
Di rumah sakit, terlihat Asih yang hanya duduk terdiam ketika melihat keluarga besar Raka datang. Semua orang sangat sibuk untuk memenangkan Raka yang terlihat sangat hancur dan juga sibuk untuk mengurus pemakaman untuk Angel.
Mumut, Paula, dan Pangeran disibukan menenangkan Raka.
Yuda di sibukkan untuk mengurus pemakaman Angel dan juga berdebat dengan pihak keluarga Angel yang selama tidak tahu di mana rimbanya lalu kemudian datang dan meminta asuransi dari pihak rumah sakit. Karena yang Angel adalah salah satu dokter dari rumah sakit milik Yuda, Ayah sambung Raka.
Yuda mencoba menghubungi ibu tiri Angel karena bermaksud untuk menanyakan bagaimana proses pemakaman Angel, mau di kubur dimana. Tapi ternyata, ibu tiri Angel tidak perduli tentang jasad Angel dan hanya ingin meminta asuransi Angel. Sedangkan Ayah Angel tidak tahu mengapa dia tidak datang.
Sedangkan Yasmin, dia sibuk mengintrogasi Jaka yang selama ini ternyata dia tahu dimana keberadaan Angel. Bahkan sampai hati Jaka hanya diam dan tidak ingin memberi tahu Raka bahwa sebenarnya Angel sedang sakit parah selama dia menghilang.
Asih, dia hanya bisa menatap semua orang yang sedang sibuk dengan kesibukannya masing-masing tanpa ada melihat dirinya yang duduk sendirian di kursi panjang koridor.
Asih yang tidak tahu harus apa akhirnya memutuskan untuk diam saja dan menyaksikan segalanya. Segalanya tentang suaminya yang benar-benar menjadi gila karena kematian sang kekasih, Angel.
"Aku tidak akan memberikan asuransi jiwa Angel jika ayah kandung Angel tidak datang!" ucap Yuda menentang ibu tiri Angel yang terlihat sangat judes dan ingin enaknya sendiri tanpa mau bertanggung jawab.
"Bapaknya telah mati juga. Jadi hanya aku satu-satunya Keluarga yang Angel punya. Pokonya aku gak mau tau, asuransi jiwa Angel harus jatuh ke tanganku. Sebab, aku memiliki anak dari Ayah Angel, jadi anakku adalah sodara kandung Angel juga," sentak wanita itu.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Angel telah memberikan wasiat yang tertera dan tulisannya. Jika Ayahnya tidak datang mengambil, maka semua harta Angel akan disumbangkan ke panti Asuhan dan juga panti jompo!" tegas Yuda dan juga menunjukan wasiat Angel yang telah tertulis.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya. Dia langsung pergi bukan karena merasa kalah, tapi dia pergi untuk mendatangkan seorang pengacara untuk menuntaskan kasus ini.
Yuda hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sungguh dia sangat prihatin oleh nasib Angel. Sampai mati bahkan dia harus memiliki takdir seperti ini.
Di dalam ruangan VVIP, terlihat Raka yang masih enggan untuk melepaskan jasad Angel. Dia memeluknya sangat erat seolah-olah berkata aku ingin mati bersamanya.
__ADS_1
"Sayang, tabahkanlah hatimu nak. Kita harus merelakan dia yang sudah tiada. Kita doakan supaya Angel dapat tenang di sisi-Nya!" ujar Mumut.
"Benar, Nak. Sebagai pria kita harus kuat sayang. Angel telah memilih jalannya dan berkahir seperti ini. Angel pasti melakukan semua ini karena tidak ingin melihat kamu seperti ini. Kita harus merelakan sayang. Lepaskan Angel supaya kita bisa segera memproses pemakaman untuk Angel," tambah Pangeran mencoba untuk merangkul putra satu-satunya.
Namun segala cara mereka membujuk, Raka masih tetap dalam posisi merangkul jasad Angel. Dia enggan untuk berbicara kepada siapapun. Rasa sakit yang dia rasakan mampu mengalahkan kekuatannya yang selama ini dia miliki.
Mumut, Pangeran dan juga Paula merasa putus aja membujuk Raka. Mereka pun mencoba membiarkan Raka sejenak lagi untuk meratapi kepergian Angel.
Setelah keluar dari kamar Angel, Mumut langsung menghampiri Yuda dan bertanya bagaimana proses pemakaman Angel. Yuda pun menceritakan tentang ibu tirinya yang tidak peduli Angel mau di makamkan dimana.
Mumut dan yang lain setelah mendengarnya pun ikut prihatin atas sikap ibu tiri Angel.
Di sisi lain, di ruang kerja Jaka, terlihat dia hanya bisa tertunduk menghadapi segala pertanyaan tentang Angel.
"Daddy, jadi selama ini Daddy tahu tentang Angel dan tidak pernah mau mengatakan yang sebenarnya kepada Raka. Apakah kamu tidak pernah melihat bagaimana gilanya Raka selama ini mencari dan menunggu Angel! Sampai hati kamu berbohong sampai seperti ini. Satu lagi! Jangan-jangan, selama beberapa bulan terkahir kamu jarang pulang dan sering menginap di rumah sakit itu karena kamu sedang mengurus Angel!?" tanya Yasmin membara. Sungguh dia tidak habis pikir dengan cara berpikir suaminya itu.
"Maafkan aku." Hanya itu keluar dari mulut Jaka saat ini.
Ketika Yasmin akan meluapkan lebih banyak kekesalan, seorang suster datang berkata, " Dok, ada pasien mengalami kecelakaan, harus melakukan operasi darurat!" ujar Suster memberi tahu Jaka.
Jaka pun langsung berdiri dan berniat ingin meninggalkan Yasmin begitu saja. Tetapi ketika sampai pintu, dia menghentikan langkah kakinya dan putar balik menghadap sang istri.
Terlihat Yasmin yang terpaku sembari menetaskan air mata dalam diam. Yasmin, dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sang suami.
Jaka kembali dan memegang kedua tangan Yasmin. Lalu, dia mengusap air mata Yasmin yang mengalir dengan derasnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku akan menjelaskan semuanya setelah ini. Tetapi aku mohon, sebelum itu izinkan aku menyelamatkan nyawa seseorang. Ini adalah tugasku," ucap Jaka lagi dan lagi meminta pengertian dari sang istri.
Tanpa menunggu Jawaban Yasmin, Jaka pun langsung bergegas pergi meninggalkan Yasmin begitu saja.
"Jaka, aku juga adalah tanggung jawab mu. Hiks...hiks...!"ucap lirih Yasmin yang langsung tersungkur dan berpaku pada kedua lututnya.
....
Di sisi lain, Asih yang tidak tahu harus apa akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Toh, di sana tidak ada melihatnya. Pikir Asih.
Ketika keluar, di depan Asih melihat Laras yang terlihat sangat cemas. Sepertinya dia juga sangat kehilangan Angel.
Bisa kita ingat, bahwa Angel juga turut tangan untuk membantu Laras supaya bisa jalan dahulu.
Ketika berpapasan, terlihat Laras yang hanya melirik sinis ke arah Asih. Asih yang awalnya ingin menyapa pun langsung tertunduk. Dia sangat tahu jika Laras sama sekali tidak menyukai dirinya. Tidak tahu apa salahnya, Asih pun hanya bisa diam.
"Hem...!" Asih pun hanya bisa membuang nafas dengan kasar.
"Yo wes lah, aku tak pulang saja. Toh di sini juga mau ngapain," gumam Asih mencoba menegarkan dirinya sendiri.
Ketika sampai jalan raya dan berjalan beberapa kilo meter, di lampu merah, terlihat Jay, Jim, Ju, Tini dan juga Pink dari mobil melihat Asih yang berjalan dengan lesu. Mereka baru saja pulang dari sekolah dan tidak sengaja melihat Asih jalan sendirian.
"Itu kak Asih kan!?" ucap Pink memberi tahu semuanya.
"Oh, iya. Ngapain dia jalan sendirian di jalanan kaya gini. Panas-panas lagi!" sahut Jim..
__ADS_1
"Pak, kita samperin kak Asih ya," ucap Ju.
"Asiap tuan muda..!" sahut Pak supir gokil seperti biasa. Dia tidak tahu jika kini majikannya sedang dalam situasi tegang.