FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#57: MENCARI JAWABAN TENTANG HATI


__ADS_3

Siska terlihat memikirkan sesuatu setelah wanita resepsionis itu mengatakan kebenaran di balik kecurigaannya.


Seseorang? Siapa orang itu? dan kenapa dia bisa mengenalku? Apa maksud di balik perbuatannya itu?


EPISODE SEBELUMNYA


Wanita resepsionis itu menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Tanpa sadar ia telah mengatakan rahasia yang di simpannya rapat-rapat sejak kemarin.


Siska menatapnya curiga, wanita resepsionis itu tidak lagi bisa mengatakan apapun. Rahasianya terbongkar, dan saat ini hanya menunggu tindakan Siska setelah mendengar kebenaran itu.


"Seseorang? siapa orang itu?" tanya Siska lagi,


"Saya tidak tahu, Saya sudah berkata jujur. Jadi tolong, jangan membuat reputasi penginapan ini buruk," ungkap wanita itu memohon.


Namun tidak ada jawaban dari Siska. Ia sudah sibuk dengan pikirannya sendiri. Tentang seorang misterius yang mengikutinya selama ini.


"Mbak, anda mendengar apa yang saya katakan?" wanita resepsionis itu menyentuh bahu Siska dan membuyarkan lamunannya.


"Akan aku pikirkan, jika kamu mau mempertemukan ku dengan Bu Bos mu itu," ucap Siska sebelum melangkah pergi meninggalkan meja resepsionis.


"Astaga, kenapa keadaannya semakin buruk. Apa yang akan aku katakan nanti pada Bu Bos?" gumam pegawai resepsionis itu sendiri.


****


Di tempat kerjanya, Siska masih memikirkan tentang misteri yang terjadi semalam. Tentang seseorang misterius yang selalu mengintainya diam-diam. Lamunan Siska membuatnya kembali membuat masalah. Berkas-berkas yang ada di tangannya kembali berserakan di lantai saat tangannya tanpa sengaja menabrak lengan seseorang.


"Maaf, maaf aku tidak sengaja," sesalnya sembari memunguti berkas-berkasnya yang jatuh.


"Tidak apa," balas seseorang yang lengannya tak sengaja bersinggungan dengannya.


Siska mengarahkan kepalanya saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Seakan suara itu terdengar akrab untuknya.


"Kamu?" seru Siska dan membenarkan posisi berdirinya.


"Kamu pria yang aku temui di depan lift kan? Nama kamu.. Arlan, benar?" tebak Siska dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Iya, aku Arlan, pria jelek berkacamata," imbuhnya dan memaksakan senyum di bibirnya.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu lagi? kamu terlihat keren. Kamu tidak jelek sama sekali,"


"Sudah, lupakan itu. Apa kamu kesini lagi untuk menemui Pak Abimanyu?" tanya Siska mengalihkan pembicaraan sebelumnya.


"Tidak, aku disini untuk bekerja. Aku bekerja sebagai staff personalia," ucap Arga yang menyembunyikan identitasnya dengan kumis dan kacamatanya.


Siska nampak terkejut mendengar jawaban rekan kerja barunya itu.


"Benarkah? aku sangat senang mendengarnya. Kalau begitu, kamu dan aku akan saling terhubung di pekerjaan ini,"


"Iya, kamu benar. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan dari ku Ibu Manager Personalia,"


"Jadi, apakah kita bisa memulai pekerjaan ini bersama?" seru Siska yang tanpa sadar merasa antusias dengan pertemanannya dengan pria yang baru saja di kenalnya. Siska seakan merasa telah berteman lama dengan pria di hadapannya itu.


"Baiklah, sepertinya banyak arsip perusahaan yang perlu di koreksi juga."


Siska bersama Arlan terlihat membahas pekerjaan dengan santai. Beberapa kali Arga memecahkan masalah saat Siska tidak memiliki jalan keluar atas masalah di dalam pekerjaannya.


Arlan membungkukkan badannya sehingga dapat melihat jelas tulisan yang tertampil di layar itu.


"Bukankah seharusnya akun ini tidak perlu di cantumkan? coba yang ini di hapus," tunjuk Arlan.


Spontan Siska mendongakkan kepalanya menatap Arlan yang wajahnya sangat dekat di atas kepalanya. Kedua mata mereka saling bertemu, perasaan tidak nyaman yang di rasakan Arlan membuatnya terlihat gugup. Arlan dengan cepat mengalihkan tatapannya dari Siska dan sedikit menjauh dari Siska.


Begitu pula dengan Siska yang tiba-tiba merasa grogi dengan kedekatannya dengan Arlan.


"Kenapa suasananya menjadi sangat canggung," gumam Siska sendiri sambil memperhatikan kembali layar monitornya. Tak lama, wanita itu beranjak dari tempatnya duduk dan membuat Arlan menatapnya keheranan.


"Ada apa?" tanya Arlan melihat wajah Siska yang terlihat gugup.


"Aku.., aku akan mengambil secangkir kopi untuk kita. Kamu suka kopi kan?" ucap Siska dan pergi begitu saja tanpa mendengarkan jawaban Arlan atas pertanyaannya.


"Kenapa dia pergi sangat cepat. Dia bahkan belum mendengarkan jawabanku, Kumis ini sangat gatal. Aku tidak tahan jika berlama-lama memakainya,"

__ADS_1


Arga, yang menyamar sebagai Arlan membuka kumis palsunya sejenak dan mengusap bawah hidungnya yang merasa gatal. Arga kembali memakai kumis palsu itu kembali, takut jika Siska tiba-tiba akan datang dan mengakhiri penyamarannya.


Berselang beberapa menit Siska membawa 2 cangkir kopi di tangannya. Ia memberikan salah satu cangkir itu kepada Arlan.


"Ini untukmu," Siska meletakkan kopi itu di atas meja dan kembali duduk di kursinya semula.


"Terima kasih,"


"Kamu sudah menyelesaikan arsip ini? cara kerjamu sangat cepat. Aku sangat kagum dengan cara kerjamu,Arlan. Ajari aku bagaimana kamu dengan mudahnya memecahkan masalah ini," seru Siska yang terlihat senang dengan berkas-berkas yang telah terselesaikan. Bahkan lesung pipinya terlihat jelas saat wanita itu tersenyum.


Arlan yang masih memperhatikan Siska. Seketika hanyut dengan senyuman manis milik wanita di sampingnya. Arlan mengulurkan tangannya mengambil secangkir kopi di depannya dengan tatapannya yang masih tertuju pada senyuman milik Siska.


Auww!!


Arlan memekik kesakitan saat jarinya tanpa sadar menyentuh isi kopi yang masih panas itu.


"Ada apa? Arlan kamu tidak apa? jarimu memerah," Siska menyentuh tangan Arlan dan meniup jarinya yang memerah karena kopi yang masih panas itu.


"Bagaimana bisa kamu mencelupkan tangan kamu di kopi panas itu? Apa kamu sedang uji nyali atau apa? kamu sangat ceroboh sekali," Siska mengambil tisu kering dan membersihkan sisa kopi yang menempel di tangannya.


Siska mengambil kotak obat yang tersedia di laci mejanya. "rentangkan jarimu, aku akan mengobatinya. Kamu benar-benar ceroboh, Arlan,"


Tidak memperdulikan celotehan Siska padanya, Arga hanya memandangi Siska yang nampak khawatir kepadanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat kecemasan Siska untuknya. Di masa lalu ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk beradu pendapat dan merasa seperti orang asing.


Namun kali ini, Arga merasakan hal yang berbeda. Arga merasa sangat dekat dengan Siska. Kedua matanya mengunci wajah Siska yang terlihat perhatian kepadanya.


Aku sama sekali tidak mengerti dengan perasaanku sekarang. Aku menyukai senyumnya. Aku menyukai kecemasannya kepadaku. Aku menyukai tatapannya saat melihatku. Ada apa sebenarnya? Perasaan apa yang aku miliki untuknya?


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,


Happy Reading Gaes,

__ADS_1


Instagram : @ilyuaml1


__ADS_2