapan Laras sehingga dia tidak dapat berkata apa-apa.
"Aku mohon, lepaskanlah Papah dan biarkan dia rujuk kembali dengan mamah. Kamu tahu, di negeri orang, mamah selalu sendiri dan termenung. Dia menolak semua pria yang datang padanya, semua karena dia masih mencintai papahku. Hiks..hiks.. aku mohon, lepaskanlah Papah. Anda tidak memiliki anak, tidak akan sulit bagi kalian untuk berpisah, karena tidak ada tali yang mengikat kalian," ucap Laras terlihat sangat memohon kepada Paula supaya melepaskan Pangeran.
Paula yang sangat sakit hati dengan ucapan Laras pun hanya bisa pergi meninggalkan Laras tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sungguh, kata-kata Laras ada sebuah parang yang memporak-porandakan hatinya.
__ADS_1