
"Aku tau, tapi tetaplah tinggal disini. Aku bisa tidur di sofa."
Siska membalikkan tubuhnya hingga kedua mata mereka saling berhadapan. Siska menggelantung kan tangannya di bahu Arga dan menatapnya serius.
"Tidak, aku harus pulang,"
[EPISODE SEBELUMNYA]
Siska menggeliatkan tubuhnya dan melihat cahaya mentari yang telah menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi rumahnya. Siska melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi. Beberapa kali Siska mengerjapkan kedua matanya yang masih terasa mengantuk. Untuk pertama kalinya Siska masih mengantuk walaupun telah bangun kesiangan.
Siska akan pergi ke kamar mandinya saat suara dering telepon dari ponselnya mengalihkan perhatian Siska. Wanita itu mengerutkan keningnya melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Arga sejak 3 jam yang lalu.
Ada apa? kenapa Arga menelpon hingga beberapa kali? Apa terjadi sesuatu padanya?
Raut wajah Siska terlihat khawatir, Ia menekan nama Arga dari ponselnya dan menghubungi pria itu. Siska menaikkan kedua alisnya saat mendengar suara nada dering namun bukan berasal dari ponselnya. Siska berjalan keluar dari kamar tidurnya dan mengikuti suara nada itu yang terdengar semakin nyaring.
"Halo," suara hangat itu menyapa Siska lewat panggilan teleponnya dan Suara yang sama terdengar dari balik pintunya.
Apa dia ada di depan rumah? sejak kapan dia ada disini?
"Kamu dimana?"
Siska berjalan cepat membuka pintu rumahnya dan benar seperti dugaannya Arga tengah berdiri di depan pintu rumahnya dengan buket bunga mawar merah yang di rangkai indah.
"Masuklah, sejak kapan ada di luar?" tanya Siska penasaran.
Namun Arga tak menghiraukan ucapan Siska dan memeluk wanita itu erat saat melihat Siska berdiri di depannya. "Aku sudah mengatakannya semalam kepada mu kan, aku tidak ingin jauh dari mu. Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan kamu, Sis."
Siska membalas pelukan Arga. "Tenanglah, ada apa denganmu? Aku belum pernah melihat kamu seperti ini sebelumnya. Arga yang dulu keras kepala, pemarah, egois, angkuh, sombong tapi ternyata..,"
Arga mencium bibir Siska dan memeluknya erat mengikis jarak diantara mereka. Siska melangkah mundur ke belakang dengan tubuh Arga yang masih memeluknya erat. Salah satu tangan Arga menutup pintu rumah Siska dan melangkah kakinya hingga punggung Siska berhadapan dengan dinding rumahnya.
Arga tak melepaskan ciumannya dari bibir ranum Siska. Ia mengambil benda kecil dari saku celananya dan meraih tangan kanan Siska untuk memakaikan benda kecil yang bersinar itu di jari kekasihnya.
"Apa ini?" Siska melepaskan tautan di bibir mereka saat merasakan sebuah benda menempel di jarinya.
"Hadiah dariku," Arga meraih telapak tangan Siska dan memperlihatkan sebuah cincin permata melekat di jari Siska dengan sangat cantik.
Siska memperlihatkan senyuman manis di bibirnya. Ia tak bisa menyembunyikan kebahagiannya melihat keseriusan Arga kepadanya.
__ADS_1
Aku tak percaya hari seperti ini akan datang. Hidupku telah kacau karena satu orang, dan orang itu juga yang telah memperbaiki perasaanku. Akankah kebahagiaan ini terus bersamaku? Aku tidak ingin kehilangan cinta ini. Merasakan cintanya, membuatku ingin mencintainya lebih banyak yang aku mampu.
"Kamu suka?" tanya Arga dengan kedua matanya yang hanya tertuju pada Siska.
Siska menganggukkan kepalanya. "Suka, tapi lebih dari ini. Aku lebih menyukai cintamu. Semalam aku lupa membalas perkataan kamu, tapi sekarang aku akan mengatakannya,"
Arga terlihat berpikir dengan perkataan yang di lontarkan Siska.
"Perkataan yang mana?"
Siska mengambil buket bunga yang di bawa oleh Arga untuknya. Siska mengambil satu tangkai bunga mawar dan berjalan mendekat kearah Arga.
Arga memperhatikan sikap Siska. Ia tidak mengingat kalimat mana yang sedang Siska bicarakan saat ini.
Siska semakin mendekat ke tubuh Arga. Jarak keduanya sangat dekat. Garis wajah mereka saling bersinggungan. Suara napas yang menggebu terdengar sangat jelas. Siska menempelkan bunga mawar itu di bibir Arga.
Arga memandangi wajah Siska yang kini tak berjarak diantara mereka. Ia terlihat jelas kegugupan di wajah Arga karena sikap Siska saat ini.
"Aku ingin mengatakan..,Jika aku juga mencintaimu, tuan Arga."
Arga memicingkan kedua matanya. Beberapa saat kemudian dia tersenyum menanggapi kalimat Siska.
Siska mendekatkan wajahnya di telinga Arka seperti yang di lakukan Arga kepadanya. "Aku mencintaimu. Tidak, lebih tepatnya aku sangat mencintaimu,"
Kelopak bunga yang masih ada di bibir Arga seketika di cium oleh Siska hingga membuat Arga terdiam karena terkejut.
Astaga, Kekasihku ini ternyata dia juga bisa melakukan hal romantis seperti ini.
"Kenapa hanya diam?"
"Lalu apa yang akan aku katakan? ciuman itu bahkan hanya untuk kelopak bunga mawar ini, untukku mana?"
"Aku akan memberikannya khusus setelah kita menikah," bisik Siska membuat senyuman Arga semakin tak terkendali.
Nada dering dari ponsel Arga membuat keduanya mengalihkan tatapan mata mereka sejenak. Arga melihat sebuah nama yang masih tidak ingin ia dengarkan suaranya. Laili, Ibu tirinya yang masih tidak ingin ia temui.
"Ada apa? kenapa tidak mengangkatnya?" tanya Siska yang juga melihat perubahan raut wajah Arga. Pria itu terlihat kesal dan mengabaikan panggilan telepon.
"Wanita yang telah menghancurkan keluargaku,"
__ADS_1
Siska mengernyitkan wajahnya, Ia tidak mengerti dengan perkataan yang telah di ucapkan oleh Arga.
"Boleh aku tau masalahnya?" tanya Siska hati-hati. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Arga.
"Aku tidak ingin membahasnya," suasana hati Arga terlihat tidak baik. Pria itu duduk di sofa ruang tamu dengan raut wajahnya yang masih terlihat kesal.
Ponselnya kembali berdering. Panggilan telepon dari orang yang sama. Siska memperhatikan Arga yang terlihat tidak memperdulikannya.
"Jika kamu tidak ingin mengangkat teleponnya. Biar aku saja yang melakukannya, menyimpan kebencian itu tidak baik. Seperti kita, jika aku terus membenci mu kita tidak akan bisa bersama seperti ini,"
Arga menoleh kearah Siska yang duduk di sampingnya. Arga menggenggam tangan Siska dan menatapnya sendu. "Tentang masa lalu kita* aku sangat menyesal dengan perbuatan ku. Aku memang bodoh,"
"Tidak apa, sekarang kita bisa melaluinya. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan Arga. Kenapa tidak memberinya kesempatan?"
"Permasalahan tentang kita dan wanita itu berbeda Sis. Kamu tidak akan bisa memahami,"
Siska menyentuh wajah Arga dan membuat pria itu menatap kedua matanya. "Hanya konteks saja yang berbeda. Tapi solusi dari permasalahan ini tetap sama. Kamu harus bisa memaafkannya,"
"Sis, aku.."
"Aku yang akan mengangkatnya berikan padaku,"
Siska menerima panggilan telepon itu. Tak lama suara seorang wanita parubaya terdengar sangat cemas dan ketakutan.
"Arga, Arga tolong mama sebentar Nak. Dava, adik kamu dia mengurung dirinya selama 2 hari ini. Mam takut terjadi sesuatu dengannya."
Arga dan Siska saling berpandangan. Nama pria yang di sebutkan wanita itu terdengar tidak asing di telinga Siska.
Dava? bukankah Dava adalah nama dari suami Raeviga. Apa artinya wanita yang di benci oleh Arga adalah Ibunya sendiri dan Dava adalah saudaranya. Tapi kenapa dia membenci ibunya?
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1
__ADS_1