FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#85 : ENAKNYA PUNYA ISTRI


__ADS_3

"Makanan lah yang kenyang. Karena kamu butuh tenaga lebih untuk..,"


"Diamlah," potong Siska tanpa mendengarkan kelanjutan dari ucapan Arga karena Ia tahu benar apa yang saat ini sedang suaminya pikirkan.


[EPISODE SEBELUMNYA]


Siska baru saja selesai dari dapur setelah membantu pekerjaan Bi Minah, pelayan rumah Arga yang telah bekerja lama di keluarga Dewantara. Bahkan keluarga Bi Minah telah turun temurun dari kakeknya yang menjadi pelayan setia keluarga terpandang itu.


"Kamu dari mana saja sayang?" tanya Arga saat melihat Siska masuk ke ruangan pribadi merek.


"Dari dapur.., ada apa? apa kamu membutuhkan sesuatu?" Siska berjalan menghampiri Arga yang tengah berdiri di depan cermin kaca besar di sampingnya.


"Aku hanya membutuhkan ciuman penyambut pagi saja," seru pria itu dengan tatapan mata yang tengah menggoda Siska.


"Kau ini, selalu seperti itu,"


"kamu harus terbiasa dengan ini, karena kamu telah mejadi istri ku sekarang,"


Arga menarik tangan Siska dengan lembut dan merengkuh tubuh mungil istrinya yang kini terlihat lebih berisi di kedua pipinya. Tanpa membutuhkan ijin, Arga melayangkan ciuman singkat di bibir ranum milik Siska dan di akhiri sebuah kecupan lama di dahi istrinya.


"Aku akan pulang cepat, jika kamu bosan berada di rumah kamu bisa pergi berbelanja di luar. Beli apapun yang kamu mau," Arga mengambil sebuah dompet di saku celananya dan memberikan kartu kreditnya pada Siska.


Senyum Siska seketika mengembang lebar, ia mengambil kartu gesek itu dari tangan Arga dengan senang hati. Ia memandangi sejenak kartu kredit platinum seakan memikirkan sesuatu. Sikap Siska yang tiba-tiba terlihat murung itu tak lepas dari perhatian Arga.


"Ada apa sayang? kenapa kamu jadi sedih?" Arga meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Siska.


Siska menggelengkan kepalanya lemah. "Aku hanya memikirkan tentang Raeviga. Jika dia ada, pasti aku akan berbelanja dengannya. Aku kasihan dengan Dava, dia pasti cemas mencari keberadaan Raeviga sekarang,"


Arga menarik Siska dalam pelukannya. Salah satu tangannya membelai lembut rambut Siska dengan sayang. "Jangan sedih seperti ini, nanti bayi kita ikutan sedih. Raeviga pasti akan kembali. Kita harus tetap berusaha untuk mencarinya,"


"Kamu benar. Oh ya, setelah kamu pulang temani aku untuk bertemu dengan Dava ya. Aku ingin membantunya untuk mencari Raeviga,"


Arga tak langsung mengiyakan permintaan Siska itu. Ia terlihat memikirkan sesuatu yang menganggu pikirannya saat ini. Perhatian Siska pada Dava beberapa waktu yang lalu masih menjadi beban di pikiran Arga.


"Kenapa harus bertemu dengan Dava? kalau kamu ingin membantu mencarinya, kita hanya perlu pergi untuk mencarinya," jawab Arga setelah beberapa menit terakhir.

__ADS_1


"Mungkin saja Dava lebih tau kemana perginya Raeviga, Arga. Lagi pula aku melihat kondisinya beberapa waktu lalu membuatku mencemaskan dia. Dava juga tidak terlihat hadir di pernikahan kita," ucap Siska berterus terang. Ia tak memperhatikan wajah Arga yang berubah mengeras dan menatapnya tajam.


"Jika ini tentang kondisi Dava, aku sendiri yang akan menemuinya nanti. Dan jika tentang pergi mencari Raeviga. Kita bisa meminta bantuan dari beberapa pegawai khusus dari keluarga Dewantara untuk melacak keberadaan Raeviga. Lagi pula kondisi mu sedang hamil, kamu harus lebih banyak beristirahat,"


Siska menyetujui usulan Arga. Ia tak lagi mempermasalahkan mengenai Raeviga dan Dava. Pun dengan Arga yang terlihat lega karena Siska menerima usulannya. Jika tidak, maka ia harus membuat alasan lain agar Siska tak terlalu dekat dengan Saudaranya yang beda itu.


Maaf Siska, aku membuat keputusan seperti ini. Bukan karena aku tidak mengkhawatirkan keadaan Raeviga dan Dava. Tapi aku sangat tidak suka melihat kedekatan kalian seperti waktu itu. Aku tidak ingin menimbulkan masalah di hubungan baru kita ini.


"Aku harus pergi sekarang. Ini sudah sangat terlambat," kata Arga sembari melirik sekilas kearah jam kecil yang terletak di pergelangan tangannya.


Siska menahan tangan Arga yang akan melangkah pergi. Kedua tangannya ia arahkan ke kain panjang bermotif yang melingkar di kerah kemeja Suaminya.


"Dasi kamu sangat berantakan. Lihatlah," tunjuk Siska menggunakan tatapan matanya yang ia arahkan ke dada Arga.


Arga menanggapi ucapan Siska dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.


Inilah enaknya punya istri. Membantuku bersiap dan juga melayani ku dengan sangat baik di atas ranjang. Bahkan kini saat kedua matanya memandangiku, rasanya aku tak ingin pergi kemana-mana lagi. Hanya ingin memeluknya dan menciumnya sepuas ku.


"Shit! pikiran bodoh apa ini yang baru saja aku pikirkan," gumam Arga tanpa bersuara menyadari apa yang baru saja ia pikirkan beberapa detik yang lalu.


"Sudah sangat rapi." puji Siska pada suaminya.


"Aku berangkat sekarang. Jaga diri baik-baik. Jika ada apa-apa langsung hubungi aku, mengerti?"


Siska menyunggingkan bibirnya. " Iya tentu saja,"


Arga melangkah pergi dari kamarnya setelah mengambil tas kerjanya. Siska akan merapikan tempat tidurnya yang terlihat berantakan namun sebuah tarikan kecil di tangannya membuat terkejut.


"Eh,"


Arga membenamkan bibirnya dalam belahan bibir Siska beberapa saat. Siska menatap heran pada pria itu.


"Kenapa kembali lagi? ini sudah siang,"


Arga mengulas senyuman kecil di bibirnya. "Hanya ingin mencium mu. Aku berangkat sekarang," Arga melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tanpa menunggu raut wajah Siska yang kini merah merona karena sikap romantis yang di tunjukkan Arga untuknya.

__ADS_1


Suamiku ini benar-benar.


****


Seperti permintaan Arga, saat Siska.merasa bosan berada di rumah, ia bisa menghabiskan waktunya sesuka hati. Entah berbelanja ataupun hanya sekedar jalan-jalan. Kini Siska telah bersiap untuk pergi ke pusat perbelanjaan, namun sejenak ia memikirkan sesuatu. Ia ingin menjadikan kesempatan ini untuk mendekatkan hubungan Arga dengan Mamanya, Laili.


"Aku bisa meminta Mama untuk datang kesini saja, kita bisa berbelanja dan memasak bersama. Aku yakin perlahan Arga akan menerima kehadiran Mamanya. Entah masalah seperti apa yang terjadi di antara mereka, tapi aku tidak ingin Arga terus menerus bersikap tak acuh pada Mamanya. Aku juga bisa meminta Dava untuk datang juga," pikir Siska yang terlihat senang dengan rencananya.


Ia segera mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya dan mencari nomor Mama Mertuanya itu. Panggilan tersambung, namun beberapa saat hanya suara nada sambung yang tersambung.


"Halo?" seru seorang wanita di seberang sana.


"Halo Ma, ini Siska. Ma, bisakah Mama temani aku untuk berbelanja. Aku sangat bosan di rumah, dan Arga sedang pergi ke kantor. Mungkin Mama bisa menemani ku berbelanja dan menghabiskan waktu di rumah," pinta Siska penuh harap. Ia mengharapkan penuh agar Mama Mertuanya bisa menerima ajakannya.


Tak ada jawaban dari Laili. Beberapa saat panggilan telepon itu hening. Hingga kemudian suara lirih yang terdengar hangat memecah keheningan itu.


"Baiklah, Mama akan datang menemui kamu sekarang."


"Ma, nanti setelah kita berbelanja, aku juga ingin mengajak Dava untuk bergabung makan malam bersama kita. Tidak apa kan? aku ingin lebih dekat mengenal keluarga dari Suamiku."


"Tidak apa Siska. Nanti Mama yang akan berbicara dengan Dava. Tapi kamu sudah meminta izin dari Suami ku kan untuk mengajakku pergi dan mengajak Dava makan malam bersama?"


Pertanyaan Siska seketika membuatnya terdiam. Arga sama sekali tidak mengetahui rencananya. Tapi jika ia memberitahukannya sekarang, Siska takut Arga tidak akan mengijinkannya untuk mengajak Mama mertua dan saudara iparnya itu.


Bagaimana ini? haruskan aku menyembunyikan m ini dari Arga dulu? aku akan memberitahunya saat dia telah sampai di rumah. Apa itu tidak masalah?


"Kenapa Sis? kenapa diam?" suara Laili membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Eh, sudah Ma. Tenang saja, Siska sudah memberitahu Arga,"


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.


Terima kasih,

__ADS_1


__ADS_2