FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#29 : KEHIDUPAN DUA PRIA


__ADS_3

Arga membuka kedua tangan Siska yang menutupi wajah gadis itu. Namun Siska masih menutup kedua matanya, tak mengizinkan melihat hal yang belum pantas untuknya.


Kamu tak boleh ternodai mata-mataku. Perasaan ini pasti kembali datang. Sial.


"Jadi apa mau mu kesini? kamu ingin bermain dewasa?" goda Arga, sontak hal itu membuat Siska membuka matanya dan menatap Arga.


"GAK MAU!"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arga terkekeh dengan tingkah polos Siska. Tangannya tanpa ia sadari mengusap lembut puncak kepala Siska. Gadis itu terkejut dengan perlakuan Arga padanya.


Tidak, Siska. Kamu tidak bisa kembali menginginkannya. Pak Arga tidak pernah menyukaimu..


Walaupun berusaha dengan keras untuk menyakinkan hatinya. Tetap saja saat ini jantung Siska berdetak cepat dan sudut bibirnya yang tersenyum melihat perhatian Arga padanya.


Arga menjauhkan telapak tangannya setelah menyadari apa yang ia lakukan tanpa sadar.


"Ada perlu apa?" tanya Arga singkat.


Pria ini sangat tidak konsisten. Semenit yang lalu baik sekarang kembali bersikap dingin.


"aku ingin mengganti pakaianku.Apakah Pak Arga punya pakaian lama yang tidak terpakai? Lalu...kamarku untuk tidur dimana?" tanya Siska ragu. Sesekali ia menurunkan pandangannya dari Arga yang menatapnya. Sesaat dia terlihat malu dengan keadaannya yang sangat lusuh saat ini.


Entah bagaimana nanti dia akan menghadapi Erwin ke depannya. Hubungannya dengan Erwin benar-benar akan berakhir. Namun Siska merasakan Lega dengan berakhirnya hubungan toxic itu.


"Kamarmu ada di lantai bawah. Tanya ke pelayan rumah. Mereka akan menunjukkan kamar tamu untuk kamu.." ucap Arga disertai anggukan kepala oleh Siska. Gadis itu akan berbalik pergi namun Arga menyerukan namanya. Siska berbalik, ia melihat sebuah kaos unisex berwarna putih terlempar kearahnya dan sebuah celana jeans selutut.


"Pakai itu.."


"terima kasih" jawab Siska dan berlalu pergi dari kamar Arga.


"Dasar pria tidak sopan" gerutu Siska setelah berjalan beberapa langkah dari pintu kamar Arga.


Siska bertemu dengan seorang pelayan wanita parubaya. Dia menghampiri wanita itu untuk menanyakan letak kamar yang di katakan oleh Atasannya.


"Permisi Bi, aku Siska..aku mau.."


"Pacarnya tuan Arga ya?" tanya Wanita pelayan itu memotong ucapan Siska. Wanita itu terlihat antusias dengan kedatangan Siska di rumah majikan.


Mungkin saja setelah kedatangan gadis ini,tuan Arga tidak mudah emosi lagi. Pikirnya.


Siska dengan cepat mengelaknya. Kedua tangannya memberikan isyarat jika yang di katakan Bibi pelayan itu salah.


"Saya hanya pegawainya, dan karena saya terlibat masalah jadi Pak Arga meminta saya untuk tinggal disini sementara.." jelas Siska dengan sopan.


"Maaf Non, ternyata saya salah, ini karena pertama kalinya tuan mengajak seorang wanita muda masuk ke dalam rumahnya"

__ADS_1


Mendengar ucapan Pelayan itu membuat kedua pipi Siska bersemu merah. Ada kegembiraan dalam hatinya ketika mendengar perkataan itu. Walaupun sebenarnya ia tau jika Arga hanya bermaksud menolongnya. Tak ada alasan lain di balik keberadaannya saat ini.


"Non,kesini perlu apa?" tanya Bibi Minah.


"Oh iya, aku kesini mau tanya kamar tamu dimana ya,Bi? aku ingin mengganti pakaianku.." tunjuk Siska pada pakaian yang lusuh bahkan lengan bajunya terkoyak karena Erwin menariknya paksa saat itu.


"Di sebelah sana,Non. Mari bibi antar.." wanita parubaya yang tinggi lebih kecil 10cm dari Siska itu berjalan terlebih dahulu di susul Siska dari belakang.


Bi Minah membuka sebuah pintu yang tidak terkunci. Siska menatap tak berkedip saat memasuki ruangan itu. Ruangan yang sangat lebar dengan kamar mandi yang telah menjadi satu di dalamnya. Sebuah lemari pakaian besar, pendingin udara, meja rias, TV LCD berukuran besar lengkap dengan alat penunjang lainnya. Siska terkesiap melihat isi perabotan di dalam ruangan itu.


"Ini seperti rumah-rumah di Sinetron. Apa aku benar-benar akan tinggal di rumah semewah ini. Astaga mimpi apa aku semalam.." teriaknya histeris dalam hati.


"Mari Non masuk. Kenapa diam saja di samping pintu?" ajak Bi Minah sambil membuka kamar mandi yang masih terkunci dan memberikan kunci itu pada Siska.


"Ini kunci kamarnya Non.." Siska menerima benda kecil dengan bandul bintang itu.


"Non, Makan malam sudah saya siapkan di meja makan. Saya akan kembali lagi besok pagi.." ucap Bi Minah sebelum pergi.


"Loh Bi Minah tidak tinggal disini?" tanya Siska penasaran.


"Bukankah jika pelayan rumah akan tidak juga di rumah majikannya?" pikir Siska.


"Tidak Non, Sejak dulu Tuan Arga hanya meminta saya mengurus keperluan rumah setelah semuanya selesai dilakukan, saya akan kembali lagi besok.."


Siska masih tidak mengerti dengan hal itu. Namun dia mengiyakan ucapan Bi Minah. Siska tak ingin menanyakan hal itu lebih jauh lagi.


"Iya Non.." Bi Minah pergi meninggalkan kamar tamu itu.


Siska menutup pintu kamarnya. Ia melihat pakaian yang di berikan Arga padanya. Siska masuk ke dalam kamar mandi dan membersihka tubuhnya sekaligus mengganti pakaiannya yang telah lusuh.


****


Di tempat lain, Dava terlihat tak sadarkan diri dan tertidur di sebuah kamar mewah. Seorang wanita berdiri menatapnya lama seolah memikirkan sesuatu. Dava mengalami mimpi buruk dalam tidurnya. Beberapa kali ia mengigau tak jelas dan berusaha membuka kedua matanya. Wanita itu yang sejak tadi memandangi Dava berjalan mendekat kearahnya dan menggenggam telapak tangannya erat.


"Dava, kamu baik-baik saja?" Wanita itu mengusap lembut dahi Dava yang berkeringat. Tubuhnya terlihat dingin. Dava membuka kedua matanya dan bangun terengah-engah.


"Sekar?" ucap Dava dengan napas terengah-engah.


"Kamu kenapa? kamu tidak apa kan?" tanya Sekar, dia kembali mengecek suhu tubuh pria itu.


Dava meraih tangan Sekar dan mengenggamnya. Tubuhnya masih sangat lemas dan kepalanya juga terasa berat.


"Kamu membawaku dimana?" tanya Dava melihat sekelilingnya.


"Ini di Apartemenku"


"Kepalaku terasa sangat berat. Aku butuh istirahat"

__ADS_1


"Apa yang terjadi denganmu tadi?" tanya Sekar saat melihat Dava mengigau dan terbangun tiba-tiba


"Hanya masa laluku yang kembali muncul di mimpiku.."


"Kamu tidak apa sekarang?"


"Aku hanya membutuhkan istirahat sebentar"


"Tidurlah.. besok kamu akan membaik" ucap Sekar setelah memberikan obat penghilang rasa sakit kepada Dava.


"Dav, bisakah kamu memberiku uang beberapa juta.."


Dava melihat kearah Sekar. Dia tau jika wanita yang saat ini dia kencani bukanlah dari kalangan keluarga baik-baik. Sekar telah lama menjadi wanita malam. Namun itu semua sebelum bertemu dengannya. Sekar selalu mengatakan jika ia telah berhenti dari pekerjaan malamnya. Namun untuk membantu kebutuhan Sekar, Dava selalu memberikan uang sebagai biaya hidup Sekar. Karena hanya Sejarah wanita yang bisa mengerti keadaannya,kekacauan hatinya.


"untuk apa?" tanya Dava setelah terdiam beberapa menit.


"Ada kebutuhan yang harus aku beli.." ucap Sekar dengan nada merayu.


Dava mengangguk mengerti. Ia memberikan kartu kreditnya kepada Sekar.


"Kamu bisa membeli kebutuhanmu itu" ucap Dava menyerahkan black card itu pada Sekar.


"password?"


"Seperti biasa.." jawab Dava singkat.


"Baiklah, terima kasih sayang"


Dava kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sekar pergi dengan kartu kredit Dava di tangannya.


Sekar bertemu dengan seorang lelaki di Lobby Apartemen-nya. Lelaki yang ia temui saat menolong Dava saat mabuk di Jalanan depan Bar.


"Kita pergi sekarang?" ajak pria itu.


"Okey babe.."


BERSAMBUNG


Hai Readers,


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


__ADS_2