FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#51 : TAKDIR?


__ADS_3

"Hidupku telah selesai. Tidak ada lagi tempat yang aman untukku. Bahkan jika ada, aku sudah tidak menginginkannya. Aku hanya perlu takdir membawaku ke tempat yang baru. Bukan tempat seperti yang ku pijak saat ini. Sangat menyakitkan saat aku menyadari jika aku masih hidup. Aku ingin mengakhiri hidup, tapi tak ada keberanian yang mendukungku. Aku lemah, aku telah menyerah untuk kehidupan ini,"


EPISODE SEBELUMNYA


Seorang lelaki menarik tangan Siska dan memeluknya erat. Membiarkan Isak tangis gadis itu bersembunyi di pelukannya.


"Tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar. Semuanya akan baik-baik saja jika kamu mau menerima dan menjalaninya," ungkap Pria itu lagi.


Isak tangisnya masih terdengar, Siska menghela napas berat saat menyadari jika saat ini dia berada dalam pelukan pria yang tak di kenalnya.


Siska mendongakkan kepalanya menatap wajah pria itu.Sorot lampu jalan yang sedikit temaram membuat Siska memicingkan matanya untuk melihat jelas wajah pria itu.


"Kamu? kamu yang ada di bus tadi kan?" tanya Siska dan menjauhkan tubuhnya dari pelukan pria di depannya.


"Ternyata kamu masih mengingatku," balasnya dengan senyum kecil di bibirnya. Berbeda dengan Pria itu, Siska menatap curiga padanya.


"Apa kamu mengikuti ku sejak tadi?" tuduh Siska dan menghapus sisa air mata di wajahnya.


Senyum pria itu perlahan menghilang. Ia menatap Siska lama sebelum kembali tertawa dengan keras di depan Siska.


"Untuk apa aku mengikuti mu? dengar, rumahku tak jauh dari tempat ini dan tanpa sengaja aku melihatmu melamun di pinggir jalan. Jadi aku menghampiri kamu"


Siska hanya terdiam. Gadis itu tak mengatakan apapun. Ia hanya memandangi gerak-gerik pria itu seolah ia mencari sesuatu yang mencurigakan darinya. Melihat sikap Siska yang nampak tidak percaya, pria itu mengulurkan tangannya di depan Siska.


"Aku Abimanyu, jika kamu tidak mempercayaiku kalau aku orang baik, maka kamu bisa menganggap ku semau kamu," tangan Abimanyu Mash terulur di depan Siska namun gadis itu nampak ragu untuk menerima salam perkenalan dari pria asing itu.


"Aku Siska," jawabnya setelah satu menit berselang.


"Apa yang kamu lakukan malam-malam seperti ini? Apa kamu mencari angkutan atau menunggu seseorang? Mungkin aku bisa membantumu,"


"Tidak ada tujuan, aku hanya ingin pergi. Untuk sapu tangan milikmu aku akan mengembalikannya setelah mencucinya. Berikan alamatku dan aku akan mengantarnya saat ada waktu,"


Abimanyu melihat kesedihan tergambar jelas di wajah Siska.


"Apa kamu sudah ada tempat untuk tinggal? aku akan mengantarmu,"

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri" tolak Siska dan kembali melangkahkan kakinya pergi. Namun tubuh Abimanyu yang sudah ada di depannya menghalangi langkah Siska.


"Setidaknya biarkan aku membantumu demi sapu tanganku" ucap Abimanyu menghalangi Siska untuk pergi.


"Demi sapu tangan?"


Abimanyu menganggukkan kepalanya. Walaupun kalimat yang ia lontarkan sangat membingungkan setidaknya ia ingin menghalangi Siska untuk pergi.


"Iya, sapu tangan yang ada padamu itu adalah sapu tangan istimewa. Aku tidak ingin kehilangan sapu tangan itu. Jadi lebih baik, kamu ada di dekatku sehingga aku tidak akan kehilangan sapu tangan itu.."


"Aku akan mengembalikannya setelah mencucinya. Aku akan memberikannya kepadamu lagi."


"Tapi aku ingin kamu mengembalikannya saat ini juga."


Siska mengerutkan dahinya mendengar alasan yang di berikan Abimanyu padanya.


"Aku belum mencucinya. Apa aku bisa mengembalikannya sekarang?"


Abimanyu menghela napas berat. Ia sudah kehilangan akal untuk memberikan alasan lain kepada Siska. Ponselnya berdering, wajahnya terlihat sedikit cemas saat akan menerima panggilan telepon itu. Langkahnya sedikit menjauh dari Siska. Siska yang masih berdiri depannya melihat juga kecemasan di wajah pria itu.


"Iya aku tau, aku juga sedang mengusahakannya sekarang. Ini pekerjaan yang sangat berat. Aku berusaha untuk menahannya. Tapi itu sulit, dia sangat keras kepala," jawab Abimanyu berbisik.


"Ini sudah larut malam, biarkan aku membantumu. Kamu bisa menginap di rumahku untuk semalam. Percayalah aku orang baik. Lagi pula aku membutuhkan sapu tanganku. Aku telah membantumu setidaknya berikan aku kompensasi atas bantuan ku,"


"Apa maksudmu? Apa yang kamu inginkan? dengar baik-baik tuan Abimanyu, aku tidak akan pergi ke rumahmu. Aku tidak akan lagi terjebak dengan kelicikan ini," Siska berjalan pergi dengan kesal.


"Tunggu Sis. Bukan itu maksudku,"


Siska menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan mendekati Abimanyu dan memberikan kembali sapu tangan itu kepada pemiliknya.


"Terima atas bantuan dari sapu tangan ini. Tapi sialnya kamu tidak akan bisa menjebak ku. Mungkin kamu memang orang kaya, tapi pikiranmu sangat miskin. Kamu hanya berpura-pura menolong seseorang namun sebenarnya kamu adalah iblis yang menyakiti wanita," umpat Siska dan pergi meninggalkan Abimanyu yang masih berdiri diam tanpa mengatakan apapun.


Abimanyu memandangi Siska yang telah berjalan jauh dengan sebuah koper kecil yang di bawanya. Tak lama ponsel miliknya kembali berbunyi, panggilan telepon dari orang yang sama.


"Halo, iya aku tau. Tapi dia sangat susah di kendalikan. Bahkan ia sudah salah paham dengan perkataan ku. Lebih baik jika aku akan memantaunya saja dari jauh" jawabnya dengan seseorang di seberang teleponnya.

__ADS_1


****


Berbeda dengan Siska, Erwin melihat pemandangan perkotaan dari lantai atas Apartemennya. Secangkir kopi yang dipegangnya menjadi teman kepahitannya saat ini.


FLASHBACK


Erwin melajukan mobilnya ke rumah kontrakan milik Siska namun tempat itu terlihat sepi tak berpenghuni.


"Apa Siska sedang keluar rumah? tapi kenapa ponselnya tidak dapat di hubungi?" gumam Erwin sebelum masuk kembali ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya ke sesuatu tempat.


Erwin pergi menemui Raeviga. Pria itu tahu jika hubungan Siska dan Raeviga sangat dekat. Namun jawaban Raeviga tentang kepergian Siska membuat Erwin terlihat kacau.


Apa aku telah berbuat salah? kenapa Siska pergi tanpa memberitahuku? Apa yang terjadi?


"Kemana Siska pergi? Apa dia marah padaku?," tanya Erwin melihat Raeviga yang hanya menangis.


Sejak dua hari yang lalu, hanya suara operator yang menjawab panggilan telepon Siska. Itulah salah satu alasan mengapa Erwin kembali dari luar kota untuk menemui tunangannya. Alasan lainnya? yah, karena Erwin mengkhawatirkannya. Sejak melupakan balas dendamnya pada Siska, Perasaannya pada gadis itu sangatlah tulus dari hatinya.


"Aku juga tidak tau kemana Siska pergi! dia hanya meninggalkan sebuah pesan padaku,"


"Tapi kenapa Siska tidak mengatakan apapun padaku,Rae? Apa terjadi masalah saat aku pergi? katakan sesuatu Rae!" ungkap Erwin frustasi.


Namun tak ada jawaban dari Raeviga. Gadis itu terlihat bungkam dan tak mengatakan apapun tentang masalah Siska.


FLASHBACK END


Erwin melemparkan cangkir kopi yang di bawanya hingga pecahan cangkir itu berserakan di atas lantai. Kedua mata Erwin nampak memerah menahan rasa sakit di hatinya, menahan rasa kecewa karena kepergian Siska.


Apakah ini jawaban atas cintamu,Sis? Apakah kamu hanya ingin membalas perbuatan ku di masa lalu? Apakah kepergian mu adalah sebagian rencana yang kamu buat agar aku menderita? Apa yang kamu lakukan Sis!


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,

__ADS_1


Happy Reading Gaes,


Instagram : @ilyuaml1


__ADS_2