
"Kenapa Sis? kenapa diam?" suara Laili membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Eh, sudah Ma. Tenang saja, Siska sudah memberitahu Arga,"
[EPISODE SEBELUMNYA]
Seperti yang telah di rencanakan oleh Siska, kini dirinya telah bersama dengan Mama Mertuanya tengah memilih bahan makanan untuk mereka masak bersama.
"Ma, Apa Mama tahu apa makanan kesukaan Arga?" tanya Siska memecah kesunyian yang diantara mereka saat berjalan memilih banyak sayuran di swalayan.
"Ehhmm..." Laili terlihat berpikir dengan kedua matanya yang masih meneliti berbagai sayuran di depannya.
"Aku hanya ibu tirinya, tapi ku rasa Arga sangat menyukai Pepes tahu jamur, dulu saat masih ada Almarhum suamiku, Arga banyak sekali makannya saat dia tau lauknya ada pepes tahu jamur." Ungkap Laili kembali mengenang beberapa potongan masa lalunya. Di masa lalu itu, Arga tidak tahu jika Laili akan menjadi ibu tirinya yang akan menggantikan posisi seorang Ibu di keluarga Dewantara setelah Ibu kandung Arga pergi meninggalkan rumah.
Saat itulah, perselisihan antara Arga dan Laili terjadi. Arga membenci Laili karena menyebabkan kedua orangtuanya bercerai. Walaupun yang sebenarnya terjadi tidak sepenuhnya kesalahan Laili.
"Ma, Apa Mama dengar apa yang Siska katakan barusan?" tanya Siska sembari menyentuh bahu Laili yang sedikit mengejutkannya karena beberapa saat melamun.
"Kenapa Sis? maaf tadi Mama tidak mendengarnya dengan jelas,"
"Siska tadi tanya, apa yang membuat Pepes tahu jamur itu Mama? Siska jadi ingin membuatnya untuk Arga Ma,"
"Iya, Mama yang membuatnya sendiri. Mungkin sampai sekarang Arga tidak sadar jika Pepes tahu Jamur itu adalah buatan Mama. Mungkin dia sampai sekarang berpikir jika Pelayan yang membuatnya,"
Mendengar perkataan Laili, seakan Siska kembali memiliki rencana lain untuk mendekatkan ibu dan anak itu.
"Ma, bagaimana kalau nanti malam kita juga buat pepes tahu jamur juga. Arga pasti akan suka dengan masakan ini," bujuk Siska dengan raut wajahnya yang berbinar.
Laili mengangguk setuju, ia pun meminta Siska untuk membelikan beberapa bahan tambahan untuk membuat menu kesukaan Arga. Siska berjalan mengitari area food & beverage. Suara ponselnya yang berdering membuatnya senyumannya semakin melebar saat melihat seseorang yang sejak tadi ia tunggu teleponnya akhirnya terbalaskan.
"Halo sayang," sapa Arga dari balik telepon Siska.
__ADS_1
"Kenapa baru meneleponku sekarang? sejak tadi aku berusaha untuk menelepon kamu. Tapi tidak di angkat sama sekali," gerutu Siska, walaupun sebenarnya ia tak begitu marah pada Arga. Karena ia tahu bahwa beban pekerjaan di kantor sangat lah berat. Tugas dan tanggung jawab menjadi seorang CEO tidaklah semudah yang di bayangkan orang.
"Maaf sayang, tadi aku ada rapat. Kamu pasti sudah tahu kan, bagaimana peraturan di perusahaan ini. Setiap pegawai di wajibkan untuk menonaktifkan ponselnya saat rapat. Jadi aku baru bisa menghubungi kamu sekarang," Jelas Arga berusaha membuat istrinya memahami posisinya.
Yah, tentu saja Siska tahu benar hal itu. Dia juga pernah bekerja di perusahaan Arga, peraturan itu sedikit membuat pegawai tidak nyaman karena mereka harus mengabaikan ponselnya sejenak walaupun terdapat panggilan telepon terdesak atau kabar penting lainnya.
Namun itulah konsekuensi pekerjaan, peraturan perusahaan di buat agar membuktikan loyalitas mereka dalam bekerja kan?
"Aku mengerti Arga. Aku paham betul bagaimana sibuknya kamu. Tadi aku hanya sedikit menggoda mu. Maafkan aku," tawa kecil dari bibir Siska terdengar dari ponsel Arga. Pria itu bernapas lega, suara gelak tawa Siska yang masih terdengar membuatnya ikut ia menarik sudut bibirnya tersenyum. Seakan suara tawa Siska sebuah virus yang dengan cepat menular padanya.
"Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Siska beberapa saat kemudian.
"Mungkin aku akan pulang terlambat. Tapi aku akan usahakan pulang cepat. Apa kamu bosan seharian di rumah saja?"
"Tidak, aku tadi pergi ke pusat perbelanjaan bersama Ma-..." Siska seketika menghentikan ucapannya. Dia hampir saja menyebutkan kata "Mama" pada Arga.
Di seberang sana, kedua alis Arga saling bertautan saat Siska menghentikan kalimatnya begitu saja. "Ada apa Sis? kenapa bicaranya berhenti? kamu pergi dengan siapa tadi?" tanya Arga dengan rasa penasarannya. Dia menunggu jawaban dari bibir Siska secepatnya saat wanita itu hanya diam tak menanggapinya.
"Sis, kenapa diam? kamu dengar kan apa yang aku tanyakan?"
"Sis, kenapa tidak menjawab? kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" kini raut wajah Arga berubah kesal, sorot matanya yang tajam terpaku pada udara hampa di depannya.
"Aa..,aku belanja bahan makanan."
Arga mengerutkan keningnya. "yang aku tanyakan tadi, kamu pergi dengan siapa?"
Apa yang di sembunyikan Siska dariku? aku yakin saat ini dia berbohong padaku.
"Sendiri. a..aku pergi sendiri. Oh ya, nanti malam aku ada kejutan untuk kamu. Jadi datanglah sebelum makan malam," pinta Siska dengan senyuman kecil di sudut bibirnya. Ia yakin kali ini dia akan berhasil menyatukan kembali keluarga Dewantara.
Arga semakin di buat penasaran dengan kejutan yang di bicarakan oleh Istrinya. Kedua alisnya saling bertautan memikirkan perkataan Siska.
__ADS_1
"Sayang, cukup kamu selalu berada di sampingku selamanya itu sudah seperti hadiah terindah buat aku,"
Di seberang telepon Arga, Siska melipat bibirnya ke dalam menahan senyuman karena ucapan romantis Arga yang membuat hatinya berbunga-bunga.
"Aku mungkin tidak tau apa yang kamu rencanakan untukku," Arga menggantung kalimatnya sejenak dan Arga menarik sudut bibirnya keatas.
"tapi aku tau pasti kalau saat ini kamu tersenyum sendiri karena memikirkan ucapan ku beberapa menit yang lalu," lanjut Arga seketika membuat Siska mengerucutkan bibirnya tersipu malu.
"Dasar,kata siapa aku senyum-senyum sendiri? aku biasa aja mendengarnya," Siska memutar kedua bola matanya dengan nada bicaranya yang terdengar gugup.
"Benarkah?" jawab Arga yang terlihat senang menggoda istrinya yang masih saja pemalu.
"Siska, apa kamu sudah mendapatkan bahan-bahannya?" tanya Laili yang sudah berdiri di belakang Siska tanpa wanita itu sadari. Siska membuka lebar kedua matanya terkejut melihat kedatangan Laili. Begitu pula Arga yang memicingkan kedua matanya seolah suara yang terdengar dari ponsel Siska sangat tidak asing di telinganya.
Sepertinya aku mengenal suara ini. Dengan siapa sebenarnya Siska pergi? haruskah aku mencari tau?
"Sis, suara siapa.." ucap Arga namun Siska menyela ucapannya.
"Ehmm.., Arga nanti aku telepon lagi setelah sampai rumah. Byee..," potong Siska dan segera mengakhiri panggilan teleponnya.
Siska melihat kearah Laili yang telah berdiri di depannya.
"Sudah kok ma, semua bahan-bahannya sudah lengkap," balas Siska atas pertanyaan Laili beberapa menit yang lalu.
"Kalau begitu kita tinggal memasaknya saja, Mama akan pergi ke meja kasir sekarang,"
Siska memperhatikan Laili yang sudah berjalan mendahuluinya. Di belakang Mama mertuanya, ia menghela napas panjang untuk menghilangkan kegugupannya karena kedatangan Laili yang tiba-tiba.
Apa Arga mengetahui suara Mama tadi? Bagaimana jika rencana ku nanti gagal, Astaga.
BERSAMBUNG
__ADS_1
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,