
Sedangkan wanita itu membulatkan kedua matanya bingung mendengar pernyataan Arga. Namun beberapa saat kemudian dia menyunggingkan bibirnya menyadari tentang sikap Arga yang sejak tadi terlihat kesal kepadanya.
Dasar, Jadi dia cemburu? kenapa dia harus cemburu dengan saudara sendiri?
EPISODE SEBELUMNYA
Arga dan Siska telah berada di dalam mobil. Sejak pengakuan Arga tentang perasaan yang merasa tidak nyaman dengan kedekatan kekasihnya dan Dava, pria itu kini diam tak mengatakan apapun. Suasana di dalam mobil juga terlihat hening, tak satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan.
Sebenarnya Siska ingin sekali berbicara dengan Arga saat ini. Namun ia mengurungkannya saat melihat raut wajah Arga yang masih terlihat kesal.
Lebih baik aku diam saja, jika tidak dia akan marah-marah lagi. Lagi pula kenapa dia harus cemburu dengan Dava? kenapa dia bisa berpikir sejauh itu, dasar pria aneh.
Sesekali Arga mencuri tatap lewat kaca spion mobilnya. Ia tidak nyaman dengan Siska yang hanya bungkam tanpa berbicara apapun padanya.
Bahkan setelah aku mengutarakan perasaan cemburuku, dia tidak mengatakan apapun. Bagaimana dia tidak peka sekali, Menyebalkan. Seharusnya dia berusaha membujukku.
Siska memicingkan matanya saat mobil Arga melaju bukan ke tempat tinggalnya. Jalanan yang ia lewati berlawanan arah dengan rumah kontrakannya yang baru.
"Arga, kenapa kita pergi? bukankah kamu ingin mengantarku pulang?"
Arga menoleh sekilas kearah wanita di sampingnya. "Tentu saja, ini juga arah pulang,"
"Tapi arah rumahku bukan lewat sini,"
Siska menyadari sesuatu. Jalanan yang ia lewati juga tidak asing untuknya.
Bukankah ini jalan menuju rumahnya Arga? seharusnya dia mengantarku lebih dulu. Kenapa dia memilih pergi ke rumahnya?
"Ini jalanan rumah kamu kan? kenapa tidak mengantarku pulang dulu. Kan jadi bolak-balik nantinya,"
"Kenapa bolak-balik? kita kan tinggal bersama. Dasar aneh,"
Siska berdecak kesal. Kedua matanya membulat sempurna. "Kamu yang aneh. Ingat ya, sebelum kita menikah, aku tidak akan menginap di rumah mu. Apapun alasannya. Antarkan aku pulang ke kontrakan ku!"
__ADS_1
Arga menepikan mobilnya di sisi jalan. Ia melepaskan sabuk pengamannya sehingga bisa leluasa menghadap kearah Siska. "Jadi kamu tidak ingin tinggal bersamaku?"
"Tidak," Jawab Siska tegas.
"Benarkah?" Arga semakin mencondongkan wajahnya menggoda Siska. Wanita itu semakin menghindari tubuh Arga yang semakin dekat dengannya.
"Ap..Apa? apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Siska gugup saat tangan Arga semakin berani merengkuh pinggangnya dengan tatapan yang penuh minat. Napas Siska seakan tersekat tak mampu mengatakan apapun. Sekujur tubuhnya menegang saat tangan Arga telah menyentuh perutnya dan akan terus naik keatas.
Siska menghentikan tangan Arga saat jari-jari pria itu semakin naik ke area dadanya. "Jangan lakukan itu, tolong. Jangan membuat harga diriku semakin rendah dengan melakukan hal seperti ini sekarang."
Mendengar perkataan Siska membuat Arga dengan cepat menyingkirkan tangan nakalnya dari tubuh Siska. Walaupun ia enggan untuk menjauhkan tangannya dari tubuh Siska saat hasratnya lagi-lagi harus ia tunda.
"Maaf, aku tidak bermaksud merendahkan. Aku hanya..," Arga tak lagi meneruskan ucapannya saat melihat raut wajah Siska yang terlihat murung.
"Harga diriku adalah identitas orangtuaku Arga. Bagaimana cara orangtuaku mendidik, di sanalah letak harga diri mereka. Jika aku melakukan hal di luar ajaran mereka, bukankah di atas sana mereka melihatku dengan sedih? saat kamu mengambil kesucian dengan paksa, sebagian harga diriku telah hancur. Jika sekarang kamu..-"
Arga menarik Siska dan membenamkan wajah wanita itu dalam pelukannya. "Maaf, maafkan aku. Aku tidak ingin membela diriku karena aku tau aku salah. Seharusnya dulu aku tidak melakukan hal itu," Arga mencium dahi Siska dan semakin mempererat pelukannya.
Arga memegang bahu Siska dan sedikit menjauhkan wanita itu dari dirinya saat merasakan bajunya yang terasa basah.
Arga menghapus air mata yang telah membasahi wajah kekasihnya itu. "Mulai sekarang aku akan berusaha menahannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Tenanglah, aku tidak ingin melihatmu sedih seperti ini. Nanti anak kita juga ikutan sedih kan?"
Siska merapatkan senyumnya mencoba menahan senyuman yang mungkin akan terlepas dari bibirnya. Mendengar perkataan Arga membuat Siska tak tahan untuk tidak menertawainya.
Arga menyingkirkan tubuhnya yang berada dekat dengan Siska dan kembali ke tempat duduknya semula. "Aku akan mengantarmu pulang ke rumah kontrakan kamu,"
Siska mengangguk lirih. Arga memutar kemudinya berbalik arah. Siska memandangi Arga yang terlihat fokus dengan kemudinya. Ia meraih salah satu tangan Arga yang berada di stir mobil dan menggenggamnya. Sesekali ia memainkan jemari Arga agar pria itu merasa lebih baik.
Arga menoleh kearah Siska sejenak. Ia mengalihkan perhatiannya saat mobil berhenti karena lampu lalu lintas yang berubah warna.
"Jika melakukan itu. Kamu akan memancingku bersikap liar," kedua sorot mata Arga menunjuk kearah tangan Siska yang terlihat nyaman memainkan jemarinya.
"Apa yang aku lakukan? aku hanya memegangnya? apa aku tidak boleh melakukannya?"
__ADS_1
"Kamu tidak hanya memegangnya tapi juga menggelitiknya. Jika kamu bersikap seperti ini, mungkin saja aku tidak bisa menahannya lagi,"
"Benarkah? aku tidak melakukannya. Aku hanya memegangnya," Siska mengangkat tangan keduanya yang saling bertautan dan menunjukkannya pada Arga untuk dia lihat.
Siska melepaskan tangan Arga dari genggamannya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Apa?" jawab Arga tanpa menatap kearah Siska.
"Seberapa besar kamu mencintaiku?"
Arga terdiam mendengar pertanyaan Siska. Bukan karena ia mencintainya dengan tulus, melainkan ia tidak tahu seberapa banyak cinta itu jika di tuliskan dalam sebuah angka.
Cintanya pada Siska telah menjadi candu untuknya. Wajah kekasihnya itu terus saja menjadi keinginannya setiap pagi dan malam untuk ia lihat. Suara dan senyum Siska selalu menghiasi pikirannya setiap hari. Bahkan apapun yang ada pada diri Siska, ia ingin hanya dirinya yang memilikinya. Kecantikannya, senyumnya, perhatiannya ia ingin hanya dia yang bisa memiliki semua itu.
"Entahlah, aku tidak bisa menghitungnya. Yang ku tahu, aku hanya menginginkan satu wanita yang setiap harinya menjadi beban dalam pikirannya. Yang menjadi candu ku untuk bisa memilikinya. Dan sekarang, wanita itu mempertanyakan banyaknya cinta yang aku miliki untuknya,"
Siska memandanginya dengan senyum yang tercetak di bibirnya. Entah sejak kapan senyum itu telah menghiasi wajahnya.
"Sudah sampai," seru Arga kemudian saat mobil berhenti tepat di halaman kontrakan rumah Siska.
"Jika kamu sangat mencintaiku, kenapa kamu tidak segera menikahi ku? Apa kamu ingin kita tetap hidup dengan hubungan seperti ini?" gumam Siska dalam hati dengan tatapannya yang kini saling mengunci satu sama lain.
"Aku ingin menikahi mu. Sangat ingin menikah hanya dengan mu. Bahkan saat ini aku bisa saja menikahi mu Sis. Tapi aku tidak melakukannya, karena aku ingin membuat hari terbaik dalam kita itu menjadi moment yang sangat spesial. Aku ingin memberikan pernikahan terbaik untuk kamu, dan saat ini persiapan itu telah mencapai proses akhir. Tunggulah, pria mu ini akan segera menghalalkan mu," sahut Arga tanpa bersuara.
Seakan saat ini keduanya tengah berbicara tanpa berucap. Hanya kedua hati yang menyatu menjawab setiap kata yang terucap tanpa suara.
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
__ADS_1
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1