
Dia benar-benar tidak tau malu. Bagaimana dia bisa berteriak sekeras itu, dasar konyol.
"Kekasihku yang sangat manis, dia benar-benar canduku sekarang. Bahkan sekarang aku ingin pergi dan berjalan di sampingnya,"
EPISODE SEBELUMNYA
Setelah bayangan Siska menghilang dari pandangannya, Arga kembali mengendarai mobilnya ke sesuatu tempat. Wajahnya terlihat serius memikirkan sesuatu.
Kemana Raeviga pergi? untuk apa dia harus pergi menjauhi Dava.
Tak lama mobil Arga berhenti di sebuah Apartemen tempat tinggal Dava. Arga berjalan menyusuri lobby Apartemen dan mempertanyakan ruangan Dava pada salah satu pekerja disana.
"Apa kamu tau lantai berapa apartemen Dava Dewantara?" tanya Arga pada seorang wanita berseragam orange.
"Tuan Dava Dewantara ada di lantai 3 dengan nomor apartemen C101."
"Baiklah, terima kasih,"
Arga berjalan menuju lift yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Namun saat lift terbuka ia melihat Dava dengan kondisinya yang terlihat berantakan. Rambutnya terlihat kusut dan raut wajahnya yang nampak sedih itu membuat Arga iba.
"Dav, kamu baik-baik saja? apa yang terjadi?" tanya Arga melihat tubuh Dava yang tak bisa berdiri dengan tegak.
"Kamu bau alkohol. Kamu mabuk?" tanya Arga lagi namun Dava hanya membual tak karuan.
"Raeviga, dia..apa dia marahku? dia wanita pemarah, aku membencinya..sangat membencinya. Aku juga sedih karena kehilangan anakku..,kenapa dia tidak mengerti diriku sama sekali," ungkapnya pelan dengan kedua matanya yang tertutup.
"Tenanglah, Raeviga akan kembali. Lebih baik jika saat ini kamu beristirahat," Arga membawa Dava kembali masuk ke dalam lift dan pergi menuju Apartemen tempat tinggal Dava.
****
Di kantor, Siska sama sekali tidak berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Siska berusaha menghubungi Raeviga namun hanya suara operator yang membalas panggilan teleponnya.
"Kemana perginya Raeviga." gumam Siska sendiri sembari memegangi perutnya yang terasa mual.
Siska berlari menuju kamar mandi kantor sembari memegangi perutnya yang akan kembali muntah. Di tengah jalan, Abimanyu melihat Siska yang berlari melewatinya begitu saja.
"Kenapa dengan wanita itu? kenapa dia berlari-lari di dalam kantor. Padahal aku ingin menanyakannya tentang kejadian dirinya yang terekam di televisi beberapa waktu yang lalu. Sudahlah, aku akan menanyakannya nanti," seru Abimanyu dan berlalu pergi setelah kembali melihat Siska yang masuk ke dalam kamar mandi.
Siska kembali memuntahkan sarapan pagi yang telah di makannya tadi. Tubuhnya terasa lemah dan perutnya yang terasa kram membuatnya terduduk di lantai kamar mandi.
Siska merasakan cairan hangat mengalir dari area sensitifnya, dan tak lama bercak darah menempel di rok berwarna putih miliknya.
"Darah? aku sedang hamil, tapi bagaimana aku masih bisa menstruasi? Apa janinku tidak sehat sekarang?" Siska nampak cemas memikirkan kondisi bayinya, dan bercak darah itu sudah mengotori rok yang di pakainya.
__ADS_1
Bagaimana ini? mana mungkin aku keluar dengan keadaanku seperti ini. Bercak darah ini menempel sangat banyak. Siapa yang bisa menolongku saat ini.
Siska mengambil ponselnya dari saku kemejanya dan mencari nama seseorang yang mungkin bisa membantunya saat ini. Siska memandangi lama nama salah seorang yang tersimpan di ponselnya.
Haruskah aku meminta bantuannya? tapi keadaan saat ini sangat canggung jika aku harus meminta bantuannya. Tapi jika bukan dia, siapa yang bisa menolongku saat ini?
Arga melihat Dava yang sudah tertidur pulas. Ruangan kamar Dava terlihat berantakan dan tidak terawat. Sejak kepergian Raeviga beberapa hari yang lalu, Dava memutuskan untuk kembali ke Apartemennya yang sudah lama tidak ia tinggali. Arga membersihkan ruangan Dava dan meletakkan barang-barang yang berserakan itu ke tempatnya semula.
"Aku mungkin masih membencimu,Dav. Tapi walaupun kita tidak ada hubungan darah, aku bisa mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Karena aku pernah berada di posisi yang sama sepertimu. Bertahanlah, semua akan terlewati dan akan kembali seperti semula," ungkap Arga saat tak sengaja mendengar suara Dava yang kembali mengigau.
Arga menghentikan kegiatannya saat suara ponselnya berbunyi dari seseorang yang sejak tadi ingin ia temui.
"Apa sekarang kamu merindukanku? padahal ini belum sehari kita tidak bertemu tapi kamu sudah sangat merindukanku," sapa Arga dengan berceloteh menggoda Siska.
"Tidak lucu, aku sedang tidak ingin bercanda dengan kamu. Aku.., aku perlu bantuan mu sekarang. Aku dalam masalah, cepatlah datang kesini," pinta Siska sembari berusaha menghapus noda darah di rok yang dipakainya.
Arga terlihat cemas mendengar perkataan Siska. Raut wajahnya seketika berubah gelisah. "Ada apa? kamu tidak apa kan? aku akan segera datang. Tunggulah disana,"
"Apa yang terjadi? katakan padaku, apakah kamu sekarang ada di ruang kerjamu?" tanya Arga lagi sembari melangkahkan kakinya keluar dari Apartemen Dava.
"Tidak, aku ada di kamar mandi. Cepatlah datang sebelum banyak orang melihatnya. Aku sangat malu,"
Arga mengerutkan dahinya bingung. "Ada apa Sis, kenapa kamu terlihat cemas,"
"Apa? apa yang kamu bisikkan? aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Katakan lagi, kenapa suaramu menjadi sangat pelan," Arga telah berada di dalam mobilnya dan bersiap menyalakan mesin mobilnya.
"Itu..yang..yang biasanya di pakai wanita," ucap Siska terbata-bata. Ia terlihat tak enak hati untuk mengatakannya kepada Arga.
"Hah? apa yang dipakai wanita? baju? celana? pakaian dalam? apa yang ingin kamu katakan?" Arga terlihat bingung dengan ucap Siska yang menurutnya mulai melantur.
Siska mengigit bibir bawahnya merasa malu untuk mengatakannya kepada Arga. "Kau tau kan benda putih empuk yang biasanya dipakai wanita saat haid. Bisakah belikan aku itu sebelum kesini?" Siska menutup kedua matanya sembari menunggu jawaban Arga.
Arga memutar kedua bola matanya seolah berusaha memahami maksud dari ucapan Siska kepadanya. "Apa maksudmu pembalut? jadi kamu ingin aku membelikan benda itu?"
"I..iyaa,bisa kan membelinya untukku?" jawab Siska lirih.
"Baiklah, tunggu aku disana,"
Arga menghentikan mobilnya di sebuah minimarket di sisi jalan dan berjalan menuju tempat dimana benda itu telah berbaris rapi disana.
"mana yang harus ku beli?" Arga meneliti banyaknya jenis dan variasi yang berbeda satu persatu.
"Sudahlah, jika terlalu banyak berpikir akan membuat Siska menunggu lebih lama lagi disana,"
__ADS_1
Arga membawa barang belanjaannya menuju kasir dan membuat petugas kasir itu menatap kearahnya dengan ekspresi wajahnya yang tidak bisa di jelaskan. Arga menyadari akan hal itu, namun ia berusaha untuk bersikap tenang seolah tak terjadi apapun.
****
Siska melihat jam di tangannya. Kedua kakinya ia hentakkan beberapa kali di atas lantai. Sudah lebih dari setengah jam ia berada di toilet sendirian dengan keadaannya yang terlihat berantakan.
"Sis...,Sis.. ini aku. Kamu dimana?" bisik Arga yang telah berada di dalam toilet wanita. Tangannya membawa sekantong besar benda yang di minta oleh Siska.
"Aku disini,"
Siska membuka sedikit pintu toiletnya dan mengulurkan tangannya keluar. "Berikan pembalutnya,"
Arga mengangguk gugup dan segera membawa kantong plastik itu kepada Siska.
Siska menaikkan satu alisnya dan memandangi Arga heran. "Kenapa banyak sekali. Aku memintamu untuk membeli satu saja, bukan malah membeli satu toko,"
"Sudahlah, kita akan membicarakan ini nanti. Lebih baik jika kamu segera keluar dari tepat ini,"
Siska mengangguk membenarkan dan kembali menutup pintu toiletnya. Arga masih berada di dalam toilet wanita, beberapa kali melirik kearah luar takut jika seseorang memergokinya berada disana.
"Arga, apa kamu masih berada disini?" tanya Siska beberapa menit kemudian.
"Iyaa,"
"Aku tidak bisa keluar, ada bercak darah di rok ku,"
Mendengar perkataan Siska, Arga nampak berpikir untuk mencari jalan keluar dari masalah Siska. "Keluarlah dulu, aku akan membantumu,"
Tak lama Siska keluar dengan kedua tangannya yang menutup noda darah pada roknya. Arga melihat Siska yang juga terlihat gugup sama sepertinya. Arga melepaskan jas yang dipakainya dan meletakkannya di pinggang Siska untuk menutupi noda darah itu.
"Masalah terselesaikan,"
Siska tersenyum senang menatap Arga. "terima kasih,"
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1
__ADS_1