
Siska menoleh kearah Raeviga. Dia tak mengetahui siapa pria yang di maksud oleh Raeviga saat ini. Tebakan Raeviga sebelumnya tentang Erwin memang benar. Bahwa dia lah pelakunya. Tapi untuk Pria yang baru saja Raeviga katakan, Siska tidak mengetahuinya.
"Apakah maksud Raeviga pria bermobil malam itu? Apa dia juga yang telah membantuku semalam? Ahh, benar mana mungkin Raeviga yang menemukanku malam itu."
[EPISODE SEBELUMNYA]
"Sis, kamu tidak akan mengatakannya kepadaku?" tanya Raeviga lagi.
"Tidak, ini karena perbuatan ku sendiri. Tidak ada kaitannya dengan siapapun. Apa kamu mengenal pria yang menolongku semalam?" tanya Siska mencoba mengalihkan pembicaraannya, dan Yah, Raeviga terpancing dengan pertanyaan yang di ajukan Siska padanya. Mengingat nama pria dingin dan keras kepala itu membuat darah Raeviga mendidih.
" Lagian kamu kenapa bisa sama dia sih Sis. Kamu harus tau ya, Pria sombong itu sangat angkuh. Sepertinya aku harus sering berbuat baik agar tidak bertemu kembali dengan pria sepertinya" Raeviga terlihat menggebu-gebu menceritakan tentang pertemuannya dengan Dava pada Siska. Bahkan tanpa ada jeda di setiap kalimatnya. Gadis itu terus saja membicarakan tentang Dava hingga Siska berjalan keluar dari kamar mandi.
"Jadi kamu sudah tau siapa namanya?" tanya Siska yang duduk di ranjang tempat tidur Raeviga.
"Tidak, untuk apa harus menanyakan namanya. Gak penting. Bodoh amat deh!"
"Sombong banget ya? sampai kamu marah kayak gini?"
"BANGET! COWOK GILA! MESUM!"
Kata terakhir dari ucapan Raeviga membuat Siska menoleh kearahnya.
"Dia apa'in kamu,Rae? dia gak macam-macam sama kamu kan?" tanya Siska khawatir. Perilaku Erwin kepadanya membuat Siska takut jika teman dekatnya juga harus di lecehkan oleh orang lain.
"Tidak kok Sis. Hanya saja waktu aku pergi menjemputmu di Apartemennya. Tuh cowok telanjang di hadapan aku. Gila kan!"
"Hah? Telanjang bulat?" kali ini Siska ikut meninggikan suaranya mengikuti suara Raeviga.
"Enggak juga. Cuma telanjang dada aja. Tapi kan sama aja, tuh cowok buat aku berpikir negatif"
"Tapi kamu aman kan?"
"Aman kok"
Siska menghela napas lega. Siska takut jika Raeviga mengalami bahaya karena menolong dirinya.
"Oh ya dokter suruh minum obat kalo kamu udah bangun. Tapi makan dulu ya, aku buatin bubur buat kamu bentar"
"Gak perlu Rae. Aku bisa beli aja nanti di penjual pinggir jalan. Aku juga harus bersiap kerja sekarang"
"Kerja? sekarang? tapi kamu masih sakit. Gak usah dulu deh"
__ADS_1
"Gak bisa, Rae. Ada pekerjaan penting sekarang. Relasi pak Arga akan datang ke kantor nanti dan aku di minta untuk ikut dalam rapat mereka" jelas Siska sembari mengambil ponselnya yang di letakkan Raeviga di atas meja.
"Tapi Sis kamu masih sakit loh. Pak Arga juga bisa ngerti kok. Nanti aku deh yang bilang"
"Gak perlu Rae. Istirahatku sudah cukup. Aku harus kembali bekerja,"
Raeviga melepaskan infus dari tangan Siska sesuai petunjuk yang di berikan oleh Dokter Pribadi keluarganya.
****
Pagi sekali Arga sudah berada di dalam kantornya. Ia terlihat gelisah, penolakan Raeviga memenuhi isi kepalanya sekarang. Arga membuka laci meja kerjanya dan melihat sekali lagi sebuah kotak berwarna hitam dan membukanya. Cincin dengan manik berlian itu terlihat indah saat mengenai pantulan cahaya dari kaca ruangannya.
"Haruskan aku memberikan ini kembali?" ucapnya bimbang.
Arga melihat pegawai perusahaannya mulai berdatangan. Ia melihat kearah jam di tangannya dan menghela napas panjang.
"Yah, aku harus mencobanya lagi. Aku yakin, Raeviga akan melihat ketulusanku,"
Arga melangkah keluar dari ruang kerjanya. Langkahnya tak sengaja berpapasan dengan Siska. Arga menelisik wajah gadis itu baik-baik. Gadis yang semalam telah membuatnya merasa cemas tanpa alasan.
"Kamu baik-baik saja? wajahmu sedikit pucat hari ini," tanya Arga melihat kondisi Siska yang terlihat lemah.
"Saya baik-baik saja" ucap Siska singkat. Seperti Arga, Siska pun saat ini sedang memperhatikan wajah Arga sekarang. Dia berharap jika Arga akan mencemaskan dirinya. Namun dugaannya salah, Arga tak mengatakan apapun lagi setelah dan berlalu pergi setelah mendengar jawaban darinya.
Siska memandangi punggung Arga yang mulai berjalan menjauhinya. Bahkan tak sekalipun Arga berbalik dan melihatnya. Gadis itu terlihat kecewa. Yah, dia masih berharap bahwa Arga akan mencintainya. Rasa suka itu kembali mengekang hatinya begitu kuat.
Aku lelah, tapi rasa suka ini tak pernah bisa hilang. Apa aku yang bodoh selama ini? menantikan sesuatu yang tak pernah bisa aku dapatkan.
Arga melihat pintu masuk perusahaannya yang terlihat sepi. Semua pegawai telah masuk dan bekerja tepat waktu. Namun ia tidak melihat kehadiran Raeviga pagi ini. Ia duduk di sofa Lobby perusahaannya dan sesekali memandang kearah pintu masuk.
"Selamat pagi pak, apa Pak Arga menunggu seseorang?" sapa seorang pegawai wanita yang bertugas sebagai staf Customer Service.
Arga beranjak dari tempat duduknya. "minta Sekretaris untuk menyiapkan rapat pagi ini. Aku ingin semua keperluan untuk rapat telah lengkap," pintanya sebelum pergi.
"Baik pak"
Langkah Arga terhenti, ia kembali membalikkan tubuhnya dan melihat kearah gadis itu. "Telepon aku segera saat kamu melihat Raeviga datang"
Gadis itu mengangguk mengiyakan, "Baik, saya akan lakukan sesuai perintah Anda,"
Siska duduk di ruangan kerjanya, ia melihat meja kerja Raeviga yang nampak kosong tanpa penghuni. Siska teringat kembali pagi ini Raeviga mengantarnya bekerja, namun gadis itu justru tidak ikut masuk bekerja dengannya.
__ADS_1
"Sis, aku masuk ke kantor nanti. Jika pak Arga menanyakan tentangku, katakan saja jika ada keperluan keluarga mendesak."
"Baiklah" balas Siska dengan membuat tanda " Oke" dengan jarinya.
Beberapa menit berlalu, Raeviga datang dengan langkah terburu-buru ke meja kerjanya.
"Pak Arga sudah datang?" ucapnya pada Siska yang saat itu tengah bersiap untuk rapat.
"Udah"
Raeviga duduk di meja kerjanya, Siska akan bertanya sesuatu pada gadis itu namun Raeviga telah lebih dulu mengatakan hal yang sedikit membuatnya terkejut.
"Sis, kalo aku cari kerja lagi gimana?"
"Kenapa kamu mau pindah tiba-tiba Rae?"
"udah bosen aja. Pengen suasana kerja yang lain"
Siska melihat sudut mata Raeviga yang seolah menyembunyikan sesuatu darinya. "Apa terjadi sesuatu sama kamu?"
"Enggak, aku beneran pengen suasana kerja baru. Aku hanya kurang nyaman bekerja disini"Raeviga tidak bisa mengatakan begitu saja pada Siska bahwa bos mereka hampir melecehkannya. Kini Raeviga begitu takut jika harus bertemu dengan Bosnya lagi. Ia takut jika Arga akan berulah lebih gila dari ini.
"Rae, Bos minta kamu untuk datang ke ruangannya" seru salah seorang pegawai pada Raeviga.
Raeviga mengarahkan pandangannya kepada Siska. Siska menyakinkan Raeviga bahwa dia akan baik-baik saja.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan."serunya lirih.
Raeviga mengangguk mengerti.Ia menelan salivanya ketika ia sudah sampai di pintu ruangan itu.
"Pak Arga mencari saya?"
BERSAMBUNG
Hai Reader,
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.
DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN.
Terima kasih,
__ADS_1
Happy Reading Gaes,