
Seakan saat ini keduanya tengah berbicara tanpa berucap. Hanya kedua hati yang menyatu menjawab setiap kata yang terucap tanpa suara.
[EPISODE SEBELUMNYA]
Siska telah berada di dalam rumah kontrakannya. Ia kembali memikirkan tentang hubungan Arga dengan Mamanya yang terlihat tidak akur layaknya orang asing.
"Aku harus membuat hubungan Ibu dan anak itu kembali akur. Tidak benar jika terus di biarkan berlarut-larut seperti ini," gumam Siska dan berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya.
Siska menyentuh perut datarnya yang merasa mual. Sejak dirinya di nyatakan hamil, Siska terus mengalami hal-hal baru yang sedikit tidak nyaman untuknya. Mual, muntah dan tubuhnya yang mudah lelah menjadi kegiatan sehari-harinya setiap pagi atau menjelang siang. Keadaan itu membuat beberapa aktifitasnya Siska sedikit terganggu.
Hueekkk..
Siska berlari ke dalam kamar mandi dan menepuk pelan dadanya berharap rasa mual itu bisa segera hilang. Bersamaan dengan rasa mual yang ia rasakan, kepalanya juga merasa sakit. Siska terduduk di dekat wastafel nya dan menyeka bibirnya yang masih basah setelah membasuh mulutnya.
Apa rasa mual ku ini sangatlah umum untuk orang hamil? tapi kenapa ini terus terjadi berulang kali. Aku sangat tidak nyaman. Seorang Ibu sangatlah hebat, bahkan tidak hanya harus pandai mengurus anak-anaknya, tapi di saat hamil pun ia harus bisa bertahan melalui ini semua.
****
Arga telah sampai di depan perusahaannya. Namun ia masih enggan untuk keluar dari dalam mobilnya. Ucapan Siska terus berputar di kepalanya. Yah, kekecewaan yang wanita itu rasakan karena perbuatan kotornya di masa lalu.
Nada dering di ponselnya berbunyi. Sebuah nama yang menghiasi layar ponselnya membuat raut wajah Arga berubah lega. Dia menunggu telepon itu sejak pagi dengan gelisah. Ia memikirkan dengan serius apakah rencananya ini akan berhasil atau tidak.
"Halo Tuan, saya dari Alan Wedding Organizer. Bisakah saya bertemu dengan Anda hari ini? ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan anda,"
"Apakah semua rancangannya berjalan lancar? Tidak ada kendala kan?" tanya Arga cemas. Sangatlah cemas, karena ini pertama kalinya ia memikirkan rancangan pernikahannya seorang diri.
Tak ada satupun dari keluarganya yang mengetahui hal itu. Bahkan Ia menyembunyikan hal itu dari Siska. Arga ingin memberikan kejutan pernikahan ini untuk kekasihnya. Untuk seorang wanita yang bertahan untuk tinggal di sisinya. Untuk seorang wanita yang berusaha untuk menerima pria sepertinya. Untuk seorang wanita yang kini tengah mengandung buah hati mereka.
"Tuan bagaimana? apakah bisa?" tanya pria itu lagi dari seberang telepon Arga hingga membuatnya terkesiap dan tersadar dari lamunannya.
"Tentu, tentu saja. Datanglah ke Jankfood Indonesia. Aku menunggumu di kantorku,"
"Baiklah,"
Panggilan terputus. Arga berjalan keluar dari mobilnya dan menyusuri lorong basement. Terlihat kebahagiaan menghiasi wajahnya saat ini. Yah, Arga nampak lega. Setidaknya salah satu masalah yang ia khawatirkan akan segera terselesaikan.
"Selamat siang, Pak.." Sapa sekretaris perusahaannya saat melihat Arga akan berjalan masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Siang,"
"Sore ini anda akan ada kerjasama dengan salah satu perusahaan asing, dan rekan bisnis anda Pak Erwin juga akan menemui anda beberapa jam lagi," Seorang wanita berdiri di belakang Arga dengan tatapan sepenuhnya mengarah ke arah iPad yang dipegangnya. Wanita itu Lisa, Sekretaris yang sudah bekerja dengannya sejak lama.
"Erwin? untuk apa dia kemari?"
"Maaf Pak, tapi dia hanya mengatakan ingin membahas masalah pribadi dengan anda,"
"Baiklah, tidak masalah. Oh ya, dan sebentar lagi ada pihak Wedding Organizer yang akan datang menemuiku. Langsung saja kau arahkan mereka untuk masuk ke ruangan ku,"
"Wedding Organizer?" gumam Lisa dengan setelan jas hitam dan rambut lurus tergerai.
"Apa kau mendengar apa yang ku katakan? kenapa hanya diam saja?"
"Ehhm, dengar Pak."
"Pergilah, aku sudah selesai membicarakan ini,"
Lisa mengangguk pergi meninggalkan ruangan Arga. Ia masih memikirkan perkataan Arga mengenai Perancang Pernikahan.
Tak lama seorang pria datang membawa beberapa file di tangannya dan berhenti tepat di meja Lisa. "Permisi, saya dari Wedding Organizer, ingin bertemu dengan Pak Arga Dewantara,"
"Baiklah, sebelah sini," Lisa berjalan mendahului dan mengetuk pintu Arga beberapa kali.
"Masuklah,"
"Pak Arga, perwakilan dari Wedding Organizer telah datang,"
"Suruh dia masuk,"
"Baik."
Seorang pria yang sejak tadi menunggu di belakang Lisa segera masuk ke dalam ruangan Arga setelah mendengar suara tegas Arga yang memintanya untuk masuk.
"Selamat siang pak,"
"Siang, segeralah mulai. Apa yang ingin kamu bicarakan?"
__ADS_1
"Baiklah, ini adalah desain terakhir yang telah di perbarui. Desain ini akan di pakai untuk gedung pernikahan anda. Semua ornamen yang anda minta telah kami susun sedemikian rupa. Anda bisa melihatnya sendiri, jika ada yang kurang. Anda bisa memberitahukannya kepada saya,"
"Aku akan melihatnya nanti, apa ada lagi?"
"Untuk busana pengantin. Saya perlu ukuran dari tubuh mempelai wanita sehingga bisa menyesuaikannya. Ini adalah beberapa desain busana terbaru kami," Pria itu memberikan map hitam yang tersusun beberapa desain busana yang terlihat elegan dan mewah.
"Aku akan memilihnya nanti. Apa lagi?"
Pria itu menautkan kedua alisnya. Ia memandangi Arga heran seakan banyak hal yang ia gumamkan dalam hatinya.
"Dia pria aneh. Dia memintaku untuk 3 hari selesai. Tapi dia terus menunda pekerjaanku. Sial," rutuk pria itu dalam hati.
"Kenapa diam? apa ada lagi?" tanya Arga membuat pria itu membuyarkan lamunannya segera.
"Tidak ada pak, baiklah. Saya tunggu kabar anda mengenai pilihan desainnya," setelah mengatakan hal itu, pria pengurus wedding organizer itu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan Arga.
Di luar ruangan, terlihat seorang pria yang tak asing di perusahaan Jankfood tengah duduk menunggu di depan ruangan Arga.
"Silakan Pak Erwin, anda bisa masuk ke dalam. Pak Arga sudah menunggu," ucap Lisa setelah keluar dari ruangan Arga saat pria wedding organizer itu keluar ruangan.
"Baiklah terima kasih,"
Arga menatap tajam kehadiran Erwin yang berada di ambang pintu itu. Sorot matanya tak lepas memperhatikan sikap Erwin yang terlihat gusar. Hubungan persahabatannya dengan Erwin renggang saat perkelahian masa lalu yang melibatkan Siska. Saat perasaan Erwin hanya terisi oleh dendamnya kepada Siska.
Namun kali ini Ekspresi wajahnya terlihat berbeda. Tidak ada kebencian melainkan sebuah tanda tanya yang masih belum terselesaikan.
"Ada apa?" suara tegas dan dingin itu mengisi ruangan dengan sorot matanya yang tak lepas menatapnya.
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1
__ADS_1