
"Kenapa? apa kamu juga membenarkan ucapan Dava? apa kamu menyetujui apa yang dia katakan? semua pria itu sama aja, pikirannya terlalu munafik. Mereka hanya pandai berkelakar, tapi bodoh dalam bertindak," Siska melepaskan tangan Arga yang mengenggam tangannya dan pergi meninggalkan meja makan.
"Sayang,"
EPISODE SEBELUMNYA
"Seharusnya kamu tidak berkata seperti itu Dava. Raeviga adalah Istrimu, bagaimana kamu bisa berpikir untuk menyerah mencarinya," Tak hanya Siska, Laili pun terlihat tak menyetujui ucapan putranya itu.
"Maaf kak aku tidak bermaksud membuat Siska marah," ucap Dava setelah Siska sudah tak terlihat lagi.
"Tidak masalah, aku akan membujuknya. Makanlah, makanannya tidak akan enak jika sudah dingin," pinta Arga dan beranjak dari tempat duduknya untuk menemui Siska yang sudah pergi menuju kamar pribadi mereka.
Arga menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar tidur mereka. Arga membuka knock pintu kamarnya namun pintu itu tetap tertutup rapat. Siska telah mengunci pintunya dari dalam.
"Sayang, aku disini. Kenapa pintunya di kunci? lalu bagaimana aku akan masuk?" sesekali tangan Arga mengetuk pintu berwarna coklat tua itu.
"Pergilah, aku tida berbicara dengan siapapun saat ini,"
"Kenapa seperti itu? tidak baik menelantarkan suami di depan pintu seperti ini. Bagaimana aku akan tidur nanti?" ucapnya lagi berusaha membujuk Siska yang akhir-akhir sangat mudah marah.
Mungkin kah ini juga hormon dari kehamilannya? Tidak hanya menjadi sangat manja tapi juga istriku ini ternyata mudah sekali marah.
"Sis, bisa buka pintunya sebentar? kepalaku tiba-tiba terasa sakit. Sepertinya aku demam,"
Siska menoleh kearah pintu kamarnya yang masih terkunci. Ia terlihat khawatir dengan perkataan Arga beberapa detik yang lalu.
Apa dia beneran sakit? tapi tadi di meja makan dia baik-baik aja. Dia pasti berbohong. Tapi, kenapa sekarang suaranya sudah tidak terdengar lagi?
Siska bergegas menuju pintu kamarnya dan memutar kunci itu hingga suara pengait pintu terdengar.
Ceklek
Siska membuka pintu kamar dan mendapati Arga yang tengah berdiri menatapnya.
__ADS_1
"Apa kamu beneran sakit? bagian mana yang sakit? maaf, aku seharusnya tidak mengunci mu," Siska berdiri sangat dekat dengan Arga hingga pria itu bisa mencium aroma parfum yang melekat di tubuh istrinya. Aroma itu membuat Arga ingin mendekap Siska semalaman tanpa membiarkan wanita itu lolos dari pelukannya.
"Kenapa kamu diam saja? apa kepalamu masih sakit? apa demamnya sangat parah?" Siska menyentuh kening Arga dengan telapak tangannya. Namun Siska merasa suhu badan Arga masih normal. Siska menatap Arga yang tersenyum memandanginya.
"Apa kamu membohongiku? apa sakit kamu itu hanya bohongan?" Siska memukul pelan bahu Arga karena merasa dirinya sangat mudah untuk di bohongi oleh suaminya.
"Minggir! aku tidak ingin berbicara lagi denganmu," Siska akan berjalan pergi untuk masuk kembali menuju kamarnya. Tangan Arga meraih pinggang Siska yang akan pergi menjauhinya.
Arga mendekatkan tubuh Siska dan memeluknya erat. "Kenapa kamu jadi marah padaku? apa salahku? hmm?" Arga menyelipkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah istrinya.
Siska hanya diam. Ia juga mulai menyadari jika sikapnya terlalu berlebihan. Tidak seharusnya ia memarahi suaminya hanya karena ucapan Dava. Namun Siska yang merasa gengsi untuk mengakui kesalahannya hanya diam sembari berusaha menjauh dari tatapan Arga. Pria itu kini menatapnya lekat, salah satu tangannya bergerak naik menelusuri tengkuk leher Siska dan mendekatkan wajahnya untuk menghapus jarak di antara mereka.
"Eum..,mau apa?" tanya Siska menjadi gugup saat bibir Arga mendekati belahan bibirnya.
Siska mengatupkan bibirnya rapat sembari menutup rapat kedua matanya. Walaupun ini bukan pertama kalinya Arga menciumnya. Namun setiap kali pria itu akan menyentuh bibir ranum milik Siska, wanita itu tidak akan bisa mengendalikan kegugupan yang menjalar di tubuhnya. Rasa manis yang bercampur dengan ketegangannya itu membuat Siska tetap mendambakannya.
Arga sekilas mengulas senyum di bibirnya sebelum mencium kening Siska lama. "Aku hanya mencium dahi kamu, kenapa harus gugup seperti ini," goda Arga terkekeh geli.
"Siapa? siapa yang gugup?" elak Siska membuat Arga gemas.
"Maaf, aku tidak seharusnya mengatakan hal itu. Aku salah, tapi aku juga merasa putus asa. Raeviga memutuskan untuk meninggalkan ku, aku sudah berusaha mencarinya tapi saat ini aku tidak pernah mendapat kabar apapun darinya. Setiap hari yang telah berlalu, setiap hari pula hatiku terasa sangat sakit," Setetes air mata jatuh membasahi wajah Pria itu tanpa segan. Dava menghapus air matanya yang kian tak terkendali dan berlalu pergi meninggalkan Arga dan Siska yang terdiam menatap kesedihan Dava.
Tak hanya Dava yang menangis tanpa henti. Di sudut mata Siska tergenang air mata yang siap merebak keluar. "Apa tadi aku berkata keterlaluan? mendengar ucapan Dava membuatku sesak," Siska memeluk Arga dan menyembunyikan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya.
"Tidak apa, Dava akan baik-baik saja. Sudah jangan menangis, nanti bajuku akan basah semua," Arga mencium puncak kepala Siska dan mendekap wanita itu dalam pelukannya.
****
"Mama akan pergi sekarang? kenapa tidak menginap saja?" pinta Siska pada Mama mertuanya itu.
"Tidak, Mama harus pulang. Dava tadi terlihat sangat sedih. Mama harus menemaninya, Mama takut dia menyakiti dirinya sendiri." Laili menghampiri Siska dan Arga yang berdiri berjarak beberapa langkah darinya.
"Sis, maaf tadi Dava membuatmu sedih. Kamu benar, tidak seharusnya Dava mengatakan seperti itu,"
__ADS_1
Siska menggelengkan kepalanya pelan. "Gak ma, Siska juga salah. Siska tidak memikirkan perasaan Dava juga. Dia pasti lebih menderita,"
"Tidak apa, dia akan baik-baik saja. Mama pulang dulu," lanjutnya sambil menatap kearah Arga. Seolah ucapan perpisahan itu ia berikan kepada Arga. Tak ada ucapan apapun yang di berikan Arga. Ia hanya diam memandangi Laili yang berbalik pergi.
"Ma tunggu," seru Siska yang tiba-tiba menghentikan Laili yang berjalan pergi.
"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Siska melontarkan kalimat itu pada Arga. Namun pria itu sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan istrinya.
"Mengatakan apa?"
"Apa kamu tidak menyadarinya jika rasa pepes tahu itu sangat tidak asing untuk kamu,"
Arga mengerutkan dahinya seakan mengingat kembali kenangan lamanya beberapa tahun yang lalu. "Hanya mirip dengan yang ku makan saat kecil dulu,"
"Itu karena masakan itu dimasak oleh tangan orang yang sama,"
"Apa yang ingin kamu katakan? bukankah itu masakan kamu?" tanya Arga yang masih terlihat bingung.
"Aku hanya membantu membuatnya. Tapi sebenarnya yang membuat itu ialah Mama Mertua. Mama lah yang memberitahuku tentang makanan favorit kamu," tunjuk Siska pada Laili yang hanya diam dengan senyuman kecil di bibirnya.
"Dia?" Arga mengangkat salah satu alisnya tak percaya. Namun kenangan saat kecil dulu membuatnya mengerti beberapa hal.
Jadi bukan pelayan yang membuat pepes tahu itu beberapa tahun yang lalu? masakan itu di buat olehnya.
"Arga, Mama selalu menyayangi kamu. Aku pendatang baru di keluarga kamu, tapi selama beberapa bulan ini aku bisa melihat kasih sayang Mama Laili,Arga. Lupakan masa lalu, jangan membuat masa lalu itu terus membuat jarak diantara keluarga kamu sendiri,"
"Aku tidak ingin membahasnya lagi," Arga melangkahkan kakinya pergi. Namun saat beberapa langkah ia membalikkan tubuhnya dan melihat Laili yang masih berdiri memandanginya.
"Terima kasih untuk pepes tahunya. Makanan itu sangat enak, sekaligus membuatku mengenang masa kecilku yang sangat pahit."
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
__ADS_1
Terima kasih,