
"Yah, Dia Sekar. Kita sudah beberapa kali.."
"Hentikan. Mama tak ingin mendengarnya. Cepatlah pulang kita akan membahasnya di rumah.."
Panggilan terputus. Dava meletakkan kembali ponsel dengan kesal.
"Sial. Kenapa semuanya tak pernah bisa berpihak padaku.." gerutunya sendiri.
Episode Sebelumnya
Erwin masih mengendarai mobilnya bersama Siska. Ia membawa gadis ke sebuah tempat yang harus Siska tau. Mobil miliknya berhenti di dekat TPU di daerah jakarta selatan.
"Kenapa kita disini, Erwin?" tanya Siska saat mobil itu terparkir tak jauh dari TPU yang akan Erwin kunjungi.
"Aku akan membawamu ke tempat salah satu orang yang sangat spesial di hidupku.." jawab Erwin sambil berjalan lebih dulu masuk ke dalam tempat pemakaman umum itu. Siska melangkah mengikuti di belakang Erwin.
Beberapa menit berjalan Erwin berhenti di sebuah nisan yang berada di depannya.
"Ma, aku membawa gadis ini bersamaku" serunya dalam hati.
Siska memperhatikan raut wajah Erwin berubah sendu beberapa detik kemudian. Pria itu terlihat sedih dan berlutut di bawah nisan di depannya. Siska ikut berlutut dan menepuk pelan bahu Erwin.
"Ma, aku datang.." isaknya yang terdengar oleh Siska.
"Ma, dia lah anak dari pria yang telah meyakiti Mama. Tenang saja, aku akan terus melukai hatinya hingga dia merasakan sakit yang sama seperti Mama.." seru lagi tanpa suara.
Erwin menatap kearah Siska di sampingnya. Ia memperhatikan Siska yang terlihat khusyuk mendo'akan Almarhum ibunya.
"Tapi Ma, kenapa saat gadis ini terluka dan sedih hatiku juga terasa sakit. Seharusnya hal itu tidak terjadi denganku kan? Seharusnya aku membuang jauh-jauh perasaan bodoh ini.." ungkapnya lagi dalam hati.
Siska telah selesai berdoa, ia menunggu Erwin tak jauh dari tempat pria itu.
"Ayo.." ajak Erwin yang sudah beranjak dari tempat ia bertumpu.
Siska mengangguk dan mengikutinya.
Selama di perjalanan Siska tak menanyakan apapun pada Erwin. Ia hanya sesekali memandang kearah Erwin yang menatap lurus ke jalanan.
"Dulu mamaku mencintai seseorang yang sudah bersamanya sejak lama. Tapi orang tua Mamaku tak mengijinkan Mama menikahi pria itu. saat Mama dan pria itu ingin pergi untuk kawin lari, pria brengsek itu meninggalkan mama di tempat asing sendirian. Ia meninggalkan mama seorang diri hingga mama di lecehkan oleh beberapa pemuda disana.." Erwin menceritakan kisah kelam yang telah mengisi kehidupannya. Sebelum meninggal, Almarhum mamanya menceritakan semua kejadian yang berkaitan dengan Erwin dan asal usulnya.
"Jadi kamu?" tebak Siska yang juga menahan keterkejutannya.
"Yah, setelah mama di lecehkan. Tak lama mama mengandungku. Sejak saat itu kondisinya menjadi terpuruk.."…jelas Erwin lagi membuat Siska nampak iba menatapnya.
"Kamu tak perlu menatapku seperti itu. Aku sudah terbiasa dengan hal-hal ini. Tujuanku untuk membalas sakit hati mama..." Erwin menatap kearah Siska sejenak.
"..Aku akan melakukan apapun itu.." lanjutnya membuat Siska sedikit ketakutan.
"Apa kamu akan membalas dendam pada pria itu?" tanya Siska penasaran.
"Hmmm.." gumamnya yang berarti mengiyakan ucapan Siska.
"Tidak Erwin, kamu tidak harus melakukannya. Jangan mengotori tanganmu dengan hal-hal yang berdosa.." pinta Siska mencoba menasehatinya.
"Kamu mengajariku tentang dosa tapi ayahmu sendiri adalah iblis." gerutu Erwin dalam hati.
"Aku hanya ingin memberinya sedikit luka yang tak pernah bisa ia lupakan.." geramnya dengan tatapan yang berubah dingin.
__ADS_1
"Apa kamu sudah bertemu dengan orang itu?" tanya Siska yang tampak cemas pada Erwin. Ia tak ingin pria di sampingnya melakukan perbuatan buruk.
Erwin menoleh kearah Siska dan mengiyakan pertanyaannya.
"kurasa itu bukan cara yang baik." balas Siska mencoba menghentikannya.
Erwin tak membalas ucapan Siska, ia hanya menatap sinis tanpa mengatakan apapun. Pria itu menelpon seseorang dan tersenyum licik setelah menyetujui berbagai dengan seseorang yang menelponnya.
"Baiklah, lakukanlah semua dengan baik nanti" ucapa pada seseorang itu sebelum menutup panggilan teleponnya.
"Kita akan pergi ke Apartemenku lebih dulu.." ucap Erwin dah mengarahkan mobilnya menuju arah Apartemennya.
"Apa kamu ingin mengambil sesuatu?"
"Tidak, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.." jawab Erwin dan tersenyum kecil kearah Siska.
lebih tepatnya tersenyum merendahkan pada gadis di sampingnya.
"Baiklah"
Beberapa menit kemudian, mobilnya masuk ke dalam gedung parkir mobil Apartemennya. Erwin dan Siska masuk ke sebuah Lift dari gedung parkirnya yang terhubung langsung dengan lantai tingkat Apartemennya.
"aku akan menunggu disini" ucap Siska saat mereka telah sampai di depan pintu Apartemen milik Erwin.
"Masuklah tidak apa.." pinta Erwin memaksa Siska untuk masuk ke dalam Apartemennya.
"tunggulah disini, aku akan mengganti pakaianku.." Erwin masuk ke dalam kamar mandi dan menganti pakaiannya.
"Apa yang akan dia lakukan?" Siska nampak cemas memikirkan berbagai hal.
"Erwin apa yang akan kamu lakukan!" Siska nampak takut dengan tatapan dingin pria itu.
"Tenanglah kita hanya bermain-main sebentar.." ucap pria itu sambil menyunggingkan ujung bibirnya keatas.
"Erwin biarkan aku pergi.." pinta Siska lagi. Gadis itu melangkah kearah pintu Apartemen namun tubuh kekar Erwin menghalanginya.
Suara Bel dari apartemennya Erwin berbunyi. Ia melihat dari kamera interkom yang terpasang di samping pintu Apartemennya. Erwin menyambut hagat kedatangan Wanita itu. Siska yang masih berdiri di belakang Erwin tak mengerti dengan apa yang sedang di lakukan pria itu.
Erwin mengajak wanita itu masuk dan berdiri sejajar dengan Siska.
"Lihatlah perbandingan tubuhmu sekarang dengannya. Mana mungkin aku akan menyukai seorang gadis sepertimu. Bahkan dadamu juga rata.." ucap Erwin menertawakan fisik Siska.
"Apa maksudmu ini.Terserah kamu, aku ingin pergi.." Siska berjalan membuka pintu itu namun sia-sia saja pintu itu terkunci dan Erwinlah yang tau kata sandinya.
Erwin menarik paksa lengan Siska dan mengunci tubuh Siska dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu melakukan ini.." Siska terlihat sedih dengan apa yang telah dilakukan Erwin.
"Bukankah sudah ku bilang jika aku ingin balas dendam.." senyum Erwin nampak menakutkan dan dingin.
"Lalu.. apaa hubungannya denganku.." ucap Siska nampak takut menatap wajah Erwin.
Erwin mendonggakkan rahang Siska kasar agar menatap kearahnya.
"Karena ayahmu lah penyebab Mamaku menderita.." gertak Erwin membuat Siska mengatupkan kedua matanya takut.
"Ayahku? mana mungkin.." Siska nampak terkejut dengan ucapan pria di depannya itu.
__ADS_1
Erwin mengambil beberapa lembar foto lama dari laci di sampingnya dan melemparkannya pada Siska. Siska mengambil salah satu foto itu dan nampak terkejut dengan kebenaran itu.
"Erwin, tapi ini..." Erwin menamparkan keras wajah Siska membuat gadis itu merintih kesakitan.
Wanita yang sejak tadi di belakang Erwin nampak tersenyum puas melihat penderitaan Siska.
Erwin menahan kepalan tangannya agar hatinya tak mudah rapuh melihat tangisan Siska.
"Berhentilah menangis bodoh!"
Erwin melangkah mendekat kearah Siska yang jatuh terduduk setelah tamparan itu.
"Setelah ini kamu akan merasakan rasa sakit yang sama seperti ibuku dulu.." ucapnya mengancam.
Erwin menghampiri wanita yang berpakaian mini di belakangnya dan mencium penuh hasrat pada wanita itu
Siska menutup kedua matanya dan mengalihkan tatapan itu dari mereka. Air mata yang sejak tadi menyeruak keluar dari kedua ujung matanya tak bisa di tahannya.
Erwin melepaskan ciuman panasnya dan menatap sekilas kearah Siska yang meringkuk dan memalingkan wajahnya. Wanita itu akan membuka ikatan mantel Erwin namun tangan Erwin menampiknya.
"Pergilah, tugasmu sudah selesai." Pintanya dingin pada wanita itu.
"Hanya itu? kamu tak ingin sesuatu yang lebih?" goda wanita itu yang akan mencium bibir Erwin lagi.
Erwin menjauhkan tangan wanita itu dari tubuhnya dan menatap merendahkan padanya.
"Pergilah sebelum aku menyeretmu keluar.." ucap Erwin sambil membuka pintu Apartemennya.
"Sial" umpat wanita itu sebelum pergi meninggalkan Erwin.
Siska menatap pilu kearah Erwin.
"Biarkan aku pergi"
"Tak semudah itu.." Erwin menarik tubuh Siska dan menjatuhkannya di ranjang tempat tidurnya.
"Bukankah seharusnya kamu merasakan sakitnya di lecehkan?" sedetik setelah mengatakan kalimat itu, Erwin mendaratkan bibirnya pada leher jenjang Siska dan mencium paksa bibir gadis itu.
Siska mencoba melepaskan cengkraman tangannya dari tangan kekar Erwin. Namun sia-sia saja tangannya pria itu lebih dari kuat darinya.
"Erwin, ku mohon biarkan aku pergi."
"ku mohon biarkan aku pergi"
"Jangan lakukan itu, ku mohon!"
BERSAMBUNG
Hai Readers,
Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)
Terima kasih,
Happy Reading Gaes ❤
__ADS_1