
"Tuan, saya sudah melaksanakan sesuai perintah Anda. Wanita itu sudah menerima makanannya. Dia sama sekali tidak curiga. Jadi anda jangan khawatir. Terima kasih atas donasi besar anda untuk penginapan ini. Saya berjanji akan memberikan pelayanan yang terbaik kepada Nona itu,"
EPISODE SEBELUMNYA
Di sebuah gedung megah dan dekorasi yang nampak mewah terlihat seorang pria yang mengenakan setelan jas berwarna putih. Pria itu tengah duduk di depan seorang penghulu dengan wajah yang nampak gugup.
"Dava, apa kamu siap? saya akan segera mulai ijab kabul ini setelah kamu siap," ucap seorang pria parubaya yang duduk di depannya.
"Iya pak, saya siap," jawabnya setelah menghela napas kecil untuk menghilangkan kegugupannya.
Tak jauh dari tempat itu, di balik kerumunan tamu yang datang. Terlihat Arga yang berdiri memandangi acara yang tengah berlangsung di depannya. Kedua sudut matanya beralih ke sebuah papan nama dengan hiasan bunga yang bertuliskan
"Selamat menempuh hidup baru Dava & Raeviga,"
Arga mengepalkan telapak tangannya menahan perasaan sakit hatinya. Pernikahan yang sedang berlangsung di depannya membuat Arga menyadari jika hatinya tidak bisa lagi untuk menunggu kehadiran Raeviga dalam hidupnya.
Takdir dengan mudahnya mengambil dan menjauhkan ku pada seseorang yang sangat aku sayangi. Mereka membenci dan meninggalkanku. Apakah aku memang tidak pantas menerima kebahagiaan?
Suara sorak ramai dari tamu undangan menyadarkan Arga dari lamunannya. Ia memandangi kembali sosok Dava yang tersenyum tipis dari sudut bibirnya.
"Sah?"
"Sah.."
"Sah.."
Arga menjauh dari kerumunan, Ia melangkah pergi meninggalkan acara. Langkah kakinya terhenti saat melihat Raeviga yang perlahan berjalan keluar dari sebuah ruangan. Riasan wajahnya yang terlihat cantik dan gaun panjangnya yang menjuntai panjang bak seorang putri kerajaan. Kedua tangannya yang memegang seikat mawar merah membuat tampilannya terlihat elegan.
Tanpa Arga sadari, ia telah menatap lama Raeviga yang saat ini tengah berjalan melewatinya.
Aku akan menyerah dengan perasaanku. Aku akan melepaskan cinta ini dan membiarkanmu memilih cintamu sendiri, Rae. Perasaanku teramat sakit saat ini, tapi aku bahagia atas pernikahanmu. Hiduplah berbahagia dan tersenyum Rae.
Arga melangkah menjauh meninggalkan gedung pernikahan itu. Ia duduk di sebuah kursi taman seorang diri. Ia menatap langit pagi yang nampak cerah dan beberapa burung kecil liar yang berterbangan di sekitarnya.
Pikirannya kembali ke sebuah masa lalunya tentang Raeviga. Dengan perasaan sepihak dan perasaan ingin memiliki gadis itu. Tanpa ia sadari, setetes air mata keluar dari sudut matanya.
Semua rasa cinta untuknya ini harus segera di akhiri. Aku tak mengizinkan perasaan ini untuk kembali hadir di hatiku.
"Ku berharap setelah ini kau tak kan mempermainkan perasaanku kembali. Karena saat hati ini memiliki pelabuhan yang lain, maka aku tak kan pernah melepaskannya seperti saat ini. Karena saat itu dia hanya milikku dan hanya untukku," ungkapnya dalam hati dan memandang keatas langit.
__ADS_1
Perlahan kenangannya kembali kepada Siska. Seorang gadis yang akhir-akhir ini tengah memenuhi pikirannya. Seorang gadis yang datang di kehidupannya tiba-tiba. Siska telah berhasil mengubah sifat arogan dari dirinya. Siska telah mengubah tujuan hidupnya. Memberikan kebahagiaan yang layak pada gadis itu adalah satu-satu Misi di hidupnya saat ini.
"Sial, aku telah lupa untuk memberitahukan kabar baik ini kepada Raeviga. Kabar tentang Siska, pasti akan membuatnya semakin bahagia," Arga beranjak dari tempat duduknya dan kembali masuk ke dalam gedung mewah itu menemui Raeviga.
****
"Permisi mbak, saya dari ruangan B21. Saya akan membayar sisa penginapan saya untuk semalam," ucap Siska pada seorang resepsionis yang ditemuinya semalam.
"Mbak Siska kan? yang datang kesini semalam?" tanya wanita itu memastikan.
Siska mengangguk membenarkan. Ia memberikan beberapa lembar uang kepada wanita yang bekerja sebagai resepsionis itu.
"Tidak perlu mbak Siska. Anda sudah melunasi penginapan itu." tolak pegawai wanita itu dan memberikan lembaran uang itu kepada pemiliknya kembali.
Sudut bibir Siska terangkat. Ia semakin di buat bingung dengan situasi yang ia alami di penginapan ini.
"Tapi saya hanya membayar setengah malam itu. Kenapa bisa tiba-tiba lunas?" Siska mengamati dengan baik sikap wanita itu yang nampak gugup dan menghindari tatapan matanya.
Ada apa dengan penginapan ini? kenapa mereka bersikap aneh? Apa ini penginapan ilegal? Apa disini tempat para penjahat dan buronan?
"Eh begini Mbak Siska, saat ini penginapan kami tengah merayakan 10 tahun berdirinya penginapan ini. Maka kami mengadakan undian dan anda ternyata Anda sangat beruntung. Anda memenangkan undian itu"
"Tidak perlu khawatir mbak Siska. Anda percaya saja pada kami bahwa kami akan melakukan pelayanan yang terbaik pada Anda. Ini adalah sebuah hadiah, bukankah akan lebih baik jika anda menerima hadiah ini?" jelasnya lagi memotong ucapan Siska. Ia nampak khawatir ketika Siska semakin menyudutkannya.
"Kamu benar, tapi ini sangat mendadak. Apa makanan yang dikirimkan pagi tadi juga bagian dari gift undian itu?" tanya Siska lagi memastikan.
"Ya..Yah, benar mbak Siska. Makanan itu juga termasuk."
Siska menghela napas lega. "Terima kasih, atas hadiah undian ini. Kalian memiliki pelayanan yang sangat baik," puji Siska dengan senyuman tipis yang membuat lesung pipinya terlihat.
****
Arga menghampiri Raeviga yang terlihat bahagia bersama teman-temannya. Arga tersenyum ke arah gadis itu ketika mereka saling menangkap tatapan masing-masing.
"Hai," seru Arga menyapa semuanya.
"Hai juga," balas mereka tersenyum ke arah Arga.
"Bolehkan saya meminjam gadis ini sebentar?"tanya Arga pada kumpulan teman Raeviga dan di setujui oleh mereka dengan menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Tentu saja,"seru salah satu tamu undangan.
Raeviga melihat ke arah Arga bingung.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu? sepertinya pembahasan ini sangat penting?" tebak Raeviga pada Arga.
"Tentu, ini sangat penting,"
"Pantas saja, kamu bahkan lupa memberiku ucapan selamat kan?" ucapan Raeviga itu sontak membuat Arga tertawa kecil dibuatnya. Raeviga tersenyum membalas tawa Arga itu.
"Ikutlah denganku sebentar," pinta Arga pada pengantin wanita itu.
"Baiklah,"
Arga dan Raeviga sedang berada di luar ruangan dan sedang berada di taman yang penuh hiasan lampu kelap-kelip.
"Aku udah tau dimana Siska tinggal Rae,"perkataan Arga itu sontak membuat Raeviga senang.
Seperti anak kecil ia melompat kesenangan hingga tak sengaja menginjak batu kecil di bawah kakinya. Raeviga hampir jatuh jika saja tangan Arga tidak memeluk pinggangnya.
"Maaf,"
Arga melepaskan tangannya dari pinggang Raeviga setelah gadis itu membenarkan posisi berdirinya.
"Makasih Pak Arga," ucap Raeviga karena Arga menolongnya yang hampir jatuh.
Arga tersenyum mengangguk.
"Aku akan kabari kamu lagi nanti,"seru Arga kemudian, ia berjalan meninggalkan Raeviga yang masih bahagia dengan kabar Siska.
Arga sedikit terkejut dengan kehadiran Dava. Namun ia tak mengatakan apapun, ia melewati Dava begitu saja seolah kehadiran Dava tak terlihat olehnya.
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
__ADS_1
Instagram : @ilyuaml1