
Kenapa aku gelisah seperti ini. Rae, apa Raeviga baik-baik saja? kenapa firasat ku tentangnya sangat buruk? Aku berharap ini tidak seperti yang ku khawatirkan.
EPISODE SEBELUMNYA
Di Rumah Sakit Arga terlihat duduk di sebuah kursi panjang dengan ekspresi wajahnya yang menunjukkan kecemasan. Tak jauh dari tempatnya duduk, Dava tengah berdiri di samping pintu ruang operasi dengan gelisah. Pakaian dan kedua tangannya masih terkena noda darah dari Raeviga. Melihat kesedihan Dava, Arga berjalan menghampirinya untuk menenangkannya.
"Dav, tenanglah. Raeviga akan baik-baik Saja. Dokter telah menanganinya. Aku yakin Jerome akan berusaha menyelamatkan Raeviga," seru Arga sembari menepuk pelan bahu Dava. Laili yang juga telah datang beberapa jam yang lalu terlihat lega melihat keakraban Arga bersama Dava.
Ini pertama kalinya Arga bersikap baik pada Dava. Laili memperhatikannya keduanya dan tersenyum kecil melihat mereka.
Tangan Arga masih di bahu Dava, pria itu menepis telapak tangan Arga dari bahunya. "Ini semua karena kamu kak! Aku dan Raeviga sudah menikah, tapi kenapa kamu terus saja menjadi penganggu hubungan kami,"
Laili yang mendengar ungkapan Dava nampak terkejut dengan pernyataan itu. "Apa yang terjadi diantara mereka sebenarnya? Raeviga dan Arga? apa yang mereka lakukan di belakang Dava hingga semua ini terjadi?" gumam Laili sembari menghampiri Dava yang masih terlihat emosional.
"Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan Dav. Aku sama sekali tidak berharap apapun dengan Raeviga. Aku menemuinya karena ada sesuatu yang penting,"
"Pecundang,"
Arga nampak kesal dengan ucapan Dava, tangannya mengepal erat menahan emosinya.
Tidak Arga, ini bukan saatnya untuk berkelahi. Aku harus menahan kemarahan ku sejenak.
Laili menggenggam lengan Dava untuk menghentikan pria itu yang akan kembali memukul Arga. "Hentikan Dava, tidak baik melakukan ini semua. Istrimu sedang kritis di dalam sana. Jadi mama mohon tenanglah dan berdoa untuk kesembuhan Raeviga,"
Arga memperhatikan Dava yang nampak terpukul. Beberapa pria itu menyakiti tangannya dengan memukulkannya ke dinding koridor rumah sakit.
Tak lama pria berjubah putih keluar dari ruang operasi bersama seorang perawat yang membawa peralatan medis.
"Je, bagaimana kondisi Raeviga? dia baik-baik saja kan?" tanya Dava saat melihat Jerome datang mendekatinya.
"Raeviga baik-baik saja. Tapi maaf, aku tidak bisa menyelamatkan kandungannya,"
sontak pernyataan itu membuat ketiganya terkejut. Dava menyandarkan tubuhnya dengan air mata yang telah jatuh entah sejak kapan membasahi wajahnya. Laili memeluk Dava untuk menenangkannya.
"Tenanglah Nak, tidak apa-apa. Mungkin ini semua adalah ujian untuk kamu dan Raeviga harus jalani. Semua akan baik-baik. Kamu haru kuat, Raeviga membutuhkanmu sekarang,"
Dava tak mengatakan apapun. Keegoisannya telah menenggelamkannya dalam kesedihan yang tak berujung. "Ini salahku, ini salahku Ma,"
__ADS_1
Arga terduduk lemas. Pernyataan Jerome juga membuatnya terkejut. Seketika Arga memikirkan Siska. Wanita yang juga sedang hamil itu masih membencinya.
Aku seharusnya tidak bertemu dengan Raeviga hari ini. Jika aku tidak bertemu dengannya, tidak akan ada masalah seperti ini. Aku lah penyebab kekacauan ini.
Seseorang mendekati Arga. Langkah kakinya berhenti tepat di depan Arga yang tengah menundukkan kepalanya.
"Arga," sapa Laili lirih. Tangannya menyentuh lengan Arga. Wanita parubaya itu sangat merindukan kehadiran Arga, walaupun tidak ada hubungan darah diantara mereka.
Arga mendongakkan kepalanya menatap seorang wanita yang kini tersenyum tipis melihatnya. Arga hanya menatapnya diam, kebencian di masa lalu tentang orangtuanya dan Laili masih membekas di ingatan Arga.
"Nak, selama sebulan ini Mama sama sekali tidak pernah melihatmu lagi. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Laili perhatian.
Arga hanya menganggukkan kepalanya. Laili menghela napas lega melihat sikap Arga kepadanya.
Tidak apa jika kamu masih tidak ingin berbicara denganku Arga. Tapi Mama sudah sangat senang saat kamu merespon ucapan ku tanpa harus marah-marah seperti dulu. Mama akan menunggu Arga. Mama yakin suatu saat nanti kebencian itu akan hilang dan kamu akan bisa menerima hubungan kekeluargaan ini.
****
Malam semakin larut namun Siska sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia terlihat gelisah, beberapa kali ia terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan perutnya yang terasa kram membuatnya tidak nyaman.
Apa ini efek dari kehamilanku? kenapa aku sangat sulit untuk tidur? dan kenapa perasaanku terus saja gelisah.
Haruskah aku menelponnya larut malam seperti ini? tidak, aku tidak bisa melakukannya. Ini akan menganggu tidurnya. Aku berharap kamu baik-baik saja Rae. Entah kenapa aku mengkhawatirkan mu saat ini.
Siska akan kembali memejamkan kedua matanya. Namun ia kembali terbangun saat mendengar suara ketukan beberapa kali di pintu rumahnya.
"Sudah jam 12 malam, siapa yang datang malam-malam begini," gumam Siska dan beranjak dari tempat tidurnya.
Dari kaca sebelah pintu rumahnya, Siska melihat seorang pria tengah berkaos putih tengah berdiri membelakanginya.
"Siapa dia?" serunya dalam hati. Siska membuka pintu rumahnya dan seketika pria itu membalikkan badannya.
"Arga? untuk apa kamu disini?" Siska akan menutup kembali pintu rumahnya namun tangan Arga menghalangi pintu yang akan tertutup itu.
"Sis, aku datang karena mencemaskan kamu. Kejadian hari ini membuatku terus memikirkan kamu,"
"Aku tidak peduli,"
__ADS_1
Arga membuka pintu rumah itu lebih lebar hingga terlepas dari pegangan Siska. "Tapi aku peduli,"
Siska terdiam, memahami arti dari kalimat yang di ucapan Arga beberapa detik yang lalu.
"Aku peduli. Aku sangat peduli denganmu. Entah sejak kapan perasaaan itu ada, tapi aku sama sekali tidak ingin jauh dari kamu. Kejadian Raeviga hari ini cukup membuatku merasa takut. Aku takut jika aku harus kehilangan seseorang yang sangat berharga untukku,"
Pernyataan Arga membuat Siska terdiam. Ada perasaan bahagia saat mendengar ungkapan Arga untuknya. Namun bersamaan dengan hal itu, fakta lain yang masih membebani pikiran Siska saat ini membuatnya ragu untuk mempercayai ucapan Arga.
Apa yang kamu katakan Arga? kamu takut kehilanganku atau sebenarnya kamu hanya takut kehilangan anak kamu?
"Pergilah, aku tidak ingin membahasnya saat ini," Siska akan menutup pintu rumahnya namun Arga tetap menghalanginya. Kali ini dengan salah satu kakinya yang menghalangi pintu itu.
"Awwwh!" runtuhnya saat Siska menutup pintu terlalu keras hingga membuat pergelangan kakinya kesakitan.
"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja," Siska terlihat khawatir. Ia membungkukkan badannya dan memeriksa pergelangan kaki Arga. Siska melihat sedikit memar kemerahan di pergelangan kaki Arga.
"Aku baik-baik saja Sis, Jangan khawatir. Kaki ku ini terbuat dari baja jadi tidak akan cepat terluka hanya karena pintu kayu ini," ucapnya dengan tawa kecil di sudut bibirnya.
"Pergilah Ga, ini sudah malam. Aku tidak ingin membahas apapun denganmu,"
Arga menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Siska hingga wanita itu kini berada dalam pelukan Arga.
"Aku mengkhawatirkan mu Sis. Aku tidak bisa jauh dari mu. Aku mencemaskan kamu dan bayi kita. Aku tidak ingin merasakan hal yang sama seperti Raeviga dan Dava. Aku takut," Arga menenggelamkan wajahnya di pelukan Siska.
Siska menautkan kedua alisnya dan melepaskan paksa pelukan Arga. "Apa maksud kamu dengan menyebutkan nama Dava dan Raeviga? apa terjadi sesuatu kepada mereka?"
Arga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Siska padanya.
"Raeviga dan Dava telah kehilangan buah hati mereka,"
Siska nampak terguncang dengan ucapan Arga. Tangannya seketika memegangi perutnya yang masih datar. "Astaga,Rae. Kenapa ini semua harus terjadi padanya,"
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
__ADS_1
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1