FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#66 : MEMAAFKAN?


__ADS_3

Siska nampak terguncang dengan ucapan Arga. Tangannya seketika memegangi perutnya yang masih datar. "Astaga,Rae. Kenapa ini semua harus terjadi padanya,"


EPISODE SEBELUMNYA


Arga meraih tangan Siska dan menggenggamnya erat. Satu tangannya merapikan rambut Siska yang terlihat sedikit berantakan dan menyelipkannya di belakang telinga.


"Ini semua karena aku Sis. Jika saja aku tidak bertemu dengan Raeviga hari ini, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Aku telah menyebabkan masalah," Arga menundukkan pandangannya tak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada Siska.


Siska menatap iba melihat kesedihan Arga. Siska akan mendekat kearah Arga dan ingin memeluknya namun seketika ia menghentikan langkahnya saat Arga memandanginya.


Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Apa yang akan dia pikirkan saat aku memeluknya nanti. Aku telah bersikap terlalu jauh.


Siska melangkahkan kakinya mundur menjauhi Arga. Arga yang menyadari jika Siska semakin menjauhinya kembali menarik pinggang Siska hingga berdiri lebih dekat dengannya.


"Kenapa kamu menjauh dariku? apa kamu masih membenciku?" tanya Arga dengan kedua tangannya yang masih berada di pinggang Siska.


"Arga, apa yang kamu lakukan ini. Bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya. Apa kamu ingin mereka menghakimi mu? lepaskan aku,"


Arga memperhatikan sekelilingnya. Malam semakin larut tidak ada seorang pun yang ada di luar seperti dirinya.


"Pulanglah, ini bukan waktunya untuk berkunjung,"


Arga melepaskan pelukannya dari tubuh Siska. Ia menatap lama wajah Siska hingga wajah wanita itu bersemu merah.


"Ada apa? kenapa malah menatapku? pulanglah dan ceritakan padaku soal Raeviga besok," pinta Siska sebelum berjalan masuk menuju pintu rumahnya.


"Jadi kamu sudah memaafkan ku? kamu ingin aku kembali lagi menemui mu besok?" goda Arga menahan senyum sumringahnya.


Siska tak menjawab pertanyaan Arga. Dia mencebikkan bibirnya dan kembali meminta Arga untuk segera pulang.


"Dah Siska," seru Arga sembari melambaikan tangannya kearah Siska yang akan menutup pintu rumahnya.


Siska menautkan kedua alisnya melihat sikap Arga yang nampak berbeda dari sebelumnya. Begitu pula dengan jantungnya yang berpacu cepat. Wajahnya yang seketika merona telah menjelaskan bagaimana perasaan Siska saat ini.


****


Matahari masih tertidur di pangkuan langit namun berbeda dengan Arga, pria itu terlihat sangat rapi dengan setelan jas dan juga tatanan rambutnya. Wajahnya berseri-seri, mulutnya melengkung membentuk senyuman. Ia terus mengingat kebersamaannya bersama Siska semalam walau hanya sebentar.

__ADS_1


"Haruskah aku membelikan dia bunga? atau sebuah cincin?" gumamnya sendiri sembari memakai jam tangannya.


Namun seketika Arga menggeleng cepat.


"Tidak, semua itu akan terkesan mencolok. Aku harus memulainya perlahan. Aku tahu, Siska telah memaafkan ku. Bagaimana jika aku mengajaknya berjalan-jalan saja hari ini? aku yakin dia akan suka," gumamnya lagi dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.


Arga akan melangkah ke arah pintu rumahnya saat bersamaan terdengar suara bel pintu dari rumahnya.


"Kak, buka pintunya. Apa kamu tidak dengarm buka pintunya," ucap seseorang dari luar pintu rumah Arga.


Arga mendengar jelas seruan itu. Suara yang terdengar familiar untuknya. Dava, itu adalah suaranya.


"Untuk apa dia kemari pagi-pagi? apa terjadi sesuatu dengan Raeviga?" langkah Arga semakin dekat dengan pintu rumahnya.


Arga membuka pintu rumahnya dan melihat Dava yang tengah berdiri dengan cemas. Dava menatap Arga marah. Terlihat kilatan amarah dari kedua matanya. Dava menerobos masuk ke dalam rumah Arga tanpa permisi dan berjalan memeriksa seluruh ruangan.


"Kamu ngapain? Apa ada masalah?"tanya Arga pada Dava yang tiba-tiba mengeledah ruangannya.


"Kamu sembunyikan dimana Raeviga?"ucap Dava marah sambil menarik kerah baju Arga.


Arga menampik kedua tangan Dava yang menarik bajunya. "Bicara yang jelas! ada apa dengan Raeviga?"


"Sialan!"


Arga menahan tangan Dava yang akan kembali memeriksa ruangan di rumahnya. "Tidak ada Raeviga disini,"


"Apa tujuanmu kesini hanya ingin berdebat dengan ku? Denger baik-baik Dava, kamu itu bodo...," Dava memukul wajah Arga dengan tinjunya ketika lelaki itu mencoba menyadarkannya.


Arga membalas pukulan Dava hingga pria itu tersungkur ke lantai.


"Kamu itu bodoh! kamu gak bisa melihat seberapa besar Raeviga cinta sama kamu!" Arga meneruskan perkataannya sambil memegang ujung bibirnya yang berdarah.


"Kamu yang munafik kak.., kamu udah ganggu rumah tangga ku. Ini semua karena kamu," umpat Dava mengacak kesal rambutnya.


"Dava, apa yang kamu pikirkan tentang aku dan Raeviga itu salah. Aku hanya berteman dengannya. Aku bertemu dengannya karena urusan penting. Tidak lebih! aku memang pernah menyukainya tapi aku membuang semua perasaan itu saat dia lebih memilih kamu. Apa itu sudah cukup membuatmu sadar?" keluh Arga dan melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Dava.


"Sekarang kamu cari Raeviga ke aku? Raeviga bukan lagi wanita yang ingin menemani ku di hari tua.." Arga menghampiri Dava yang berada di depannya dan membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Kamu bodo karena cari Raeviga ke aku. Seharusnya aku lebih peka. Dimana dia saat ini,"tekan Arga kemudian.


Dava meringkuk dan menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya.


"Aku benci sama takdir hidup ku kak! Aku di lahirkan sebagai anak haram, dan anakku sendiri meninggal dan sekarang Raeviga meninggalkan aku!" tangan Dava mengepal keras dan berkali kali memukul frustasi pada dirinya sendiri.


Arga mungkin membenci Dava karena berasal dari rahim wanita yang berhasil membuat hubungan kedua orang tuanya berantakan. Namun di sisi lain,lelaki yang berada di depannya itu kini merasa jiwanya telah kosong,seolah tidak ada lagi kehidupan dalam dirinya.


"Pulanglah. Coba hubungi ponselnya dan minta bantuan pengawal dari keluarga Hermawan untuk membantumu. Kurasa Raeviga belum pergi jauh," seru Arga kemudian.


Namun tidak ada jawaban dari Dava, lelaki itu hanya meringkuk dalam tangis tertahannya.


"Gak perlu.." balas Dava setelah beberapa detik hanya diam tak menanggapi.


"Mungkin Raeviga memang sengaja menjauh dari ku. Mungkin itu memang membuatnya bisa bahagia.." ucap Dava lagi dan beranjak dari duduknya dan meninggalkan rumah Arga dengan tatapan kosong.


Arga memandangi kepergian Dava dengan heran."Apa maksudnya? kenapa dia berpikir seperti itu."


****


Siska telah bersiap dengan pakaian kerjanya. Ingatannya tentang Arga semalam juga membuat harinya lebih tenang tak seperti sebelumnya.


Haruskah aku memberinya kesempatan? tapi bagaimana dengan perasaan Arga? apa dia juga memiliki perasaan yang sama dengan apa yang aku rasakan?


Siska mengalihkan sementara pikirannya tentang Arga dan berjalan keluar menuju pintu rumahnya. Saat pintu rumah terbuka Siska nampak terkejut dengan kehadiran seseorang di depannya. Tangannya membawa coffe cup dan makanan yang telah di kemas lengkap dengan makanan penutupnya. Arga Dewantara, pria itu berdiri dengan senyum yang di buatnya agar terlihat manis. Namun bukan hal itu yang menjadi alasan Siska terkejut, sesuatu yang lain telah mencuri perhatiannya.


"Ada apa? kenapa terkejut seperti itu? bukankah kamu yang memintaku untuk datang hari ini?"


Siska tak mengatakan apapun. Kedua matanya memperhatikan wajah Arga yang terluka. lebam di sudut bibirnya dan bagian tulang pipinya membuat Siska khawatir.


"Itu...kenapa dengan wajahmu?"


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,

__ADS_1


Happy Reading Gaes,


Instagram : @ilyuaml1


__ADS_2