
"Gadis yang anda cari tidak ada di rumahnya. Saya sudah mencoba mencari tau lewat tetangga di sekitarnya. Namun hasilnya nihil."
"Cari kembali dengan cepat hingga kamu menemukan jejaknya."
Arga membuka tirai dari kaca jendelanya dan melihat lalu lalang kendaraan dari lantai atas ruangannya.
"kemana perginya gadis itu"
[EPISODE SEBELUMNYA]
Raeviga tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Ucapan Arga tentang lamarannya masih terbayang di otaknya. Bukan karena merasa senang dan bahagia karena mendapatkan lamaran dari Atasannya namun Raeviga nampak takut karena ucapan Arga saat ia menolak Lamaran Arga itu.
...FLASHBACK...
Arga memberikan cincin berlian itu di hadapan Raeviga. Namun Raeviga memberikan kembali cincin itu pada Arga. "Maaf Pak, saya tidak bisa menerima ini."
"Aku tau Rae, saat ini kamu tidak mencintaiku. Tapi aku yakin tak lama lagi aku akan membuatmu menyukaiku. Ambil lah cincin ini dan pakailah saat kamu sudah mencintaiku"
Namun Raeviga tetap menolaknya. Untuk saat ini, ia tidak memiliki perasaan cinta kepada pria manapun. Bahkan Pria yang akan di jodohkan oleh Mamanya nanti.
"Maaf, Saya tetap tidak bisa menerimanya. Saya permisi pak" Raeviga berjalan pergi meninggalkan ruangan Arga.
"Apa kamu memiliki orang lain di hatimu saat ini, Rae?" pertanyaan itu sontak membuat Raeviga tertegun. Bagi Raeviga, perasaan yang ia miliki tidaklah penting di hidupnya. Bahkan Mama Tirinya telah memaksanya untuk menikahi seseorang yang tak pernah temui sebelumnya. Tanpa mementingkan Perasaan hatinya terlebih dahulu. Hatinya seolah telah mati rasa.
...FLASHBACK END...
Siska menyandarkan tubuhnya di dinding kamar Erwin. Pria itu nampak mabuk karena pengaruh alkohol yang di minumnya. Langit telah berubah warna menjadi gelap. Pertanda jika hari telah menjelang malam. Siska berjalan dengan posisi duduk di lantai karena kedua tangan dan kakinya masih terikat. Tubuhnya sangat lemah karena seharian dia tidak memakan apapun. Siska menyeret tubuhnya mendekati meja dapur. Sesekali ia memperhatikan Erwin takut jika pria itu bangun dan memergokinya. Siska mencoba berdiri dengan bertumpu pada kaki meja. Ia mencari sesuatu benda tajam atau apapun yang bisa melepaskan ikatan tali di tangannya.
lSiska melihat kompor listrik di depannya. Tangannya perlahan menyalakan kompor itu dan mendekatkan tangannya pada api yang menyala.
"Awwww!!" rintihnya menahan rasa sakit saat tangannya merasakan suhu panas dari api.
Tali yang melilit tangan Siska akhirnya terbuka. Namun tali yang terbakar itu membuat aroma sekitar ruangan menjadi berbau benda hangus. Siska dengan cepat melepaskan ikatan tali di kakinya. Erwin mengerjapkan kedua matanya mencoba menormalkan pandangannya yang nampak buram dan mati rasa. Erwin tidak melihat Siska di dekatnya. Pria itu berjalan gontai ke arah dapur untuk mencari Siska.
__ADS_1
"Siska, aku tau kamu masih disini. Kamu tak perlu bersembunyi dariku. Kamu tidak akan bisa lepas" langkah Erwin semakin dekat dengan dapur. Siska bersembunyi di bawah meja dapur dengan napasnya yang tersekat karena ketakutan.
"Siska keluarlah..." Erwin masih dalam keadaan mabuk. Ia memandangi sekitar area dapur yang nampak bercabang menjadi dua. Siska hanya diam tak mengatakan apapun.
"Aku tau kamu disini" ucap Erwin tiba-tiba dan meraih lengan Siska. Erwin telah menyadari jika Siska akan bersembunyi disana.
"Erwin lepasin!! Tolong!!" Siska berteriak dan berusaha melepaskan genggaman Erwin di lengannya. Erwin akan membawa keluar Siska yang masih terduduk di bawah meja. Namun Siska yang berusaha melepaskan diri tak sengaja menendang area sensitif Erwin hingga membuat pria itu terduduk kesakitan. Siska menggunakan kesempatan itu untuk segera berlari menghindari Erwin. Pintu Apartemen masih terkunci. Siska berlari mencari kunci dan ponselnya yang di letakkan Erwin di atas meja.
"Kemana dia meletakkan kunci itu!" gumam Siska sambil membuka beberapa laci di ruangan Erwin.
"Siska!! kamu tidak akan bisa lepas dariku!" teriak Erwin yang berusaha untuk bangun dari posisi telungkup nya.
Siska menghubungi Raeviga.
"Rae, to..longin.." ucap Siska lirih sebelum ponselnya tiba-tiba mati karena kekurangan baterai.
Di seberang telepon Raeviga merasa khawatir dengan Siska. "Ka,lo kenapa? Halo!" Serunya memanggil nama Siska berkali-kali.
"Ini dia!" Siska bernapas lega saat menemukan kartu itu ada di dekat laci tempat tidur Erwin. Siska berlari membuka pintu Apartemennya. Namun lagi-lagi Erwin meraih tangannya walaupun genggaman itu tidak sekuat sebelumnya.
Siska menundukkan kepalanya dan mengigit kuat lengan Erwin hingga cengkraman itu terlepas. Erwin memekik kesakitan dan berteriak kesal saat melihat Siska telah berlari keluar dari ruangan Apartemennya.
"Sial! Aku tidak akan membiarkanmu lepas"
****
Dava masih berada di dalam hotel yang dia tempati semalam. Dava menggerutu kesal saat Sekar bahkan masih tidak bisa ia hubungi.
"Kemana perginya wanita Jalang itu. Dia pergi setelah memanfaatkan uangku. Lihat saja, setelah ini aku yang akan memanfaatkan tubuhmu" keluh Dava sambil berjalan keluar dari hotel dan mengendarai mobilnya.
Dava akan mengendarai mobilnya ke sebuah restoran. Namun saat ia berbelok arah mobilnya hampir saja menabrak seseorang wanita yang tiba-tiba ada di depan mobilnya. Wanita itu adalah Siska. Napasnya menggebu, tubuh gadis itu terasa lemas. Tubuhnya tak kuat lagi untuk berlari. Siska berjalan dengan kaki telanjang kearah mobil Dava.
"Tolong aku" ungkap Siska sebelum terjatuh dan pingsan di dekat mobil Dava.
__ADS_1
"Astaga, apa mobilku melukai tubuhnya?" Dava keluar dari mobil dan mendekati Siska.
Dava mencium aroma alkohol dari tubuh Siska. "Apa gadis ini mabuk?" pikir Dava.
Dava membawa Siska masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya membawa Siska yang masih tidak sadarkan diri. Tak jauh dari lokasi mobil Dava, seseorang bersembunyi di balik semak-semak sambil memegangi tangannya yang masih terasa sakit. "Sial, kenapa harus ada Dava disana!"
Dava membawa Siska ke Apartemennya dan mengambil ponsel milik Siska. Dava akan menyalakan ponsel milik Siska namun sia-sia karena baterai ponsel itu telah habis. Dava mengisi baterai ponsel Siska dan menyalakan kembali.
"Maaf, aku menyentuh tanganmu karena ingin membuka kunci dari ponselmu" ucap Dava pelan sambil meraih salah satu jari Siska untuk di letakkan di layar ponsel Siska sebagai pengunci layar.
Ponsel Siska terbuka. Berselang beberapa detik, panggilan telepon dari seseorang bernama Raeviga terlihat di layar ponsel Siska.
"Apa Raeviga adalah temannya? haruskah aku mengangkat teleponnya?" ucap Dava sendiri sambil berpikir sejenak.
Halo!". ucap Dava setelah memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu.
"Lo siapa? dimana temen gue!" seru seorang wanita dengan suara yang memekik telinga Dava.
"Wanita gila, kenapa suaranya nyaring sekali" gerutu Dava sambil menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
."Di rumah gue" balas Dava meneriaki.
BERSAMBUNG
Hai Reader,
UNTUK EPISODE LANJUTANNYA NANTI AGAK MALAM SEDIKIT YA. BATERAI PONSEL AKU JUGA MAU LOWBAT KAYAK HP SISKA. JADI LANJUTANNYA NANTI MALEM.
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) JANGAN LUPA BUAT SUBSCRIBE AKUN NOVEL CARAMELLOW
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
__ADS_1