
Namun wanita itu hanya berdiri diam dan menundukkan kepalanya menghindari sorotan kamera di wajahnya sekarang.
"APA?HAMIL?!" pekik Arga dan Abimanyu bersamaan dengan tatapannya masih tertuju di layar televisi.
EPISODE SEBELUMNYA
Abimanyu melihat kearah Arga yang juga terlihat terkejut. Namun Ia juga melihat ekspresi lain dari wajah Arga, di balik keterkejutannya Abimanyu melihat senyuman kecil dibibir Arga. Seolah ia telah memprediksi kehamilan Siska.
"Kenapa Siska bisa hamil? bukanlah dia masih single? aku bahkan tidak pernah melihat kekasihnya menjemputnya pulang. Bagaimana dia bisa hamil?" tanya Abimanyu kepada Arga. Namun Arga tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Aku harus pergi," kata Arga sebelum melangkah pergi meninggalkan Abimanyu dengan ekspresi wajahnya yang tidak berubah, Bingung.
Arga mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit tempat saat ini Siska berada.
Aku yakin jika Siska hamil karena perbuatan ku. Aku akan mengatakannya aku siap untuk bertanggung jawab. Aku tidak bisa lagi membiarkannya terus menjauh dariku.
Tak hanya Arga yang nampak terkejut, Erwin yang saat itu berada di Apartemennya tertegun hingga tak sadar segelas teh hangat jatuh dari pegangan tangannya.
Awwwww!!
Erwin berjalan mundur menghindari tumpahan teh di kakinya. Erwin berjalan ke kamar mandi dan membersihkan jari kakinya yang sedikit memerah.
"Siska hamil? dan kenapa dia bisa berada di liputan itu? bukankah acara ini sedang di adakan oleh Arga? Apa selama ini Siska bersama Arga?" gumam Erwin dengan banyak pertanyaan yang menghinggapi pikirannya.
Setelah merasa jari kakinya lebih baik, Erwin mengambil sebuah blazer dan kunci mobilnya di atas meja. Ia melangkah pergi menuju pintu untuk menemui Siska.
Kali ini aku harus mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan ku selama ini, Sis. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku begitu saja dan sekarang kamu kembali dengan kabar lain di dalam kandungan kamu. Apa yang terjadi sebenarnya?
Siska telah berada di dalam ruang kandungan. Dokter wanita yang mengenakan hijab putih itu tengah memeriksa kondisi bayinya.
"Bayi kamu masih 2 Minggu, dia sangat sehat. Hindari pekerjaan berat untuk usia kehamilan kamu yang masih muda." ucap Dokter Bella, dan memberikan hasil foto USG kepada Siska.
"Yang gambar titik kecil ini, inilah bayi kamu. Belum terlihat jelas karena usia kandungannya juga masih 2 Minggu." lanjutnya lagi. Siska mengambil beberapa foto itu dan menatapnya lama. Siska menghapus setetes air mata yang jatuh membasahi wajahnya.
"Maaf, beberapa jam yang lalu aku ingin mengugurkan kamu Nak. Tapi sekarang aku tidak ingin melakukannya. Aku..., aku akan merawat kamu dengan baik. Aku akan menjadi ibu dan ayah yang baik buat kamu sayang," gumam Siska dalam hati dan mengusap perutnya yang masih datar itu.
"Terima kasih dok,"
__ADS_1
"Jangan lupa untuk datang kembali 2 minggu lagi. Kita cek kembali kandungan kamu,"
"Baiklah," Siska berjalan pergi meninggalkan ruangan. Ia kembali melihat hasil USG itu dan melupakan tentang keinginannya untuk menghilangkan bayi yang ada di dalam perutnya. Beberapa jam yang lalu, Siska merasa tertekan mengetahui kehamilannya. Bayi terus menghantui pikiran Siska tentang perbuatan Arga padanya malam itu.
"Aku hanya perlu melupakan masalah di masa lalu dan hidup bersamanya berdua. Dia telah hadir untuk menemaniku agar tidak sendiri, aku tidak akan pernah memikirkan hal keji itu lagi," gumam Siska yang berjalan turun dari lift dan berjalan melewati koridor rumah Sakit.
"SISKA!!" Panggil Arga dan tersenyum melihat Siska yang berdiri di depannya.
Arga berjalan cepat menghampiri wanita di hadapannya saat ini. "Sis, apa benar kamu hamil? apa dia adalah anakku?" tanya Arga dan tanpa sadar menyentuh perut Siska.
Siska mundur selangkah saat menyadari tangan Arga menyentuhnya. Sikap Arga yang terlihat memperhatikannya membuat perasaannya tidak nyaman.
"Bagaimana kamu tau? apa kamu mengikuti ku lagi?"
Arga menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku melihatmu di liputan media di acara sosialiasi yang ku adakan pagi ini,"
"Tinggalkan aku Arga, keputusanku tetap saja. Jadi jangan ganggu aku,"
"Tidak, aku tidak bisa membiarkan kamu pergi. Sis, aku ingin bertanggung jawab. Aku akan menikahi mu. Aku tidak bisa lagi membuatmu menjauh dariku,"
Siska menatap dalam kedua mata Arga. Pernyataan pria itu membuat jantungnya berdegup kencang. Seolah hatinya meminta paksa untuk menerima lamaran yang di berikan Arga kepadanya.
"Sejak kepergian mu pikiranku selalu tidak tenang. Aku mohon hiduplah bersamaku. Aku akan memberikan banyak cinta untuk anak kita. Kita akan hidup bersama selamanya,"
Siska melepaskan pelukan Arga. Ia melihat wajah Arga lama.
Apakah cintamu hanya untuk bayi ini? apa tidak ada sedikit cinta untukku? lalu bagaimana kamu memintaku untuk hidup bersama jika cinta yang harus ada di dalam sebuah pernikahan tidak pernah bisa aku miliki. Tidak, Aku tidak bisa lagi terjebak dengan seseorang yang tidak pernah bisa mencintaiku Arga
"Ada apa Sis? kamu mau kan menikah denganku?" tanya Arga lagi. Ia hanya melihat diam memandanginya tanpa mengatakan apapun.
Siska menatap seseorang yang berdiri di belakang Arga. Tatapan pria itu hanya tertuju pada Siska.
"Aku akan menikah Arga, tapi bukan dengan mu tapi dengan Erwin," tunjuk Siska pada pria yang terlihat rapi itu.
Arga membalikkan tubuhnya dan melihat Erwin tengah berdiri di depannya.
"Erwin? apa kalian selama ini masih berhubungan?" tanya Arga dan menatap bergantian kearah mereka.
__ADS_1
Namun Erwin tak mengatakan apapun. Bibirnya terkunci rapat. Hanya tatapannya pada Siska yang mewakili untuk bicara.
"Yah, kami akan menikah. Jadi tolong jangan pernah menganggu ku lagi Arga. Jangan lagi merusak kehidupanku,"
"Tapi Sis, aku sungguh-sungguh..,"
"Cukup Arga! kamu sudah mendengar jelas permintaan Siska. Jadi lebih baik kamu hargai pendapatnya," potong Erwin dan berjalan menghampiri Siska dan membawa gadis itu pergi.
Arga mengepalkan tangannya erat menahan kesedihannya saat ini. Arga memandangi punggung Siska yang mulai berjalan pergi darinya.
Kenapa takdir selalu mempermainkan hidupku! Kenapa dia tidak bisa memberiku sebuah kebahagiaan yang sangat ini aku dapatkan.
Siska masuk ke dalam mobil Erwin. Beberapa menit di perjalanan mereka hanya diam tanpa ada yang ingin memulai pembicaraan. Siska mengarahkan pandangannya sekilas pada Erwin.
"Maaf, aku telah mengkhianati status hubungan kita dulu. Maafkan aku,"
Erwin menepikan mobil dan menghentikannya tiba-tiba.
"Lalu kenapa kamu tidak mengatakan apapun kepada Sis? Apa kamu sama sekali tidak memikirkan perasaanku? aku sangat mencintaimu. Mendengar fakta kepergiaan mu membuatku berpikir jika kamu sangat tertekan memiliki hubungan denganku. Pikiran itu terus saja menghantui ku sampai sekarang"
Siska menitikkan air matanya. "Maaf, hanya kata maaf yang bisa aku katakan saat ini,"
"Jelaskan sesuatu Sis, apakah selama kamu bersamaku, kamu tidak pernah bahagia sedikit pun? apa tidak ada ruang di hatimu untukku?"
"Aku sama sekali tidak pernah menyesal telah menjalin hubungan denganmu dulu, Win. Tapi saat ini aku tidak bisa menjelaskan apapun. Semuanya terlalu rumit untuk di katakan. Maafkan aku, untuk perkataan ku pada Arga tadi jangan anggap serius. Aku hanya ingin dia berhenti mengikuti ku,"
Erwin menghentikan lengan Siska yang akan pergi. "Boleh aku tanyakan sesuatu sebelum kamu pergi?"
"Apakah kamu mencintai Arga?"
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
__ADS_1
Instagram : @ilyuaml1