
Siska berada di dalam kamarnya, mengganti gaun yang telah di pakainya di acara dinner itu. Setelah mengganti pakaiannya, gadis itu melihat kearah cermin di kamarnya. Ia menatap lama kearah pantulan kaca.
"Benarkah pilihanku untuk menjadi kekasihnya. Kenapa aku belum bisa mencintai Erwin seperti layaknya pasangan.." gumam Siska sendiri. Gadis itu teringat dengan kejadian di restoran tadi, beberapa kali dia melihat Arga mencuri tatap kearah Raeviga. Saat itu perasaannya terasa tertekan melihatnya.
Suara dering ponsel milik Siska membuat gadis itu berjalan menjauh dari kaca yang sejak tadi di pandanginya. Siska melihat nama Erwin yang menelponnya. Ia meraih ponsel itu dan menerima panggilan itu.
"Halo.." seru Siska memulai pembicaraannya.
"Sayang, kamu masih belum tidurkan?" tanya Erwin dari seberang telepon.
"Belum, kamu sudah sampai rumah? kok cepet.."
"Aku dikantor, masih ada beberapa pekerjaan yang masih harus aku selesaikan.." jawab lelaki itu dan mengakhirinya dengan helaan napas panjang.
"Kamu lelah ya, istirahat dulu aja.." ucap Siska yang juga mendengar suara dari helaan napas Erwin.
"Enggak, aku cuma kangen kamu aja. Aku masih ingin mengobrol lama sama kamu. Tapi aku juga harus segera menyelesaikan pekerjaan kantor ini.."
Dari seberang telepon Erwin, Siska tersenyum kecil mendengar ucapan lelaki itu.
"Aku masih bisa menemani kamu lewat panggilan ini kok. Lanjutkan aja kerjanya.." timpal Siska menjawab keluhan kekasihnya.
"Pengennya gitu. Tapi konsentrasinya bakal buyar deh kalo ditemenin kamu terus. Jadi makin kangen, ingin ketemu kamu lagi.." balas Erwin dengan senyum terkekehnya di balik telepon Siska.
"Kok jadi nge-gombal..." jawab Siska yang ikut tersenyum kecil mendengar ucapan Erwin.
"Biar kamu juga jadi kangen sama aku.."
Siska hanya tersenyum tipis, di dalam hatinya ia merasa sangat bersalah. Melihat cinta yang begitu tulus dari Erwin untuknya sedangkan dia masih belum bisa menghilangkan sepenuhnya perasaan cintanya pada Arga.
Tuhan, jika dia adalah nama yang memang telah digariskan untuk bersamaku. Maka bantu aku melupakan perasaan yang salah ini dan menumbuhkan perasaan yang baru hanya untuk lelaki yang telah di pilih oleh-Mu...
"Sis, Siska..sayang kamu belum tidurkan?" tanya Erwin membangunkan Siska dari lamunannya.
"Maaf gak denger, belum kok..." ucap Siska memberi alasan.
"Yaudah, kamu tidur ya udah malem..besok pagi aku kerumahmu.."
"Besok pagi? emang ada apa?" tanya Siska bingung.
__ADS_1
"Mau jemput kamu sayang. Aku anterin kamu kerja mulai besok jadi gausah naik ojol lagi. Aku cemburuan soalnya.." ucap Erwin dengan senyum kecil di akhir kalimatnya.
"Hmm, tapi win ntar jadi merepotkan kamu. Aku gak apa kok naik ojol aja.."
"Kan aku sudah bilang sayang, aku itu pria yang cemburuan. Pokoknya besok aku jemput. Selamat malam pacar.." pinta Erwin pada kekasihnya.
"Yaudah, iyaa. Selamat malam juga. Jaga kesehatan.." balas gadis itu. Berselang beberapa detik panggilannya dengan Erwin telah terputus.
Siska meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Gadis itu memandang lama langit-langit kamarnya dan memikirkan berbagai hal yang telah terjadinya di kehidupannya, hingga akhirnya gadis itu terlelap dalam tidurnya.
Aku sangat bodoh. Seharusnya aku bersyukur telah dipertemukan dengan lelaki seperti Erwin..
Seperti halnya Siska, Arga yang telah berada di dalam rumahnya dengan dua botol beer yang menemaninya saat ini. Lelaki itu berada di balkon rumahnya memandangi langit malam yang terasa dingin itu.
"Kenapa gadis miskin itu terlihat cantik tadi. Bodoh, aku tidak mungkin memiliki perasaan padanya.." Arga menuangkan kembali minuman itu ke dalam gelas kecil dan meminumnya.
"Perasaanku pada Raeviga tidak mungkin goyah begitu saja. Sejak dulu aku hanya mencintainya..dan kali ini perasaanku harus sama.."
Kilas balik 5 tahun yang lalu membuat Arga mengenangnya kembali. Saat itu Arga baru saja menyelesaikan kuliahnya dan akan pergi menuju perusahaan milik keluarganya yang akan membantu perusahaan bersama Almarhum Papanya. Saat lelaki itu sampai di depan perusahaannya ia melihat seorang gadis dengan seragam SMA yang lusuh dan bekas tamparan di pipi kanannya sedang berdiri di samping gerbang perusahaan.
Arga yang melihat hal itu, meminta supir untuk menghentikan mobilnya. Arga masih diam di dalam mobilnya dan memperhatikan gadis itu yang terlihat beradu mulut dengan satpam perusahaan. Saat gadis itu tak sengaja terdorong hingga jatuh, Arga keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri gadis itu.
"Orang ini.." Satpam perusahaan akan menjawab ucapan Arga namun Raeviga dengan cepat menyela ucapannya.
"Apa kamu bekerja disini? bisakah kamu bantu aku bertemu dengan pemilik perusahaan? Dia bernama Gusti Dewantara..bisakah kamu membantuku.." pinta Raeviga memohon.
"Lupakan saja gadis ini tuan, sejak kemarin dia terus saja menghampiri perusahaan dan mengaku-ngaku.." ucap Satpam perusahaan itu.
"Aku tidak berbohong. Papaku sakit keras, aku perlu bantuan dari tuan Gusti.Pemilik perusahaan ini.."
Arga mengerutkan keningnya. Ia menatap Raeviga lekat.
"Apa hubunganmu dengan Papaku?"
"Dia orang tuamu? Kalau begitu tolong bantu aku. Aku anak dari Ginanjar, Papamu pasti tahu tentang Ayahku. Tolong bantu Papaku.." pinta Raeviga lagi sembari menundukkan kepalanya bersedih.
Melihat kesedihan Raeviga, Spontan Arga memeluk Raeviga dan menenangkannya. Seolah ia melihat kesedihannya sendiri dari dalam diri Raeviga. Ia menepuk punggung Raeviga pelan.
"Tenanglah, aku akan membantumu. Tak perlu bersedih.Aku akan mempertemukanmu dengan Papa.."
__ADS_1
Flashback End
Arga menatap Langit malam sendiri dan sekali lagi meneguk minuman keras itu. Ia meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat pada Raeviga.
(Whatsapps Arga)
Arga : Rae, apakah kamu sudah tidur? aku ingin mengatakan sesuatu..
8 menit kemudian
Arga meraih ponselnya ketika terdengar suara dering pesan masuk.
Raeviga : Belum, ada apa? apa sangat penting?
Melihat Raeviga membalas pesannya, Arga dengan cepat mengubah obrolan mereka dengan panggilan telepon. Tak menunggu lama, Raeviga mengangkat panggilan masuk itu dari Arga.
"Halo, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Raeviga ketika panggilan itu telah terhubung.
"Kamu benar Rae, telah terjadi sesuatu dengan perasaanku saat ini.." balas Arga dengan nada suara yang sedikit mabuk.
"Kamu mabuk? kamu baik-baik saja kan?" tanya Raeviga dari seberang telepon.
"Aku tidak sedang baik-baik saja Rae, kenapa perasaanku jadi berubah seperti ini. Kenapa aku tidak bisa mengendalikannya. Aku hanya mencintaimu..tapi kenapa perasaanku tidak bisa mengatakan seperti itu lagi sekarang.." Arga membuka botol Beer keduanya dan meminumnya langsung dari botol itu.
"Kamu meracau tentang apa pak Arga? Apa kamu sedang dirumah saat ini? kamu sangat mabuk.."
Arga tersenyum miris, ia meletakkan botol beer-nya dan mengulang kembali ucapannya.
"Aku bilang, aku..mencintaimu Raeviga.. tapi kenapa perasaanku tak senyaman dulu. Kenapa aku merasa sakit hati saat gadis miskin itu harus dekat dengan temanku sendiri. Shit!" pekik Arga dengan nada suara lebih keras dari sebelumnya.
Raeviga yang masih mengemudikan mobilnya, tertegun dengan ucapan lelaki itu.
"Pak Arga, kamu sepertinya sangat mabuk. Kamu meracau tidak jelas. Kita akan membicarakannya besok. Kamu tidak mungkin memiliki perasaan kepadaku. Aku sudah menganggap kamu seperti saudaraku sendiri.."
Arga yang mendengar jawaban Raeviga tersenyum sinis. Lelaki itu mengakhiri panggilan telepon itu tanpa mengatakan apapun pada Raeviga.
"Saudara? sejak kapan kamu mengklaim hal itu. Aku sudah memiliki perasaan kepadamu sejak lama, Rae.." gumam Arga sendiri.
"Tapi kenapa sekarang perasaan itu tak lagi sama.." gumamnya lagi sembari terduduk di pintu samping balkon dan menyandarkan tubuhnya disana.
__ADS_1
BERSAMBUNG