
Arga tertawa mendengar keluhan Raeviga dengan ekspresi marah yang di buat-buatnya.
"Gimana Kamu sama Dava?"
Raeviga tersenyum datar dan menaikkan kedua alisnya bersamaan. "Baik, kurasa dia bukanlah pria yang buruk untuk menjadi seorang suami,"
[EPISODE SEBELUMNYA]
"Kamu disini mau bahas Siska atau bahas kehidupan pribadi ku?" gurau Raeviga di susul tawa ringan dari Arga.
"Siska beneran nikah?"tanya Raeviga memastikan.
"Akan menikah, tapi pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Aku akan menghentikannya. Rae, aku memerlukan bantuan kamu,"
Raeviga memandangi Arga lama, Raeviga melihat raut wajah gelisah dan ketakutan dari Arga.
"Arga telah berubah, dia bukan lagi pria agresif dan keras kepala seperti itu. Tanpa Arga sadari, kepergian Siska perlahan mengubah sifat buruknya," ungkap Raeviga dalam hati.
Arga menautkan kedua alisnya heran. "Rae, kenapa tidak mengatakan apapun? kamu mau kan membantuku?" pinta Arga lagi.
"Aku akan membantumu, tapi apa yang bisa aku lakukan? sejak kepergian Siska, aku tidak pernah berbicara dengannya lagi. Siska seolah berusaha menghilang dari kehidupan orang-orang di sekitarnya," terlihat raut wajah kecewa dari Raeviga saat mengingat kembali tentang kepergian Siska dan sebuah pesan dari wanita itu.
"Bantu aku membujuk Siska, Rae. Dia pasti akan mendengarkan mu,"
Raeviga nampak memikirkan sesuatu. "Tapi siapa pria yang akan di nikahi Siska?"
"Erwin," jawab Arga singkat.
"Erwin? apa Siska sudah bertemu dengan Erwin? apa Erwin tau apa yang terjadi antara kamu dan Siska?" ucap Raeviga dengan beberapa pertanyaan yang harus Arga jawab.
"Kurasa tidak, tapi entahlah aku tidak bisa lagi memikirkannya. Yang ku tahu adalah aku harus menghentikan rencana pernikahan ini Rae."
Raeviga menyadari satu hal tentang pria yang di depannya sekarang,lelaki yang dulu agresif dan selalu ingin di nomer satukan itu kini bukan lagi pria seperti itu. Parasnya mungkin masih tetap sama namun perlahan Arga menjadi sosok yang lebih baik.
Melihat kekacauan di hati Arga sekarang,spontan Raeviga menepuk pelan bahu lelaki itu untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Aku merasa kehilangan tanpa kehadiran Siska,Rae" keluh Arga lagi.
Raeviga menatap nanar melihat wajah frustasi Arga. Pria yang telah di anggapnya seorang kakak itu kini menundukkan kepalanya menyesal.
Raeviga menepuk telapak tangan Arga untuk menguatkan hatinya. Walaupun Raeviga tau benar jika hal itu sangatlah sulit untuk di lakukan.
"Aku percaya, kalo memang kalian di persatukan. Waktu akan membawa kalian bersama.."
Arga spontan menggenggam tangan Raeviga yang sedari tadi menepuk pelan telapak tangannya.
"Aku berterima kasih pada tuhan, masih memiliki teman sebaik kamu, Rae.."
"Aku juga. Kamu itu udah kayak kakak untukku. Jadi jangan putus asa, aku akan membantumu untuk bisa bersama Siska karena aku yakin Siska akan bahagia saat sama kamu,"
Ucapan itu membuat Arga sedikit lebih tenang. Setidaknya ada orang lain yang akan membantunya untuk bisa bersama dengan Siska.
"Berikan aku nomor hp Siska, aku akan menghubunginya dan memintanya untuk bertemu. Tenanglah, aku akan membantumu. Aku bisa melihat ketulusan di mata kamu Arga," ucap Raeviga lagi menenangkan. Raeviga tersenyum kecil menyemangati Arga.
Arga mengangguk lemah dan membalas senyuman di wajah Raeviga.
Arga terjatuh dari tempat duduknya saat kepalan tangan mengenai wajahnya dengan keras. Raeviga terkejut ketika tiba-tiba pukulan itu mengenai Arga. Raeviga semakin membelalakkan kedua matanya ketika melihat Dava yang meninju keras wajah Arga.
Pukulan keras itu terus mendarat bebas pada wajah Arga. Seperti orang yang telah kesetanan Dava tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya. Bahkan Arga tidak memiliki kesempatan untuk membalas setiap pukulan Dava di wajahnya. Dava bisa menangkis beberapa tangan yang melerainya. Emosinya yang tak terkendali membuat Raeviga dan pengunjung restoran kesusahan untuk melerainya.
Beberapa kali tinju itu melayang pada wajah Arga hingga lelaki itu akhirnya bisa mengimbangi pukulan Dava dan membalas dengan keras pukulan Dava padanya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kamu gila?" ungkap Arga marah dan menghalangi kedua tangan Dava yang akan memukulnya lagi.
Raeviga menjerit tertahan ketika Dava terjatuh tersungkur ke lantai karena pukulan Arga, begitu pula dengan pengunjung Restoran itu yang kebanyakan para wanita telah berlari keluar restoran ketika terjadi pergulatan di antara kedua saudara itu.
Dava meraih kerah baju Arga dan membalas pukulannya, pergulatan itu terus terjadi hingga merusak beberapa properti Restoran. Raeviga meraih lengan Dava untuk menghentikannya,
"Lepaskan Rae. Aku perlu memberi pelajaran kepada pria sepertinya. Apa dia tidak cukup untuk membuatku menderita? bahkan sekarang dia berusaha untuk mendapatkan mu lagi,"
Arga menatap Dava heran. Ia menahan lengan Dava dan berusaha memahami ucapan Dava beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan? Apa maksudmu aku dan Raeviga.."
"Cukup Kak, aku tidak ingin lagi mendengarnya. Kamu egois, dia istriku dan hanya akan menjadi istri ku. Menjauhkan darinya," Dava melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman Arga.
namun seolah telah tersulut oleh emosi, Dava mengibaskan lengannya dengan keras dan mengenai perut Raeviga.
Gadis itu tersungkur ke lantai memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Cairan merah segar mengalir dari rahim Raeviga hingga terus mengalir mengenai pahanya. Raeviga merintih kesakitan menahan sakit yang luar biasa.
"Rae.."pekik Dava melihat Raeviga terjatuh karena ulahnya.
"Dava kamu benar-benar gila! lihat apa yang telah kamu lakukan padanya." Arga terlihat cemas saat darah itu semakin mengalir deras tak berhenti.
"Rae..,"
****
Siska berada di dalam kamarnya. Pikirannya terlihat tak tenang. Ia melihat beberapa foto di layar ponselnya. Sebuah foto yang memperlihatkan kedekatannya dengan teman baiknya, Raeviga.
"Rae, gimana kabar kamu sekarang? entahlah, hari ini aku sangat merindukan kamu. Maaf, aku belum bisa bertemu kamu dengan kondisiku seperti ini." Siska menyentuh layar ponsel yang menampilkan gambar dirinya bersama dengan Raeviga. Ingatan tentang kejadian tadi pagi bersama Arga kembali membuatnya sedih.
Sampai kapan aku harus menahan perasaan ini untukmu, Arga. Aku lelah, tetapi kenapa perasaan ini masih tetap ada?
Siska akan meletakkan ponselnya di atas nakas. Namun tangannya tanpa sengaja menjatuhkan ponsel miliknya itu.
"Astaga," Siska kembali mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya yang masih memperlihatkan foto dirinya bersama Raeviga. Seketika Siska merasa tidak nyaman dan gelisah.
Kenapa aku gelisah seperti ini. Rae, apa Raeviga baik-baik saja? kenapa firasat ku tentangnya sangat buruk? Aku berharap ini tidak seperti yang ku khawatirkan.
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
__ADS_1
Instagram : @ilyuaml1