
"Baiklah, atasi rapat ini beberapa menit lagi. Aku akan segera sampai di kantor sebentar lagi." setelah mengatakan hal itu, Arga bergegas berjalan keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya.
"Dia cukup mampu untuk di andalkan.." gumam Arga pelan.
EPISODE SEBELUMNYA
Sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah perusahaan besar yang sudah terkenal di Indonesia. Sosok pria keluar dari mobilnya dengan terburu-buru. Dia adalah Arga.
Lelaki itu nampak berjalan dengan langkah cepat kearah ruangan rapat.
"Apa semuanya masih terkendali?" tanya Arga pada Sekretarisnya yang sudah menunggu Arga sedari tadi.
"Saat ini Siska masih mendiskusikan proyek kita pak.." sahut wanita itu cepat.
Arga masuk ke dalam ruangan, kehadiran Arga di sambut baik oleh pihak perusahaan yang akan melakukan kerjasama dengan Junkfood Indonesia.
"Maaf atas keterlambatan di rapat penting ini. Ada beberapa kendala yang harus saya selesaikan. Saya harap pegawai saya telah melakukan kinerjanya dengan baik untuk menjelaskan proyek kerjasama ini.." ucap Arga yang sudah berdiri di samping Siska.
"Tidak masalah, rekan timmu sangat baik dalam menjelaskan. Bahkan pembahasan mengenai proyek ini telah mencapai titik akhir..." ucap seorang pria yang menjadi Perwakilan perusahaan JX.
"Saya menyetujui proyek kerjasama ini. Selamat atas kerjasama kita tuan Arga.." imbuhnya lagi sambil mengulurkan tangannya kearah Arga.
Arga menyambut uluran hangat itu dan senyuman yang terlihat jelas di bibirnya. Ia menatap sejenak kearah Siska yang nampak bernapas lega karena kesuksesan kerjasama ini.
Di balik ruangan rapat, nampak pegawai lainnya juga tersenyum lega dengan keberhasilan proyek mereka.
"Akhirnya aku bisa lega.." seru Lia, Sekretaris Arga. Pegawai lainnya mengiyakan ucapan wanita itu dan berseru senang.
Siska melihat kearah Arga sekilas sebelum keluar dari ruangan rapat. Terlihat senyuman tipis di bibir lelaki itu.
"Kamu berhasil, Sis. Astaga ku kira proyek ini akan gagal.." ucap Raeviga senang.
"Syukurlah, semua berjalan dengan baik..." timpal lainnya.
Siska mengangguk senang dan ikut berseru senang seperti lainnya.
"Kerja bagus semuanya, khususnya buat kamu Siska. Karena kamu semua ini berjalan dengan baik.." imbuh Arga yang berjalan menghampiri Pegawai yang berkumpul di sisi pintu ruang rapat.
"Terima kasih pak.."
"Siap pak.." jawab pegawai Arga beriringan.
"Baiklah, karena proyek ini berjalan baik. Saya harus mentraktir kalian makan. Bagaimana? setuju?" tanya Arga pada para pegawainya.
Semua pegawai mengiyakan usulan Arga itu.
"Sepulang kerja kita pergi ke restoran jepang yang berada di seberang perusahaan" imbuh Arga lagi.
__ADS_1
Semua pegawai bersorak senang, kecuali Raeviga yang tiba-tiba menerima sebuah pesan dari Mama tirinya.
"Setelah selesai pekerjaan di kantor, segera temui Mama di rumah.." isi pesan singkat yang di terima Raeviga.
"Apalagi yang dia inginkan.." gumamnya sendiri.
...****************...
Semua pegawai telah berkumpul di sebuah restoran yang telah di pilih Arga. Kecuali Raeviga yang harus pergi menemui ibu tirinya. Sesuai dengan janji Arga, ia akan mentraktir seluruh pegawainya untuk makan di restoran itu.
Arga memperhatikan sekeliling, ia tidak mendapati Raeviga disana.
"Kemana Raeviga pergi?" tanya Arga pada salah satu pegawai pria yang duduk di sampingnya.
"Raeviga?" lelaki itu juga tidak menyadari jika Raeviga tidak berada dengan mereka sekarang.
"Kurasa Raeviga sama Siska. Mungkin mereka masih perjalanan kesini..." jawab pegawai lainnya.
Tak berselang lama Siska masuk ke dalam ruangan. Namun ia berjalan seorang diri memasuki restoran.
"Apa kamu tidak bersama Raeviga?" tanya Arga pada Siska.
"Raeviga ada urusan mendadak dengan keluarganya. Maaf saya telat memberitahu.." Siska memperhatikan wajah Arga yang nampak kecewa.
"baiklah, bergabunglah dengan kami sekarang..." ajak Arga pada Siska.
"Ada apa ma?" tanya Raeviga yang melihat ibu tirinya sedang duduk menonton sebuah acara televisi.
Ibu tiri Raeviga memberikan sebuah gaun mewah yang sedikit terbuka di bagian lengan dan punggungnya.
"Gaun ini terlalu terbuka, aku tak ingin memakainya." tolak Raeviga sambil meletakkan kembali pakaian itu di atas meja dan menatap Raeviga marah, ia berjalan mendekat kearah Raeviga dan akan melayangkan sebuah tamparan di wajah Raeviga namun ia mengurungkannya.
"Apa kamu akan menolak perintahku?" tanya wanita itu sambil kembali duduk di tempatnya semula.
Raeviga tak mengatakan apapun. Ia mengambil pakaian itu dan melangkah pergi kearah pintu keluar.
"Pakai gaun itu di sebuah pesta bersamaku minggu depan.." pintanya memaksa.
Raeviga menganggukan kepalanya dan segera berjalan pergi. Ia tak ingin berlama-lama dengan mama tirinya itu.
......................
Arga tak terlihat menikmati acara makan bersama ini. Ia lebih banyak melamun dan beberapa kali melihat ke layar handphone seolah menunggu seseorang untuk menelponnya.
Siska yang duduk di depan Arga sesekali melihat kearahnya. Perasaan cinta yang ia miliki untuk Arga masih saja ada hingga sekarang. Ia tak pernah bisa melupakan perasaannya itu.
Suara panggilan telepon membuat Siska terbangun dari lamunannya. Ia melihat nama Erwin yang telah menghubunginya.
__ADS_1
"Halo?" seru Siska memulai panggilan.
Namun karena suasana yang ramai Siska tak bisa mendengar suara Erwin dengan jelas. Siska beranjak dari duduknya dan pergi berjalan kearah luar restoran. Sekilas Arga memperhatikan kepergian Siska itu.
"Halo Erwin maaf disini sedikit ramai aku tak bisa mendengar suaramu dengan jelas.." terangnya pada Erwin.
"Kamu ada dimana? bukankah seharusnya kamu sudah pulang kerja. Apa kamu sedang bersama pria lain?" tanya lelaki itu dari seberang telepon.
"Kenapa kamu berpikir buruk seperti itu. Aku sedang makan bersama dengan pegawai kantor" sanggahnya kecewa dengan pemikir4an Erwin tentangnya.
"Makan bersama atau hanya makan berdua? Bukankah kamu selama ini masih mencintainya. Apa ini hanya trikmu sejak aku tidak bersama denganmu.." ucapan Erwin semakin membuat gadis itu sakit hati.
"Terserah.." Siska memutuskan panggilan teleponnya sepihak tanpa menunggu jawaban Erwin.
Arga memperhatikan Siska yang nampak murung setelah menerima panggilan telepon itu. Namun Arga tak mengatakan apapun ia hanya memperhatikan sejenak gadis itu diam-diam. Siska kembali ke tempat duduknya namun ia tak lagi bernafsu untuk makan. Siska masih terlihat kecewa dengan ucapan yang di lontarkan Erwin kepadanya.
"Kenapa dia sangat berbeda dengan sebelumnya.." serunya dalam hati.
"Siska kamu tidak makan?" tanya salah satu pegawai yanh duduk di sampingnya.
Siska menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku sudah kenyang.."
"Kenyang? kamu hanya menghabiskan setengah dari makanan itu. Apa kamu sedang diet?" tanya rekan kerjanya lagi.
Arga kembali melihat kearah Siska namun ia tak mengatakan apapun.
"Tidak, Aku tadi sudah makan..."
"Pak Arga dan rekan kerja lainnya saya ingin pulang terlebih dahulu. Ada sesuatu mendesak yang harus saya lakukan.." katanya sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Oke"
"Baiklah"
"Baiklah, hati-hati di jalan Sis.." seru yang lainnya menanggapi ucapan Siska.
Arga menatap sejenak kearah Siska.
"Apa ada masalah?" tanya Arga pada gadis itu.
"Hanya sesuatu yang mendesak saja pak. Saya permisi untuk pulang.." ucap Siska lagi dan berjalan pergi meninggalkan restoran.
Arga masih memperhatikan bayangan Siska yang semakin menghilang dari pandangannya.
"Apa yang terjadi dengannya?" gumam Arga sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG