
Dava? bukankah Dava adalah nama dari suami Raeviga. Apa artinya wanita yang di benci oleh Arga adalah Ibunya sendiri dan Dava adalah saudaranya. Tapi kenapa dia membenci ibunya?
EPISODE SEBELUMNYA
Arga mengemudikan mobilnya dengan raut wajahnya yang khawatir. Yah, Arga mengkhawatirkan Dava. Walaupun rasa kekhawatiran itu hanya setetes air namun tetap saja Arga mengkhawatirkan saudara yang berbeda ibu itu.
Di sampingnya Siska beberapa kali mencuri tatap kearah Arga. Wajahnya terlihat serius dan cemas. Arga menyadari jika saat ini Siska sedang memandanginya, ia meletakkan telapak tangannya di wajah Siska dan membelainya lembut.
"Ada apa? aku tau sejak tadi kamu memandangiku. Apa kamu baru sadar kalau aku tampan?"
Siska menarik bibir bawahnya ke depan menanggapi ucapan Arga yang terlihat percaya diri saat mengatakannya kepada Siska.
"Aku melihatmu karena masih mencari dimana letak ketampanan yang kamu katakan itu, percaya diri sekali," celetuk Siska dengan sudut bibirnya yang terangkat. Namun lain hal dengan hatinya, Siska mengakui ketampanan Arga yang selalu berpusat di pikiran. Wajahnya selalu menjadi alasan pertama Siska saat bangun di pagi hari. Perhatiannya menjadi hal yang sangat di inginkan setiap harinya.
"Bilang saja jika kamu sebenarnya sudah mengagumi ku sejak lama, benarkan?"
Siska tak menanggapi lagi ucapan Arga. Dia memilih memandangi jalanan dari luar mobil Arga. Walaupun sebenarnya yang dikatakan Arga adalah sebuah kebenaran. Dia telah mengangumi Arga sejak lama, tidak hanya mengaguminya namun Siska sangat mencintai pria yang saat ini duduk di sampingnya. Walaupun semua yang di katakan Arga adalah sebuah kebenaran, namun Siska memilih untuk bungkam dan menyimpan kenyataan itu hanya untuk dirinya sendiri.
Aku tidak mungkin mengakuinya jika aku memang mencintainya sejak lama. Bisa-bisa dia akan besar kepala. Semakin besar hingga dia tak tau batasan karena terus merasa dirinya sangatlah tampan. Dasar pria ini.
45 menit telah berlalu, mobil Arga berhenti di sebuah Apartemen yang saat ini sudah tidak asing untuknya. Dulu, Arga tidak pernah mengunjungi tempat tinggal adiknya sama sekali. Perselisihan dan kebenciannya menutup segala hubungan yang berkaitan dengan Mama tirinya itu.
"Ayo keluar, sudah sampai," Arga berjalan keluar dari mobil lebih dahulu dan membuka pintu mobil itu untuk Siska.
Siska memperhatikan gedung tinggi yang berada di hadapannya saat ini. Ia teringat kembali dengan pertemuannya pertama kali dengan Dava. Pria itulah yang telah menolongnya saat berhasil lolos dari kejaran Erwin.
"Kenapa diam? apa terjadi sesuatu?" tanya Arga sembari meletakkan tangannya memeluk bahu Siska.
"Tidak, aku hanya mengingat sesuatu,"
Kedua alis Arga saling bertautan. Merasa penasaran dengan apa yang dikatakan kekasihnya. "Tentang apa? apa kamu pernah disini?"
Siska mengangguk membenarkan. "Sudah sangat lama, Dava pernah membantuku dulu,"
"Jadi kamu pernah bertemu Dava?"
"Iya, tapi dulu. Dia pernah menolongku, sudahlah ayo masuk," Siska menarik lengan Arga dan berjalan mendahuluinya.
__ADS_1
"Ini kan Apartemen-nya?" tunjuk Siska pada salah satu pintu yang tertutup dengan nomor C101.
Arga memicingkan kedua matanya seolah tengah mencari sesuatu yang tak ia ketahui.
"Kamu juga tau Apartemen-nya? Apa kamu juga pernah masuk ke dalam?"
"Iya" Siska dengan santai menganggukkan kembali kepalanya.
Terlihat kekesalan tercetak di wajahnya. Sorot matanya menatap dalam wajah Siska.
"Ada apa? kenapa menatapku seperti itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Ceklek
Pintu terbuka. Arga hendak menimpali ucapan Siska, namun suara pintu terbuka dan seorang wanita parubaya telah berdiri di antara mereka.
"Arga kamu datang? Mama tidak percaya kamu datang,Nak. Ayo masuklah,"
Arga tak menghiraukan ucapan wanita itu, ia masuk begitu saja tanpa mengatakan apapun Siska memandangi keduanya dengan heran, hubungan seorang Ibu dan Anak yang terlihat renggang. Tak seperti hubungan yang sepantasnya.
Siska akan menjawab pertanyaan wanita parubaya itu namun Arga lebih dulu menyela ucapannya. "Dia istriku, biarkan dia masuk," Arga menarik tangan Siska dan menggiringnya masuk ke dalam melewati Laili begitu saja.
Laili mengikuti arah perginya Arga. Wajahnya yang sendu menjelaskan perasaannya saat ini. Binar kesedihan terlihat di kedua manik matanya. Laili menutup pintu Apartemen itu dan berjalan kearah yang sama dengan Arga.
"Eh, kapan aku jadi istrimu. Dasar gila," Siska melepaskan pegangan tangan Arga dari lengannya.
Sudut bibir Arga terangkat. Ia sangat menyukai raut wajah Siska yang terlihat kesal. Menurutnya sangat menggemaskan jika di terus memandanginya.
"Dimana dia?" tanya Arga dingin pada Laili yang sudah berdiri tak jauh darinya.
"Dia masih di kamarnya, bicaralah dengannya Arga. Dia sangat kehilangan setelah kepergian Raeviga,"
"Tetaplah disini, aku akan ke kamar Dava dulu," pinta Arga dan melangkah pergi meninggalkan Siska.
Laili berjalan menuju sofa ruang tamu dan memegangi bagian dadanya yang terasa nyeri. Ia meringis menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Kejadian itu tak luput dari perhatian Siska, ia berjalan mendekati Laili dan bersimpuh di hadapannya.
"Tante, apa kamu baik-baik saja? apa kamu merasa kesakitan?" tanya Siska memperhatikan telapak tangan Laili yang masih berada di dada.
__ADS_1
"Tidak Nak, hanya sedikit nyeri. Tapi sekarang sudah lebih baik," Laili menghela napas panjang dan tak lagi memegangi dadanya.
"Apa Tante yakin?" tanya Siska lagi memastikan. Walaupun sebenarnya ia tidak mempercayai sepenuhnya ucapan Laili. Siska merasa yakin jika saat ini wanita parubaya itu hanya mencoba menahan rasa sakitnya.
"Apa tidak ada kunci cadangan?" tanya Arga yang tiba-tiba datang menghampiri Siska dan Laili.
"Kunci cadangan? aku tidak tau, tapi sepertinya tidak ada. Aku tidak melihatnya sejak tadi,"
"Aku akan turun dan meminta bantuan bagian layanan Apartemen. Mungkin saja mereka bisa membantu," Siska akan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar namun suara Laili mencegahnya.
"Nak, biar aku saja yang memanggilnya. Aku juga ada keperluan sebentar di luar,"
"Tidak apa, biar aku saja..," Siska tetap memaksakan dirinya, namun Arga menahan tangannya hingga langkah wanita itu kembali terhenti.
"Biarkan saja dia yang memanggilnya. Kau temani aku saja disini,"
Laili menatap sekilas Arga namun kemudian tersenyum kearah, Siska. "Tunggulah disini, dan bantu Arga membujuk Dava. Aku sangat mencemaskan ya," setelah mengatakan hal itu, Laili meninggalkan ruangan. Saat Siska dan Arga tak lagi memperhatikannya, ia kembali memegangi bagian dadanya yang semakin terasa nyeri.
Tidak sekarang. Jangan membuatku tak berdaya saat ini. Aku tak bisa meninggalkan Dava dalam kondisi seperti ini. Dan aku tidak ingin terus menerus merepotkan Arga. Aku harus bisa bertahan.
Arga akan kembali menuju pintu kamar Dava yang masih terkunci namun Siska menarik tangannya dan menatapnya tajam. "Seharusnya kamu tidak berperilaku seperti itu. Dia ibu kamu, kamu harus menghargainya."
"Aku tidak ingin membahas itu. Tujuanku bukan untuknya. Tolong mengertilah,"
Siska terpaksa menuruti perkataan Arga. Ia melihat raut wajah Arga yang terlihat tak nyaman membahas mengenai Ibu tirinya itu. Jika Ia terus mendesak Arga, Siska takut Arga akan marah kepadanya. Siska berjalan mengekor Arga yang kembali menuju ruangan Dava yang terkunci.
"Dava, buka pintunya! Apa kau tidak malu karena telah menyusahkan banyak orang? Keluarlah dan cari jalan keluar dari masalahmu tanpa membuat kekacauan!" ucap Arga dengan setiap katanya penuh penekanan.
BERSAMBUNG
TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,
Instagram : @ilyuaml1
__ADS_1