FIRST NIGHT WITH MY BOSS

FIRST NIGHT WITH MY BOSS
#92 : KEBENARAN YANG MENYAKITKAN


__ADS_3

Arga menghela napas panjang sembari menatap lekat wajah Siska yang kini memandanginya.


"Dia, wanita yang membuat Mamaku menderita Sis. Dia yang membuat hubungan di antara Papa dan Mama hancur. Wanita murahan itu dia hanya menginginkan kekayaan keluarga Dewantara dan menghancurkan ruman tangga seseorang,"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Siska menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Arga dan memeluknya. Sudut mata Arga sudah berair, ia menenggelamkan wajahnya di bahu Siska dan membalas pelukannya.


"Dia telah membuatku kehilangan Mama, Sis,"


Siska mengusap lembut belakang kepala Arga untuk menenangkannya. "Aku ingin memberikan sesuatu sama kamu. Ini dari Mama Laili, mungkin setelah ini kamu akan tau kebenarannya," Siska memberikan sebuah perekam suara yang berbentuk pena stainless pada suaminya.


Kedua alis Arga saling bertautan. Ia tak mengerti dengan ucapan yang di maksud oleh Siska sebelum rekaman suara itu berputar. Sesaat ruangan menjadi hening, hanya suara seorang pria dari voice recorder yang saat ini di pegang oleh Arga. Pria itu tau betul siapa pemilik suara itu. Suara dari Dewantara, Papanya.


"Arga, mungkin jika kamu mendengar suara papa ini, Papa sudah tidak berada di sampingmu. Papa selalu mengatakan kepada mu kalau Laili adalah orang baik. Papa yakin dia bisa menjaga kamu dengan baik setelah Papa tiada. Kamu selalu bertanya pada Papa saat kecil dulu, kenapa Papa menikah dengan Laili dan membuat Mama kamu menderita. Tidak Arga, semua tuduhan yang setiap kali kamu katakan itu salah. Hubungan Papa dengan Mama kamu tidak harmonis bukan karena hadirnya Laili, tapi Mama kamu yang telah berkali-kali membohongi Papa. Dia telah berselingkuh dengan teman masa kuliahnya dulu, pria yang pernah menjalin hubungan dengan Mama kamu,"


Arga menekan tombol jeda pada pena rekaman suara itu dan melemparkan benda itu asal hingga terjatuh dari atas tempat tidurnya.


"TIDAK MUNGKIN! ITU SEMUA TIDAK BENAR!"


Siska yang ikut mendengarkan pernyataan pria itu ikut merasakan kesedihan yang saat ini di rasakan Arga.


"Jadi ini maksud dari ucapan Mama Laili? sebuah rahasia jika di katakan akan membuat Arga sedih. Seharusnya aku tadi mendengarkan rekaman suara ini dulu," gumam Siska yang melihat Arga nampak terpukul dengan pernyataan yang sama sekali tidak terbayangkan.


Siska mengingat kembali ucapan Laili sebelum wanita parubaya itu menyerahkan rekaman suara kepadanya.

__ADS_1


FLASHBACK


"Disini lah nanti Arga akan menemukan semua jawabannya. Kebencian Arga padaku sangat lah besar, Siska. Ia selalu beranggapan bahwa aku lah perusak rumah tangga orangtuanya. Tapi aku tidak bisa membuktikan apapun, karena ketika semuanya terbuka jelas maka orang pertama yang akan terluka adalah Arga. Mama tidak ingin dia menderita ataupun merasa kecewa. Tapi karena kamu adalah bagian dari keluarga ini, kamu istri dari Arga. Mama akan berikan rekaman suara ini untuk kamu simpan dengan baik,"


Laili mengambil rekaman suara itu dari dalam tasnya. Ia selalu membawa rekaman suara pemberian suaminya itu kemanapun dia pergi. Ia tidak ingin meninggalkan benda yang menyimpan banyak rahasia itu tanpa pengawasannya.


Siska mengambil benda pipih itu dari tangan Laili dan berpikir untuk menyerahkannya kepada Arga. Saat itu ia berpikir bahwa dengan mendengarkan suara dari rekaman itu, pendapat Arga tentang Mama Mertuanya akan berangsur membaik.


Yah, mungkin pendapat Arga tentang Laili menjadi jelas dengan rekaman suara itu, namun di lain hal, suaminya nampak terluka dengan pernyataan yang menyakiti hatinya itu. Wanita yang selalu menjadi sosok yang baik hati, penyabar dan wanita yang sangat mencintai keluarga ternyata dia lah penghancur hubungan keluarga yang sebenarnya.


"AKU TIDAK INGIN MENDENGARNYA LAGI,SIS! SEMUA ITU BOHONG!" Arga melangkah kakinya pergi untuk meninggalkan kamarnya, namun langkahnya yang sudah mencapai pintu di halangi oleh Siska yang memeluknya dari belakang.


Wanita itu memeluk Arga erat, ia tidak membiarkan Arga pergi saat ini. Siska takut Arga hanya akan membahayakan dirinya sendiri karena pernyataan yang menyakitkan itu.


"Jangan pergi, tolong jangan pergi. Aku tidak mau kamu meninggalkan ku sekarang," Siska semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Arga. Cairan hangat menetes membasahi jari Siska yang berada di perut suaminya.


"Jangan menangis, maafkan aku, aku tidak tau jika rekaman itu akan membuat kamu sedih seperti ini,"


"Ini bukan salah kamu. Aku lah yang salah. Aku lah penyebab keluarga ini berantakan. Mungkin kehadiranku menjadi anak dari keluarga ini tidak membawa sama sekali keberuntungan. Aku...," Arga tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya. Ia terduduk ke lantai dengan raut wajahnya yang memperlihatkan kekecewaan.


"Jangan bicara seperti itu Arga. Anak itu adalah sebuah Anugerah. Setiap anak selalu membawa kebahagiaan untuk keluarga. Jangan mengatakan itu lagi," Siska meletakkan telapak tangannya di wajah Arga dan mengusap lembut air mata yang masih jatuh dari kedua sudut matanya.


"Berhentilah menangis, aku tidak suka melihat kamu menangis," setelah mengatakan hal itu, Siska mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Arga yang terasa basah.


Siska menenggelamkan bibirnya lebih dalam saat Arga akan melepaskan ciumannya.

__ADS_1


"Berhentilah menangis Arga. Aku tidak suka melihatmu seperti ini," ucap Siska dalam hati.


Siska menjauhkan bibirnya setelah ciuman yang berlangsung cukup lama itu. Ia memandangi wajah Arga sangat dekat hingga membuat keinginan yang membakar hasratnya meronta ingin lebih. Entahlah, akhir-akhir ini Siska haus oleh sentuhan suaminya di tubuhnya, bahkan di saat yang tidak tepat seperti saat ini. Keinginannya untuk mendapatkan kehangatan dari tubuh Arga meminta untuk di lepaskan.


"Bodoh, pikiran kotor apa ini. Yang harus ku pikirkan sekarang untuk membuat Arga tidak lagi bersedih." umpatnya pada dirinya sendiri.


"Lantainya sangat dingin, nanti kamu akan sakit. Ayo naik ke atas tempat tidur," pinta Siska dan mendapatkan anggukan kepala dari Arga sebagai jawaban.


Arga menyelimuti tubuh Siska yang tertidur memeluknya. Ia memberikan kecupan singkat di dahi Siska sebelum wanita itu terlelap dalam tidurnya. Namun Arga sama sekali tidak bisa tidur dengan nyaman. Ia duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur dan kembali mengingat ucapan Papanya di rekaman itu. Arga menarik tubuhnya melihat kearah rekaman suara yang masih tergeletak di atas lantai.


Arga beranjak dari tempat tidur dan mengambil pena rekaman suara itu. Di keheningan malam dengan udara yang terasa dingin, Arga berdiri di balkon kamarnya seorang diri sambil mendengarkan lanjutan dari suara Papanya.


"Maaf jika Papa harus mengatakan hal itu, karena Papa tidak bisa melihatmu terus membenci Laili. Cinta Papa akan selalu ada untuk Mama kamu Arga. Walaupun dia telah menghina hubungan sakral ini tapi Papa sama sekali tidak bisa melupakannya. Namun di lain sisi, ada seorang wanita yang bersedia untuk menjadi Ibu untuk kamu. Seorang wanita yang rela hidup tanpa mendapatkan cinta sepenuhnya dariku. Laili orang yang baik, semoga setelah ini kamu bisa mengerti apa yang ingin Papa katakan kepada kamu. Jangan membenci Mama kamu, Arga. Mungkin Papa lah penyebab dari keretakan dari rumah tangga ini. Kesibukan Papa membuat Mama kamu merasa kehilangan kasih sayang Papa. Jangan juga menyalahkan dirimu sendiri, Arga. Jagalah adik kamu, dan berhentilah membenci Laili,Nak...,"


Arga mengusapkan kasar rambutnya. Ia merasa bersalah telah menuduh Laili sebagai penyebab keretakan keluarganya. Namun tanpa ia sadari selama ini, dia adalah wanita yang hanya ingin memberikan kasih sayang hanya untuk tidak membuatnya merasa kesepian karena kehilangan seorang Ibu.


"Maaf," ucapnya di sela-sela angin malam yang menerpa tubuhnya.


Siska bersembunyi dari balik kaca balkon memandangi tubuh Arga yang menyendiri. Sejak beberapa jam yang lalu Siska tidak benar-benar tertidur lelap. Ia membuka kedua matanya saat Arga terdiam seorang diri di balkon memandangi langit malam yang gelap.


"Aku yakin kamu pria tangguh,Arga. Tidak apa, bertahanlah. Lewati semuanya, karena di setiap langkahmu akan ada aku yang mendampingi kamu, Istrimu."


BERSAMBUNG


TUNGGU KELANJUTANNYA SEGERA. SEBELUM ITU, YUK JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG NOVEL INI AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.

__ADS_1


Terima kasih,


__ADS_2