
"Gak perlu lama! datang sebelum 10 menit" perintahnya setelah langkahnya menjauh dari Siska.
"Dasar Bos Angkuh, kenapa juga aku harus suka sama cowok seperti ini. Gak punya perasaan, maen perintah aja!"
[EPISODE SEBELUMNYA]
Siska sudah bersama dengan Arga di sebuah cafe coffee di terletak pertengahan kota Jakarta. Arga nampak sibuk dengan perbincangannya dengan kedua Kliennya. Kedua sorot mata Siska mengamati garis wajah Arga yang duduk di sebelahnya. Arga menyadari jika saat ini Siska tengah memperhatikannya diam-diam.
"Untuk informasi lebih lanjut tentang kerjasama ini, Anda bisa membahasnya dengan sekretaris saya.." ucap Arga sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan kedua kliennya.
"Baik terima kasih Pak Arga. Apakah sekretaris anda adalah wanita ini" tunjuk pria itu pada Siska. Siska akan mengatakan sesuatu namun Arga lebih cepat memberikan penjelasan kepada Kliennya.
"Dia adalah pegawai akuntan saya, Anda bisa menghubungi sekretaris saya lewat nomor perusahaan yang sudah saya cantumkan di berkas ini" jelas Arga lagi, ia melirik sekilas kearah Siska yang hanya mengamati perbincangan ketiganya.
"Terima kasih atas waktunya Pak Arga," Kedua klien Arga pergi meninggalkan Cafe Coffe itu. Begitu pula dengan Siska yang akan beranjak dari tempat duduknya untuk berjalan keluar. Namun langkahnya tertahan oleh Arga yang tiba-tiba menahan tangannya.
Siska memandangi tangannya yang di sentuh oleh Arga. Lagi-lagi perasaan gugup menjalar ke tubuhnya. Arga berdiri dan melihat wajah Siska seakan mengamati dengan baik wajah gadis di depannya saat ini.
"Kenapa anda menatap saya seperti itu" Siska mengedarkan pandangannya menjauhi tatapan Arga.
"Kamu juga menatapku seperti ini kan sejak tadi? Apa yang kamu liat?"
"Jadi dia tau jika aku melihatnya sejak tadi?" keluh Siska dalam hati. Ia merapatkan bibirnya seakan berpikir alasan apa yang tepat untuk pertanyaan Arga. Jika memungkinkan ia ingin segera berlalu pergi dari tempat ini. Dia sudah terlalu malu untuk berhadapan dengan Arga karena telah memergokinya.
"Saya melihat kearah proposal bisnis, bukan kearah Pak Arga," elak Siska dan berjalan keluar lebih dulu dengan langkah cepat.
Di balik punggung Siska, Arga tersenyum tipis memperhatikan kegugupan Siska saat ini. Apakah Arga telah menyadari jika Siska menaruh hati padanya? atau Arga hanya suka menjahili gadis itu?
Di dalam mobil, Siska masih tak ingin bertatap muka langsung dengan Arga. Siska hanya memandangi jalanan dari kaca pintu mobil Arga.
Arga ingin melihat Siska sejenak, ia ingin mengatakan sesuatu hal yang penting kepada Siska. Ini tentang Erwin dan Siska perlu mengetahuinya.
"Apa kamu sudah mendengar kabar tentang Erwin?" pertanyaan itu membuat Siska melihat kearahnya dengan cepat. Mendengar nama itu membuat raut wajah Siska berubah.
Kenapa Arga membahas Erwin? kenapa dengan pria itu? aku tak ingin lagi bertemu dengannya.
"Kenapa Pak Arga menanyakan hal itu kepada Saya?"
__ADS_1
"Erwin berada di dalam tahanan karena membuat onar di jalanan. Jika kamu ingin aku bisa menuntut Erwin karena penganiayaan yang dia lakukan,"
Siska terdiam. Ini adalah kesempatan yang baik untuknya agar Erwin tak akan bisa lagi melukainya. Namun ucapan Erwin tentang masa lalu ayahnya membuat Siska nampak ragu untuk melakukannya.
Apakah semua ini impas dengan perlakuan Ayahku dulu pada Mamanya? haruskah aku menuntut Erwin sekarang?
"Kenapa kamu hanya diam saja? Erwin akan bebas seminggu kemudian. Apa kamu menunggu Erwin mencelakai kamu lagi?"
Siska menggelengkan kepalanya pelan. Dia tak ingin kejadian kemarin kembali terulang kepadanya. Erwin menakutkan dan dia tak ingin lagi berurusan dengan pria itu.
"Aku akan memutuskannya setelah bertemu dengan Erwin. Bisakah anda mengantarkan saya untuk bertemu dengannya?" Siska tak ingin pergi sendiri, Trauma tentang penganiayaan yang di lakukan Erwin padanya masih membekas di ingatannya. Setidaknya Siska mempercayai Arga. Bahwa Pria di sampingnya ini tak akan pernah membuatnya terluka.
Arga mengangguk setuju. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah lapas yang berada di daerah Jakarta.
****
Dava bertemu dengan Sekar di sebuah hotel mewah di Jakarta. Ia ingin mempertanyakan tentang tagihan kartu kreditnya hingga ratusan juta. Namun melihat kondisi Sekar saat ini membuat Dava mengurungkan niatnya. Sekar terlihat depresi karena masalah keluarganya.
"Haruskah aku mencari ayahmu itu dan memasukkannya ke sel tahanan?"
"Aku tak ingin membuat Ibuku semakin terpuruk. Dia sangat mencintai ayah, walaupun beberapa kali Ayah sering menyakitinya"
"Tapi kamu tidak bisa membiarkan lelaki itu terus berkeliaran dan bermain seenaknya. Dia perlu mendapatkan hukuman"
"Tidak Dava, aku tidak bisa melakukannya"
"Tenanglah, sekarang ibumu telah aman. Aku meminta beberapa orang suruhan untuk menjaganya."
Sekar mengangguk mengiyakan. Ia kembali memeluk Dava. Kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.
"Aku akan pergi ke Villa Jogja untuk merayakan hari kelahiran ku dan pertunangan ku dengan wanita yang telah di jodohkan oleh Mama. Apa kamu akan ikut?"
"Apa aku bisa ikut bersamamu?"
"Tentu saja, kamu akan selalu menjadi wanitaku."
Sekar menyunggingkan bibirnya, dan mencium pipi Dava lama. "Apa kamu akan tetap terus bersamaku walaupun telah menikah dengan gadis itu?"
__ADS_1
"Tentu saja, aku hanya memanfaatkannya karena warisan papa"
****
Siska telah sampai di depan sel tahanan. Ia melihat Erwin terduduk menyendiri dengan tatapan kosong. Siska melangkah mendekati sel tempat Erwin di tahan. Arga berada di belakang Siska memperhatikannya.
"Erwin.." panggil Siska lirih. Melihat Erwin seperti ini membuatnya nampak sedih.
Erwin menengadahkan kepalanya melihat kearah sumber suara.
"Untuk apa kamu disini?" tanya Erwin dengan tatapan yang kini penuh kilatan amarah dimatanya.
"Aku.. aku datang untuk.." Siska nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya. Ia merasa iba melihat Erwin harus berada di balik jeruji besi.
"..Dia datang untuk menuntut perlakuan kasar mu padanya" ungkap Arga melanjutkan pertanyaan Siska yang tersekat.
Erwin kembali menatap Siska. Dia tak mengatakan apapun hingga beberapa menit mereka saling menatap.
"Lakukan saja. Kenapa harus bertemu lagi denganku?"
"Saat perjalanan kesini aku ingin melakukannya agar kamu tidak bisa lagi menyakitiku. Tapi aku membatalkannya sekarang. Aku tidak akan menuntut keadilan, jika memang di masa lalu ayahku telah berbuat buruk kepada Mamamu bukankah perlakuan mu sudah cukup untuk membuatku saat terluka? kamu adalah lelaki pertama yang aku percayai untuk menjaga hatiku dan menjadi seseorang yang selalu bisa bersamaku, tapi kamu telah menghancurkan semua itu."
Erwin terdiam. Dia tak mengatakan apapun. Entah sejak kapan air mata sudah membasahi kedua pipi Siska. Gadis itu menyeka air matanya. "Kamu sudah membuatku trauma, bahkan ketakutan itu sepertinya tak akan pernah hilang dari otakku. Jadi ku mohon, setelah ini bisakah kita melupakan masa lalu dan kembali melihat ke depan? aku tau karena aku yakin kamu bukanlah pria jahat. aku yakin kamu adalah orang baik. Jadi aku mohon jangan hancurkan harapanku itu.."
Siska tak bisa lagi menahan air matanya yang jatuh semakin deras, bahkan ia terisak dalam tangisnya. Siska melihat Erwin hanya mengalihkan tatapannya dari Siska. Seolah pria itu hanya mengabaikan ucapannya. Siska pergi dari tempat itu meninggalkan Arga bersama Erwin yang masih saling bertatap muka.
BERSAMBUNG
Hai Reader,
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.
DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
__ADS_1