FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#34 : MENCEMASKAN TANPA SADAR


__ADS_3

"Lo siapa? dimana temen gue!" seru seorang wanita dengan suara yang memekik telinga Dava.


"Wanita gila, kenapa suaranya nyaring sekali" gerutu Dava sambil menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Di rumah gue" balas Dava meneriaki.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Bagi Dava ini pertama kalinya ia bertemu dengan wanita yang berani meneriakinya sekeras itu. Walaupun mereka tidak bertemu secara langsung.


"Diman-"Raeviga ingin menanyakan Alamat rumahnya namun Seperti tau apa yang akan diucapkan Dava langsung memotong ucapan gadis itu.


"Nirwana Residence lantai dasar no.55. Datang Cepat kesini dan bawa temenmu.." ucap Dava dengan tegas dan mengakhiri panggilan telepon itu sepihak.


Tuttttt...


Panggilan berakhir. "Halo, hey. Gue belum selesai bicara!"


Tanpa berfikir panjang lagi Raeviga bergegas mencari taksi untuk membawanya ke alamat yang telah di sebutkan oleh Dava.


Perjalanan menuju Apartemen Dava memerlukan waktu 30 menit dari lokasi rumahnya. Raeviga berjalan dengan terburu-buru sambil melihat arah kanan-kirinya mencari nomor ruangan yang telah di sebutkan oleh Dava.


"Akhh! ini no. 55" seru Raeviga saat melihat Kamar yang ia tuju.


Raeviga menekan bel dering dari kamar Apartemen itu. Sekali dia tekan namun tak ada jawaban. Akhirnya Raeviga berkali-kali memencet tombol itu agar Pemilik ruangan itu segera keluar.


Seorang lelaki dengan hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya keluar terburu-buru. Dia adalah Dava. Setelah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Raeviga. Dava memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang terasa gerah.


"Sekali aja kalo mau mencet."Keluhnya kesal. Karena membuat suara bising di apartemennya.


"Mana sahabat gue"Raeviga langsung menerobos masuk begitu saja.


"Kamu gak ad-" gerutu Dava yang ingin memarahi gadis di depannya karena asal menerobos apartemennya namun pukulan keras mengenai lengannya membuat Dava menahan sakit.


"Lo apa'in sahabat gue!"Bentaknya marah. Menatap Siska yang sudah tidak sadarkan diri dengan seluruh tubuhnya tertutup selimut.


"Maksud kamu apa sih?" lelaki itu tak mengerti asal pembicaraan gadis di depannya itu.


"Lo apain temen gue?" Raeviga memukul Dava berkali-kali hingga membuatnya kesal.


Karena tak kuat menahan sakit Dava menahan kedua tangan Raeviga dan menatapnya kasar.


Wanita aneh, dia berani memukulku bahkan tidak mengenalku sama sekali. Dan apa katanya? Lo-Gue, ucapan apa itu? pendidikan berbahasanya pasti masih kurang.


"Dengerin ya, Aku gak ada selera buat nyentuh temen kamu itu! dan berhenti deh pakai kata Lo-Gue. Buat telingaku risih tau."Tegasnya dan kasar dan melepaskan tangan Raeviga dengan tatapan marah.

__ADS_1


"Terserah gue dong. Lagi pula kita juga gak kenal. Kenapa harus manggil akrab ke elo. Lo itu jadi cowok jahat banget ya! udah main sama temen gue terus loh buang gitu aja!!" balas Raeviga meluapkan emosinya.


"Maksud kamu, aku ada main gitu sama temen kamu?" Dava mulai mencerna perkataan yang sedari tadi di lontarkan Raeviga.


"Aku itu nolong dia di jalan.Untung gak aku tabrak aja"ucapannya lagi-lagi dengan nada kasar dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Raeviga yang diam tak bersuara setelah mengetahui permasalahannya.


Bodoh, apa aku salah menduganya? tapi tidak, aku tidak bisa mempercayai pria itu begitu saja.


Raeviga berlari ke arah Siska yang berada di ranjang dan tergeletak tak sadarkan diri.


"Siska bangun.Ka,bangun dong"Raeviga terus menggoyang-goyangkan tubuh siska yang masih tidak ada respon.


"Ka,ayo bangun.."Raeviga mencoba memapah tubuh Siska namun gadis itu terlalu berat untuknya. Raeviga melepaskan pegangannya pada tubuh siska dan menjatuhkannya lagi.


"Percuma kamu bangunin dia. Udah kena pengaruh Alkohol." Dava datang menghampiri 2 Gadis yang berada di Ranjangnya itu. Dava telah berpakaian dengan lengkap tidak lagi bertelanjang dada.


"terus gue bawa dia gimana?" Ungkap Raeviga bingung.


Dava hanya mengangkat kedua bahunya. Tanda tak tahu atau tak ingin peduli. Yang jelas dia hanya ingin kedua wanita ini segera pergi dari tempatnya.


"Lo bantu gue deh mapah dia.Pliss!"Seru Raeviga memohon.


"males" Ucap Dava singkat.Kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk di seberang ranjangnya.


"Aku gak mau tau. Kamu bawa di pergi secepatnya dari tempatku"Pinta Dava penuh penekanan.


"Dasar cowok berhati dingin. Kalo gue bisa bawa dia sendiri gue gak akan mau minta bantuan elo."Celetuk Raeviga tak ingin kalah dengan lelaki di depannya.


Raeviga mulai berdiri di hadapan Dava. Ingin mencoba mengancam lelaki dingin di hadapannya.


"Atau lo pengen gue teriak biar seluruh apartemen denger dan memfitnah lo menjadi lelaki brengsek" ancam Raeviga penuh penekanan dan menatap tajam ke arah Lelaki yang sedang berbaring.


"coba aja kalo lo berani" Lelaki itu menguji keberanian Raeviga. Raeviga menghela nafasnya dalam-dalam.


"Akhhhhh!!!!.."Raeviga teriak sekuat-kuatnya yang ia bisa. Dava spontan meraih tangan Raeviga hingga gadis itu jatuh tersungkur di badannya. Dengan sigap Dava menutup mulut nyaring Raeviga yang memekik telinga.


"Gendang telingaku maupecah tau! cewek gila!"Keluhnya menatap gadis yang berada di atas tubuhnya saat ini.


Raeviga melihat posisinya sekarang.Ia merasa tak nyaman dengan posisi tubuhnya yang menindih pria itu sekarang. Apalagi ia merasa di pahanya "milik"pemuda itu tiba-tiba mengeras.


Mampus!


Raeviga mencoba berdiri dari posisinya sekarang. Wajahnya seketika malu tanpa alasan.


"Aku akan antar kalian pulang"

__ADS_1


"makasih"


"Awas aja kalo lo bangun. Bakal aku sidang"Gerutu Raeviga itu terdengar oleh Dava.Ia tersenyum simpul mendengar celotehan Raeviga.


****


Arga mengendarai mobilnya ke sesuatu tempat. Namun rumah itu nampak sepi dan gelap. Yah, Arga pergi mengunjungi rumah Siska. Dua jam yang lalu Arga menghubungi ponsel Siska namun hanya suara operator yang mengatakan jika panggilan telepon Siska saat ini sedang tidak aktif.


"Apa Erwin membawa Siska pergi?" pikir Arga sedetik kemudian.


Arga menelpon orang suruhannya.


"Apa kamu telah bertemu dengan Erwin disana?"


"Iya tuan. Tapi saya tidak menemukan jejak gadis itu sama sekali."


"Dimana Erwin sekarang?"


"Polisi telah menangkapnya karena dia tiba-tiba mengamuk di jalanan tanpa sebab, dan saat itu Erwin juga dalam keadaan mabuk"


Arga nampak berpikir keras. "Jika tidak bersama Erwin. Kemana perginya Siska?"


Di dalam mobil Dava, Raeviga telah hanyut dalam tidurnya. Untung saja Dava sudah menanyakan dimana alamat rumah Raeviga. Dava memandang sekilas ke arah Raeviga yang tertidur pulas.


Cantik.


Mobil Dava berhenti di sebuah rumah dengan gaya arsitektur yang sangat unik.


"Terima kasih atas bantuan lo."Ungkap Raeviga menjatuhkan tubuh sahabatnya itu di ranjangnya.


"Ini tempat tinggalmu?" Dava melihat-lihat pajangan yang menghiasi rumah Raeviga. Foto-foto yang banyak terpajang di dinding rumah.


"Minimalis.."Ungkapnya.


BERSAMBUNG


Hai Reader,


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.


DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


__ADS_2