
Panggilan terputus tak lama setelah mereka membahas beberapa hal ringan dan tertawa kecil di sela-sela perbincangan mereka. Berbeda dengan Arga, pria itu menatap langit senja yang akan menjadi gelap di teras balkon kamarnya. Tangannya menggenggam sebuah ponsel setelah menerima telepon dari seorang wanita yang sangat ia benci kehadirannya, dan kali ini kilatan kemarahan terlihat jelas di kedua matanya.
[EPISODE SEBELUMNYA]
FLASHBACK
Satu jam yang lalu saat Arga menikmati langit sore, sebuah panggilan masuk dari Laili membuatnya enggan untuk menjawab. Namun seakan tak ingin di abaikan, Laili kembali mengulang panggilan teleponnya kepada Arga, anak tirinya.
Merasa kesal dengan suara ponselnya yang terus berbunyi membuat Arga terpaksa harus menjawab telepon dari Laili. Arga berniat untuk menonaktifkan ponselnya namun sedari tadi ingin menunggu pesan balasan dari Raeviga yang tak kunjung terbaca.
"Ada apa?" tanya Arga dingin.
"Mama minta kamu buat hadir di acara Dava malam ini. Di Villa milik ayah kalian di Jogja. Mama juga akan jelaskan tentang warisan yang telah di tulis Papa kamu,"
"Untuk apa aku harus datang di pesta wanita perusak keluargaku! Dan ingat kata ini baik-baik jika warisan Papa adalah hak milik aku seorang. Kalian hanya penumpang yang tidak di harapkan!"
"Mama tau.. tapi aku ingin.."
"Aku tidak peduli. Jadi jangan pernah mengangguk!" serunya marah dan memotong perkataan Laili. Dia tidak ingin berlama-lama mendengar suara Laili. Wanita itu akan selalu mengingatkannya pada Luka Almarhum Mamanya. Karena wanita itu Papanya, Dewantara meninggalkan istrinya untuk menikah dengan Laili.
"Arga, dengarkan Mama. Wanita yang akan di jodohkan dengan Dava adalah wanita yang kamu kenal. Mama perlu membicarakan ini dengan kamu"
Namun Arga mengabaikan ucapan Laili. Ia mengakhiri panggilan teleponnya sepihak. Tangannya meremas ponsel yang di pegang ya mengingat Laili yang mulai membicarakan warisan yang di buat Almarhum Papanya.
Berani sekali wanita itu membicarakan tentang warisan. Wanita Jalang, tak mengerti kata terima kasih. Seharusnya sejak dulu aku membiarkan mereka tinggal di jalanan.
FLASHBACK END
****
Arga memasuki ruangannya namun dia mencuri tatap ke arah meja Raeviga yang kosong.
"apa gadis itu tidak masuk?" tanya Arga pada Siska yang juga baru datang.
"Iya pak.Raeviga sedang ada perjalanan ke luar kota bersama ibunya" Jelas Siska setaunya. Raeviga hanya memberikan penjelasan singkat pada Siska tentang absennya hari ini.
"luar kota?dimana?"tanya Arga penasaran. Padahal hari ini ia berencana akan memaksa Raeviga menerima lamarannya. Arga tak ingin menunggu lebih lama lagi.
__ADS_1
"Saya tidak tau pak, yang saya tau seperti itu."
Arga mendengus kesal dan kembali menuju ruangannya. Namun ketika membuka pintu ruangannya ia membalikkan badan kembali dan bertanya lagi kepada Siska.
"Berapa hari ia akan ambil libur?"
Siska menggelengkan kepalanya tak tau. Kemarin malam Raeviga sama sekali tidak membahas tentang hal itu.
"Sial! kemana perginya dia!" Keluh Andreas kemudian masuk ke dalam ruangannya. Seketika suasana hatinya menjadi buruk di pagi hari.
Di sela pekerjaannya Arga masih saja mencoba menghubungi Raeviga..Ia mendesis kesal setiap kali nada operator mengatakan bahwa nomornya tidak aktif.
25 menit kemudian ponsel Arga berdering,tanpa melihat nama pemanggil ia langsung saja mengangkatnya karena dia mengira bahwa Raeviga yang menghubunginya.
"Iya Rae?" jawabnya sedikit mengulum senyum karena senang.
"Rae? ini mama Arga.Bagaimana kabarmu?" Raut wajah Arga yang kecewa tercetak jelas di wajahnya.
"ada apa?" sahutnya sedikit parau. Wanita itu adalah Ibu tiri Arga. Wanita yang baginya telah menghancurkan kebahagian ibunya sendiri.
"Kamu sakit? kenapa suaramu terdengar seperti orang flu." Tanya wanita parubaya yang berada di seberang telfon dengan khawatir.
"Kenapa kamu tidak datang ke pesta adikmu kemarin malam?"tanya wanita itu yang nampak kecewa.
"bukankah tanpa kehadiranku. Pesta jauh lebih menyenangkan?"Ejek Arga sinis. Dia dan Dava selalu terlibat perselisihan walau masalah sekecil apapun.
"Tapi Ar..." Arga memotong perkataan wanita parubaya itu Arga tidak ingin berdebat dengan hal yang tidak penting baginya.
"Aku sibuk,bahas nanti saja!" Serunya ingin mengakhiri percakapannya namun Laili meneruskan ucapan tanpa memperdulikan Arga yang tetap berkata dingin kepadanya.
"Dava akan menikah Arga!"Ungkap Laili dengan lantang.
"Bisakah sekarang kamu lebih akur dengannya dan lagi pula ia akan menikah dengan Raeviga. Pegawai yang berada di kantormu.."Jelasnya lagi.
Arga membelalakkan matanya tak percaya, mencoba mencerna kembali perkataan wanita yang tidak di anggapnya ibu itu.
"Raeviga?anak Pak Hermawan?"Tanya Arga sembari melemparkan bolpoinnya ke lantai dengan keras.
__ADS_1
"Iya,Dava telah menyelamatkan perusahaan kita dengan menikahi Raeviga."
"Menyelamatkan perusahaan? apa maksud perkataanmu?"Arga kebingungan dengan Penjelasan yang sulit ia cerna.
"Jika kamu ingin tau lebih jelas.Kemarilah temui mama di Villa Jogjakarta."
Tut tut tut..
Panggilan terputus. Laili menutup panggilan teleponnya. Arga terlihat emosi, dia membanting dengan keras berkas-berkas yang berada di depannya. Sial
Arga mengambil jasnya dan keluar dengan terburu-buru menyusul Laili yang berada di Jogjakarta. Meminta penjelasan tentang pernikahan bodoh yang dikatakannya.
"Pak Arga, apa anda akan pergi? saya harus membahas masalah permintaan klien tempo hari" ucap Siska sambil mengikuti langkah Arga hingga di ke pintu Lift.
"Bisa kita bicarakan ini nanti?" Arga menatap tajam kearah Siska. Amarahnya tak bisa terbendung lagi. Perkataan Laili saat ini telah memenuhi pikirannya. Tidak mungkin jika wanita yang dicintainya sejak dulu kini harus bersama dengan Dava, adik tirinya.
Siska mengangguk dan menjauh beberapa langkah dari Arga. Dia sadar jika saat ini Arga terlihat sangat kesal. Bahkan untuk beberapa detik, kedua mata yang penuh kilatan amarah itu tak berkedip sama sekali.
Apa yang terjadi dengannya? apa yang membuatnya marah sebesar ini?
Pintu Lift terbuka, Arga melangkah masuk ke dalam eskalator kotak itu tanpa melihat kearah Siska lagi. Ada sedikit kekecewaan yang tergambar di wajah Siska setelah kepergian Arga. Dia merasa bahwa Arga bersikap dingin padanya. Sikap yang pernah Arga tunjukkan saat mereka pertama kali bertemu. Tatapan orang asing dan tidak ada kehangatan disana.
Arga melajukan mobilnya dengan cepat ke Bandara. Beberapa kali ia memukul setir mobil dan berkendara layaknya orang gila saat sebuah mobil di depannya menghalangi laju mobil yang ia kendarai.
"Tidak Rae, kamu tidak bisa menikah degan Dava"
"Aku tidak akan pernah membiarkan itu tejadi. Kamu milikku dan akan tetap menjadi milikku,"
BERSAMBUNG
Hai Reader,
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.
DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT.
Terima kasih,
__ADS_1
Happy Reading Gaes,