FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#79 : OBAT KHUSUS UNTUK LUKA


__ADS_3

"Heiii!!" teriak wanita itu saat seseorang melingkarkan tangannya begitu erat. Ia berusaha melepaskan tangan pria itu dan meronta paksa untuk melepaskan.


"Ini aku, diamlah,"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Siska seketika terdiam sejenak saat mendengar suara yang sangat akrab di telinganya. Sebuah senyuman tak bisa Siska sembunyikan saat melihat pria itu datang menghampirinya. Siska membalikkan tubuhnya ingin melihat pria yang kini tiba-tiba mendekapnya sangat erat. Arga melonggarkan pelukannya saat menyadari Siska akan berbalik menatapnya.


Tubuh Siska telah berbalik sempurna menatap Arga. Senyuman di wajahnya seketika perlahan menyusut saat melihat luka di wajah Arga.


"Arga, apa ini? apa yang terjadi?" kedua telapak tangan Siska menyentuh beberapa luka di wajah pria itu.


"Errggg," suara erangan Arga lolos dari bibirnya saat Siska terlalu keras menyentuh lukanya.


"Mm..maaf apa sakit?" Siska segera menyingkirkan tangannya dari wajah Arga. Perhatian Siska tak lepas dari kedua sudut matanya yang juga melihat sebuah kemarahan di wajah pria itu. Rahangnya yang mengeras dan bibirnya yang menyempit telah memperjelas emosi pria yang masih memeluknya saat ini.


"Lepaskan tanganmu dulu, aku akan mengobati luka ini. Ayo," Siska menarik tangan Arga yang masih mendekapnya. Namun sia-sia, Arga semakin mempererat pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Siska.


Siska membalas pelukan Arga, ia juga menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arga yang terlihat sangat nyaman baginya.


"Apa yang terjadi? kenapa wajahmu seperti ini, kamu tidak ingin mengatakannya kepadaku?" tanya Siska dengan suaranya yang lirih terasa hangat di telinga Arga.


Arga menggelengkan kepalanya pelan. Ia semakin mempererat pelukannya pada Siska hingga dapat merasakan detakan jantung Arga yang berpacu cepat. Seakan ketakutan kehilangan wanita yang dalam dekapannya saat ini.


"Aaa..,Arga, kamu memeluk ku terlalu erat. Nanti bayi kita akan merasa sesak. Longgarkan sedikit,"


Seolah menyadari kesalahannya, Arga menarik mundur tangannya dan memberi ruang dari dekapannya kepada Siska. Kedua telapak tangan Siska di letakkan di dada bidang Arga dan kembali menatap pria itu.


"Ayo aku obati lukamu, ini akan infeksi jika di biarkan saja," tangan Siska menarik paksa lengan Arga dan membawanya duduk di ruang tamu.


"Tunggu sini, aku akan mengambil kotak obat," Siska akan melangkah pergi namun tangan Arga seketika menahan pergelangan tangannya Siska untuk pergi. Ia menarik tubuh wanita itu mendekat dan menyandarkan kepalanya di perut Siska dengan nyaman.


"Apa bayi kita baik-baik saja?" tanya Arga sembari tangannya membelai lembut perut Siska yang masih terasa datar.


Sudut bibir Siska melebar. Ia tersenyum memperhatikan Arga dan mengusap lembut rambutnya untuk menenangkan pria itu.


"Dia baik-baik saja, yang terluka sekarang adalah Ayahnya. Jadi diam disini dulu, aku akan mengambil kotak obat,"

__ADS_1


Arga melepaskan pelukannya dari pinggang Siska dan membiarkan wanita itu pergi meninggalkannya sejenak. Namun kedua ekor mata Arga sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Siska hingga wanita itu kembali lagi mendekat kearahnya.


"Ayo lihat kearah ku," Siska menyentuh dagu Arga dan mengarahkan wajah pria itu melihat kearahnya.


Tangan Siska dengan hati-hati mengobati luka di wajah Arga. Beberapa kali rintihan menahan sakit di wajahnya terdengar oleh Siska hingga membuat wanita itu semakin terlihat cemas.


"Sebenarnya apa yang terjadi? bagaimana wajah kamu bisa terluka seperti ini?" tanya Siska sekali lagi sembari membalutkan plester luka di sudut dahi Arga.


Siska menutup kembali kotak obat itu dan menunggu penjelasan Arga.


"Kamu tidak ingin mengatakannya kepadaku?" tanya Siska, kali ini dengan tatapannya yang memaksa.


Arga terdiam sejenak. Ia enggan untuk memberitahukan masalah pertengkarannya pada Siska. Baginya masalah itu telah selesai, dan Arga tidak ingin membicarakan lagi masalah yang berkaitan dengan Erwin.


"Hanya jatuh,"


Sorot mata Siska meneliti lewat raut wajah Arga. "Bohong, ini bukan jatuh. Kamu berkelahi kan? katakan dengan siapa?"


"Aku hanya jatuh. Sudahlah, tak perlu memperpanjang masalah ini. Aku baik-baik saja,"


"Aku ingin merasakan gerakan bayi kita," Arga mendekatkan telinganya di perut Siska dan memejamkan matanya sejenak.


Siska memandangi wajah Arga lama. Ia tahu benar jika Arga telah berbohong masalah luka di wajahnya. Namun sejenak ia melupakannya dan menikmati wajah Arga yang terlihat tenang itu. Tak terlihat lagi kemarahan seperti yang di lihatnya beberapa jam yang lalu.


Apa sebenarnya yang membuatnya luka seperti ini? dengan siapa dia berkelahi? lihatlah, bahkan walaupun wajahnya lebam tapi sama sekali tidak menghilangkan aura ketampanannya. Terbuat dari apa sebenarnya wajahnya ini.


"Apa kamu masih belum puas memandangiku?" suara Arga tiba-tiba membuat Siska terjingkat terkejut. Ia seketika mengalihkan tatapannya ke segala arah.


"Percaya diri sekali, aku hanya melihat luka di wajahmu itu. Pasti sakit sekali," jari Siska menunjuk kearah luka di sudut bibir Arga.


"Yah, sedikit. Tapi akan sembuh jika kamu memberinya obat khusus," masih dengan posisi terlentang, kedua matanya menatap lekat wajah Siska. Namun tatapannya sangatlah berbeda, seolah tersembunyi maksud lain yang masih tak di sadari oleh Siska.


Siska mengernyitkan kedua alisnya. Tak mengerti dengan perkataan yang di lontarkan oleh Arga. "Obat khusus? aku sudah memberinya antiseptik. Nanti juga akan sembuh,"


"Ada obat lain yang cepat menyembuhkan," sudut bibir Arga terangkat. Ia semakin erat menggenggam tangan Siska.


Kening Siska berkerut. Ia sama sekali tak memahami ucapan Arga.

__ADS_1


"Dimana belinya? apa kamu ingin aku membelinya sekarang?" tanya Siska datar, pertanyaan itu semakin membuat Arga menahan tawa dari sudut bibirnya.


"Tidak perlu, kamu memiliki obat itu,"


"Benarkah? dimana?"


"Hmm, kamu ingin tau?" pertanyaan Arga membuat Siska menganggukkan kepalanya karena rasa penasarannya.


"Kemarilah," Tak butuh waktu lama, Arga menarik tubuh Siska hingga jarak diantara mereka hanya terpaut beberapa senti. Masih terlentang dan menyandarkan kepalanya di paha Siska, Arga semakin menuntun wajah Siska semakin dekat dengannya. Wajah mereka kini saling berhadapan, perlahan Arga menanamkan ciuman singkat di belahan bibir ranum milik Siska.


Arga terlihat menikmati ciuman singkat mereka. Begitu pula dengan Siska, ia mendambakan kecupan dari pria yang telah membuat jantungnya terus menerus berdetak berlebihan saat berada di dekatnya.


Tangan Arga menyibakkan rambut Siska yang tergerai panjang. Ciuman itu semakin liar saat Siska mulai berani membalas permainan bibir yang di berikan oleh Arga.


"Kenapa kamu menipu ku?" tanya Siska saat Arga melepaskan tautan bibir mereka.


"Aku tidak menipu, ini memang obat yang ampuh untukku,"


Arga bangun dari posisi tidurnya dan kini duduk menatap wajah Siska sepenuhnya. Ia akan kembali mencumbu belahan bibir Siska yang terbuka. Kedua tangannya telah berada di pangkal leher Siska dengan kedua matanya yang tertuju pada bibir Siska yang menggoda.


Arga semakin mencondongkan wajahnya, pun dengan Siska yang menutup kedua matanya siap menerima permainan yang akan pria itu lakukan.


Ddrrrrrtt!!


Dddrttt!!


"Sialan, bunyi apa itu?"


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,


Instagram : @ilyuaml1

__ADS_1


__ADS_2