FAMILY AMBYAAAR

FAMILY AMBYAAAR
2 bulan kemudian


__ADS_3

2 bulan telah berlalu.


Seperti biasa, Asih akan membuatkan sarapan dan menunggu Raka pergi dan baru dia akan keluar.


Kejadian seperti ini sudah 2 bulan berlangsung. Raka, dia masih tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya jika dirinya kini telah baik-baik saja. Sedangkan Asih, dia juga tidak berani untuk menampakkan wajahnya jika tidak ada perintah dari Raka.


Sampai akhirnya, pagi ini Raka terlihat sangat buru-buru. Bahkan dia makan dengan tidak benar dan langsung bergegas untuk berangkat ke kantor.


Asih, ketika dia melihat Raka sudah pergi pun langsung mengambil tasnya karena dia juga sudah ada janji dengan guru privatnya (gurunya wanita,ya).


"Ah, aku juga sedikit terlambat, semoga aja mbak guru gak marah," gumam Asih.


Tapi, ternyata Raka sepertinya meninggalkan sesuatu di atas meja makan. Ketika Raka masuk, itu bertepatan dengan Asih yang akan keluar.


Dua mata yang sudah lama tidak saling memandang, kini mereka akhirnya bisa saling menatap. Setelah dua bulan, Raka benar-benar terkejut dengan perubahan sang istri yang terlihat sangat cantik dan manis.


Wajah kusamnya kini berganti dengan wajah bersih nan glowing.


Asih yang kaget pun langsung berniat untuk kembali ke kamarnya. Sungguh Asih sangat takut jika perbuatannya ini akan membuat Raka marah padanya.


Tapi ternyata Raka menghentikannya.


"Asih, tunggu!" ucap Raka sambil menarik tangan Asih.


"Maaf, mas. Aku kira tadi mas Raka udah pergi," sahut Asih terlihat ketakutan.


"Asih, tidak papa. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak marah," ucap Raka mencoba menengkan Asih dan meminta Asih untuk menatap matanya.


Asih pun mencoba membuka matanya dan menatap mata indah itu dari dekat.


Jantung Asih serasa memburu ketika Raka mendelik ke arahnya.


"A..ada apa mas?" tanya Asih.


"Apakah kamu hamil?" tanya Raka tiba-tiba.


"Apa mas? Hamil! Ndak mas, aku ndak ham..." Asih langsung terdiam ketika dia ingat jika dirinya memang sudah telat datang bulan dua bulan ini.


Tapi Asih langsung mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Mas Raka tau darimana aku kalo hamil?" tanya Asih.


"Denyut nadimu," ucap Raka sambil menunjukan jari-jarinya yang sedang menyentuh lengan Asih..


Asih pun ternganga tidak percaya. Hanya dengan memegang lengannya, Raka bisa tau kalo dirinya sedang hamil, yang mana Asih sendiri sebenarnya tidak tau jika dirinya sedang hamil.


Raka pun langsung memeluk Asih dengan sangat erat. Bahkan Raka menetaskan air mata harunya.


"Terima kasih banyak, terima kasih, terima kasih," ucap Raka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Asih.


"Mas, tapi kita harus periksa ke dokter dulu. Siapa tau kamu salah," ucap Asih mencoba untuk mencari kebenarannya. Karena Asih tidak ingin ada kesalahan pahaman yang mana itu akan membuat Raka malah kecewa.


Tapi, bukannya menjawab, Raka malah membopong Asih dan membawanya ke dalam kamarnya.


Asih, dia hanya bisa menatap tak percaya dengan sikap Raka. Dia memandangi wajah Raka yang selalu tersenyum karena bahagia. Meski Asih merasa senang, tetapi dia juga merasa takut jika diagnosa Raka salah dan Raka malah akan kecewa dengan dirinya. Karena telat bulan, dulu waktu gadis Asih juga sering mengalami yang namanya telat bulan.


Setelah sampai kamar, Raka langsung merebahkan tubuh Asih.


" Aku tidak pernah salah. Aku sangat yakin kamu sedang hamil. Kehamilan kamu masih sangat muda, aku harap kamu tidak kemana-mana karena aku lihat janin kamu sedikit lemah," ucap Raka dengan lembut sembari menyelimuti tubuh Asih dengan selimut.


Asih pun tambah di buat tidak percaya dengan Raka. Asih saat ini benar-benar mengira jika Raka telah kumat gila dan kini dia sangat berasumsi ingin segera memiliki anak sehingga dia melakukan kegilaan ini.


"Mas, apakah kamu sangat ingin punya anak sampai-sampai sakit kamu kambuh lagi?" ucap Asih dengan lembut karena dia takut akan membuat Raka murka dengan ucapannya.


Raka mengerutkan keningnya lalu dia tertawa terbahak-bahak.


",Hahahahahahaaaa...... Asih ... Aaaasih, Hahahaaa...!" tawa Raka sangat menggelegar membuat Asih merasa merinding.


Asih pun terlihat sangat pucat karena dia yakin jika Raka memang sudah gila.


"Fix, mas Raka tenan edan Iki!" batin Asih.


Raka pun langsung mencoba mengontrol dirinya sendiri dan membuka Handphonenya.


"Bawakan tespek ke rumah. Bawa yang paling bagus dan bawa beberapa jenis," ucap Raka kepada seseorang di telpon.


Setelah mengatakan itu, Raka pun mengirim pesan kepada Laras dan berkata jika dirinya tidak bisa ikut hadir di dalam peresmian cabang usaha milik rekan kerjanya.


Laras yang mendapatkan pesan itu pun hanya bisa mendengus berat. Lagi-lagi, Raka tanpa alasan yang pasti membuatnya bekerja dua kali lebih keras.

__ADS_1


Setelah beberapa saat sibuk dengan ponselnya setelah tertawa terbahak-bahak, Asih pun hanya bisa terpaku sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Sayang, kamu jangan cemas, aku tidak gila dan tidak dalam keadaan setres. Apakah kamu tidak tau betapa pintarnya suamimu ini!?"


Asih pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu bisa tanyakan kepada ibu jika ingin tau," ucap Raka.


"Bolehkah aku menelepon ibu sekarang,?" tanya Asih. Sebenarnya, itu hanya akal-akalan asih supaya dia bisa meminta tolong kepada Ibu mertuanya. Sungguh Asih masih tidak percaya dan menganggap jika Raka memang sedang kumat.


"Telponlah," jawab Raka santai. Raka beranjak dari sisi Asih dan membuka jasnya dan juga melepaskan dasinya.


"Loh, mas Raka gak berangkat kerja?" tanya Asih.


"Aku akan disini menemani kamu. Sudah kubilang, kandunganmu sangat lemah, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anakku," jawab Raka.


Asih pun semakin mengelus dadanya karena dia sangat prihatin dengan keadaan Raka yang semakin gila.


"Mas, Bolehkah aku menelpon di luar!?" tanya Asih ragu-ragu.


"Tidak! Telpon saja di sini. Aku akan membuatkan jus buah untuk mu. Kamu belum makan apa-apa sedari tadi kan?" tanya Raka.


Asih pun hanya mengangguk pasrah. Melihat Asih, entah mengapa Raka benar-benar tidak bisa menahan tawanya.


"HAHAHAHA.....!" tawa Raka sambil berjalan keluar kamar.


Asih pun serasa ingin mati karena ketakutan. Dia pun langsung menelpon Mumut untuk meminta pertolongan.


"Hallo... Halo ibu, ibu apakah ibu bisa menolong Asih? Mas Raka kembali gila dan dia mengurung Asih di dalam kamarnya. Asih sangat takut buk," ucap Asih bergetar. Bukannya bertanya tentang Raka, Asih malah mengadu jika Raka telah kumat kembali gila.


"Apa! Ya tuhan, sekarang Raka sedang di mana? Apa yang mau di lakukan Raka sama kamu, nak! Ya Allah Gusti Rakaaaa.!" teriak Mumut histeris dari balik telpon.


"Mas Raka sedang di dapur membuat jus. Buk, cepet kesini dan tolong Asih," ucap Asih terlihat sangat ketakutan.


"Iya, Nak! Kamu sabar ya. Ibu akan datang kesana. Ibu akan membawa dokter gila juga untuk menangkap Raka," sahut Mumut mencoba untuk menenangkan Asih.


"Iya, buk. Jangan lama-lama, ya. Asih takut sekali."


"Iya, sayang. Sabar ya, nak! Ibu akan segera datang!"

__ADS_1


__ADS_2