FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#71 : PERHATIAN SANG KEKASIH


__ADS_3

Arga membuka pintu ruangan Abimanyu dan akan berjalan keluar dari ruangan. Namun pertanyaan Abimanyu membuatnya menghentikan langkah kakinya.


"Apakah kehamilan Siska ada hubungannya denganmu?"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Siska telah berada di kamar tidur Arga. Seorang wanita dengan jas dokternya tengah memeriksa kondisi Siska dengan peralatan medisnya.


"Dok, apa ada masalah dengan kandunganku?" Siska terlihat khawatir. Sesekali ia mengelus perutnya yang masih datar itu. Melihat kecemasan Siska membuat Arga terlihat khawatir. Ia meraih telapak tangan Siska dan menggenggamnya erat.


"Jangan khawatir, ini adalah pendarahan implantasi. perdarahan ini sering terjadi saat hamil muda karena proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim. Kamu hanya perlu istirahat, jangan terlalu lelah dan juga hindari terlebih dahulu 'hubungan ranjang' saat masih terjadi pendarahan,"


Mendengar penjelasan dokter wanita itu seketika membuat Siska melepaskan genggaman tangan Arga. Arga yang memperhatikan wajah Siska yang merah merona karena malu mencoba menahan tawanya agar tidak terdengar oleh kekasihnya.


"Hubungi aku kembali jika pendarahannya masih berlanjut. Atau kalian bisa datang kembali 2-3 hari kemudian. Aku akan memeriksanya kembali,"


"Terima kasih dok," jawab Arga dan Siska bersamaan.


Setelah kepergian dokter wanita itu Siska akan beranjak dari tidurnya namun Arga dengan sigap menghalanginya untuk bangun.


"Aku hanya ingin duduk," keluh Siska dengan wajahnya yang memelas.


"Kamu yakin hanya akan duduk?"


"Iya," jawab Siska sembari meletakkan bantal di belakang punggung sebagai sandaran. Arga dengan cekatan membantu Siska dan meletakkan selimut hingga batas pinggangnya.


"Kenapa memberiku selimut siang-siang seperti ini. Tidak perlu Arga," Siska akan meletakkan kembali selimut itu namun Arga mencegah tangan Siska dan menatap wanita itu serius.


"Kali ini kamu harus nurut denganku. Ini semua demi kebaikan kamu dan anak kita. Mengerti?" Tak lama bersikap serius dengan rahangnya yang mengeras, beberapa menit kemudian Arga menunjukkan senyuman kecil di bibirnya dan membelai lembut rambut Siska yang tergerai.


"Kenapa melihatku seperti itu," goda Arga melihat raut wajah Siska yang nampak murung


"Gak masalah kalau gak mau pakai selimut. Tapi jangan turun dari tempat tidur. Inget kan tadi apa yang di katakan dokter?"


Siska membalas senyum Arga dan menganggukkan kepalanya. "Ingat,"


"Tunggu disini, aku akan meminta pelayan membuatkan Sup hangat dan bubur untuk kamu,"


Untuk kedua kalinya Siska kembali mengangguk kan kepalanya seakan menjadi seorang anak perempuan yang tengah menuruti perkataan orangtuanya. Arga meringis geli melihat sikap Siska yang terlihat lucu baginya.


Siska mengedarkan pandangannya melihat ruangan Arga yang masih terlihat sama seperti pertama kalinya ia masuk ke ruangan itu. Tidak ada perbedaan, hanya saja ruangan itu terlihat gelap dengan tirai dan sprei kasur yang berwarna gelap. Begitu pula dengan meja kerjanya yang terlihat berantakan.

__ADS_1


Siska melihat majalah ataupun berkas-berkas bersampul berserakan di atas mejanya. Ia menuruni tempat tidurnya dan berjalan mendekati meja.


Ini bukan seperti kamar Arga yang dulu. Bahkan dulu debu saja enggan untuk menyentuhnya. Tapi sekarang sepertinya telah berbeda, meja dan rak bukunya nampak berdebu. Apa ada dengannya?


Kedua tangan Siska dengan cekatan merapikan tempat kerja Arga. Siska membawa beberapa buku tebal yang akan diletakkannya kembali ke rak buku di samping meja kerja Arga. Siska sedikit mengangkat tumitnya untuk mencapai rak buku itu.


Saat meletakkan bukunya ke dalam rak baris ke empat, tangan kekar Arga menghentikannya. Arga mengambil alih buku-buku dari tangan Siska dan meletakkannya sendiri.


Tak sengaja kedua mata mereka bertemu. Siska melihat sorot mata Arga menatapnya tajam.


"Kamarmu sangat berantakan jadi aku...," ucapan Siska terhenti saat Arga tiba-tiba menggendongnya dan membawanya keatas tempat tidur.


"Kamu mau apa?" tanya Siska, namun Arga tidak mempedulikannya.


Arga menurunkan Siska dari gendongannya ke tempat tidur. "Kamu itu keras kepala banget ya, kan sudah aku bilang buat diem di atas kasur aja,"


"Tapi itu meja kamu berantakan,"


Arga menghela napas panjang dan mengambil mangkuk bubur hangat yang tadi di bawanya.


"Kalau berantakan lalu kenapa? aku ada pelayan. Mereka bisa membersihkan, buka mulut kamu," Arga mendekatkan sendok makan yang telah berisi bubur putih ke mulut Siska. Seperti anak kecil, Siska menuruti ucapan Arga dan membiarkan Arga memperhatikannya.


"Ada apa? kenapa tersenyum seperti itu?" Arga mengarahkan kembali sendok berisi bubur sebagai suapan terakhir.


Siska menarik bibirnya bawah dan menggelengkan kepalanya cepat. "Siapa yang tersenyum? aku biasa aja,"


Arga meringis geli. Ia meletakkan mangkuk bubur yang telah kosong dan memberikan Siska segelas air putih. "Minumlah dulu,"


Siska mengambil gelas kaca itu dan meneguk beberapa kali.


"Masih ada sup, kamu mau?" Arga menunjukkan semangkuk kecil sup yang berada di atas meja.


"Aku sudah kenyang, aku akan memakannya nanti,"


"Tapi Sup ini lebih enak di nikmati ketika hangat," Arga mengambil sesendok sup dan meminta Siska membuka mulutnya.


"Aku sudah kenyang," Siska menahan sendok di tangan Arga yang telah berjarak sangat dekat di bibirnya.


Arga meletakkan mangkuk sup itu kembali dan mendekatkan wajahnya ke telinga Siska.


"Apa kamu ingin menikmatinya dari bibirku?" goda Arga membuat wanita itu terdiam dengan kedua matanya yang terbuka lebar.

__ADS_1


"Dasar gila!" Siska menjauhkan wajah Arga dari telinganya dan menghindari tatapan Arga yang saat ini memandanginya.


"Kenapa malu-malu seperti ini? Bukankah kita juga sudah pernah berciuman. Apa kamu tidak ingat ciuman di toilet siang tadi?" melihat rona merah di wajah Siska, semakin membuat Arga terus menggodanya.


"Haruskah aku mencium mu lagi biar kamu i...," Siska menutup mulut Arga dengan telapak tangannya dan wajahnya yang berkerut.


"Diam, apa kamu tidak malu mengatakan semua itu?"


Arga meraih tangan Siska yang membungkam mulutnya dan mencium telapak tangan wanita itu. "Kenapa malu? aku suka melihat kamu tersipu malu seperti ini. Kenapa dari dulu aku tidak bisa melihat senyuman ini?"


Arga menyentuh wajah Siska dan menatapnya penuh perasaan. "Aku ingin mengatakan sesuatu,"


"Apa?"


Perlahan tubuh Siska semakin terdorong ke belakang karena Arga terus mendekat kearahnya. "Aku mencintaimu, tidak lebih tepatnya. Aku sangat mencintaimu, Sis. Aku sudah menyadari tentang perasaanku. Entahlah bersamamu serasa menyenangkan untukku,"


Terlihat senyuman manis dari wajah Siska sat Arga mengutarakan isi hatinya. Arga akan mendekat kearah Siska untuk menciumnya namun Siska menutup bibirnya dengan kedua jarinya hingga ciuman itu hanya mendarat di permukaan jarinya.


"Kenapa kamu menutupnya? aku ingin mencobanya sekali,"


Siska mendorong pelan tubuh Arga dari tubuhnya yang berjarak sangat dekat dengannya. "Jika aku biarkan, kamu akan terus melakukannya semalaman. Aku harus pulang, Inis sudah larut malam,"


Arga menahan lengan Siska hingga kedua telapak tangan mereka saling bertautan. "Tinggal lah disini. Kamu milikku, dan tidak akan aku ijinkan kamu pergi jauh dariku,"


"Ini tidak benar, Arga. Bagaimana jika orang berpikir buruk tentang kita? aku akan tinggal disini jika kamu sudah menikahi ku," Siska beranjak dari tempat tidurnya dan merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.


"Aku tau, tapi tetaplah tinggal disini. Aku bisa tidur di sofa."


Siska membalikkan tubuhnya hingga kedua mata mereka saling berhadapan. Siska menggelantung kan tangannya di bahu Arga dan menatapnya serius.


"Tidak, aku harus pulang,"


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,


Instagram : @ilyuaml1

__ADS_1


__ADS_2