FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#74 : MERASA SAKIT HATI


__ADS_3

"Dava, buka pintunya! Apa kau tidak malu karena telah menyusahkan banyak orang? Keluarlah dan cari jalan keluar dari masalahmu tanpa membuat kekacauan!" ucap Arga dengan setiap katanya penuh penekanan.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Siska mendengus kesal mendengar perkataan Arga yang terdengar kasar itu. Ia tak menyangka jika sebenarnya sikap Arga belum berubah sepenuhnya, keras kepala dan mulutnya yang selalu berbicara kasar tanpa mempedulikan perasaan orang lain.


Siska menarik tangan Arga menjauh dari ruangan Dava. Ia melihat Arga dengan wajahnya berkerut dan tatapan tajamnya menghunus tanpa takut.


"Ada apa? kenapa tatapan kamu seperti itu? turunkan tatapan mata itu, aku tidak menyukainya,"


"Tatapan apa? memang seperti ini caraku melihat, dengar tuan Arga yang sangat keras kepala. Aku ingin..,"


Arga menarik tangan Siska dan melingkarkan tangannya di pinggang Siska erat. "Ada apa? ternyata kamu tipe wanita berani pada suami. Kamu tidak takut denganku?" Arga mencondongkan wajahnya hingga membuat seluruh wajahnya menegang.


Siska menekuk wajahnya menghindari Arga yang telah siap menyerang bibirnya.


"Mesum! bisa-bisanya kamu melakukan hal ini sekarang. Lepaskan aku, aku ingin mengatakan sesuatu,"


"Tidak, sebelum kamu mengubah tatapan mata itu. Aku membencinya. Ada kekesalan di kedua binar mata itu, aku tidak menyukainya,"


Siska memejamkan kedua matanya sejenak dan menghembuskan napasnya beberapa saat untuk mencoba mengontrol emosinya. Arga tersenyum saat melihat kedua mata Siska tak lagi terlihat kesal.


"Sudah puas? dasar kau ini. Lupakan itu, aku ingin mengatakan hal lain." Siska merenggangkan pelukan Arga di tubuhnya.


"Kenapa kamu berbicara kasar seperti itu pada Dava? jika kamu ingin membujuknya bukan seperti itu caranya. Kamu semakin memprovokasinya tadi. Bersikaplah lebih lembut, dan ajak dia bicara dengan baik-baik,"


"Aku tidak bisa, ini memang caraku berbicara. Jika tak suka ya sudah. Tinggal tunggu saja wanita itu membawa kuncinya,"


Siska melepas pelukan Arga paksa. "Kau ini keterlaluan," Siska melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Arga seorang diri dengan ekspresi wajahnya yang mengeras.


Kenapa dia terlihat sangat marah. Memang begini lah caraku berbicara. Tapi aku sama sekali tidak berniat memprovokasinya. Aku hanya membuat pria itu sadar jika banyak orang yang mengkhawatirkannya. Apa yang salah dengan ucapan ku? kenapa dia selalu saja marah sejak tadi?


****


"Dava ini aku Siska, teman baiknya Raeviga. Kau masih ingat aku kan? kita memang bertemu hanya beberapa kali. Tapi aku yakin kamu mengingatku,"


Arga mengerutkan keningnya mendengar perkataan Siska itu. Wajahnya memperlihatkan ekspresi wajah tak suka saat Siska membicarakan masa lalu.


Untuk apa dia mengatakan hal itu? untuk apa dia meminta Dava untuk ingat dengannya? apa dia tidak memikirkan perasaanku sama sekali? menyebalkan.

__ADS_1


"Aku juga mengkhawatirkan Raeviga sama seperti kamu. Tapi jika kita tidak melakukan apapun, kita tidak akan pernah bisa menemukannya. Kamu ingin Raeviga kembali denganmu kan? maka keluarlah dan bekerjasama denganku untuk mencari Raeviga. Aku akan membantumu, Kau percaya denganku kan?"


Siska berdiri cemas menantikan Dava yang akan membuka pintunya. Ia memiliki harapan besar agar Dava bisa mendengarkannya dan keluar dari keterpurukan itu.


"Sudahlah, kita tunggu saja Mamanya membawa kunci. Itu percuma saja, dia sangat keras kepala," Arga menarik tangan Siska pelan menjauhkan wanita itu dari pintu kamar Dava.


Namun berselang beberapa detik, pintu terbuka dan perlahan seseorang pria keluar dengan tampilannya yang terlihat berantakan. Kancing kemeja yang tak terpasang dengan rapi, rambut kusut berantakan dan wajahnya yang pucat pasi menjadi penampilan baru Dava setelah kepergian Raeviga.


"Sebelah sini, pintunya disini," Laili datang dengan langkah kakinya yang perlahan melemah. Siska dan Arga menoleh bersamaan dan melihat seorang petugas pria datang dengan membawa sebuah kunci Apartemen.


Namun bukan petugas itu yang mencuri perhatian Siska melainkan keadaan Laili yang terlihat memburuk. Wanita parubaya itu nampak kelelahan dan berkeringat.


Kenapa dia terlihat lelah? bukankah lift hanya berjarak 3 kamar dari Apartemen Dava? dan napasnya juga tidak beraturan.


"Apa terjadi sesuatu pak? tadi Ibu ini meminta saya untuk membawa kunci karena kehilangan kunci kamar Apartemen,"


"Tidak, semua sudah diatasi. Kamu bisa pergi," jelas Arga singkat. Tak lama petugas pria itu pergi meninggalkan Apartemen Dava.


"Tante, kamu tidak apa? apa aku perlu mengambilkan air?" Siska terlihat cemas. Entah mengapa, saat melihat Laili membuat Siska teringat dengan mendiang Ibunya.


Mendengar ucapan Siska, kedua pria itu menatap bersamaan kepada Laili. Namun lagi-lagi Laili berusaha menyembunyikan rasa sakit yang menderanya dengan senyuman lebar yang di perlihatkannya.


Arga memperhatikan keduanya. Ada rasa iri tersemat di hatinya. Tak ingin membuat kekacauan Arga melangkahkan kakinya pergi menjauhi mereka. Namun tangan Siska menghentikannya. Siska menahan lengan Arga yang akan pergi begitu saja.


"Dia sudah keluar dari kamarnya. Jadi tugas kita selesai. Ayo pulang," ajak Arga tanpa melihat kearah Laili dan Dava.


"Tidak, kita akan disini beberapa menit lagi. Perhatikan keadaan Dava sekarang, kamu ingin meninggalkannya begitu aja?" Siska menghampiri Dava dan meminta pria itu untuk duduk terlebih dahulu.


Arga sebenarnya tak seburuk yang dipikirkan Siska. Ia juga mengkhawatirkan kondisi Dava, ia bisa merasakan betapa menyakitkannya saat seseorang yang sangat penting di hidupnya tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Namun amarah yang terus menyelimutinya membuatnya enggan berlama-lama berada satu tempat dengan Mama tirinya itu. Kebencian dan masa lalu terus membayanginya.


Laili memberikan semangkuk bubur yang telah disiapkannya seja tadi.


"Dava, makanlah ini. Mama sudah menyiapkan ini untukmu. Wajah kamu sangat pucat," pinta Laili sembari meletakkannya di atas meja di depan Dava. Namun pria itu tidak menyentuhnya sama sekali, ia menatap kosong seolah pikirannya hanya berpusat pada satu hal yang penting di hidupnya,Raeviga.


"Keras kepala sekali dia," gerutu Arga dalam hati. Ia memperhatikan kejadian itu dalam diam.


Siska melihat Dava yang sangat terpuruk. I mengambil mangkuk bubur itu dan mengambilnya satu sendok.


"Dava, kamu telah mempercayaiku kan? itu artinya kita akan bekerja sama mencari keberadaan Raeviga. Aku yakin dia tidak akan pergi lama-lama karena kehidupan yang sebenarnya ada disini, bersamamu. Jadi keluarlah dari keterpurukan ini dan kita akan mencari Raeviga sama-sama," Siska mengarahkan sendok yang berisi bubur itu kepada Dava.

__ADS_1


Arga terlihat kesal melihat perhatian Siska kepada Dava. Ia tahu jika saat ini Dava memerlukan bantuan orang lain untuk bangkit. Namun Arga menatap tak suka melihat kebersamaan mereka.


Apa ini? apa dia perlu melakukan hal berlebihan seperti ini. Untuk apa menyuapinya? dia sudah besar. Dia bukan bayi lagi yang perlu bantuan orang lain untuk makan, Menyebalkan sekali.


Tak tahan melihat kedekatan mereka, Arga memilih melangkah pergi dan membanting pintu Apartemen Dava keras membuat Siska, Dava dan Laili menatap bersamaan kearah pintu Apartemen.


"Ada apa dengannya?" gumam Siska pelan namun masih terdengar oleh Dava dan Laili.


"Aku akan makan sendiri. Terima kasih sudah membuatku sedikit lebih baik dengan kata-kata yang kamu ucapkan padaku. Kamu benar, aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Aku harus mencarinya," kata Dava sembari mengambil alih sendok berisi bubur itu dari tangan Siska.


Siska melebarkan senyumnya. Ia terlihat sedikit lega. "Baiklah, setelah kamu makan kita akan membahas lagi tentang Raeviga."


Dava mengangguk lemah. Laili menepuk bahu Dava untuk menguatkannya.


"Terima kasih, Nak. Kamu baik sekali,"


"Tidak masalah, Raeviga adalah teman baikku. Sama seperti Dava, aku juga mengkhawatirkan keadaannya. Aku akan pergi keluar sebentar menemui Arga. Setelah itu kami akan kesini lagi,"


Laili mengangguk mengiyakan. "Iya, aku akan menyiapkan makanan untuk kalian. Makanlah sebelum pulang,"


"Tentu, terima kasih," Siska melangkah keluar, Ia melihat Arga berdiri di samping dinding Apartemen seorang diri.


Kenapa dia? untuk apa berdiri disini sendirian? dan apa yang sedang ia pikirkan? dia terlihat melamun.


"Kenapa? kenapa berdiri disini sendirian?"


Arga tak menjawab pertanyaan Siska. Ia menatap wajah Siska tak berkedip. Matanya menyala bak singa yang siap menerkamnya hidup-hidup.


Apa dia marah? kenapa dia marah? apa yang membuatnya seperti ini.


.


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


Instagram : @ilyuaml1


__ADS_2