FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#26 : BOS SANG PENOLONG


__ADS_3

"Bukankah seharusnya kamu merasakan sakitnya di lecehkan?" sedetik setelah mengatakan kalimat itu, Erwin mendaratkan bibirnya pada leher jenjang Siska dan mencium paksa bibir gadis itu.


Siska mencoba melepaskan cengkraman tangannya dari tangan kekar Erwin. Namun sia-sia saja tangann pria itu lebih dari kuat darinya.


"Erwin, ku mohon biarkan aku pergi."


"ku mohon biarkan aku pergi"


"Jangan lakukan itu, ku mohon!"


Episode Sebelumnya


Siska mendorong tubuh Erwin menjauh dengan lengannya. Gadis itu menampar wajah Erwin sangat kuat.


"Ayahku mungkin bersalah, tapi kamu tak seharusnya membalas dendam ini kepadaku.." teriaknya sembari mengusap wajahnya yang basah oleh air mata.


"Ternyata kamu tipe wanita yang bisa bermain kasar juga.." ucap Erwin, tangannya masih menyentuh pipi kirinya yang telah di tampar oleh Siska. Terlihat bekas memerah di wajahnya.


Erwin meraih tubuh Siska dan merengkuhnya. Ia membawa paksa Siska untuk duduk diatas tempat tidurnya.


"Berhentilah berteriak! jangan membuatku hilang kesabaran.." gertaknya, Tubuh Erwin mengunci Siska yang sudah terbaring di atas tempat tidur. Kedua tangan gadis itu di cengkram erat oleh Erwin.


"Berhentilah berteriak! atau aku akan benar-benar keluar dari batasanku" ancamnya lagi.


"Kamu Gila! pengecut! kamu hanya bisa meluapkan kemarahanmu pada orang yang lemah!" Kedua sorot matanya menatap tajam kearah Erwin dengan air mata yang masih membasahi wajahnya.


"Pengecut? Ayahmu lah yang pengecut!" geramnya dan mencium kasar bibir Siska.


Gadis itu meronta melepaskan tubuhnya. Seolah terkunci dengan tubuh Erwin yang menahannya, Siska mengigit bibir Erwin keras sehingga membuat pria itu merintih kesakitan.


"Awww!!" rintihnya dan melepaskan genggamannya dari lengan Siska. Seolah memiliki kesempatan untuk menjauh, Siska mendorong tubuh Erwin dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Erwin mengejar Siska, namun pria itu gagal mendapatkannya. Siska telah mengunci kamar mandinya dan mengambil ponsel dari tas slempang yang masih melekat di tubuhnya.


Ia menelpon Raeviga namun tak ada jawaban dari sahabatnya itu. Erwin mengetuk pintu kamar mandi dengan keras membuat Siska ketakutan.


"Buka pintunya Siska, jika tak ingin aku berbuat kasar padamu setelah ini!"


Siska tak menjawab ucapan pria itu. Ia mengalihkan panggilan teleponnya ke nomor Arga. Nomor itu terhubung namun belum ada jawaban dari Arga.


"Krekkk" pintu kamar mandi terbuka dan Siska sedikit terdorong karena bersandar pada pintu. Ponselnya terlempar saat ia jatuh teduduk.


"Kenapa kamu membuatku semakin marah!" Erwin menghampiri Siska yang menghindar darinya.


"Halo.." seru seseorang dari balik telepon Siska yang tergeletak di lantai kamar mandi.


Siska menyadari suara Arga, begitu pula dengan Erwin yang menoleh kearah sumber suara.

__ADS_1


"Pak Arga tolong saya. Saya bersama Erwin.." Dia.." belum selesai Siska berbicara, ponsel itu terputus. Erwin merusak ponsel itu dengan kakinya dan menatap tajam pada Siska.


"Sial!"


Erwin meraih tubuh Siska dan membawa gadis itu ke atas tempat tidurnya.


****


Saat itu Arga dalam perjalanan menuju tempat tinggal Raeviga. Namun telepon dari Siska yang tiba-tiba dan nampak ketakutan itu membuat Arga memutar kemudinya.


"Apa yang terjadi dengannya?"


"Kenapa dia meminta tolong kepadaku? Tempat Erwin? apa dia bersama Erwin?" pikirnya bingung.


Dalam perjalanan menuju Apartemen Erwin, Arga berusaha menelpon kembali Siska namun panggilan itu sudah tidak aktif lagi. Ia mencoba menghubungi Erwin namun pria itu mengubrisnya.


"Apa yang terjadi dengannya.." keluh Arga sambil menaikkan kecepatan mobilnya.


Siska berada di bawah tubuh Erwin. Gadis itu mengalihkan wajahnya saat Erwin menyentuhnya.


"Bisakah kamu tak melakukan ini?" pinta Siska dengan mata berkaca-kaca.


"Lalu mengapa ayahmu dulu melakukan ini pada mamaku" Erwin semakin keras menekan pergelangan tangan Siska membuat gadis itu kesakitan.


Arga menelpon orang kepercayaannya untuk mencari tau masalah yang terjadi di Apartemen Erwin.


Berselang beberapa menit, Arga mendapatkan sebuah telepon dari orang suruhannya.


"Sekitar dua jam yang lalu, Erwin bersama dengan seorang wanita dan masuk ke dalam Apartemennya. Tidak ada rekaman lain yang memperlihatkan mereka keluar dari Apartemen, kemungkinan besar gadis itu masih bersama Erwin di dalam Apartemen." paparnya dengan rinci.


Arga mengerutkan keningnya dan nampak gelisah.


"Pergilah menuju tempat Erwin. Berpura-puralah menjadi petugas atau apapun itu.." pintanya dengan tegas. Tak menunggu lama, Pria suruhan Arga memberikan sinyal kearah petugas keamanan untuk bekerja sama dengannya.


Siska memberontak melepaskan cengkraman tangan Erwin yang kuat di lengannya.


"Kamu telah melampaui batas, Siska.." gerutunya sambil mencium bibir Siska kasar dan mencoba membuka dress yang di pakai oleh gadis itu.


"Erwin, kamu gila! lepasin.." Siska membenturkan kepalanya ke wajah Erwin saat pria itu akan menciumnya lagi. Erwin menyentuh wajahnya yang terlihat memar di sekitar hidungnya. Salah satu lengan Siska terlepas dari genggaman Erwin, gadis itu melemparkan sebuah bingkai foto kecil ke arah Erwin hingga mengenai kepala pria itu.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Erwin yang menatap geram pada Siska. Gadis itu akan berlari menjauh namun tangan kekar Erwin lebih dulu mencengkramnya sangat kuat.


"Tok..tok.. ini layanan petugas apartemen..." seru seseorang yang berada di balik pintu apartemen.


"Kamu tidak akan bisa lepas.." Erwin menarik paksa pakaian Siska hingga membuat lengan Dress itu sobek. Siska berlari kearah pintu Apartemen namun pintu itu terkunci. Ia mengetuk pintu dengan keras beberapa kali.


"Tolong aku!"

__ADS_1


Siska berharap pria di balik pintu itu bisa mendengarnya namun Erwin mendorong tubuh Siska ke arah dinding dan berdiri sangat dekat di depannya. Erwin mencium leher jenjang Siska dan mulai melepaskan resleting Dress gadis itu. Namun berselang beberapa detik pintu Apartemen Erwin terbuka paksa.


Terlihat 2 orang pria masuk ke dalam Apartemennya. Salah satu dari pria itu adalah Arga yang dengan cepat memukul wajah Erwin dan menjauhkan pria itu dari Siska.


"Apa yang kalian lakukan? kalian telah melanggar privasi orang!" ucap Erwin di bawah cengkraman Arga.


"Kau bilang melanggar privasi? kamu telah melakukan pelecehan padanya.." tunjuk Arga pada Siska yang tertuduk dan menutupi tubuhnya yang sedikit terbuka dengan tangannya.


"Bawa dia ke kantor polisi.." pinta Arga pada salah satu pria yang sejak tadi berdiri tak jauh dari Arga. Erwin tertawa merendahkan.


"Kau akan memebawaku ke polisi? kau tak liat jika aku adalah temanmu,Ga? kamu lebih membelanya?" keluhnya menatap tajam pada Arga.


"Jika kau temanku.. kau tidak akan melakukan ini.." Arga membuka jas yang di pakainya untuk menutupi tubuh Siska yang terbuka di bagian lengan dan punggungnya.


"Orangtuanya lah yang membuat ibuku menderita. Seharusnya kamu membiarkanku membalasnya.." teriak frustasi.


"Kau gila! cepat bawa dia!" pinta Arga lagi.


"Tidak.. ti..dak pak Arga. Jangan membawanya ke kantor polisi. Aku hanya ingin pergi dari sini.." ucap Siska dengan nada yang masih gemetar ketakutan.


"Tapi dia.." Arga akan membantah ucapan Siska namun gadis itu menatapnya memohon.


"Bawa aku pergi dari sini.."


Arga mengiyakan pasrah permintaan Siska.


"Aku akan terus mengawasimu. Jika kamu masih berani menyentuhnya, bukan hanya hukum yang menyeretmu tapi tanganku juga yang akan membawamu kesana.."


Arga membopong Siska ala bridal style tanpa mendengarkan lebih dulu persetujuan gadis itu.


"Pak Arga, saya masih mampu buat jalan. Saya tidak nyaman dengan ini.." ucap gadis itu lirih setelah keluar dari ruangan Apartemen Erwin.


"Kamu diam saja. Apa kamu ingin menjadi tontonan dengan kondisimu seperti ini.."


"Tapi..."


"Diam saja atau aku akan meninggalkanmu disini..." peringatan Arga itu membuat Siska bungkam dan tak lagi bersuara. Sekilas, Arga menatap iba pada gadis yang dalam pelukannya saat ini.


BERSAMBUNG


Hai Readers,


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


Terima kasih,

__ADS_1


Happy Reading Gaes


__ADS_2