
Mobil berjalan dengan perlahan. Laras yang melihat darah di hidung Raka masih saja mengalir, ia memutuskan untuk meminggirkan mobilnya.
"Kak, apakah kamu baik-baik saja. Kita kerumah sakit, ya?" tanya Laras cemas.
"Tidak perlu Laras, kita langsung pulang saja," sahut Raka yang nampak tak berjiwa. Dia masih terbayang-bayang oleh pelayan berambut kepang itu.
"Kak, are you oke?"
" Laras, darimana datangnya orang-orang berbaju hitam itu?" tanya Raka yang teringat dengan mereka.
"Emm, mereka adalah bodyguard khusus untuk mengawasi kita dari jarak jauh. Kak, kita butuh orang-orang semacam mereka," jelas Laras.
"Laras, mengapa aku tidak pernah terfikirkan itu untuk menjaga Yuma," ujar Raka terlihat berfikir.
"Itu karena kakak selalu sibuk dengan urusan kakak sendiri. Bahkan, Yuma hanya bisa menambah pekerjaan kakak menjadi tambah rumit! Laras dengar ini dari nenek Ratu," ujar Laras.
"Hm... dia adalah anak berbeda, kita harus extra sabar untuk menghadapinya. Tetapi, selain itu juga dia adalah anak yang sangat baik. Selalu saja ada hal-hal kejutan yang bisa dia berikan. Hmm... kakak sangat merindukan kebawelannya," ujar Raka.
Laras hanya melirik Raka dengan lembut. Cemburu, tentu itu yang sedang Laras rasakan.
Laras bergumam dalam hati." Kak, aku akan membuktikan kepadamu jika aku juga k
layak untuk menjadi adik yang pantas kamu cintai.!"
"Kak, kita pulang?" tanya Laras.
"Ah, iya Laras!" sahut Raka.
****
Disisi lain, Ju yang baru selesai curhat kepada keluarganya tentang apa yang barusan terjadi di rumah Genius, ia memutuskan untuk istirahat.
__ADS_1
Mumut yang melihat Ju tidak lagi mendiamkannya, merasa sangat senang meski akhirnya akan begini.
Ketika Ju memasuki kamarnya, matanya seketika membulat melihat Tini yang ada yang ada didalam kamarnya. Dia seperti sedang membersihkan sesuatu dilantai.
"Hay! apa yang kamu lakukan dikamarku!" tukas Ju terlihat sangat marah.
"Ah! Emm, mas, nganu... nganu...!" Suara Tini gugup.
"Nganu-nganu apa!?"
"Iki opo mas, aku kira tadi ada kecoak dimeja belajar mas Ju. Tapi....eeee... tapi pas aku pukul kecoak ini malah hancur dan berantakan. Mas.. Nganu, aku gak tahu kalo ini adalah robot kecoak, soalnya mirip banget kaya aslinya." Tini yang setelah menjelaskan langsung tertunduk ketika melihat wajah dingin Ju langsung memancarkan aura mematikan.
"Keluarlah!" ucap Ju terlihat sangat menahan sesuatu.
"Mas, sepurane...!"
"(Mas, maafkan..!)"
"Apakah kamu tahu, butuh waktu berapa lama aku untuk menyelesaikan ini. Kecoak kecil ini lebih sulit dari pada aku harus membuat robot wanita bodoh sepertimu!" tukas Ju terdengar sangat tajam membuat Tini langsung tersayat-sayat.
"Hiks...hiks... maaf mas, Ju...!" Hanya itu yang dapat Tini ucapkan.
Ceklek... Suara pintu terbuka.
"Hay, ada apa ini?" tanya Jay yang melihat Ju dan Tini yang saling berdekatan. Jay sempat berfikir jika Ju telah berbuat tidak senonoh kepada Tini ketika Jay melihat Tini sedang menangis.
"Ju, apa yang lakukan kepada Tini!" Jay dengan tatapan mengintimidasi.
"Jay, ini salah aku. Aku yang wes merusak robot kecoak mas, Ju!" sahut Tini yang masih terisak.
Seketika Jay pun merasa sangat lega.
__ADS_1
"Owh...tidak papa Tini. Kamu tidak perlu menangis karena Ju bisa memperbaikinya sendiri hanya dalam waktu kurang dari tiga hari," ujar Jay mencoba untuk menenangkan Tini.
"Tapi Jay, Mas Ju bilang dia butuh waktu lama untuk menyelesaikan robot kecoak itu daripada harus membuat robot wanita bodoh seperti aku," ucap Tini mengatakan apa yang Ju katakan dengan polosnya.
"Hahaha.... tiga hari memang waktu yang cukup lama bagi dia menyelesaikan pekerjaannya," jelas Jay.
"Opo! Ya Allah, seng bener Jay!" Tini sangat terkejut sampai dia tak tahan untuk tidak menggelengkan kepalanya.
"Ho'oh!" sahut Jay.
"Mas Ju, sampean benar-benar hebat. Tapi sayang, pean galak tenan!" ujar Tini sambil memanyunkan bibirnya membuat Ju merasa geli melihatnya.
"Jay, bawa wanita ini keluar!" ujar Ju.
"Ju, bisa tidak jika kamu itu sedikit bersahabat dengan Tini. Dia wanita yang baik!"
"Aku tidak butuh sahabat!"
"Untuk sekarang, tapi kamu tidak tahu untuk kedepannya. Siapa tahu kamu akan membutuhkan Tini kedepan nanti!"
"Aku akan membutuhkan orang seperti dia untuk jadi pelayan. Bahkan pelayan yang aku butuhkan adalah mereka yang otaknya sedikit selevel denganku!" ucap Ju benar-benar sangat tajam..
Mendengar penghinaan yang Ju lontarkan kepada Tini, membuat Jay sangat kesal dan marah.
"Tini, ayok kita keluar dari neraka ini. Di sini hanya untuk mereka yang memiliki IQ setinggi langit. Orang macam kita hanya akan membuatnya alergi," ujar Jay menatap Ju dengan sangat tajam. Tetapi Ju masih enggan untuk melirik saudara kembarnya.
Tini yang dihina sebenarnya tidak apa-apa karena dia masih merasa jika semua memang salahnya.
Tini juga sadar diri jika Ju sedari awal tidak menyukai dirinya masuk ke dalam rumah besar itu.
*****
__ADS_1