
Mobil Dava berhenti di sebuah rumah dengan gaya arsitektur yang sangat unik.
"Terima kasih atas bantuan lo."Ungkap Raeviga menjatuhkan tubuh sahabatnya itu di ranjangnya.
"Ini tempat tinggalmu?" Dava melihat-lihat pajangan yang menghiasi rumah Raeviga. Foto-foto yang banyak terpajang di dinding rumah.
"Minimalis.."Ungkapnya.
[EPISODE SEBELUMNYA]
Setelah kepergian Dava, Raeviga memeriksa kondisi Siska yang nampak pucat. Dia tak sengaja melihat kedua tangan Siska yang memerah melingkari pergelangan tangannya.
"Apa yang terjadi dengannya"gumamnya sambil menyelimutinya tubuh Siska.
Tangan Raeviga tak sengaja menyentuh dahi Siska dan dia merasakan suhu tubuh Siska terasa panas.
"Sis, kamu baik-baik aja kan? suhu tubuh kamu panas banget" Raeviga yang mulai khawatir mulai menghubungi dokter pribadinya.
Raeviga meletakkan kain dingin di dahi Siska untuk mengompresnya sembari menunggu kedatangan Dokter Echa, Dokter Pribadi keluarganya.
Tak lama, Dokter Echa datang bersama perawat yang membawa peralatan medis dan alat pemeriksaan khusus.
"Apa yang terjadi Rae? Apa dia kerabat jauh muu? Aku belum pernah melihatnya" Dokter wanita dengan rambut terurai sebahu itu mulai mengeluarkan alat-alat pemeriksaannya.
"Dia temanku"
"Dia kekurangan cairan, glukosanya sangat rendah. Apa dia sedang melakukan diet? ini seperti efek dari tidak adanya pemasok energi di tubuhnya. Aku akan menginfusnya. Besok Pagi Lepas infus itu jika sudah habis."
Alis Raeviga bertautan. Dia berpikir jika tidak mungkin Siska membahayakan tubuhnya hanya untuk program diet.
"Aku juga tidak tau, Dok. Kenapa dia tidak makan sama sekali dan juga di kedua tangannya ada bekas merah.." tunjuk Raeviga pada kedua tangan Siska.
Dokter Echa mulai mengamati pergelangan tangan Siska baik-baik.
"Ini seperti bekas lebam merah karena lilitan keras di tangannya. Tapi aku tidak bisa mengatakan ini adalah kebenaran. Jika kamu ingin tau, kamu harus melakukan visum terlebih dahulu"
Raeviga terlihat berpikir keras dengan keterangan yang di berikan oleh Dokter Pribadinya.
Apa yang terjadi dengan Siska? Apa ada seseorang yang menyakitinya? tidak mungkin pria yang tadi membawa Siska kan?
"Aku sudah selesai memeriksanya. Berikan obat ini setelah dia bangun. Jika mengenai luka di tangannya lebih baik kamu menanyakan kepadanya saat dia terbangun nanti."
__ADS_1
"Baik Dokter, terima kasih. Aku telah mengirimkan biaya perawatannya di Rekening Bank seperti biasanya"
"Iya, terima kasih kembali. Cepat sembuh untuk teman kamu"
"Iya dok"
****
Arga berada di dalam mobilnya. Ia nampak lelah mencari keberadaan Siska. Bahkan beberapa orang suruhannya telah bergerak mencari sosok wanita yang di katakan oleh Arga.
"Apa dia pergi karena marah padaku pagi itu?" ucap Arga seakan menyadari kesalahan yang ia perbuat pada Siska. Bahkan karena ia sibuk mencari keberadaan Siska, Arga melupakan rencananya untuk kembali melamar Raeviga malam ini.
"Sial! kenapa aku harus terjebak dengan gadis ini. Kenapa aku sangat mengkhawatirkan kondisinya sekarang" gerutu Arga sambil memukul stir mobilnya merasa kesal.
Dering ponsel Arga mengalihkan perhatiannya sejenak.
"Apa kamu telah menemukannya?"
"Iya Pak. Ponsel Siska telah aktif kembali. Saya telah melacak posisinya sekarang. Gadis yang anda cari ada di sebuah perumahan mewah dekat dengan lokasi kantor Anda. Saya akan mengirimkan alamat tersebut kepada Anda.."
Tak lama Arga menerima pesan masuk itu dan membukanya.
"Aku mencemaskan dia tapi justru gadis itu sedang bersama Raeviga. Seharusnya aku tidak perlu mencarinya sejak pagi tadi" gerutu Arga yang tak mengetahui jika saat ini Siska terbaring lemas.
Arga mencari nama seseorang dalam kontak ponselnya. Ia menghubungi Raeviga. Raeviga yang saat itu akan tidur melihat ponselnya berdering. Nama Arga terlihat di layar ponselnya.
"Pak Arga? kenapa dia malam-malam menghubungiku? haruskah aku menerima panggilan itu?" Raeviga berpikir beberapa kali hingga panggilan itu terputus karena terlalu lama di abaikan.
Kejadian pagi tadi tentang lamaran Arga membuat Raeviga enggan untuk kembali bertemu dengan Arga. Mulai dari sikap kurang ajar Arga, dan lamarannya yang tiba-tiba membuat Raeviga takut di buatnya. Raeviga takut jika Arga akan bersikap kasar karena terus menerus menolaknya.
Arga akan kembali menghubungi Raeviga namun ia membatalkan niatnya itu melihat saat ini telah larut malam.
"Tidak. Ini sudah malam, aku akan menganggu tidur Raeviga jika aku terus menelfon-nya" Arga kembali mengendarai mobilnya berbalik arah menuju rumahnya.
****
Siska menggerakkan tubuhnya perlahan saat melihat Raeviga masih tertidur di sampingnya. Dia tak ingin membuat temannya itu terbangun karena perbuatannya. Siska akan pergi ke dalam kamar mandi. Ia mengambil cairan infus yang di gantung dan berjalan perlahan. Tubuhnya terasa kaku setelah semalaman berlarian menghindari Erwin.
"Sis, kamu mau kemana?" tanya Raeviga melihat Siska yang telah bangun lebih dulu darinya.
"Maaf Rae, aku pasti telah membangunkan mu. Aku hanya ingin membersihkan wajahku"
__ADS_1
"Gak kok Sis. Ya udah aku temanin buat pegangin Cairan infusnya" Raeviga akan beranjak dari tempat tidurnya dan membantu Siska.
"Gak perlu Rae. Kamu pasti semalaman tidak tidur"
Raeviga mendekati Siska. Ia mengambil cairan infus dari tangan Siska. "Kata siapa? aku tidur kok. Walaupun sesekali bangun buat ngecek cairan infus kamu"
"Maaf ya udah merepotkan"
"Enggak kok. Udah ya kamu gausah mempermasalahkan itu. Kamu katanya mau ke kamar mandi. Aku bantu pegangin Cairan infusnya"
Siska tak bisa membantah Raeviga lagi. Raeviga sudah berjalan lebih dulu masuk ke dalam kamar. Di saat Siska sibuk menggunakan pembersih wajah, Raeviga terlihat penasaran dengan luka lebam di tangan Siska.
"Sis, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Tentang apa?" Siska menyeka wajahnya dengan air dan menepuknya lembut dengan handuk.
"Tentang pergelangan tanganmu.." ucapan Raeviga membuat Siska terdiam.
Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Raeviga. Karena Siska tau, jika Raeviga mengetahui masalahnya gadis itu akan ikut campur dan membahayakan dirinya sendiri.
Siska tak ingin Raeviga bermasalah karenanya. Apa lagi ini tentang Erwin. Dia takut Erwin akan melukai Raeviga.
"Sis, kamu akan menceritakannya padaku kan? Apa ini ada hubungannya dengan Erwin? Apa ada orang lain yang menyakitimu?" tanya Raeviga lagi. Dia tahu jika saat ini Siska sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa ini ada hubungannya dengan pria semalam Sis? Apa dia yang telah membuatmu seperti ini?"
Siska menoleh kearah Raeviga. Dia tak mengetahui siapa pria yang di maksud oleh Raeviga saat ini. Tebakan Raeviga sebelumnya tentang Erwin memang benar. Bahwa dia lah pelakunya. Tapi untuk Pria yang baru saja Raeviga katakan, Siska tidak mengetahuinya.
"Apakah maksud Raeviga pria bermobil malam itu? Apa dia juga yang telah membantuku semalam? Ahh, benar mana mungkin Raeviga yang menemukanku malam itu."
BERSAMBUNG
Hai Reader,
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.
DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
__ADS_1