
Siska tak mengatakan apapun. Kedua matanya memperhatikan wajah Arga yang terluka. lebam di sudut bibirnya dan bagian tulang pipinya membuat Siska khawatir.
"Itu...kenapa dengan wajahmu?"
EPISODE SEBELUMNYA
Arga menyentuh wajahnya yang masih terasa sakit. Ia meletakkan makanan dan minuman yang di bawanya di atas meja tamu di halaman rumah Siska.
"Ini..., hanya luka kecil. Tidak masalah, ini tidak sakit," jawab Arga sembari memperhatikan penampilan Siska yang terlihat rapi.
"Tapi kemana kamu akan pergi sekarang? kamu terlihat sangat rapi?" tanya Arga sekaligus mengalihkan perhatian Siska dari lukanya.
"Aku akan berangkat kerja, ada apa? apa kamu berkelahi dengan seseorang?"
"Tidak Sis, ini hanya..," tanpa menunggu jawaban Arga, Siska masuk kembali ke dalam rumahnya dan membuat Arga terlihat bingung.
Tak lama Siska datang membawa kotak putih dan duduk di kursi halaman rumahnya.
"Duduklah akan aku obati," pinta Siska sembari membuka kotak peralatan medisnya.
Arga menuruti permintaan Siska dan berjalan menuju kursi yang ada di sebelah Siska itu.
"Bagaimana dengan kondisi Raeviga sekarang?" pertanyaan Siska itu sontak membuat Arga teringat tentang kejadian beberapa jam yang lalu bersama Dava.
"Rae...,Raeviga pergi. Dava tidak tau dimana keberadaan dia sekarang,"
Siska melihat kearah wajah Arga mencari kebenaran dari pernyataannya itu. Kapas di tangannya terjatuh begitu saja saat mengobati luka di wajah Arga. Ucapan Arga membuat Siska terguncang.
Raeviga pergi? kenapa dia pergi? Apa semua ini berhubungan dengan kegugurannya? Kemana Raeviga pergi. Tidak, aku tidak bisa diam saja.
"Sis, kamu tidak apa kan?" tanya Arga yang melihat Siska hanya terdiam termanggu.
Siska teringat dengan pernyataan Arga kemarin malam. Pernyataan jika Arga lah penyebab Raeviga kehilangan bayinya.
Ini semua karena aku Sis. Jika saja aku tidak bertemu dengan Raeviga hari ini, kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Aku telah menyebabkan masalah.
__ADS_1
"Apa semua ini ada keterlibatannya denganku? Apa kamu telah melakukan sesuatu yang buruk pada Rae?" pertanyaan itu membuat Arga terdiam. Arga melihat kemarahan dan kekecewaan di wajah Siska.
"Sis, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi ku mohon jangan menatapku seperti itu. Aku tidak bermaksud melakukannya," Arga menyentuh tangan Siska dan memohon kepada wanita itu untuk bisa mengerti dirinya.
Siska menampik tangan Arga yang menyentuh pergelangan tangannya. "Jelaskan semuanya Arga. Apa yang terjadi? kenapa Rae bisa keguguran?"
"Pagi itu, aku memiliki janji untuk bertemu dengan Raeviga. Tapi, entah sejak kapan Dava tahu rencana pertemuan kami. Dia datang dan membuat keributan, lalu dia.. pukulannya tanpa sengaja mengenai perut Raeviga. Tapi percayalah, aku tidak sengaja menyebabkan permasalahan ini," Arga menggenggam tangan Siska erat dan meminta wanita itu untuk mempercayainya.
Kedua mata Siska tak lepas dari wajah Arga yang terlihat cemas. Siska terlihat memikirkan sesuatu.
"Kenapa Dava bisa marah padamu hanya karena kamu bertemu dengan Rae? apa yang terjadi sebelum itu?"
Arga memandangi Siska. Ia tak berharap Siska akan mempertanyakan hal itu kepadanya. Permasalahannya dengan Raeviga adalah masa lalu yang tak ingin Siska mengetahuinya.
"Arga, kamu belum menjawab pertanyaanku?"
"Sis, itu hanya masa lalu. Dava hanya salah paham kepadaku,"
"Salah paham tentang apa? permasalahan apa sehingga bisa membuat kekacauan sebesar ini?"
"Raeviga adalah cinta pertamaku. Aku menyukainya sejak dulu. Saat itu,saat mengetahui kabar tentang perjodohan Raeviga dan Dava aku merasa marah. Aku akan melakukan perbuatan yang tak pantas kepadanya...,"
Siska perlahan melepaskan telapak tangannya dari Arga. Siska terperangah mendengar pernyataan Arga. Pernyataan tentang kisah cinta dan perasaannya yang telah ada untuk orang lain, dan orang itu adalah sahabatnya sendiri, Raeviga.
Menyadari keterkejutannya, Arga mencoba membujuk Siska untuk kembali mendengarkan penjelasannya. "Sis, tenanglah. Ini hanya masa lalu. Tapi saat ini, saat ini aku hanya mencintai seseorang yang tak lain adalah..."
"Cukup Arga, aku tidak ingin mendengar apapun lagi. Pergilah, aku sudah mengobati lukamu dan ku harap kamu tidak lagi menemuiku," Siska berdiri dari duduknya dan akan melangkah pergi.
"Sis, kenapa kamu seperti ini? bukankah hubungan kita telah membaik? kenapa harus seperti ini lagi? itulah kenapa aku tidak ingin menjelaskan hal ini kepadamu. Kamu juga akan salah paham seperti Dava,"
Siska tak menghiraukan perkataan Arga dan akan masuk ke dalam rumahnya. Namun Arga dengna cepat menyangga pintu itu dengan tangannya.
"Sis, dengarkan aku dulu. Saat ini perasaan itu sudah tidak ada lagi. Sekarang aku hanya ingin bersamamu. Beri aku kesempatan, karena aku sangat yakin jika perasaan ini hanya ada untuk kamu,"
"Kamu berbohong Arga, bagaimana bisa perasaan cinta yang baru bisa datang secepat itu. Sekarang aku yakin, jika kamu hanya peduli dengan bayi yang aku kandung. Tapi tak ada sedikitpun rasa cintamu untukku."
__ADS_1
"Kamu salah Sis, aku sangat mengkhawatirkan kamu. Aku sangat peduli denganmu. Apakah itu tidak di sebut dengan cinta?"
Siska memandangi Arga lama. Perasaannya sedikit terluka mengetahui kebenaran yang baru di dengarnya.
"Arga, mungkin kamu tidak tau. Tapi aku sudah pernah merasakannya. Tidak mudah menghilangkan perasaan cinta dari seseorang yang pernah mengisi hatimu. Aku tau benar perasaan itu akan terus ada dan akan tetap menetap dihatimu. Lalu untuk apa kehadiranku? bukankah sudah tidak ada tempat untukku?"
"Sis, dengarkan aku dulu," Arga memaksa masuk melewati celah pintu yang di tahannya.
Pintu terbuka, Arga meraih kedua tangan Siska dan memeluknya paksa.
"Apa yang kamu lakukan? lepasin aku, kamu selalu saja egois Arga. Kamu selalu memaksakan keinginan kamu sendiri,"
Namun Arga tidak memperdulikan perkataan Siska. Pria itu hanya ingin Siska tahu jika perasaannya hanya berdetak untuk seorang wanita yang ada dalam pelukannya saat ini.
"Lepaskan atau aku akan berteriak,"
"Terserah apa yang akan kamu lakukan." Arga memeluknya semakin erat.
Tak lama Siska terdiam. Merasakan detakan jantung Arga yang berpacu tak berirama sama seperti dirinya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? apa kamu sudah mendengar bagaimana gugup dan takutnya aku jika kamu meninggalkanku Sis. Seperti inilah perasaanku selama beberapa Minggu ini. Aku tidak tau apakah cinta pertama bisa sepenuhnya hilang atau tidak. Tapi yang ku tahu seperti ini lah perasaanku. Aku merasa takut,gugup, khawatir dan merindu hanya pada satu orang..., dan itu kamu Sis,"
Arga membelai lembut wajah Siska dan mendekatkan wajahnya kearah wanita itu. Tak lama ciuman hangat menyentuh dahi Siska lama.
"Aku sangat ingin bersamamu. Memulai hidup kita yang baru. Membuka lembaran baru di kehidupan kita bersama-sama. Mau kah kamu menjalani itu semua bersamaku?" Arga mengulurkan tangannya di depan Siska dan menunggu jawaban dari wanita itu.
Siska memandangi Arga. Sudut bibirnya terangkat, dan Arga menunggu dengan tidak sabar jawaban dari seorang wanita yang kini dalam pelukannya.
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
__ADS_1
Instagram : @ilyuaml1