
Siska tak bisa lagi melanjutkan ucapannya, bibir Arga sudah membungkam mulutnya dengan ciuman hangat yang sangat di nantinya sejak tadi. Siska memejamkan kedua matanya saat merasakan ciuman Arga semakin menuntut namun tetap terkendali.
"Apa ini artinya dia sudah tidak marah padaku?"
EPISODE SEBELUMNYA
Arga melepaskan ciumannya saat jari Siska menghalanginya saat bibirnya akan turun ke leher jenjang milik Siska.
"Lanjutkan ini nanti, jika kamu masih menginginkan lebih dari ini maka kamu harus makan malam terlebih dulu sekarang," ucap Siska dengan postur tubuhnya yang mencoba mengancam Arga dengan kata-katanya.
Arga mendesis kesal. Ia baru menyadari jika istrinya ini sangat cerdik dalam merencanakan sesuatu. Siska bahkan dengan mudahnya membalikkan keadaan untuk membuat Arga mengikuti ucapannya. Ancaman di atas ranjang itu sungguh menyiksa Arga. Bagaimana mungkin ia bisa menahan nafsu birahinya dari tubuh istrinya.
"Omong kosong, bagaimana mungkin aku bisa menahan hasrat ku padanya. Wanita ini benar-benar membuatku tidak bisa berkutik,"
Siska menaikkan salah satu alisnya dengan wajahnya yang penuh keseriusan. "Bagaimana? kamu masih tidak ingin pergi ke meja makan sekarang?"
"Untuk apa kamu berusaha mendekatkan ku dengannya? dia wanita yang telah merusak keluarga ku," decaknya kesal, Arga terlihat masih enggan untuk bertemu dengan Laili.
"Jadi jawabanmu tidak? baiklah, tidak ada jatah ranjang untukmu, dan jangan juga untuk mengajakku berbicara, aku tidak ingin melihatmu," Siska berjalan pergi meninggalkan kamar tidurnya dan melangkah pergi menuju meja makan.
Siska melihat Laili duduk di salah satu kursi di meja makan dengan raut wajahnya yang terlihat gelisah. Laili berdiri dari duduknya saat melihat Siska menghampirinya.
"Bagaimana dengan Arga? apa dia masih marah? "
Siska terlihat bungkam. Ia merasa gagal untuk membujuk Arga datang makan malam bersama mereka. Siska melihat wajah Laili yang terlihat cemas, hal itu semakin membuatnya merasa sedih.
"Maaf Ma, Arga....," ucapan Siska seketika terhenti saat mendengar suara Laili yang menyerukan nama anak tirinya itu.
Siska membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat Arga yang telah berdiri tak jauh darinya. "Aku lapar," ucap Arga singkat.
Tanpa melihat kearah Laili, pria itu duduk di kursi yang biasanya ia tempati. Siska tersenyum memperhatikan Arga diam-diam.
__ADS_1
Ternyata ancaman ku padanya berhasil. Mana biasa dia tahan tanpa menyentuhku sama sekali.
"Ayo ma duduk," ajak Siska pada Laili yang masih berdiri melihat kearah Arga. Sebuah senyuman kecil mengulas di bibir Laili, ia masih tak percaya jika Arga datang makan malam dengannya.
"Mama berharap kemarahan mu padaku bisa cepat berlalu, Arga. Aku menyayangi mu sama seperti Mama menyayangi Dava," gumam Laili sendiri sebelum bergabung di meja makan.
"Kamu harus mencicipi ini," Siska meletakkan pepes tahu kesukaan Arga di piring suaminya.
Laili yang duduk di depan Arga terlihat memperhatikan anak tirinya yang menikmati pepes tahu buatannya. "Dia masih saja menyukai makanan sederhana ini,"
"Ma, dimana Dava? kenapa dia belum datang?" tanya Siska saat menyadari jam makan malam telah lewat beberapa menit.
"Sepertinya Dava ada urusan penting. Lain kali dia pasti bisa datang," jawab Laili sembari melepaskan kulit pisang yang masih melilit tahu putih yang telah di bumbui itu.
"Ini Arga makanlah, Mama sudah mengupasnya," Laili meletakkan sepiring pepes tahu di depan Arga. Siska tersenyum melihat Laili yang memperhatikan Suaminya.
"Tidak perlu," Arga menggeser piring itu menjauh darinya. Laili tersenyum samar, raut wajahnya seketika terlihat sedih. Namun ia berusaha menyembunyikan kesedihan itu dengan senyuman kecil yang di paksakan.
"Kamu tuh..," Siska menghentikan ucapannya saat mendengar ketukan di pintu rumahnya.
Siska mengalihkan tatapannya kearah pintu rumah yang masih tertutup rapat. Begitu pula dengan Arga dan Laili yang menoleh bersamaan.
"Bi Minah ada tamu," panggil Siska pada pelayan rumahnya.
"Biar Mama aja yang buka pintunya,"
"Tidak perlu Ma, Bi Minah pasti sudah membuka pintunya," ucap Siska menahannya.
Tak lama seorang pria berjalan mendekati meja makan dengan langkah yang ragu-ragu.
"Nona Siska ini tuan Dava yang datang," jelas Bi Minah yang berdiri di samping Dava dengan wajahnya yang tertunduk sedikit.
__ADS_1
Siska terlihat senang dengan kedatangan adik iparnya itu. Ia meletakkan piring kosong di meja makan yang masih memiliki banyak ruang kosong. "Dava Kemari lah, makan bersama kita," ajak Siska pada sosok pria yang kini terlihat kurus dan wajahnya yang kusut.
Siska tau benar penyebab Dava menjadi tak bersemangat seperti saat ini. Hanya satu wanita yang telah membuat hidup pria itu terlihat menyedihkan. Raeviga, istri dari Dava yang pergi meninggalkan pria itu entah kemana.
"Ayo Dava kemari lah," pinta Siska sekali lagi. Ia meletakkan nasi secukupnya di piring yang akan di sajikan untuk Dava.
Arga menarik pelan tangan Siska yang terlihat perhatian pada saudara tirinya itu. "Kenapa kamu sangat peduli dengannya? biarkan saja, dia sudah benar. Apa perlu kamu mengurusnya seperti itu." bisik Arga tepat di telinga Siska membuat wanita itu merasa geli di buatnya.
"Apa salahnya? dia juga saudaraku kan?" ungkap Siska tak mempedulikan raut wajah Arga yang terlihat tak senang.
"Terima kasih sudah mengajakku makan malam bersama," ucap Dava sesaat setelah duduk di kursi di samping Laili, kedua sorot mata lesu Dava beralih menatap Arga yang saat itu juga melihatnya. Sejenak adik kakak itu beradu pandang tanpa mengatakan apapun.
"Apa kamu sudah menemukan kabar tentang Rae?" tanya Arga memecah keheningan di antara mereka. Mendengar nama Raeviga, seketika membuat Siska mengalihkan pandangannya juga pada Dava. Ia juga menunggu jawaban dari bibir Dava yang masih terbungkam rapat.
Dava menggelengkan kepalanya lirih. Gerakan itu telah menjelaskan jawaban Dava tanpa perlu menambahkan kalimat apapun. "Raeviga pasti tidak akan jauh. Aku yakin suatu saat dia akan kembali atau mungkin nanti kita akan menemukannya. Apa kamu sudah menghubungi detektif yang aku sarankan beberapa waktu yang lalu?"
"Tidak, aku tidak ingin menghubunginya. Aku sudah lelah untuk mencari. Aku tidak ingin mencarinya lagi. Polisi bahkan tidak menemukan jejak apapun. Mungkin dia memang sengaja untuk pergi,"
"Kenapa kamu berkata seperti itu? ini sama halnya kamu menyerah untuk menjaga hubungan kalian tetap utuh. Lalu bagaimana dengan Raeviga? bagaimana kamu sangat yakin jika Raeviga baik-baik saja di luar sana. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? kamu suaminya, kenapa kamu sangat mudah mengatakan itu," tandasnya dengan raut wajahnya yang terlihat marah. Ia tak melepaskan tatapannya dari Dava hanya kini hanya diam tanpa melihat kearahnya.
Arga meraih telapak tangan Siska dan menggenggamnya."Tenang Sis. Jangan marah seperti ini, ingat kamu sedang ham..,"
"Kenapa? apa kamu juga membenarkan ucapan Dava? apa kamu menyetujui apa yang dia katakan? semua pria itu sama aja, pikirannya terlalu munafik. Mereka hanya pandai berkelakar, tapi bodoh dalam bertindak," Siska melepaskan tangan Arga yang mengenggam tangannya dan pergi meninggalkan meja makan.
"Sayang,"
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
__ADS_1