FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#24 : PERNIKAHAN ATAU WARISAN


__ADS_3

"Terserah kalian. Berpestalah seperti anak kecil dan tak perlu bersikap baik denganku." Arga mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.


"Menyebalkan.." raut wajah Arga terlihat kesal. Ia melemparkan kertas-kertas yang di pegangnya dan berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja.


Episode sebelumnya


Cahaya mentari pagi menyinari wajah Siska yang masih terlelap tidur. Semenit kemudian alarm dari ponselnya berbunyi sehingga membuat Siska terbangun dari tidur lelapnya.


Sudah 10 menit berlalu sejak alarm berbunyi namun Siska masih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur walaupun tidak sepenuhnya tertidur. Siska merenggangkan tubuhnya dan menyikap korden yang sedikit terbuka membuat sinar mentari menyinari penuh tubuhnya.


“Hhmm!!” hembusnya menghirup udara pagi dari kaca jendela kamarnya.


Siska masuk ke dalam kamar mandinya setelah bosan memandangi cahaya pagi yang terlihat cerah itu. Gadis itu terlihat santai karena hari ini hari liburnya kerjanya. Siska tak memiliki rencana apapun pagi ini sehingga ia akan memanfaatkan waktunya itu untuk beristirahat.


Siska berjalan kearah dapur membuat secangkir Teh rendah gula. Rambutnya yang masih basah hanya di lilit dengan handuknya. Siska membawa secangkir the yang di buatnya ke ruang tamu dan menyalakan televisinya.


“Kenapa tontonan pagi di TV hanya berisi acara gosip saja. Kemana perginya serial kartun atau acara kultum rohani?” gerutunya. Tangannya terlihat sibuk menekan berbagai tombol angka dari remote TV itu.


Siska menekan tombol power dari remote yang dipegangnya. Televisi model lama itu kembali mati. Siska mendengus kesal karena tidak acara Televisi yang dapat menjadi pilihan untuk dilihatnya.


Dia mengambil ponsel yang berada di dalam kamarnya. Semenit kemudian, perhatiannya telah teralihkan di aplikasi dunia maya.


Siska terlihat menikmati hari liburnya dengan ditemani secangkir teh hangatnya yang mulai dingin. Suara ketukan dari pintu rumahnya membuat Siska terkesiap. Siska bangun dari tidur santainya di Sofa ruang tamu. Dia berjalan kearah pintu rumah untuk membukanya.


“Erwin..” ucapnya melihat Erwin yang telah berdiri di depannya dan terlihat rapi dengan kaos biru dan celana jeans-nya.


“Apa ada sesuatu yang penting? Apa yang terjadi?” tanya Siska yang sedikit khawatir. Walaupun di dalam hatinya ia masih kesal karena ucapan Erwin. Namun Siska tetap mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu.


“Tidak ada. Bukankah kemarin aku sudah bilang jika akan kerumahmu pagi hari..”


ungkapnya mengulangi perkataannya kemarin sore. Siska mengangguk membenarkan.


“masuklah..” Siska mempersilahkan Erwin untuk masuk ke dalam rumahnya.


“Aku ingin mengajakmu ke sesuatu tempat sekarang..” katanya setelah masuk ke dalam rumah Siska.


“Sekarang?”


“Iya, Apa kamu ada acara pagi ini?” tanya Erwin dengan tatapan yang penuh selidik.


Siska menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Erwin.


“Aku akan bersiap dulu. Tunggu sebentar..” Siska berjalan kearah kamar tidurnya untuk mengambil tas dan cardigan rajutnya.


“Ayo berangkat..” ajak Siska pada lelaki itu. Erwin berjalan keluar terlebih dahulu di ikuti Siska di belakangnya sambil mengunci rumah kontrakannya.

__ADS_1


“Kemana kita akan pergi? “ tanya Siska di tengah perjalanan. Sejak di perjalanan Erwin tak mengatakan apapun pada Siska. Ia nampak dingin dan memandang lurus kearah jalanan.


“Nanti kamu akan tau..”jawabnya singkat.


Siska melihat sekilas Erwin yang duduk di sampingnya. Namun ia tak mengatakan apapun selama perjalanan.


****


Di depan pintu rumahnya Arga menatap kesal kerah lelaki di hadapannya. Usia lelaki itu terpaut lebih muda dari Arga. Berbeda dengan Arga, lelaki itu menatap penuh kerinduan padanya. Tangan Arga mengepal keras seolah telah siap melayangkan tinju pada lawannya.


“Kak..” seru lelaki itu. Dia adalah Dava,adik tiri Arga. Walaupun Arga tak pernah mengakui hubungan mereka. Arga hanya menganggap Adik dan Mama tirinya seperti parasit yang hanya bisa menempel pada kekayaan orang lain.


“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu..” gertaknya.


"kenapa kau terus saja membenciku.."


"Pergilah" Arga akan menutup pintu rumahnya namun dengan cepat tangan Dava menghalanginya.


"Aku tidak akan pergi.." Dava menatap tajam pada Arga.


"Apa yang kau mau sekarang?" Arga mengcengkram kerah baju Dava dan menatapnya marah.


"memperbaiki hubungan keluarga ini. Tak bisakah kita hidup layaknya keluarga seperti yang lainnya.."


"masa bodoh dengan hal itu" Arga melepas cengkraman tangannya dari baju Dava. Dan menutup pintunya dengan keras.


Dari dalam rumahnya, Arga tersenyum menyeringai mendengar ucapan itu.


"Mama? orang tuaku telah meninggal sejak Ibumu menjadi benalu di keluargaku.." balas Arga kesal dan berjalan pergi dari tempatnya berdiri sekarang.


Dava masih berada di depan pintu Arga. Sejenak ia memperhatikan pintu rumah Arga yang telah tertutup itu. Ingatannya kembali pada kenangan masa lalunya. Kenangan saat Dava kecil yang meringkuk sedih karena Arga terus saja menghina dan mengucilkannya.


"Apa keluaga ini akan tetap seperti ini kak? tak bisakah seperti orang lain yang menikmati waktu mereka dengan tertawa bersama keluarga.." gumamnya sendiri sebelum pergi dari rumah Arga.


Saat di perjalanan ponsel Dava berbunyi. Ia menghubungkan panggilan dan menerima panggilan telepon itu.


"Dava bersiaplah untuk pestamu minggu depan di Villa Yogyakarta.." seru Laili, ibu Dava.


"Dava gak akan pergi Ma tanpa Kak Arga. Bagaimana Dava bisa menikmati pesta itu tanpa kehadirannya.."


"Dava ini tidak sekedar pesta ultah tapi juga acara pertunanganmu juga.." jelas Laili pada putranya.


"Ma, lupakan hal itu. Aku tidak ingin menikah tanpa restu dari Kak Arga juga. Lagi pula Kak Arga seharusnya yang menikah karena dia yang tertua..." Dava masih mencoba menolak permintaan itu.


"Ini bukan kemauan Mama sayang. Apa kamu tidak ingat dengan surat wasiat Papamu kemarin?"

__ADS_1


Kilas Balik


"Ada apa ma?" seru Dava menghampiri Mamanya yang sedang duduk di meja makan.Merenung.


"Umurmu berapa Dav?"Tanya Mamanya mencoba memastikan kembali.


"Dua puluh lima."Dava mulai penasaran akan mengarah kemana pembicaraan ini.


"Kamu harus segera nikah Dav."Ucap mamanya lirih.


"Iya mah,Dava akan nikah.Tapi gak sekarang."Keluhnya namun dengan nada yang begitu lembut agar tidak menyakiti wanita kesayangannya itu.


"Gak Dav.Minggu depan kamu udah harus nikah"Ucap mamanya tegas.


"Ada apa ini mah?" Dava benar-benar tak mengerti masalah apa yang sedang menimpa nya kini.


"Baca surat wasiat dari mendiang papamu"Ia memberikan surat yang telah sedikit usang dimakan waktu.Dava mulai membuka surat wasiat Papa dan membacanya.


Flashback End


"Tapi Ma. Bahkan Dava tidak mengenal wanita itu sama sekali.."


"Mama tau Dava. Itu sebabnya mama akan mengadakan pesta.." Dava terlihat tak setuju dengan keputusan Mamanya itu namun untuk tetap bisa menikmati fasilitas mewah yang dipakainya ia perlu untuk memenuhi wasiat itu.


"Sial!" umpatnya tak bersuara.


"Dava sudah punya pasangan sendiri ma.."


"Pasangan? maksudmu kekasih?" tanya Laili sedikit terkejut dengan pengakuan Dava.


"Yah, Dia Sekar. Kita sudah beberapa kali.."


"Hentikan. Mama tak ingin mendengarnya. Cepatlah pulang kita akan membahasnya di rumah.."


Panggilan terputus. Dava meletakkan kembali ponsel dengan kesal.


"Sial. Kenapa semuanya tak pernah bisa berpihak padaku.." gerutunya sendiri.


BERSAMBUNG


Hai Readers,


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari ******** ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)

__ADS_1


Terima kasih,


Happy Reading Gaes ❤


__ADS_2