
Apa aku telah salah sampai detik ini? ketika perasaanku masih berharap kepadanya. Berharap suatu saat nanti pria itu akan mengatakan dengan suara lantang, "Aku mencintaimu,"
Bisakah aku mendapatkannya?
[EPISODE SEBELUMNYA]
Arga menggeliatkan tubuhnya beberapa kali sebelum ia benar-benar terbangun dari tidurnya. Tangannya bergerak kesana kemari untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Arga meringis kecil saat tangannya tak sengaja menyentuh sudut bibirnya.
"Awww" erangnya. Arga menyentuh sudut bibirnya yang sudah terpasang plester luka kecil. Begitu pula dengan luka di bawah mata dan juga punggung tangannya yang sudah memakai perban.
"Siapa yang melakukannya?" ucap Arga sambil mengingat kembali kejadian semalam. Arga memperhatikan pakaian formal yang dipakainya kemarin sore masih melekat di tubuhnya.
"Apa Siska yang melakukannya?" Arga melihat kearah pintu ruang kerjanya yang tertutup. Pria itu yakin bahwa Siska yang menemaninya semalam, karena tidak ada orang lain yang tinggal di rumah Arga. Pelayan rumahnya akan pulang sore hari setelah menyelesaikan pekerjaan rumah.
"Apa semalam wanita yang aku peluk itu Siska? Apa pelukan itu bukan mimpi?" gumam Arga mengingat kembali seorang wanita yang dia peluk dengan sangat erat. Kedua matanya terasa berat, dia sangat lelah hingga tak ada tenaga yang tersisa untuk berpura-pura kuat. Arga berpikir bahwa gadis yang di lihat ya di depan pintu ruang kerjanya adalah sebagian dari mimpinya semalam.
Arga melihat kearah jam dinding ruangannya dan menggerutu kesal melihatnya. Langit sudah terlihat panas dan Arga baru saja bangun dari tidurnya. Arga menelpon seseorang sambil berjalan keluar ruangan.
"Batalkan Rapat untuk hari ini, aku ada urusan penting hingga sore hari. Cancel semua pertemuan yang melibatkan diriku," ucap Arga sebelum memutuskan panggilannya.
Arga berdiri di depan pintu kamar Siska, ia mengetuk beberapa kali hingga suara seseorang di belakangnya membuatnya sedikit terkejut.
"Nona Siska sudah berangkat kerja,tuan. Apa ada yang bisa bibi bantu? Nona Siska juga sudah menyiapkan bubur ayam untuk anda,"
"Apa dia pergi sejak tadi?"
"Nona Siska pergi 3 jam yang lalu setelah menyiapkan bubur tuan. Apa anda ingin bubur itu di panaskan kembali?" tanya Wanita pelayan itu dengan sangat lembut. Seolah saat ini ia sedang berbicara dengan anak berumur 5 tahun. Namun begitu lah cara wanita itu selama ini memperlakukan Arga selama ini. Tetap bersikap lembut bahkan ketika Arga sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Aku akan memakannya nanti setelah pulang," ungkap Arga dan berjalan pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
****
Pagi ini Siska terlihat lesu, ia terus saja memikirkan tentang seseorang yang terukir namanya di sebuah cincin milik Arga. Hingga dia tak menyadari jika tangannya menulis huruf A&R di kertas kerjanya berkali-kali.
"Sis, kamu ngapain kertasnya di coret gitu? Salah ya?" tanya Lia, sekretaris Arga yang cukup membangunkan Siska dari lamunannya.
"Kamu bicara sama aku?" tanya Siska dengan tatapan kosong.
"Iya lah, masa mau ngomong sama hantu. Tuh, kertas laporan keuangan kenapa di coret-coret? salah ya?" tanya Lia sambil menunjuk kearah kertas yang sudah tak terlihat rapi lagi.
"Astaga!! ini udah bener kok," Siska melihat kertas laporan itu sudah berganti menjadi hasil mahakarya yang abstrak.
"Terus kenapa di coret? kamu nglamun ya?" tebak Lia benar.
"Gak kok Li, kamu kesini kenapa?" ucap Siska mencoba mengalihkan pembicaraanya.
"Kata pak Arga, rapat klien hari ini di batalkan. Kamu tolong kabari klien-nya ya. Karena kamu yang tau nomornya kan?" jelas Lia mulai membicarakan maksud tujuannya saat ini berdiri di samping Siska.
"Enggak Sis, cuma ngomong gitu aja, aku balik ke mejaku dulu ya" Lia melambaikan tangannya pada Siska dan berjalan pergi.
"Apa Arga akan bertemu dengan wanita yang memiliki cincin itu?"
Arga datang ke sebuah rumah yang tidak kalah mewah seperti tempat tinggalnya. Rumah dengan halaman yang luas itu memiliki tema desain interiornya bernuansa vintage.
Dulu tempat ini adalah tempat tinggalnya bersama keluarga sebelum Laili datang dan merusak segalanya. Merusak kehangatan keluarga menjadi sebuah duri yang tak akan pernah ada ujungnya.
Arga sangat marah, dan setiap hari kemarahannya akan bertambah besar untuk Laili. tidak akan berkurang sedikitpun apa maksud kamu tentang pernikahan itu?"seru Arga melihat Laili yang berada di ruang tamu.
"Kenapa Ga?Wajah kamu kenapa?habis berantem" Laili menghampiri Arga yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa gak bilang masalah ini ke aku?"Tanya Arga sambil menahan emosinya dan rasa sakit di wajahnya.
"Karena menurut mama isi wasiat ini di tujukan untuk Dava,Ga.."jelas Laili.
Laili memang sengaja tidak memberitahu Arga karena nanti pria itu pasti akan berdebat dengan Dava dan keadaan akan semakin tidak terkendali karena Arga adalah tipikal laki-laki yang mudah tersulut emosi mengenai masalah apapun. Apalagi jika tau bahwa keuangan perusahaan terpengaruh dengan perjodohan pernikahan yang melibatkan Dava.
Laili berencana memberitahukan masalah warisan Dava setelah acara pertunangan. Arga tak ingin Dava melibatkan diri mengenai perusahaan karena bagi Arga ini semua adalah Asetnya. Milik anak "sah" bukan anak simpanan.
"Kalau mama ngasih tau kamu. Apakah kamu membiarkan Dava ikut andil membantu perusahaan? Tidak kan?" Laili mencoba membuka hati Arga. Anaknya itu memang sangat membenci Dava karena masa lalunya yang ia lewati.
Arga tertohok dengan ucapan Laili. Dia menggerutu kesal. Sial!
Arga pergi meninggalkan Mamanya dengan Kesal. Laili hanya bisa menghela nafas panjang melihat sifat keras kepala Arga. Namun ia juga khawatir dengan luka lebam di wajah Arga.
Arga menyetir mobilnya ugal-ugalan bahkan hampir saja ia menabrak mobil di depannya.
Emosinya kini sangat tidak terkendali. Pikirannya kacau, Arga berpikir yang bisa membantunya adalah minuman dan wanita.
Arga memutar stir mobilnya mendadak membuat mobil-mobil di belakangnya mengklanson-nya dengan keras.Ia tak memperdulikan keadaan sekitar. Arga menambah kecepatan laju mobilnya menuju suatu tempat yang bisa membuat pikirannya tenang sementara. Tempat yang salah dan tak seharusnya untuk Arga berada disana.
"Kamu adalah wanita yang menjadi pusat perhatianku. Membawaku ke sebuah harapan yang sebenarnya tak pernah ada tempat untukku tinggal.
Tapi sekarang, kamu bahkan tak memberiku waktu untuk melangkah menuju hatimu, Raeviga. Apa kehadiran Dava lebih berarti dariku?"
BERSAMBUNG
Hai Reader,
DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE DAN LIKE JUGA YA NOVEL INI YA) BIAR SEMANGAT GITU UNTUK UPDATE RUTIN. YUK VOTE BIAR CEPAT LANJUT. FAVORITKAN JUGA NOVEL INI BIAR KALIAN GAK KETINGGALAN CERITANYA.
__ADS_1
Terima kasih,
Happy Reading Gaes,