FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#23 : RASA SAKIT KARENA KEHILANGAN


__ADS_3

Siska duduk diatas sofa ruang tamunya dan membaca sebuah pesan di kertas kecil yang di letakkan diatas buket bunga itu. Raut wajah Siska berubah seketika setelah membaca pesan singkat yang ada di kertas itu.


Aku kembali sayang


Episode sebelumnya


Siska terlihat kesal membaca pesan itu. Pesan yang sangat singjat namun memberi arti besar untuknya.


"Erwin? dia kembali?" gumamnya sendiri.


Melihat buket bunga itu membuat Siska terlihat muram karena ucapan buruk Erwin tentangnya. Ucapan itu masih terekam jelas di dalam ingatannya.


"Bukankah seharusnya kamu memberikan sebuah ungkapan maaf padaku.." ucapnya sendiri sambil melihat kearah buket bunga itu.


Siska menghela napas kesal dan meninggalkan seikat bunga itu di atas meja ruang tamu. Gadis itu masuk ke dalam kamar dan menganti pakaiannya sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Berselang beberapa menit ponsel milik Siska berdering beberapa kali. Siska membalut tubuhnya dengan handuk dan berjalan keluar mengambil ponselnya yang berdering.


Tertera nama Erwin yang tengah menghubunginya sekarang. Siska hanya memandanginya dan meletakkan ponselnya kembali tanpa menerima panggilan telepon kekasihnya. Ia membiarkan ponselnya berdering hingga m tak lagi bersuara beberapa menit kemudian.


Siska telah selesai berganti baju. Namun rasa lapar di perutnya tak bisa lagi di tahan. Dia acara makan bersama tadi dia hanya menghabiskan setengah dari makanan itu. Kini perutnya meronta-ronta membutuhkan asupan yang mengenyangkan sedangkan pagi tadi ia tidak sempat menanak nasi ataupun memasak beberapa lauk.


Siska mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan berjalan keluar membeli makanan. Berjarak beberapa meter dari ia berjalan Siska melihat sebuah kedai makanan masakan padang.


"Sepertinya makanan disana enak.." gumamnya sambil berjalan kearah tempat makanan padang yang tak jauh dari kontrakannya.


"terima kasih bu" ucap Siska setelah menerima sebungkus makanan ada di tangannya.


Siska kembali berjalan menuju kontrakannya namun terlihat dari jauh sebuah mobil terparkir di depan rumahnya.


"Siapa dia?"


Setelah sampai di depan rumahnya Seorang lelaki keluar dari dalam mobilnya dan menatap lama kearah Siska.


"Erwin.."


"Apa kamu telah melupakanku,Sis? kamu bahkan tak menerima panggilan teleponku.." tanya Erwin yang mendekat kearahnya.


"Apa kamu tidak menyadari apa kesalahanmu?" tanya Siska lirih. Namun ia merasa cemas melihat Erwin yang semakin dekat kepadanya.


"Kesalahan? apa yang kuperbuat? bukankah seharusnya pertanyaan itu untuk kamu.."


Erwin melihat sorot mata ketakutan dari Siska. Ia mengalihkan pandangannya sejenak dan menyentuh lengan Siska.


"Kamu takut? apa kamu sudah melakukan kesalahan di belakangku?" tanya Erwin lagi namun Siska tak mengatakan apapun. Ia mendorong Erwin menjauh darinya dan membuka pintu rumahnya yang terkunci.

__ADS_1


"Kamu aneh. Kenapa kamu berpikir buruk tentangku. Aku tidak pernah menjalani hubungan apapun di belakangmu.." Siska membuka pintu rumahnya dan Erwin berdiri tepat di depan pintu rumah yang telah terbuka itu.


Erwin tersenyum menyeringai seolah tak mempercayai apapun perkataan yang Siska ungkapkan.


"Sudahlah kita bahas masalah ini nanti. Aku lelah, aku ingin istirahat. Tolong mengertilah.." gumamnya dengan perasaan yang teramat sedih.


Seseorang yang Siska coba percayai untuk hidup mendampingnya telah menuduhnya begitu buruk tentang dirinya.


Apa aku telah salah memilih tentang hubungan ini. Erwin tolong pergilah. Hatiku sudah teramat sakit.


"Tapi aku ingin semua ini selesai sekarang.." ucap pria itu sambil menahan lengan Siska yang akan masuk dan menutup pintu rumahnya.


"Apa lagi yang harus aku jelaskan. Aku tidak tau masalah apa yang ada di antara kita sehingga kamu menuduhku seperti itu.." pekik gadis itu frustasi.


Erwin melihat kedua mata Siska berkaca-kaca. Sedetik kemudian air mata jatuh membasahi wajah gadis itu. Pria itu menghela napas dan menutup kedua matanya sejenak mengatur emosinya yang telah membuat kekasihnya teramat sedih.


"Dialah yang telah membuat hidup mama menjadi berantakan, Erwin. Kau harus membalaskan dendam mama kepadanya. Itu adalah permintaan terakhir Mama kepadamu.." ingatan masa lalu Erwin kembali tergambar jelas di ingatannya.


Namun melihat Siska yang tertunduk sedih membuat hatinya juga terluka.


Erwin menghapus air mata yang jatuh dari kedua mata gadis itu. Ia memeluknya dan mendekapnya begitu erat.


Siska sedikit terkejut dengan perlakuan Erwin yang tiba-tiba lembut kepadanya. Ia membiarkan pria itu memeluknya.


"Kenapa kamu terus saja menuduhku. Aku sudah mengatakan padamu kalau aku tidak melakukan apapun yang melukai hubungan kita.."


"Berhentilah menangis. Tangisan itu juga menyakitiku.." Erwin menghapus kembali air mata yang jatuh di wajah gadis itu.


"Kamu mempercayaiku kan?" tanya Siska sembari memandang kearahnya.


"Lelaki itu telah membuat mama hancur. Dia telah membuat mama kehilangan anak kandungku. Kamu harus membencinya. Buat dia merasakan rasa sakit yang pernah mama alami karena orang tuanya.." ucapan dan teriakan seorang wanita terus saja terngiang di kepala Erwin. Wajah wanita itu dan raut kesedihan di wajah Siska bergilir memenuhi pikirannya.


"Erwin kendalikan dirimu" gumamnya sendiri sambil menatap kearah Siska yang menunggu jawabannya.


Erwin tak mengatakan apapun. Namun tubuhnya semakin mendekat kearah Siska dan mencium lembut bibir gadis itu. Siska nampak terkejut dengan ciuman yang di berikan Erwin.


Pria itu melihat ke wajah Siska lama. Seolah ingin mengatakan sesuatu yang sulit ia ungkapkan.


"Istirahatlah aku akan menemui kamu lagi besok.." ucap pria itu sambil menyentuh wajah kekasihnya.


"iyaa"


Setelah mendengar jawaban itu Erwin berjalan pergi menuju mobilnya.


"Siska.." panggilnya sebelum masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Hmm?"


"Jangan terlalu mempercayakan perasaanmu untuk hubungan ini. Tapi kamu harus tetap bersamaku dan berada di dekatku.." pintanya yang membuat Siska tak mengerti dengan ucapannya.


"Istirahatlah" Erwin masuk ke dalam mobilnya dan berjalan pergi meninggalkan Siska yang masih menatap kepergiannya.


"Apa terjadi sesuatu dengannya?" gumamnya sambil menatap bayangan mobil Erwin yang semakin menjauh dari pandangannya.


*****


Arga berada di ruangan kerjanya. Ia terlihat sibuk dengan berbagai laporan perusahaan. Namun konsentrasinya terpecahkan karena Raeviga sama sekali tidak membalas pesan yang ia kirimkan hingga menjelang malam.


"Dia benar-benar mengacuhkanku.."


Beberapa menit kemudian ponsel Arga berbunyi. Ia nampak senang menduga yang menghubunginya adalah Raeviga.


Namun di menit itu juga raut wajahnya berubajmh dingin melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Ada perlu apa? apa uang yang ku kirimkan minggu lalu masih kurang?" tanyanya pada wanita yang berada di seberang teleponnya.


"Arga kenapa kamu mengatakan seperti itu. Mama hanya ingin mengatakan jika minggu depan ada pesta Dava dan pengumuman tentang pertunangan adikmu.."


"Terserah kalian. Berpestalah seperti anak kecil dan tak perlu bersikap baik denganku." Arga mengakhiri panggilan teleponnya sepihak.


"Menyebalkan.." raut wajah Arga terlihat kesal. Ia melemparkan kertas-kertas yang di pegangnya dan berjalan pergi meninggalkan ruangan kerja.


BERSAMBUNG


Hai Reader, terima kasih sudah setia menunggu cerita ini. Walaupun masih banyak kekurangan, kesalahan di naskah cerita ini. Tapi ku harap kalian bisa menikmati ini dengan baik.


Semoga kalian tetap sehat.


happy reading


Yuk dukung Author dengan VOTE..VOTE.. VOTE...dan like cerita ini sebanyak mungkin.


Kritik dan saran di persilahkan ya bebi ❤


Peluk sayangku, Caramellow


Selamat beraktifitas di hari senin,pembaca unyukku ❤


Aku juga mau uts kuliah dulu. Sesuatu banget, habis nyelesain episode ini langsung ngerjain ujian kampus.


Jadi jangan lupa vote terus dan dukung author menjadi penulis yang lebih baik lagi ya

__ADS_1


Instagram : @Ilyuaml1


__ADS_2