FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#32 : TERTANGKAP OLEHNYA


__ADS_3

Arga mencoba menelpon Siska namun panggilan telepon itu sia-sia. Siska sama sekali tidak mengangkat teleponnya.


"Kemana gadis itu pergi? haruskah aku mencari? Akh tidak, hari ini adalah hariku untuk melamar Raeviga.."


[EPISODE SEBELUMNYA]


"Rae, kamu di cari Pak Arga tuh dari tadi.." ucap salah satu pegawai Arga.


Raeviga terdiam sejenak. Sebenarnya ia sudah enggan untuk masuk ke dalam ruangan Arga itu. Sikap Arga yang tak pernah menghormatinya itu membuat Raeviga tidak ingin berurusan kembali dengan Arga.


Aku seharusnya keluar dari perusahaan ini secepat mungkin


"Permisi Pak, apa anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Raeviga sopan. Ia masih berdiri di samping pintu kaca yang tak tembus pandang itu.


"Masuklah Rae.."


Langkah Raeviga terasa berat untuk mendekati Arga. Walaupun telah mengenal lama dengan Arga namun ini pertama kalinya sikap Arga berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu.


"Apa yang ingin anda bicarakan?"


"Mendekatkan Rae. Kenapa? Apa kamu takut denganku?" tanya Arga menebak isi pikiran Raeviga saat ini.


"Anda benar. Ketakutan ini karena anda..Tuan Arga" ucapnya dalam hati.


"Maaf Rae, atas perlakuanku yang hampir saja melecehkan mu. Aku hanya ingin kamu menyadari jika saya mencintaimu kamu dengan tulus..." Arga mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari laci mejanya dan berjalan mendekati Raeviga.


Raeviga hanya diam saja. Mulutnya seakan telah membisu. Ia sudah sangat takut Arga akan merundungnya lagi. "ini untukmu.." ucap Arga sambil memberikan kotak hitam kecil itu pada Raeviga.


Raeviga membuka kotak pemberian Arga. Sebuah cincin putih dengan ukiran berlian di atasnya. "Untuk Apa anda memberikan ini kepada Saya? terlalu berlebihan jika hadiah ini hanya untuk permintaan maaf saja.." Raeviga mengulurkan tangannya untuk memberikan kembali cincin berlian dari Arga.


"Saya tidak bisa menerimanya"


"Cincin ini sekaligus untuk melamar kamu sebagai kekasih saya secara resmi,Rae.."


"Apa?" ucap Raeviga terkejut.


Bagaimana mungkin aku menerima lamaran ini. Aku tidak mencintai Arga sama sekali, dan aku pun juga telah di jodohkan dengan seseorang yang bahkan belum pernah aku kenal. (nb : Baca cerita Raeviga-Dava selengkapnya di CINTA MALAM PERTAMA)


****

__ADS_1


Siska masih dalam keadaan tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang dihirupnya tanpa sengaja. Kedua tangan dan kakinya terikat oleh tali yang melilitnya sangat erat.


"Sis, bangunlah. Apa kamu sudah sadar. Sis, bangunlah.." ucap Erwin beberapa kali.


Namun tak ada ucapan yang keluar dari mulut Siska. Kedua mata gadis itu masih tertutup rapat. Namun semua itu hanyalah rencana kecil dari Siska. Gadis itu telah terbangun saat Erwin membawanya ke sebuah ruangan yang dirasakan oleh Siska sangat dingin.


"Sis, maafkan aku. Aku tidak bisa kehilanganmu. Membalaskan dendam dan mencintaimu membuatku menjadi dilema. Aku tak bisa kehilanganmu Rae. Aku gelisah jika tidak melihatmu.." ungkap Erwin sambil menyingkap rambut-rambut Siska yang menutupi paras cantiknya.


Erwin mengambil kunci Apartemennya dan pergi ke sesuatu tempat. Mendengar suara pintu tertutup. Siska membuka kedua matanya perlahan. Ia melihat sekeliling ruangan yang tak asing olehnya. Ruangan yang sama saya Erwin hampir saja melecehkannya. Tempat yang masih memiliki trauma karena perbuatan Erwin.


"Apa yang akan dia lakukan padaku"


Siska mencoba melepaskan ikatan tangannya namun sia-sia. Tali itu terlalu keras melilit tangannya. "Bagaimana aku akan keluar dari tempat ini?"


"Pak Arga, bisakah anda menolongku lagi.." pintanya dalam hati.


Kali ini Siska tidak bisa lolos seperti sebelumnya. Kedua tangan dan kakinya terikat. Bahkan ia tidak mempunyai ponsel sebagai alat komunikasi daruratnya.


"Erwin kenapa kamu harus melakukan ini"


Siska mencoba bangun dari posisi tidurnya dan berusaha untuk berjalan kearah pintu keluar. Dengan kakinya yang masih terikat, Siska berjalan tertatih-tatih dengan bertumpu di beberapa benda di sampingnya.


Kepalanya masih terasa berat. Efek obat bius masih ada dalam tubuhnya. Namun tidak untuk saat ini. Ia harus bisa keluar dari tempat ini.


"Tolonggg!!" ucapnya sambil mengetuk pintu beberapa kali.


Pintu Apartemen terbuka, dan Siska terjatuh di bawah kaki Erwin. "Kamu sudah bangun?" tanya Erwin yang melihat Siska tersungkur di depannya.


"Siska sudah pernah ku katakan kan? Percuma jika kamu berteriak disini. Tidak akan ada yang bisa mendengar mu. Bahkan pangeran kesiangan Arga tidak akan bisa lagi menolong kamu"


"Kenapa kamu melakukan ini? belum cukupkah kamu menyakitiku? bahkan trauma itu belum hilang karena mu" seru Siska dengan perasaan takut.


"Maafkan aku Sis. Tapi bisakah kamu juga merasakan betapa sakitnya Mamaku saat ia harus di lecehkan oleh banyak orang. Kamu tidak pernah berpikir seperti itu. Kamu dan Papamu hanya ingin menyelamatkan diri sendiri" teriak Erwin seolah dia merasa frustasi dengan tekanan yang pernah ia alami.


"Aku tau. Papaku salah telah meninggalkan Mamamu. Tapi mungkin saja ada alasan lagi kenapa Papaku saat itu meninggalkannya. Berpikirlah realistis Erwin. Kamu tidak bisa melukai seseorang hanya karena dendam di masa lalu. Ku mohon lepaskan aku.." ucap Siska terisak.


Erwin mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia mengambil sebotol minuman keras yang ia letakkan di dalam laci kecil.


"Kau tau Sis. Besok akan ada seseorang yang membawamu pergi. Pergi jauh dan hidupmu juga akan hancur seperti yang pernah Mamaku alami"

__ADS_1


"Kamu benar-benar akan menjual..."


"DIAM LAH! BERIKAN AKU WAKTU UNTUK BICARA!" Potong Erwin dengan suara keras.


"Aku memang akan menjualmu. Tapi kau tau disini..disini tak merelakan hal itu terjadi!" ucap Erwin lagi sambil menyentuh dadanya yang terasa sakit.


"Aku tau kamu orang baik. Tolong maafkan Papaku.."


Tangan Erwin menyiram wajah Siska dengan minuman alkohol yang di minumnya. "AKU BUKANLAH ORANG BAIK SISKA! KAMU TELAH SALAH BESAR MENILAI KU!"


"Ingatlah baik-baik Sis. Aku bukanlah orang. Hanya sedikit orang baik di dunia ini. Mereka hanya berpura-pura baik untuk tujuan mereka sendiri."


Siska hanya terdiam. Dia sudah sangat lelah berbicara dengan Erwin. Bau Alkohol tercium dari tubuhnya. Perutnya terasa sangat lapar dan tubuhnya terasa lemah.


Tidak, aku tidak bisa selemah ini. Aku yakin Tuhan akan menolongku.


Siska memperhatikan Erwin yang telah mabuk karena pengaruh alkohol. Siska memperhatikan di sekitar ruangannya.


Aku yakin di dapur pasti akan ada benda tajam disana. Aku harus memanfaatkan keadaannya saat ini.


Di tempat lain, seseorang berpakaian serba hitam dan topi hitam yang menutupi wajahnya sedang berbicara serius dengan Arga.


"Gadis yang anda cari tidak ada di rumahnya. Saya sudah mencoba mencari tau lewat tetangga di sekitarnya. Namun hasilnya nihil."


"Cari kembali dengan cepat hingga kamu menemukan jejaknya."


Arga membuka tirai dari kaca jendelanya dan melihat lalu lalang kendaraan dari lantai atas ruangannya.


"kemana perginya gadis itu"


BERSAMBUNG


Hai Reader,


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) JANGAN LUPA BUAT SUBSCRIBE AKUN NOVEL CARAMELLOW


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


__ADS_2