FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#93 : TELAH KEMBALI BERSAMA


__ADS_3

"Aku yakin kamu pria tangguh,Arga. Tidak apa, bertahanlah. Lewati semuanya, karena di setiap langkahmu akan ada aku yang mendampingi kamu, Istrimu."


[EPISODE SEBELUMNYA]


Halaman Rumah besar milik Arga terlihat di hias begitu indah dengan banyaknya rangkaian bunga yang mengelilinginya. Sebuah pernak-pernik lainnya juga melengkapi keindahan halaman rumah itu. 4 bulan telah berlalu sejak penjelasan Papa Arga lewat rekaman suara pena itu. Perlahan hubungan Arga dan Laili berangsur membaik walaupun tidak sepenuhnya. Setidaknya, Arga telah menerima kehadiran Laili sebagai istri dari Papanya.


Kali ini, untuk merayakan datangnya bayi pertama mereka. Arga sebuah pesta yang hanya di hadiri oleh teman dan keluarganya. Tulisan B A B Y - S H O W E R terlihat menggantung di depan gerbang rumah Arga yang telah di hiasi oleh banyaknya bunga dan balon yang berwarna gold.


Arga melihat Siska yang nampak sibuk dengan gaun yang akan di pakainya dan juga riasan wajahnya yang terlihat flawless.


"Nona, gaun ini sangat cocok untuk anda," tunjuk seorang desainer pada sebuah manekin yang berdiri tegak dengan gaun putih panjang yang menjuntai.


"Tidak, aku tidak ingin yang terlalu heboh. Aku ingin gaun yang simpel saja," pinta Siska sembari mengamati satu persatu gaun yang berjejer di depannya.


Arga menghampiri Siska dan memeluknya dari belakang. "Kenapa kamu masih belum menggunakan gaun mu? acaranya satu jam lagi,"


"Sebentar, jangan membuatku semakin bingung, lebih jika kamu membantuku mencari gaun yang cocok denganku,"


Arga terkekeh geli. Ini pertama kalinya Siska terlihat bingung hanya karena pakaiannya. Sebelumnya wanita itu selalu berpakaian sekadarnya, bahkan ia tidak pernah sekalipun merasa dibingungkan seperti saat ini.


"Apa menurutmu ini bagus?" tanya Siska menunjuk sebuah gaun berwarna putih tanpa lengan. Gaun putih yang menjuntai hingga mata kaki namun tetap terlihat sederhana dan cantik.


"Bagus. Cocok dengan karakter kamu," ucap Arga menyetujui.


"Baiklah, aku akan memakai yang ini," Siska mengambil gaunnya dan membawanya masuk ke dalam kamar ganti. Arga yang masih berada di ruangan itu mengikuti langkah istrinya dan tersenyum menyeringai seakan tengah merencanakan sesuatu.


Siska yang menyadari keberadaan Arga segera membalikkan tubuhnya dan memandangi wajah pria itu yang terlihat mencurigakan.


"Kenapa mengikuti ku? pergilah, aku akan mengganti pakaian ku,"


"Lalu kenapa? apa salah jika suami mu ini menemani kamu berganti pakaian?" jawab Arga terkekeh. Senyumnya yang penuh maksud itu tak lepas dari perhatian Siska.


"Tidak pergilah, aku bisa sendiri. Menurutmu aku tidak tau apa yang kamu pikirkan saat ini," Siska mendorong pelan tubuh Arga untuk mundur agar ia bisa menutup pintu ruang ganti itu.


Namun tangan kekar Arga lebih kuat untuk menahan pintu berwarna putih itu. Ia menggeser kakinya ke depan hingga membuat Siska melangkah mundur menghindari tatapan pria itu.

__ADS_1


"Arga, ini bukan waktu yang tepat buat kamu melakukan hal itu," cegah Siska sembari meletakkan kedua telapak tangannya di dada Arga untuk menahan tubuh pria itu yang semakin mendekatinya.


Arga menyunggingkan bibirnya, "Memang apa yang ingin aku lakukan?"


Arga meraih pinggang Siska yang kini bagian perutnya tak lagi rata seperti sebelumnya. Bayi yang di kandung Siska kini semakin besar dan membuat wanita itu sulit untuk berlari menghindari Arga yang tiba-tiba mendambakan sentuhan seperti saat ini.


"Arga pergilah dulu, aku ingin mengganti pakaian," pinta Siska lagi saat deru napas Arga kini terasa di wajahnya.


Pria itu menyunggingkan bibirnya dan dengan cepat memberikan ciuman singkat di bibir istrinya. Siska membuka lebar kedua matanya saat bibirnya terasa hangat oleh ciuman yang di berikan oleh Arga.


"Cepatlah ganti pakaianmu, aku akan menunggu di depan pintu," setelah mengatakan hal itu, Arga menutup pintu ruang ganti dan membiarkan Siska seorang diri di ruangan yang cukup lebar.


"Huh, untung saja dia masih bisa di kendalikan. Jika tidak, mungkin sekarang acara baby shower ini akan berganti dengan pergumulan di dalam kamar," batinnya sambil mengunci pintu itu agar Arga tidak dapat masuk tiba-tiba.


****


Acara Baby Shower yang di tunggu-tunggu banyak tamu yang hadir telah di mulai. Bingkisan hadiah yang di berikan untuk Siska dan buah hatinya berjejer menumpuk cukup banyak. Ucapan selamat dan doa-doa untuk buah hati Arga dan Siska pun terucap dengan tulus untuk keduanya.


"Terima kasih sayang, sudah memberiku sebuah hadiah terbesar dalam hidupku. Berjanjilah, untuk terus menikmati kehidupan ini bersamaku selamanya" ucap Arga tepat di telinga Siska saat keduanya berdansa.


"Aku berjanji, karena aku yakin perjalanan hidupku akan selalu terasa indah saat bersama kamu. Entah di saat susah maupun senang. Tapi bersama kamu, aku yakin kita bisa melewatinya dengan senyuman. Aku mencintaimu Arga." ungkap wanita itu sembari melingkarkan tangannya di belakang leher Arga.


"Aku juga. Aku. Sangat. Mencintaimu. Istriku," balas Arga penuh penekanan.


Siska memeluk tubuh kekar Arga dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya saat alunan musik telah berhenti. Arga mencium puncak kepala Siska dan kedua matanya tak sengaja menatap sosok wanita yang saat ini juga tersenyum melihat kearahnya dan Siska.


"Sis, tunggu sebentar. aku ingin pergi kesana menemuinya," katanya sembari menunjuk kearah Laili yang tengah berdiri di samping Dava.


Siska mengangguk mengiyakan dan melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya. Arga berjalan mendekati Laili, wanita parubaya itu menyambut kedatangan Arga dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Kamu sangat tampan dengan setelan jas ini,Arga." puji Laili saat Arga sudah berada di depannya.


Arga menarik tipis bibirnya tanpa mengatakan apapun. Beberapa detik setelahnya, Arga melipat kedua kakinya ke belakang dan bersimpuh di bawah kaki Laili.


"Maaf," ucapnya lirih hampir tak terdengar.

__ADS_1


Laili seketika menarik kakinya mundur saat Arga terduduk di bawah kakinya. Perlakuan Arga itu seketika membuat suasana yang saat itu ramai kini seketika hening dan semua pasang mata kini menatapnya.


Laili meraih kedua bahu Arga dan memintanya untuk berdiri. "Bangun Nak, apa yang kamu lakukan? lihatlah, semua orang jadi menatap kearah kita,"


Namun Arga tak menghiraukan hal itu. Ia tetap menundukkan kepalanya dan perlahan bibirnya mulai mengatakan sesuatu yang sudah lama ingin ia katakan.


"Maaf, aku telah menyakiti perasaanmu. Aku bodoh, aku tidak menyadari kebaikanmu kepadaku. Maaf, aku telah menghina harga dirimu selama ini. Maaf,"


Sudahlah Arga, bangun lah. Ayo bangun," pinta Laili lagi namun tubuh kekar dan tegap itu masih bersimpuh di kakinya.


"Bangun kak, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini," kali ini tak hanya Laili, Dava pun ikut membujuk kakaknya itu.


Arga menggenggam tangan Dava dan menatap pria itu penuh penyesalan. Aku juga memiliki banyak kesalahan padamu, Dava. Aku berharap kamu bisa memaafkan ku atas ucapan dan tindakan ku yang buruk di masa lalu,"


"Kak, kamu tidak bersalah. Kamu berhak marah atau kecewa kepadaku. Karena kita keluarga."


"Ayo bangunlah," pinta Dava lagi, namun kali ini Arga menurutinya. Ia kembali berdiri dan salah satunya menggenggam tangan Laili yang kini sudah. menitikkan air mata. Wanita parubaya itu tak menyangka, jika hari seperti ini akan datang untuknya. Putra yang sudah ia anggap anak sendiri kini sudah bisa menerima kehadirannya.


"Bolehkah aku memanggilmu Mama seperti Dava?" tanya Arga penuh harap.


Laili mengangguk terharu dan memeluk Arga. " Tentu saja, kamu anakku. Kamu harus memanggilku Mama. Arga, Terima kasih sudah mau menerima wanita ini sebagai Ibu kamu," balas Laili dengan tangisan bahagia.


Siska menghampiri keduanya dan menghapus air mata yang membasahi wajah Mama Mertuanya itu. "Akhirnya, harapan Mama terwujud. Keluarga kita kembali utuh,"


Laili mengangguk membenarkan dan mengusap lembut bahu Siska. "Terima kasih,Nak. Kamu seperti perantara yang di berikan tuhan untuk mendekatkan keluarga ini. Terima kasih, Siska."


Arga tersenyum memandangi istrinya. Kecupan singkat di bibir Siska dan tepuk tangan meriah tamu undangan menutup moment penuh haru di antara keluarga Dewantara.


"Andai Raeviga juga ada disini, Maka kebahagiaan ini akan semakin lengkap. Rae, Dimana kamu sebenarnya?" gumam Siska yang menatap sekeliling dan memperhatikan Dava yang tersenyum menikmati pesta. Walaupun di hatinya, pria itu tengah menahan kesedihan yang teramat dalam karena kehilangan sosok wanita yang ia cintai.


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,

__ADS_1


__ADS_2