
Siska memikirkan sesuatu, sorot matanya menerawang jauh seolah pikirannya kini berpusat pada hal yang harus ia lakukan sekarang. Siska melihat taksi yang di tumpangi Raeviga telah meninggalkan pekarangan rumah. Langkah Siska bergegas pergi menuju kamarnya dengan tergesa-gesa.
[EPISODE SEBELUMNYA]
Sebuah koper berisi penuh pakaian berdiri di samping kaki Siska. Ia terlihat duduk menunggu angkutan bersama dengan beberapa orang di sebuah halte bus Jakarta. Wajahnya yang tertutup masker menyembunyikan raut wajah sembab gadis itu. Walaupun masker yang ia pakai tidak akan bisa menutupi bengkak di kelopak matanya karena menangis semalaman.
Siska melihat kearah ponsel di tangannya. Layarnya yang hanya menampilkan wallpaper polos berwarna Lilac itu melihat kearah sebuah nomor yang ada di ponselnya. Salah satu jarinya mengetikkan sesuatu kepada pemilik nomor yang sedari tadi di lihatnya.
Arga berada di ruangan kantornya, kedua matanya terus menyorot ke arah dua bangku yang kosong di depannya. Teruma pada Siska,ia telah lancang menodai tubuh gadis itu.
Sedetik kemudian ia menerima pesan dari Siska, gadis yang sedang di cemaskannya saat ini.
SISKA
Saya akan berusaha melupakan apa yang bapak perbuat kemarin malam. Saya akan menganggap ini adalah kesialan Saya, tidak ada hubungannya dengan Arga Dewantara.
Dan tolong jangan katakan apapun pada Raeviga.
Arga mengerutkan dahinya cemas. Ia kembali membaca pesan masuk Siska itu untuk kedua kalinya. Pesan singkat Siska ini berhasil membuat Arga sangat terpukul. Ia telah melakukan hal buruk bahkan gadis itu tidak mengatakannya pada siapapun.Arga menelpon Siska namun hanya suara operator yang terdengar di telinga Arga. Hingga kesekian kalinya terdengar kembali suara operator wanita yang mengatakan jika nomor yang Arga hubungi sedang tidak aktif.
Arga mengacak rambutnya kesal. Nama Raeviga yang tertulis di pesan masuk milik Siska mencuri perhatiannya.
"Apa hubungan Siska dengan Raeviga? kenapa gadis itu memintaku untuk tidak memberitahukan Rae? Apa hubungan mereka sangat dekat?," tanya Arga pada dirinya sendiri.
Arga terlihat memikirkan sesuatu. Ia meraih ponselnya di atas meja dan menelpon Raeviga, namun panggilan itu sedang berada di luar jangkuan. Arga memanggil sekretarisnya untuk membawakan data lengkap milik Siska.
"Tolong bawakan data diri Siska pada saya.."perintahnya.
Tak lama Maudy datang dengan amplop coklat di tangannya.
"Ini pak.."
__ADS_1
"terima kasih"
Maudy mengangguk lalu keluar dari ruangan bosnya.
Ia membaca biodata Siska, ia berharap ada petunjuk yang akan memberitahukannya dimana keberadaan Siska saat ini. Ia melihat kota kelahiran Siska berbeda dengan tempat tinggalnya sekarang.
"Apa dia tinggal di Jakarta sebagai perantau?" gumamnya sendiri. Arga menutup berkas data milik Siska itu dan mengambil jas yang digantungkanya kemudian melajukan mobilnya secepat yang ia bisa untuk pergi menemui Siska di rumahnya. Arga berharap ia akan bertemu dengan Siska.
Raeviga sudah berada di depan rumah Siska. Dia menghapus sisa-sisa air mata yang melekat pada ujung matanya. Ucapan Dava beberapa jam yang lalu di rumah keluarga Dewantara membuat gadis itu terlihat sedih. Ia membutuhkan seorang teman yang bisa membuat kesedihannya berkurang, dan hanya Siska yang dapat melakukannya.
"Sis.."panggil Raeviga seolah tidak terjadi sesuatu. Namun ruangan itu hening. Raeviga menuju ke kamar siska namun kamar itu telah bersih. Ia tidak melihat pakaian Siska sama sekali. Raeviga berlari ke kamar mandi dan memanggil - manggil nama Siska berkali-kali. Namun Nihil gadis itu tidak berada di rumahnya.
Bippp..Bippp
Raeviga mendapat pesan masuk dari Siska.
Ga,ketika kamu udah sampai rumah sekarang. Aku mungkin udah pergi.
Raeviga mencoba menghubungi nomor itu namun panggilan itu sudah tidak aktif lagi.
Di rumah Siska, Raeviga masih terisak karena Siska yang meninggalkannya. Raeviga sangat terpukul dengan keputusan Siska untuk pergi bahkan dengan kondisinya yang masih terpuruk.
"Kamu jahat sis. Kenapa kamu harus pergi?" Raeviga masih menangis sesunggukan. Suara ketukan pintu berkali-kali membuat Raeviga mencoba berdiri untuk membukanya dengan kaki yang masih terasa lemas. Ia menatap tak percaya dengan sosok yang berdiri di depannya saat ini. Terlihat jelas raut wajah Raeviga yang terlihat ketakutan. Bayangan kejadian di masa lalu membuat Raeviga ingin jauh darinya.
"Pak Arga.." Raeviga tak percaya dengan kemunculan Arga disini. Raeviga sedikit memundurkan badannya menjaga jarak dari Arga ,takut Arga melecehkannya seperti dulu.
Arga melihat ketakutan Raeviga,ia merasa bahwa dirinya telah berbuat sangat buruk pada Raeviga.
"Aku minta maaf jika membuatmu merasa takut padaku,Rae,"
"Aku disini mencoba menata ulang hidupku lebih baik.."jelasnya lagi.
__ADS_1
Raeviga melihat raut wajah Arga penuh penyesalan. Pernyataan Arga membuat Raeviga sedikit tersentuh dengan penyesalannya.
"Saya mencoba melupakan kejadian itu." jawab gadis itu walaupun sebenarnya ia masih belum bisa melupakan perbuatan Arga sedikitpun.
Namun melihat penyesalan Arga bukankah ia harus membuka diri untuk memaafkannya.
"Pak Arga tau rumah ini dari mana? Apa anda ingin bertemu dengan Siska?"tanya Raeviga lagi.
Arga menjatuhkan tubuhnya seketika,berlutut di hadapan Raeviga,membuat wanita di depannya ini bingung. Arga merasa sangat bersalah atas perlakuannya pada Siska. Bahkan setelah kejadian itu Siska diam saja tanpa memberitahukan siapapun.
Ini memang bukan pertama kalinya Arga bermain dengan wanita,beberapa kali banyak wanita yang telah seranjang dengannya namun Arga tak pernah melampaui batasannya. Ia hanya bersenang-senang dan "hanya tidur".
Beberapa wanita bayaran selalu merayuku untuk melakukan hubungan terlarang. Tapi tidak, aku tau batasan. Tapi kenapa dengan bodohnya aku memaksakan perbuatan itu pada Siska? Aku sangat bodoh, keras kepalaku telah menghancurkan harga diri wanita.
"Aku..mau minta maaf pada Siska"Air mata menetes di wajah Arga. Lelaki tempramental itu telah menangis karena seorang wanita.
"Siska?" Raeviga masih tidak mengerti ucapan Arga. Raeviga berlutut di hadapan Arga,kini tubuhnya sejajar dengan Arga yang telah berlutut.
Arga melihat kearah Raeviga, bibirnya mulai mengatakan sesuatu kepada gadis di depannya. Raeviga nampak terkejut, tangannya mengepal keras menahan amarahnya. Linangan air mata jatuh membasahi wajahnya mendengar ucapan yang di lontarkan Arga. Pernyataan itu membuat Raeviga merasa sangat kesal. Tangannya tak kuasa ingin menampar keras wajah Arga saat ini.
BERSAMBUNG
Duh apa nih yang di bicarakan antara Arga dan Raeviga? Kenapa Raeviga kelihatan marah? Apa mungkin semua ini berhubungan dengan Siska?
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1
__ADS_1