
Siska tak bisa lagi menahan air matanya yang jatuh semakin deras, bahkan ia terisak dalam tangisnya. Siska melihat Erwin hanya mengalihkan tatapannya dari Siska. Seolah pria itu hanya mengabaikan ucapannya. Siska pergi dari tempat itu meninggalkan Arga bersama Erwin yang masih saling bertatap muka.
[EPISODE SEBELUMNYA]
Setelah kepergiaan Siska dan Arga, Erwin terlihat memikirkan sesuatu yang telah di katakan oleh Arga kepadanya. Ia merasa bersalah karena perlakuannya kepada Siska.
"Aku sudah mencari tau semuanya. Sebelum mengandung kamu, bukankah Mamamu pernah memiliki seorang anak? itulah alasan kenapa Ayah Siska meninggalkan Mama kamu karena anak itu bukanlah hasil dari benihnya. Ayah Siska merasa di khianati karena perbuatan Mama kamu," ucapan Arga itu masih membayanginya berkali-kali.
Benarkah apa yang dikatakan Arga kepadanya. Apa Mamanya telah mengkhianati kepercayaan kekasihnya? apa selama ini cerita Mama tidak sepenuhnya benar?
Banyak hal yang di pikirkan Erwin saat ini. Dia tak bisa memastikan langsung sekarang. Dia masih menanggung perbuatannya di balik jeruji besi saat ini.
Arga meminta Siska untuk kembali tinggal di rumahnya. Entahlah, apa yang saat ini di pikirkan Arga namun pria itu tidak bisa membiarkan Siska sendiri. Masalah yang di alami Siska semakin serius dan itu semuanya berhubungan dengan Erwin, teman lamanya. Arga masih tidak menyangka jika Erwin akan berubah menjadi orang yang seburuk itu.
"Saat ini lebih baik kamu tinggal kembali ke tempatku" ucap Arga menawarkan tempat tinggalnya pada Siska.
Siska tidak langsung menjawab ucapan Arga. Di dalam hatinya, ia sangat ingin bisa tinggal dekat dengan Arga namun jika Arga selalu saja bersikap kasar padanya itu akan kembali membangkitkan trauma yang ia miliki dan dia takut trauma itu kembali datang. Membuatnya seperti sosok penjahat yang harus di musnahkan.
Tidak perlu anda melakukan hal itu. Saya tidak ingin merepotkan Pak Arga.."
Arga mendengus kesal. Ia melihat Siska dari sudut matanya. "Bisa tidak kali ini kamu memikirkan diri kamu sendiri. Aku menawarkan semua ini agar tidak ada orang menyakitimu lagi"
"Saya tau, saya berterima kasih atas bantuan Pak Arga. Tapi sepertinya Pak Arga tidak menyukai jika saya berada di dekat anda"
Arga menghentikan mobilnya di sisi jalan dengan tiba-tiba. Membuat tubuh Siska terhuyung ke depan jika saat gadis itu tidak memakai sabuk pengaman.
"Apa maksud dari perkataan kamu? apa maksudmu saya orang yang kasar? sama seperti Erwin,begitu?"
Siska menundukkan kepalanya tak ingin menatap wajah Arga yang terlihat kesal.
"Tidak seperti itu, anda selalu merasa kesal jika di dekat saya. Jadi lebih baik jika saya juga tidak tinggal di samping Pak Arga,"
Arga terdiam. Dia seakan menyadari jika perbuatannya telah membuat Siska merasa takut padanya. Tapi bukankah memang seorang pegawai harus memiliki rasa hormat kepada Atasannya? lalu apa yang salah dengan itu? Tapi kenapa Arga terlihat gelisah saat Siska jauh dari pantauannya.
__ADS_1
Arga kembali menatap jalanan di depannya. "Aku tidak pernah merasa kesal seperti yang kamu katakan. Tapi memang begini lah sikapku kepada pegawai."
"Lagi pula saya juga tidak memiliki uang lebih untuk membayar biaya penginapan dan makan di tempat anda yang serba mahal itu,"
"Kali ini gratis" jawab Arga cepat dan kembali mengendarai mobilnya.
Siska membelalakkan kedua matanya. Ia berseru pelan dan kembali mengulang ucapan Arga.
"Apa Pak Arga yakin? itu semua gratis?"
"Ya"
Siska terlihat sedikit senang. Ia memikirkan sesuatu untuk di katakan kembali kepada Arga. "Lalu untuk hutangku tempo hari saat tinggal disana, apa juga bisa di gratiskan?" Siska berharap Arga akan mengiyakan permintaannya. Gajinya akan semakin sedikit jika harus di potong oleh pengeluarannya saat di rumah Arga. Bahkan pakaian yang di berikan Arga saat itu juga terlihat mahal.
"Jangan terlalu banyak permintaan. Gajimu akan tetap di potong!"
"Bagaimana kalo di potong hanya setengah saja?" tawarnya penuh harap.
Arga memandangnya sekilas. Ia melihat kedua tangan Siska yang terlipat di depan wajahnya memohon.
"Bagaimana kalo di cicil saja? empat bulan lagi saya bisa melunasi semuanya"
"Kalo kamu kebanyakan menawar, aku akan naikkan semuanya menjadi dua kali lipat mau?"
Siska menggeleng cepat. Ia kembali melihat lurus kearah jalan dan menggerutu kesal. "Dasar pelit"
****
Siska telah berada di kamar yang sama saat pertama kali tinggal dengan Arga. Siska melihat tak ada yang berubah hanya saja tempat tidurnya yang telah berganti sprei dan sarung bantal yang sudah tertata rapi. Siska kembali memikirkan tentang Erwin, kilas balik saat pertemuannya dengan pria itu membuat Siska takut jika Erwin akan kembali membalaskan dendamnya.
Tidak, aku telah melakukan keputusan yang benar. Aku yakin dia bukanlah sepenuhnya orang jahat. Bukankah orang jahat berawal dari orang baik yang tersakiti? aku berharap kali ini Erwin bisa memahami semuanya.
Ponsel Siska berdering. Panggilan masuk dari Raeviga membuat Siska tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Halo Sis, kamu dimana?" tanya Raeviga di seberang telepon Siska. Gadis itu terlihat berdiri di depan rumah kontrakan Siska.
Siska nampak memikirkan sesuatu. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya jika saat ini dia tinggal bersama dengan Atasan mereka. Apa yang akan di pikirkan Raeviga tentangnya nanti? dan Apakah Raeviga akan percaya jika dia menjelaskan semuanya? Untuk Siska saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya.
"Aku sedang berada di luar sebentar. Kenapa Rae?" jawab Siska setelah diam beberapa menit.
"Aku ada di depan rumah kontrakan kamu sekarang. Aku kira kamu sudah pulang setelah rapat dengan Pak Arga di luar"
"Aku mampir ke sesuatu tempat dulu, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak, aku hanya bertemu dengan kamu karena besok aku harus pergi bersama Mamaku"
"Mama tiri kamu?" tanya Siska mengulangi. Yah, Raeviga telah menceritakan semua tentang keluarganya. Tentang Mama tirinya yang tak pernah menganggap kehadirannya.
"Iya, sampaikan juga besok kepada Pak Arga. Mungkin aku tidak akan bisa mengatakannya sendiri"
"Iya, aku akan memberikan kabar padanya. Apa terjadi sesuatu? tak biasanya kamu akan pergi dengan Mama tiri kamu"
"Yah, sedikit perubahan. Aku akan mengatakannya nanti setelah semuanya jelas"
Panggilan terputus tak lama setelah mereka membahas beberapa hal ringan dan tertawa kecil di sela-sela perbincangan mereka. Berbeda dengan Arga, pria itu menatap langit senja yang akan menjadi gelap di teras balkon kamarnya. Tangannya menggenggam sebuah ponsel setelah menerima telepon dari seorang wanita yang sangat ia benci kehadirannya, dan kali ini kilatan kemarahan terlihat jelas di kedua matanya.
Apa yang terjadi dengan Arga? Siapa yang telah membuatnya semarah ini? apa semua ini berhubungan dengan Raeviga? atau mungkin Siska.
BERSAMBUNG
Hai Reader,
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong.
DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT.
Terima kasih,
__ADS_1
Happy Reading Gaes,