FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#63 : BERTEMU RAEVIGA KEMBALI


__ADS_3

Erwin menghentikan lengan Siska yang akan pergi. "Boleh aku tanyakan sesuatu sebelum kamu pergi?"


"Apakah kamu mencintai Arga?"


EPISODE SEBELUMNYA


"Mencintainya atau tidak, perasaanku tidak penting untuknya. Lalu untuk apa semua itu di katakan? tidak ada artinya," Siska melepaskan tangan Erwin dari pergelangan tangannya.


"Terima kasih karena telah membantuku tadi, dan maaf aku dulu telah mengakhiri hubungan kita begitu saja," sesal Siska dan membuka pintu mobil Siska.


Siska menutup pintu mobil Erwin dan berjalan pergi menjauhi pria itu. Namun di dalam mobilnya Erwin terlihat memikirkan sesuatu.


Jika di dalam hidup Siska tidak ada pria lain, bukankah ini kesempatanku untuk bisa kembali dekat dengannya?


Erwin turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Siska.


"Kenapa?" tanya Siska yang melihat Erwin berjalan kearahnya.


"Selama ini aku masih memiliki perasaan yang sama kepadamu Sis. Entah, kamu masih mencintaiku atau tidak tapi aku ingin menikahi mu. Aku masih mencintaimu Sis," Erwin meraih telapak tangan Siska dan berharap gadis itu akan menerimanya.


"Win, aku bukanlah wanita yang pantas untukmu. Kamu kaya, kamu baik dan kamu juga pria yang sangat perhatian tapi semua itu tidak layak untukku. Kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku," tolak Siska halus.


"Aku tidak memperdulikan yang lain,Sis. Yang ku inginkan hanya kamu. Aku janji aku juga akan mencintai anak kamu seperti anakku sendiri,"


Siska tersenyum tipis dan memberikan jawaban yang sama untuk Erwin. "Saat ini aku tidak ingin ada seseorang yang hadir di kehidupanku Win. Aku hanya ingin sendiri, setidaknya aku tidak akan kesepian karena ada malaikat kecil yang selalu mendampingi ku. Hanya cukup itu yang ku inginkan. Maafkan aku,"


Erwin menghela napas seolah mengerti jika keputusan Siska akan tetap sama. Siska tidak memberikan izin untuk dirinya menjadi bagian dalam hidupnya.


"Aku tau kamu memiliki seseorang yang sangat kamu cintai. Kamu hanya menyembunyikannya siapa pria itu dan berusaha untuk melupakan perasaanmu padanya. Tapi Sis, perasaan seperti cinta tidak akan mudah lepas begitu saja. Mereka membutuhkan waktu, bahkan bisa saja cinta itu tetap ada di hatimu selamanya. Jadi, selama kamu bisa melihatnya saat ini kejar cintamu dan jangan lari darinya," ungkap Erwin memberikan penjelasan kepada Siska sebelum berjalan kembali ke dalam mobil.


"Aku tidak lari, cinta sepihak hanya akan merusak kehidupan pernikahan nanti. Lebih baik aku memutuskan sekarang dari pada harus menjalaninya dan kembali menyesal," gumam Siska sendiri tanpa bersuara. Siska teringat kembali perkataan Arga beberapa menit yang lalu di Rumah Sakit.


"Sejak kepergian mu pikiranku selalu tidak tenang. Aku mohon hiduplah bersamaku. Aku akan memberikan banyak cinta untuk anak kita. Kita akan hidup bersama selamanya" ucap Arga beberapa jam yang lalu.


Mobil Erwin telah melaju pergi meninggalkan Siska. Setelah mobil Erwin menghilang di keramaian jalan, Siska melangkahkan kakinya menyusuri jalanan setapak sembari memikirkan setiap perkataan Arga kepadanya.


Aku ingin bisa bersama mu. Tapi jika aku harus hidup tanpa cintamu, aku tidak akan pernah bisa bertahan Arga. Aku akan kembali terluka dan kecewa. Kenapa perasaan ini harus ada jika tidak pernah terbalaskan.


****

__ADS_1


Arga masih berada di koridor rumah sakit. Kedua kakinya enggan untuk melangkah lagi. Pernyataan Siska beberapa saat yang lalu menghancurkan sebagian semangatnya untuk bisa kembali bersama Siska.


Kenapa kamu tidak bisa menerimaku Sis. Aku merasa marah saat kamu mengatakan, ingin menikahi orang lain. Kenapa kamu tidak melihat seberapa besar aku ingin bisa bersamamu. Kenapa kamu tidak bisa melihat usahaku


Arga berjalan ke sebuah kursi di dekatnya. Menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.


Tidak, aku tidak bisa kehilangan Siska. Ini belum terlambat dan aku masih memiliki kesempatan.


Arga mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Suara seorang wanita di balik teleponnya membuat Arga sedikit lebih tenang. Karena Arga yakin, wanita itu akan membantunya untuk bisa bersama dengan Siska.


"Halo Rae," sapa Arga saat suara wanita itu terdengar.


"Arga? ada apa? apakah kamu sudah berhasil menemukan keberadaan Siska?"


"Udah,Rae.." Jawaban Arga membuat Raeviga yang mendengarnya bahagia. Namun berbeda dengan sorot wajah kehilangan pada Arga. Seakan pria itu telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti untuknya.


"Tapi Siska akan menikah,Rae.." lanjut Arga lagi


"Haa?? menikah? Apa kamu sudah memastikannya?" seru Raeviga tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Rae, Aku ada di Jakarta sekarang, aku perlu bantuan kamu. Bisakah kita bertemu hari ini?"


"Bisa," Raeviga mengiyakan permintaan Arga.


"Baiklah, dua jam lagi kita akan bertemu di Resto jepang sebelah kantor ku." Arga memutuskan panggilannya setelah mendengar Raeviga mengiyakan permintaannya.


****


Arga berjalan pergi meninggalkan koridor rumah sakit yang telah di dekorasi indah untuk acara sosialisasi yang perusahaannya adakan.


"Pak Arga, selamat datang pak. Kenapa anda tidak memberitahukan kami jika sudah datang?" tanya salah satu pengurus acara.


"Tidak apa, lanjutkan saja acaranya. Apakah semua pasien sudah mendapatkan bingkisan dari kita? apa ada yang belum dapat?" tanya Arga sembari melangkahkan kakinya menuju pintu keluar Rumah Sakit.


"Tidak pak, bingkisannya bahkan masih banyak yang tersisa,"


Arga menghentikan langkahnya. "Jika seperti itu Berikan sisanya pada perawat dan petugas rumah sakit lainnya,"


"Baik pak," jawab pengurus acara itu.

__ADS_1


"Pergilah, sampaikan salam ku kepada direktur rumah sakit dan pengurus lainnya,"


Arga melihat kearah jam tangan yang di pakainya dan bergegas pergi menuju mobil miliknya. Arga mengendarai mobilnya ke sebuah rumah makan untuk bertemu dengan Raeviga.


Bayi yang ada di kandungan kamu adalah anakku Sis. Aku tidak bisa membiarkan kamu pergi. Kalian adalah tanggung jawabku.


Mobil Arga berhenti di sebuah Restoran mewah tak jauh dari lokasi perusahaan Jankfood Indonesia. Ia memperhatikan sekelilingnya namun tidak melihat sosok Raeviga disana. Arga kembali melihat jam tangannya, Arga datang lebih cepat 15 menit dari jam yang telah mereka sepakati.


"Selamat siang tuan, Apa ada yang bisa saya bantu," tanya seorang pramusaji yang telah menyambut Arga di samping pintu restoran.


"Meja untuk dua orang,"


"Baik tuan, sebelah sini," tunjuk pelayan itu dan mengarahkan Arga ke sebuah meja berukuran standar.


*****


"Rae!!" panggil Arga ketika melihat seorang wanita memakai dress panjang bermotif. Seorang wanita yang pernah berlabu di hatinya itu sedang mengedarkan pandangannya mencari sosok dirinya.


Raeviga tersenyum kecil dan berjalan menuju meja yang di tempati Arga.


"Kamu tambah gemuk aja Rae!" ucap Arga sembari melontarkan senyumnya.


"ini pujian apa ejekan?" keluh Raeviga di ikuti tawa kecilnya.


Arga tertawa mendengar keluhan Raeviga dengan ekspresi marah yang di buat-buatnya.


"Gimana Kamu sama Dava?"


Raeviga tersenyum datar dan menaikkan kedua alisnya bersamaan. "Baik, kurasa dia bukanlah pria yang buruk untuk menjadi seorang suami,"


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,


Instagram : @ilyuaml1

__ADS_1


__ADS_2