FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#41 : MENYELESAIKAN MASALAH


__ADS_3

"Tidak Rae, kamu tidak bisa menikah degan Dava"


"Aku tidak akan pernah membiarkan itu tejadi. Kamu milikku dan akan tetap menjadi milikku,"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arga melihat Villa milik Papanya yang diberikan kepada Mamanya dulu sebagai hadiah pernikahan. Arga tidak menyangka bahwa Villa ini menjadi hadiah terakhir yang Dewantara berikan kepada Mamanya.


"Ma, Arga kembali lagi kesini. Mengingat itu semua aku semakin merindukan kehadiranmu dan aku semakin membenci wanita dan anak itu" ucap suara hati Arga sembari memandangi Villa besar di depannya.


Seorang pelayan pria yang bertugas sebagai penjaga dan juga kebersihan tempat itu mendatangi Arga. Pria parubaya itu masih mengenali Arga dengan baik walaupun sudah 5 tahun lamanya dia tak pernah bertemu dengan Arga.


"Tuan Arga kan? saya Asep tuan" ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri. Tangannya masih membawa wadah air berwarna hijau pupus yang di gunakan untuk menyiram tanaman bunga yang mengelilingi area Villa itu.


Arga mengangguk membenarkan. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Raeviga. Gadis yang menjadi alasannya untuk datang kesini.


"Apa pak Asep melihat seorang wanita datang kesini semalam?"


"Wanita? yang mana tuan? kemarin malam yang datang banyak"


"Sudahlah, aku akan masuk saja ke dalam,"


Arga terlihat tidak sabar untuk bertemu dengan Raeviga sekarang. Gadis itu harus menjelaskan semua padanya. Kenapa Dava harus menjadi tunangannya? Apakah ini alasannya kenapa Raeviga menolak lamarannya berkali-kali?. Pikir Arga.


Arga telah berdiri di atas lantai ruang tamu. Namun semuanya terlihat sunyi. Tak terdengar suara apapun di dalam rumah sebesar ini. Namun tak lama, Arga mendengar suara seorang wanita di saat langkah Arga menuju sebuah kamar utama yang berada di lantai dasar. Tetapi suara itu bukanlah berasal dari kamar utama melainkan ruangan yang di gunakan sebagai dapur bersih.


Apa Raeviga ada disana? dengan siapa dia berbicara?


Arga melangkahkan kakinya cepat. Langkah Arga terhenti ketika telah sampai di samping dinding pembatas dapur. Ia mendengar suara Dava dengan jelas. Mereka terdengar seperti memperdebatkan sesuatu.


Dava dan Raeviga tidak menyadari bahwa sedari tadi Arga sedang memperhatikan mereka diam-diam. Tangan Arga sudah mengepal keras ketika Dava telah berani mencium bibir Raeviga. Namun Arga mencoba menahan langkahnya sebelum dia mengetahui semua dari Raeviga. Dia tak bisa bersikap egois. Arga tidak ingin Raeviga semakin menjauhinya.

__ADS_1


****


Jam kerja telah berakhir. Namun pekerjaan yang di lakukan Siska belum juga selesai. Hari ini Arga menunda pembahasan untuk meeting mereka besok dan saat ini Raeviga pun juga tidak bisa membantunya. Siska menopangkan kepalanya di telapak tangannya. Ia memperhatikan berkas-berkas di depannya yang belum ia selesaikan.


"Apa aku harus menyelesaikannya besok?" pikir Siska yang sudah mulai lelah. Siska melangkah keluar meninggalkan pekerjaannya dan berniat untuk membawa pulang pekerjaannya.


Dia bisa berdiskusi langsung dengan Arga saat dia telah sampai di rumah Arga. Yah, saat ini Siska masih tinggal di rumah mewah milik Arga. Pria itulah yang terus memaksanya untuk tinggal. Siska berharap Arga bisa memenuhi janjinya untuk menagih biaya apapun selama ia tinggal disana.


Siska akan meninggalkan perusahaan. Kedua sorot mata Siska menangkap sebuah sosok yang sangat ia kenal. Erwin, Pria itu telah datang kembali.


Apa yang dia lakukan disini? Apa dia akan berbuat sesuatu yang buruk lagi padaku?


Siska akan membalikkan tubuhnya kembali masuk ke dalam perusahaan namun langkah Erwin lebih cepat untuk mencegah kepergian Siska.


"Sis, kita harus bicara," Erwin menahan lengan Siska.


"Apalagi yang kamu inginkan? Erwin, aku bisa saja berteriak sekarang jika kamu tida pergi sekarang juga!" ancam Siska melihat beberapa orang yang masih berada di sekitar perusahaan. Ada juga dua orang satpam berpakaian putih hitam berdiri tak jauh darinya.


Erwin melepaskan tangan Siska. Ia melihat gadis itu nampak ketakutan. "Aku hanya ingin minta maaf. Aku telah menyakiti kamu. Tak seharusnya aku berbuat seperti itu,"


Namun kejadian masa lalu masih membuatnya trauma saat bertemu dengan Erwin. Rasa takut untuk kembali dekat dengannya membuat Siska ingin menjauh dari Erwin.


"Apa kamu memaafkan ku?" ucap Erwin menunggu respon dari wanita di depannya.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak lama,"


Bibir Erwin seketika tersenyum, dia meraih tangan Siska dan memegangnya. "Kembali lah denganku Sis. Aku ingin kembali memulai hubungan dengan kamu,"


Siska melepaskan tangannya dari genggam Erwin. "Maaf..., aku tidak bisa melakukannya lagi. Kejadian saat itu masih menjadi beban untukku.."


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Cukup biarkan aku untuk membuktikan keseriusanku sama kamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu sis.." tatapnya penuh harap pada gadis itu.

__ADS_1


"Kamu membiarkanku untuk membuktikannya kan? aku artikan sikap diam mu ini adalah sebuah persetujuan."


Tidak, jawaban Siska adalah tidak. Namun gadis itu tak bisa mengatakannya. Dia tak mungkin bisa menyukai Erwin lagi. Perlakuannya di masa lalu tak ingin terulang lagi.


Apa jika aku menolaknya sekarang, Erwin akan baik-baik saja? Apa tidak akan mencelakai ku? Apa dia bisa menerima keputusanku?


****


Raeviga berada di dalam kamarnya. Ia memikirkan ucapan Laili pagi tadi tentang ikatan persaudaraan antara Dava dan Arga. Gadis itu merasa sial harus terjebak di antara dua pria yang menurutnya bukanlah pria yang baik. Arga, seringkali membuatnya takut dengan sikapnya yang kurang ajar dan Dava, saudara seayah itu telah membuatnya kesal karena menciumnya tiba-tiba.


Reviga mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Dia bergegas membuka pintu dan terkejut dengan kedatangan Arga di depan kamarnya.


"Pak Arga?"


"kenapa disini?" lanjutnya lagi. Raeviga benar-benar terkejut dengan kedatangan Arga saat ini.


"Ya,tuhan kini dua pria mesum berada disini"keluh Raeviga dalam hati.


Arga tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Raeviga. Dia hanya menatap rindu dengan sosok di depannya.


15 detik mereka hanya saling bertatapan, Raeviga sudah was-was apa yang akan di lakukan bosnya. Tatapan Arga saat ini tak bisa ia artikan. Dia Tangan Arga tiba-tiba menarik lengan Raeviga dan membawanya masuk ke dalam kamar Raeviga dan menguncinya. Raeviga melangkah mundur menjauhi gerakan kaki Arga yang semakin mendekat padanya. Raeviga berharap ada seseorang yang akan membantunya sekarang.


"Oh tuhan apa lagi ini?"gumamnya.


BERSAMBUNG


Hai Reader,


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.


DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT.

__ADS_1


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,


__ADS_2