FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#95 : ENDING [EXTRA PART]


__ADS_3

[JAHAT NIH KALIAN, GAK ADA MAU VOTE. YUK VOTE DULU DAN LIKE JUGA YA, NTAR BACANYA DI LANJUT LAGI]



"Arga, bantuin jaga Angela dulu dong. Aku ngantuk, dari kemarin aku tidur cuma sebentar. Kamu gak perhatian banget sih!" keluh Siska yang membaringkan tubuhnya di atas tidur dan menggoyangkan tubuh Arga yang sudah tertidur lelap.


Suara tangisan bayi mereka di malam hari membuat suasana kamar yang sebelumnya hening menjadi berisik. Namun Arga terlihat masih tertidur pulas tanpa menghiraukan seruan Siska sedari tadi. Wanita itu beranjak turun dari tempat tidurnya dan menggendong bayi perempuannya itu untuk menenangkannya.


"Semua pria sama saja. Walaupun istrinya lelah, dia sama sekali gak peduli," gerutu Siska.


"Angela sayang, tidur ya Nak. Ini masih malam," ucapnya sambil menepuk lembut punggung Angela.


Seolah bisa mengerti apa yang di katanya Siska, tangisan bayi itu berangsur lemah dan kemudian berhenti menangis saat Siska mendekapnya penuh kasih sayang. Sejenak Siska terdiam memandangi wajah putrinya yang sudah kembali tertidur pulas. Ia tersenyum sembari mengusap lembut kulit wajah Angela yang terlihat lembut dan halus.


"Anak mama cantik, kebanggaan Mama," puji Siska pada putrinya. Wanita itu akan berjalan mendekati ranjang kecil tempat untuk Angela tidur. Namun sebuah tangan yang memeluk tubuhnya erat membuat Siska terkejut.


"Arga! lepasin dulu tangan kamu. Aku mau naruh Angela di ranjangnya," ucap Siska pada suaminya yang kini menempel di punggungnya layaknya anak kecil.


Arga meringis geli, ia melepaskan tangannya dari tubuh Siska sebelum wanita itu benar-benar marah padanya. Siska berdiri dan meletakkan Angela di ranjang kecilnya. Siska mencium kening Angela sebelum kembali ke tempat tidurnya.


Arga memperhatikan Siska yang akan kembali tidur. Tangannya kembali mendekap Siska dalam pelukan hangatnya. "Sayang, akhir-akhir ini kamu sering mengabaikan aku. Kamu sibuk dengan anak kita, lalu kapan perhatian kamu untuk aku?" Arga semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup lembut leher wanitanya. Siska mengerutkan lehernya yang merasa geli dengan kecupan yang di berikan Arga pada tubuhnya.


"Aku sibuk menjaga Angela karena kamu sama sekali tidak membantuku menjaganya. Kamu sibuk dengan urusan pekerjaanmu," ungkap Siska yang ikut meluapkan keluhannya dengan bersuara pelan. Ia takut suaranya akan membangunkan Angela lagi.


Arga menarik sudut bibirnya dan tersenyum memandangi Siska. "Maaf, kemarin pekerjaanku memang sangat banyak, sekaligus aku harus memantau pekerjaa Dava. Aku ingin menyerahkan posisiku padanya. Aku hanya ingin mengelola cabang saja."


"Apa Dava mau?"


"Awalnya memang menolak, tapi aku terus memaksanya. Setidaknya dengan kesibukan kantor, ia bisa melupakan sebentar tentang Raeviga. Aku merasa kasihan dengannya. Entah kemana Raeviga pergi."


"Aku juga, Dava sangat frustasi dengan hilangnya Raeviga. Kata Mama, Setiap hari dia selalu pergi ke Bar. Setiap malam dia selalu pulang dengan keadaan mabuk."


Arga membenarkan ucapan Siska. Ia kemudian meraih tangan Siska dan menggenggamnya. "Seperti itulah kalau seorang lelaki harus kehilangan istrinya. Jadi...," Arga tak meneruskan ucapannya, ia memandangi wajah Siska yang saat itu juga menatapnya.


"Jadi apa?" tanya Siska yang merasa sedikit kesal karena perkataan Arga yang menggantung.


"Lagipula seorang istri tidak akan pergi meninggalkan suaminya kalau suaminya tidak bertingkah," keluh Siska lagi dengan decakan kecil di bibirnya.


"Jadi jangan pernah berpikir untuk lari dari ku. Aku pasti akan mencari mu bahkan di ujung dunia sekalipun," serunya dengan nada serius tanpa mengalihkan tatapannya dari Siska.

__ADS_1


"Kekanak-kanakan sekali! tidurlah aku sudah mengantuk," Siska menggeser tubuh Arga sedikit menjauh darinya yang terlihat menempel layaknya permen karet.


Arga memperhatikan punggung Siska yang tidur membelakanginya. Arga berdecak kesal dan menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Siska.


"Ada apa? apa yang kamu lakukan?" tanya Siska sembari menoleh kearah suaminya tanpa mengubah posisi tidurnya.


"Aku tidak suka kamu tidur membelakangi ku?"


"Cerewet sekali! kadang aku juga tidur seperti ini kan? kenapa sekarang kamu banyak sekali protes. Aku lelah, aku ingin tidur," Siska menarik kembali selimut yang tersingkap di tubuhnya karena ulah Arga. Siska tau betul apa yang di inginkan suaminya sekarang. Namun bagi Siska ini bukanlah waktu yang tepat, ia merasa cukup lelah seharian mengurus Angela. Siska yakin jika ia menuruti keinginan suaminya saat ini, ia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.


Siska menutup rapat kedua kelopak matanya dan juga selimut yang membuntal tubuhnya.


"Sayang, bukankah masa nifasmu sudah berakhir? apa kamu tidak merasa melupakan sesuatu?" tanya Arga sembari membelai lembut beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Entahlah, kita bicarakan besok saja," jawab Siska tanpa membuka kedua matanya.


Arga menghela napas kesal mendengar jawaban istrinya. Ia sudah menunggu satu bulan lebih untuk bisa kembali menikmati tubuh molek istrinya. Namun malam ini keinginannya itu sepertinya harus tertunda kembali saat melihat Siska sudah tertidur pulas.


"Sial, aku semakin merindukan aroma tubuhnya," rutuknya sendiri dalam hati.


****


"Sayang, sayang. Papa disini, cup cup cup," seru Arga dengan tangannya yang kini sudah memeluk tubuh mungil Angela. Salah satu tangannya menepuk pelan punggung putrinya agar bayi itu bisa sedikit lebih tenang.


"Kamu haus ya, tunggu sebentar ya sayang," Arga meletakkan kembali Angela di ranjang kecilnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Suara Isak tangis Angela masih terdengar dan semakin keras membuat Siska terpaksa membuka kedua kelopak matanya yang nampak sulit terbuka karena rasa kantuknya yang masih menyerang.


"Bi Minah, Bi..., aku minta tolong panaskan asi di kulkas untuk Angela," pinta Arga dari anak tangga yang di pijaknya saat melihat pelayan rumahnya berdiri tak jauh darinya.


"Iya Tuan,"


"agak cepat ya Bi, Angela sudah nangis dari tadi," pinta Arga lagi sebelum kembali ke dalam kamarnya.


"Baik tuan,"


Arga kembali bergegas menuju kamarnya untuk menenangkan putri kecilnya itu namun saat langkahnya tepat di depan pintu kamar, suara Angela tidak lagi terdengar. Arga masuk ke dalam kamarnya dan melihat Siska sudah menggendongnya dan memberinya asi yang sejak tadi bayi itu minta.


Siska menoleh sejenak kearah Arga yang baru saja masuk ke dalam kamar pribadi mereka.


"Kamu dari mana?" tanya Siska pada suaminya yang kini berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Aku minta Bi Minah untuk panaskan asi dari kulkas."


"Kenapa tidak membangunkan ku saja?"


Arga menyentuh wajah Siska yang masih terlihat mengantuk dan memberikan kecupan singkat di kening istrinya.


"Aku tidak tega. Wajah kamu terlihat lelah. Maaf akhir-akhir ini aku tidak bisa membantu kamu menjaga Angela. Tapi aku janji, mulai sekarang aku akan memberikan lebih banyak waktu untuk kalian,"


"Tidak apa, aku mengerti kesibukan kamu," balas Siska menenangkan dan menatap lekat wajah suaminya yang selalu membuatnya merasa gugup saat tatapan mata keduanya bertemu.


"Angela sudah tidur lagi," Siska meletakkan Angela kembali di ranjang kecilnya sebelum berjalan mendekati Arga yang masih memperhatikan putri kecilnya yang tertidur lelap.


"Apa kamu hari ini libur bekerja," tanya Siska sembari melingkarkan tangannya di bahu kekar Arga.


"Tidak, tapi aku akan berangkat nanti siang untuk membantu pekerjaan Dava saja," jawab Arga tanpa mengabaikan gerak-gerik istrinya yang saat ini terlihat manja.


Siska memainkan kancing Piyama milik Arga dan tersenyum penuh arti memandangi suaminya.


"Kalau begitu kamu masih punya untuk 'itu' kan?" goda Siska dengan tatapan nakalnya yang membuat Arga terlihat bingung.


"Hah? 'itu' apa?" tanya Arga yang masih berusaha memahami maksud dari istrinya. Mungkin karena rasa kantuknya yang belum sepenuhnya hilang membuatnya sulit untuk memahami ucapan Siska.


Siska menghela napas dan mengerakkan kakinya lebih dekat ke tubuh Arga yang masih mematung sembari memperhatikan tingkah laku Siska yang nampak berbeda dari biasanya.


"Untuk ini," seru Siska sebelum mendaratkan ciuman sepihak di bibir Arga yang sedikit terasa kering.


Arga yang mulai mengerti keinginan Istrinya , tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia membalas ciuman yang di berikan Siska hingga keduanya menginginkan hal yang lebih panas dan menuntut.


Arga menuntun Siska mendekati tempat tidur dengan posisi yang masih saling memeluk dan bibir yang saling bertautan.


"Apa aku bisa melakukannya sekarang? aku sudah menahan ini sejak lama," bisik Arga di telinga Siska saat keduanya sudah berada di atas tempat tidur.


Siska mengangguk lemah dan kembali meletakkan kedua tangannya di bahu suaminya. Arga melepaskan kancing piyama yang masih menutupi tubuh polos istrinya. Kini bibir Arga telah kembali menjajaki leher Siska dengan ciuman yang semakin menuntut.


Tak lama keduanya hanyut dalam kenikmatan yang sudah di tunggu sejak lama. Nafasnya yang memburu dan Keringat yang membasahi tubuhnya keduanya menjadi bukti pergumulan panas di pagi hari.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Siska,"


"Aku juga mencintaimu, suamiku,"

__ADS_1


__ADS_2