FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#48: RAHASIA & ALASAN


__ADS_3

Siska tetap bungkam,gadis itu hanya menangis di hadapan Raeviga saat ditanya pelakunya.


Apakah semuanya akan baik-baik saja jika aku mengatakannya,Rae? Hubunganmu dengan Dava akan bermasalah karena aku. Pria yang telah menodai ku adalah kakak dari calon suamimu. Tidak, aku tidak bisa mengatakannya. Aku tak bisa menghancurkan kebahagiaan kamu, Rae.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arga terlihat mencemaskan keberadaan Siska sekarang. Ia berada di ruangan rapat bersama beberapa klien pentingnya. Pria itu ingin segera menemui Siska sekarang namun pekerjaan pentingnya tak bisa ia tinggalkan.


Di lain tempat, Siska terlihat sangat kacau. Wajahnya nampak kusut, seolah tak ada lagi kehidupan untuknya. Di sampingnya, Raeviga dengan setia menemani Siska saat ini.


"Kamu beneran gak mau cerita pelakunya?"tanya Raeviga memaksa.


Siska menggelengkan kepalanya. Ia masih tak ingin menceritakannya pada Raeviga. Semuanya akan kacau bila Siska menceritakan semuanya. Raeviga akan mendapatkan dampak dari masalahnya.


Siska kini berada di kamarnya,ia tertidur di temani Raeviga yang menatap nanar gadis itu. Raeviga ingin menanyakan berbagai hal kepada Siska. Namun ia melihat mental Siska sekarang sedang terguncang. Raeviga tak ingin membuatnya tertekan.


"Kamu akan nikah Rae?" tanya Siska masih dengan menutup kedua matanya dan memalingkan tubuhnya dari Raeviga.


"Iya, perjodohan ini keputusan almarhum papa dan orang tua Dava,"jelasnya


"Kenapa kamu sama sekali tidak tau? dia pria yang sama saat menolongku kan?"


Ada penekanan di setiap kata Siska seolah ia merasa kecewa karena tidak mengetahui kabar itu dari Raeviga sendiri.


"Maaf,saat itu aku masih tidak menerimanya. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini,"


Siska menganggukan kepalanya menjawab pernyataan maaf Raeviga.


"Apakah dia pria yang baik?" pertanyaan Siska seolah memberi isyarat kepada Raeviga untuk menikahi pria yang tepat.


Arga telah membuatnya seperti ini. Akankah Dava, adik dari Arga bisa berprilaku baik kepada Raeviga? pikir Siska sendiri.


Raeviga memeluk tubuh Siska dari belakang.


"Aku akan selalu ada buat kamu ka,"seru Raeviga kemudian.


"Iya aku tau."


****


Siska masih tertidur di kamarnya. Walaupun tak sepenuhnya dia terlelap. Ia masih mendengar suara berisik dari dapur. Banyak hal yang ia pikirkan saat ini.


Haruskah aku meminta tanggung jawabannya? Apa semuanya akan baik-baik saja? lalu bagaimana dengan Erwin? Apa pria itu akan menerima semua ini?

__ADS_1


Raeviga terlihat menyiapkan makanan di dapur,Siska masih tertidur di kamarnya.Air mata Raeviga menetes perlahan,ia begitu terpukul dengan keadaan Siska sekarang.Raeviga tau bahwa saat ini Siska berpura-pura kuat walau sebenarnya ia sangat ketakutan.


"Ka,Ayo bangun! kita sarapan"


Siska mendengar suara Raeviga di sampingnya. Namun kepalanya terasa berat, napasnya nampak sesak. Seolah menyimpan rasa sakit itu seorang diri.


"Ka bangun"


Siska menggeliatkan tubuhnya,ia melirik ke arah Raeviga.


"Iyaa" balas Siska seketika.


Kedua gadis itu kini sedang makan bersama,Sosok Siska kini yang menjadi pendiam membuat Raeviga menatapnya pilu.


"Rae, aku mau berhenti kerja,"


"Ha?" Raeviga tak percaya mendengar ucapan Siska. Karena Raeviga tahu jika Siska sangat mencintai dunia kerjanya dan sekarang tiba-tiba memutuskan untuk berhenti.


"Ada apa? apa yang terjadi?"tanya Raeviga menunggu jawaban pasti dari Siska.


"Aku..berencana pindah kota Rae, menenangkan diri dulu"


"Aku bisa terima alasan kamu Sis, tapi gak dengan pindah kota.Aku gak mau kita jauh. Kamu bisa tinggal di Apartemenku" Raeviga menahan isak tangisnya. Ia benar-benar tak ingin Siska meninggalkannya.


"Aku juga sebenarnya tidak ingin ningalin kamu,tapi aku memang harus pindah."jelas Siska lirih. Mencoba membuat mengerti Raeviga tentang kondisinya.


"Lagian kamu nanti udah ada Dava yang jagain,"Goda Siska sekilas. Membuat Suasana memilukan itu sedikit mencair.


"Cowok itu nyebelin Siska. Dava gak akan bisa jagain aku."


"Lagian dia udah punya kekasih."lanjut gadis itu, wajah Raeviga terlihat sendu. Perasaannya terasa sakit mengingat Dava yang menikahinya karena warisan orangtuanya.


"Siapa? kamu pernah bertemu dengan wanita itu?"


"Pernah,saat pesta Dava," Raeviga merengkuh lengan Siska.


"Aku gak mau di tinggal sama kamu Ka. Siapa lagi yang bisa mendengarkan keluh kesahku nanti?".


Siska tersenyum getir.Ia pun sangat tidak ingin meninggalkan teman terbaiknya itu. Bahkan mendengar fakta perjodohan yang gadis itu katakan membuat Siska nampak bimbang di buatnya.


Apakah semua pria di keluarga itu hanya bisa menyakiti wanita? Kenapa mereka berprilaku seperti itu? Apakah Raeviga akan baik-baik saja nanti? Haruskah aku tetap menemaninya? tapi bagaimana dengan Erwin, aku tak akan mampu menjelaskan semua kepadanya. Bahkan tunangannya kini sudah tak suci lagi. Dan Arga? aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya lagi. Aku membencinya.


Siska melihat kearah Raeviga di depannya. Ia terlihat memikirkan sesuatu sebelum beberapa kata terucap di bibirnya.

__ADS_1


"Kapan kamu akan menikah?"


"Dua hari lagi,"


"Rae, jika kamu tidak menyukai perilaku pria yang akan menikahi kamu. Lebih baik menyudahinya dari sekarang. Aku tak ingin nantinya kamu akan kecewa," ungkap Siska dengan tulus.


"Karena mungkin aku tak akan bisa selalu menemani kamu," lanjut Siska dalam hati.


Raeviga akan membalas ucapan Siska, namun dering ponselnya membuat Raeviga mengurungkannya. Raeviga melihat nama seseorang yang tak asing lagi di hidupnya. Dava, pria yang akan menikahinya kini sedang menghubunginya.


Raeviga mengangkat telpon itu. Siska memperhatikan raut wajah Raeviga yang nampak kecewa.


"Ada apa?" tanya Raeviga di sela obrolannya.


"Ok,baiklah" jawab Raeviga kemudian memutuskan panggilannya.


"Sis, aku ada perlu sebentar. Tadi Dava menghubungiku. Ada sesuatu penting yang harus aku ketahui. Gak apa kan kalau aku tinggal bentar?"


Raeviga tak ingin meninggalkan Siska dengan keadaannya yang seperti ini. Entah masalah apa yang akan menunggunya nanti namun kondisi Raeviga lebih mencemaskan kondisi Siska.


"Tidak masalah.Kamu pergi saja, pasti Dava sudah menunggu kamu sekarang," ucap Siska lembut.


"Rae, ingat pesanku. Jika kamu melihat Dava bukanlah pria yang baik lebih baik kamu membatalkan pernikahan ini. Gagal di pertunangan lebih baik daripada harus gagal di pernikahan." ungkap Siska lagi dengan wajah serius. Ia tak ingin kejadian buruk di hidupnya akan berakhir sama di hidup Raeviga.


Bukan karena pola pikir Siska yang berlebihan dan menjadi negatif thinking, akan tetapi kejadian yang menimpanya membuat Siska belajar jika tidak semua lelaki berhati mulia dan bisa menghormati wanita. Bahkan pria yang ia anggap baik menjadi salah satu pria yang menghancurkan hidupnya.


Raeviga mengangguk dan menepuk pelan bahu Siska. "Iya, aku akan selalu ingat ucapan kamu,"


Raeviga memesan taksi online dan pergi menuju kediaman keluarga Dewantara. Siska melihat kepergian Raeviga dari jendela rumahnya. Sejenak ia memandangi langit yang nampak kelabu seakan langit sedang menemani dirinya yang larut dalam kesedihan.


"Ini adalah kehancuran ku. Apa aku bisa tetap jalani kehidupan ini?"


Siska memikirkan sesuatu, sorot matanya menerawang jauh seolah pikirannya kini berpusat pada hal yang harus ia lakukan sekarang. Siska melihat taksi yang di tumpangi Raeviga telah meninggalkan pekarangan rumah. Langkah Siska bergegas pergi menuju kamarnya dengan tergesa-gesa.


BERSAMBUNG


Waduh kenapa lagi ini sama Siska? Kenapa dia ke kamar buru-buru? Apa yang akan dia lakukan di dalam sana, bunuh diri?


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


Instagram : @ilyuaml1


__ADS_2